Sebelum ujian masuk universitas, Kakek meninggalkan wasiat terakhirnya. Ia berkata, siapa pun di antara aku dan adik laki-lakiku yang mendapatkan nilai lebih tinggi, dialah yang akan mewarisi harta senilai Rp110 miliar.
Masalahnya:
Selama 18 tahun hidupku, aku adalah anak tunggal.
Aku tidak punya adik laki-laki.
Namun setiap kali kami mencoba “menciptakan” seorang adik demi memenuhi syarat wasiat itu, sesuatu yang aneh selalu terjadi.
Dalam kesempatan pertama, Ayah mencoba mengadopsi seorang anak laki-laki. Malam itu ia bermimpi didatangi Kakek yang memarahinya karena berbohong. Keesokan paginya Ayah ditemukan tak bernyawa dengan bekas-bekas ganjil di tubuhnya.
Kesempatan kedua, Ibu ingin menunda ujian masukku dan mencoba hamil lagi. Namun mimpi buruk yang sama datang. Ibu meninggal secara misterius malam itu.
Kesempatan ketiga, aku berteriak bahwa aku tidak menginginkan warisan. Aku yakin bisa sukses sendiri. Tapi lagi-lagi Kakek muncul dalam mimpi dan berkata aku tidak tahu menerima keberuntungan. Tak lama kemudian, kecelakaan aneh merenggut nyawaku.
Kini, di “kesempatan terakhir” ini, pengacara kembali datang membawa surat wasiat yang sama.
Kami bertiga—Ayah, Ibu, dan aku—menatap dokumen itu seperti melihat surat kematian.
Tiba-tiba Ibu kehilangan kendali.
“Cukup sembunyikan lagi! Kalau kamu punya anak di luar sana, bawa dia sekarang juga! Aku terima!”
Ayah memegangi pipinya, hampir menangis.
“Kalau memang ada, aku juga ingin dia muncul sekarang! Tapi demi langit dan bumi, aku tidak punya anak lain!”
Ia lalu menatap Ibu dengan ragu.
“Atau… jangan-jangan kamu?”
Ibu langsung menjewer telinganya.
“Kalau pun mau, kapan? Kakek selalu mengawasi seperti bayangan!”
Aku menarik napas panjang dan bertanya pada pengacara.
“Mungkin ada kesalahan dalam wasiat ini? Semua orang di Jakarta tahu orang tuaku hanya punya aku.”
Pengacara itu menyalakan sebuah video.
“Almarhum khawatir akan terjadi sengketa, jadi ia merekam seluruh proses pembuatan wasiat. Isinya tidak mungkin salah.”
Lalu ia berkata padaku:
“Semoga kamu jadi peraih nilai tertinggi, Nona.”
Aku hampir membuang dokumen itu ketika Ibu menahanku.
“Jangan! Mau tertimpa kejadian aneh lagi?”
Ayah gemetar.
“Kalau begitu dari mana kita dapatkan adik untukmu?”
Kami bertiga hampir putus asa. Lalu aku berkata:
“Kalau syaratnya siapa yang nilainya lebih tinggi akan mewarisi, maka aku sengaja saja gagal ujian!”
Mata orang tuaku berbinar.
“Benar! Yang penting kita selamat!”
Namun malam itu Kakek kembali muncul dalam mimpiku.
“Lala! Gagal dengan sengaja berarti menghancurkan masa depanmu! Jika kamu berani menjatuhkan nilai, aku akan menjemputmu.”
Aku terbangun basah oleh keringat. Ternyata Ayah dan Ibu bermimpi hal yang sama.
Kami pun mulai mempertanyakan kemungkinan lain.
“Bagaimana kalau adik itu… bukan anak kalian?” kataku pelan.
Mereka terdiam.
Kami bahkan menyewa detektif swasta untuk menyelidiki masa lalu Kakek selama 18 tahun terakhir.
Hasilnya:
Tidak ada perempuan lain. Tidak ada anak tersembunyi.
Segalanya bersih.
Dua hari sebelum ujian, aku pergi ke rumah lama Kakek di Jakarta Selatan.
Rumah itu dulu tempatku beristirahat saat lelah belajar. Sensor lampu, buku-buku, meja belajar—semua masih sama.
Tapi satu hal terasa janggal:
Sebuah patung keramik berbentuk anak laki-laki di atas meja kerja Kakek.
Aku menyentuhnya.
“Klik…”
Dinding di belakang rak buku bergeser.
Sebuah pintu rahasia.
Dari balik kegelapan, muncul Pengacara Tagle.
“Saya diperintahkan menunggu di sini. Jika kamu menemukan saklar ini, berarti waktunya telah tiba.”
“Di mana adikku?” tanyaku.
Ia menyebutkan kode:
“080324.”
Itu adalah tanggal lahirku.
Tanganku gemetar saat memasukkan kode.
Pintu terbuka perlahan.
Di dalamnya—
bukan seorang anak.
Bukan dokumen kelahiran.
Melainkan ruang penuh rekaman video, laporan medis, dan catatan psikologis.
Pengacara itu berbicara pelan:
“Delapan belas tahun lalu, saat ibumu melahirkan… sebenarnya ada dua detak jantung.”
Duniaku berhenti.
“Kamu punya saudara kembar laki-laki.”
“Tapi ia meninggal beberapa menit setelah lahir.”
Orang tuaku yang baru saja datang terduduk lemas.
Air mata Ibu mengalir.
“Kami merahasiakannya… karena dokter bilang itu akan menghancurkan mentalmu.”
Pengacara melanjutkan:
“Kakek ingin kamu tahu kebenarannya. Wasiat itu bukan tentang uang. Ia ingin memastikan kamu tetap berjuang untuk hidupmu, bukan hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah atau ketakutan.”
Aku melihat rekaman lama inkubator bayi.
Nama yang tertera:
Lala & Lio.
Air mataku jatuh tanpa sadar.
Selama ini, “adik” itu tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya tidak pernah diberi kesempatan hidup.
Dan Kakek—
Ia tidak sedang mengutuk kami.
Ia ingin aku menghadapi masa lalu.
Aku menutup pintu rahasia itu perlahan.
Keesokan harinya, aku mengikuti ujian dengan sepenuh hati.
Bukan demi Rp110 miliar.
Bukan demi warisan.
Tapi demi diriku sendiri.
Dan demi seorang adik laki-laki
yang seharusnya tumbuh bersamaku.

Kami bertiga berdiri di depan pintu rahasia itu. Tak seorang pun berani bernapas terlalu keras.
Tanganku gemetar saat menekan kode.
0 – 8 – 0 – 3 – 2 – 4.
“Klik.”
Pintu perlahan terbuka.
Di dalamnya bukan seorang anak yang disembunyikan… bukan juga dokumen adopsi… melainkan sebuah kamar kecil yang ditata seperti kamar bayi.
Di tengah ruangan ada sebuah buaian.
Dan di dalam buaian itu… sebuah buku harian berlapis kulit cokelat tua.
Aku melangkah mendekat dan membukanya.
Halaman pertama, tulisan tangan Kakek:
“Lala cucuku.
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah hidup sampai kehidupan terakhir.”
Jantungku seakan berhenti berdetak.
Aku membalik halaman berikutnya.
Di dalamnya… laporan medis 18 tahun lalu.
“Kehamilan kembar.
Satu janin selamat.
Satu janin berhenti berdetak sebelum lahir.”
Tubuhku membeku.
Mama jatuh terduduk di lantai.
Papa mundur dua langkah seperti dipukul keras di dada.
Aku… punya adik laki-laki.
Hanya saja… dia tidak pernah sempat lahir.
Di halaman selanjutnya, Kakek menulis:
“Aku memohon dokter menyelamatkan cucu laki-lakiku.
Tapi ketika hanya satu yang bisa bertahan, kamu yang lebih kuat.
Aku tidak bisa menerima kehilangan itu.
Aku percaya jiwa anak itu masih berada di sekitarmu.”
Tanganku gemetar membuka halaman terakhir.
“Harta 50 juta yuan itu bukan untuk dibagi dua.
Tapi untuk menguji… apakah kamu berani menghadapi kebenaran.
Pewaris satu-satunya, dari awal sampai akhir… selalu kamu.”
Di bawahnya ada lampiran hukum dengan tanda tangan pengacara.
Atty. Tagle melangkah maju dan berkata pelan,
“Surat wasiat resmi hanya mencantumkan satu ahli waris — Anda.”
“Syarat tentang adik laki-laki… hanyalah ujian terakhir dari Don Lorenzo.”
Mama menangis tersedu-sedu.
Papa memeluk kami berdua erat-erat.
Aku duduk lemas di lantai, menatap buaian kosong itu.
Tiga kali mati.
Tiga kali teror.
Bukan karena keserakahan.
Bukan karena pengkhianatan.
Melainkan karena seorang kakek… yang tidak mampu menerima kehilangan.
Aku teringat masa-masa liburan di rumah ini.
Tatapan Kakek yang selalu lama memandangku… seolah mencari seseorang di belakangku.
Mungkin…
Dia tidak pernah benar-benar ingin membunuh kami.
Dia hanya ingin aku mengingat bahwa…
Aku hidup membawa dua nyawa.
Malam itu aku bermimpi tentang Kakek.
Dia tidak lagi marah.
Dia duduk di bawah pohon, tersenyum lembut.
“Lala… kamu sudah cukup kuat untuk menjalani dua bagian kehidupan.”
Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan damai.
Hari ujian pun tiba.
Aku tidak mengosongkan jawaban.
Aku tidak sengaja membuat diriku gagal.
Aku mengerjakan semuanya dengan seluruh kemampuanku.
Saat hasil diumumkan — aku menjadi peringkat pertama se-kota.
Tapi kali ini…
Aku tidak gemetar karena takut.
Aku hanya menatap langit dan berbisik,
“Dik… kita berhasil.”
Beberapa bulan kemudian, aku resmi mewarisi 50 juta yuan itu.
Namun sebagian besar uang tersebut kugunakan untuk mendirikan beasiswa bernama:
“080324.”
Tak ada yang tahu arti angka itu.
Hanya aku yang tahu.
Itu adalah tanggal kelahiranku.
Dan juga hari ketika aku lahir… menggantikan seseorang yang tak sempat hidup.
Sejak itu, hidupku berjalan normal.
Tak ada lagi pengulangan.
Tak ada lagi mimpi buruk.
Hanya ada satu kenangan lembut:
Bahwa di suatu tempat, pernah ada jiwa kecil yang berbagi satu detak jantung denganku.
Dan sepanjang hidup ini,
Aku akan hidup… untuk kami berdua.