Ketika aku membuka mata lagi, sepupuku Kylie berdiri di depanku sambil membawa mangkuk pink berisi makanan bayi. Di dalamnya ada daging yang dihancurkan sampai seperti lumpur abu-abu — hanya dari tampilannya saja sudah membuat mual.

Ketika aku membuka mata lagi, sepupuku Kylie berdiri di depanku sambil membawa mangkuk pink berisi makanan bayi. Di dalamnya ada daging yang dihancurkan sampai seperti lumpur abu-abu — hanya dari tampilannya saja sudah membuat mual.

Dia manyun dan berkata seolah permintaannya sangat wajar:

“Ate Lyn, Baby Pao-Pao beberapa hari ini tidak mau makan. Dia cuma mau makanan yang kamu siapkan. Kamu kan pintar masak, tolonglah aku.”

“Mertuaku bilang perut bayi itu lemah. Makanan bayi tidak boleh ada setetes minyak pun, bahkan garam juga tidak boleh. Ribet sekali, aku tidak percaya orang lain.”

Pao-Pao yang berada di stroller di sampingnya menangis sampai wajahnya merah, tapi Kylie bahkan tidak meliriknya. Dia sibuk mengagumi French manicure barunya.

Mertuaku, Aling Rosa, yang duduk di sofa sambil mengikir kuku, ikut menyela,
“Lyn, Kylie sudah minta baik-baik. Kamu kan berhenti kerja untuk urus anakmu, kamu kosong. Satu anak atau dua anak, sama saja.”

Mendengar kata-kata itu lagi, darahku langsung mendidih.

Benar.

Aku kembali ke masa lalu.

Kembali ke hari ketika Kylie menyerahkan seluruh tanggung jawab anaknya kepadaku.

Di kehidupan sebelumnya, karena kalimat “kamu kan kosong” itu, hatiku luluh dan aku menerima beban tersebut. Keluarga suami Kylie adalah keluarga “orang kaya baru” — kaya tapi sangat cerewet dan penuh aturan.

Mertuanya percaya kabar burung dan melarang sedikit pun minyak dalam makanan Pao-Pao.

Daging harus direbus berkali-kali sampai lemaknya hilang total sebelum dihaluskan.

Setiap hari aku berdiri di depan kompor, memeras otak memikirkan menu. Demi satu suap makanan, aku kurang tidur sampai akhirnya mengalami pendarahan lambung.

Sedangkan Kylie? Katanya harus mengembalikan bentuk tubuh. Setiap hari yoga dan spa. Anaknya sepenuhnya ditinggalkan padaku.

Enam bulan kemudian, ketika melihat Pao-Pao makin kurus dan sulit buang air, aku tidak tega. Aku meneteskan satu tetes minyak wijen ke telur rebusnya.

Satu tetes saja.

Keesokan harinya dia muntah dan diare, lalu didiagnosis penyakit usus berat.

Keluarga Kylie menyerbu rumah sakit dan menudingku sebagai pembunuh. Katanya aku iri karena dia menikah dengan orang kaya, jadi sengaja meracuni anaknya.

Aku tidak bisa membela diri.

Lima belas tahun berikutnya, aku bekerja mati-matian. Semua penghasilanku habis untuk biaya pengobatan Pao-Pao.

Anakku sendiri tidak pernah mendapat baju baru, sementara aku membelikan obat impor termahal untuknya.

Dan balasannya?

Di ulang tahunnya yang ke-18, saat aku membawa mie panjang umur untuknya, dia menusukkan pisau ke perutku.

“Kalau dulu kamu tidak menambahkan minyak, penyakitku tidak akan separah ini! Kamu yang menghancurkan hidupku!”

Sebelum mati, aku baru tahu kebenarannya.

Kylie sudah lama tahu penyakit itu genetik.

Dia hanya butuh kambing hitam.

Dan aku yang bodoh, mengorbankan segalanya untuk mereka.

Sekarang, melihat wajah Kylie yang penuh riasan tebal, aku merasa muak.

Karena aku diam, dia tidak sabar dan memaksa mangkuk itu ke tanganku.

“Ate Lyn, kenapa bengong? Pao-Pao lapar!”

Aku langsung mengangkat tangan dan menepis mangkuk itu.

“PRANG!”

Mangkuk pink itu pecah berkeping-keping. Lumpur daging amis terciprat ke sepatu limited edition Kylie.

“Aku tidak akan melakukannya.”

Aku menatapnya dingin.

“Itu anakmu. Kamu yang urus.”

Ruang tamu langsung hening. Hanya tangisan Pao-Pao yang terdengar.

Kylie menjerit melihat sepatunya yang mahal kotor.

“Lyn! Kamu gila ya?! Tahu tidak harga sepatu ini?!”

Mertuaku buru-buru mengambil tisu untuk membersihkannya.

“Astaga, Lyn! Kylie sudah minta tolong baik-baik!”

Dia menatapku penuh tuduhan.

“Kylie sepupu suamimu, Mark. Hidupnya mapan, sering membantu kita. Cuma masak sedikit makanan, apa susahnya?”

Aku hampir tertawa pahit.

Membantu?

Sejak menikah dengan orang kaya, yang dia bawa ke sini cuma vitamin hampir kedaluwarsa untuk pamer.

Mertuaku hanya menjilat demi berharap bagian keuntungan.

Aku membersihkan tanganku dengan tisu basah dan berkata tenang:

“Kalau menurut Ibu masak itu tidak melelahkan, silakan mulai besok Ibu yang siapkan makanan Pao-Pao. Toh Ibu juga di rumah seharian.”

Aling Rosa terdiam.

Dia bahkan tidak mau menyentuh sapu, apalagi masak serumit itu.

“Kamu bicara apa! Aku sudah tua!”

Kylie lalu berpura-pura menangis.

“Ate Lyn, kamu berubah. Kenapa jadi pelit? Pao-Pao itu keponakanmu. Tega melihat dia lapar?”

Aku memotong dramanya.

“Kylie, simpan air matamu.”

“Kalau mertuamu ketat, itu pilihanmu. Kamu memilih menikah dengan keluarga kaya, tanggung aturannya. Kenapa kamu yang menikmati uangnya, tapi aku yang kerja keras?”

“Dia anakmu. Kalau bahkan memasak untuknya kamu malas, jangan bilang aku pelit.”

Aku berbalik.

“Mulai besok aku akan cari kerja lagi. Aku punya hidup sendiri. Aku tidak akan jadi pengasuh gratis.”

Aku masuk kamar dan mengunci pintu.

Di luar terdengar teriakan dan umpatan.

Aku tidak peduli.

Aku membuka laptop dan mulai memperbarui CV.

Di kehidupan ini, aku tidak akan mengorbankan diriku lagi.

Nasibku… ada di tanganku sendiri.

Keesokan paginya, rumah itu masih dipenuhi udara dingin.

Kylie pergi dengan wajah masam. Sepatu mahalnya sudah dibersihkan, tapi harga dirinya belum pulih.
Aling Rosa tidak menatapku saat sarapan.

Aku tidak berkata apa-apa.

Aku mengirimkan lamaran kerja ke beberapa perusahaan, termasuk satu perusahaan distribusi makanan bayi yang cukup terkenal di Jakarta. Ironis, pikirku. Setelah semua yang terjadi, justru aku melamar ke bidang itu.

Tiga hari kemudian, aku mendapat panggilan wawancara.

Seminggu setelah itu, telepon rumah tiba-tiba berdering keras.

Suara di seberang sana panik.

Pao-Pao masuk rumah sakit.

Bukan karena makananku.

Bukan karena minyak.

Tapi karena infeksi usus kambuhan yang memang sudah tercatat dalam riwayat medis keluarga suami Kylie.

Kali ini, dokter menjelaskan dengan tegas di depan semua orang:

“Ini kondisi genetik. Tidak ada hubungannya dengan minyak atau makanan tertentu. Bahkan tanpa minyak pun, penyakit ini bisa kambuh.”

Ruangan itu sunyi.

Mertuanya Kylie terdiam.

Suaminya menatap Kylie dengan wajah penuh kecurigaan.

Dan Kylie… pucat.

Salah satu dokter menambahkan,
“Justru makanan tanpa lemak sama sekali dalam jangka panjang bisa memperburuk kondisi nutrisi anak.”

Aku berdiri di sudut ruangan.

Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, aku tidak berdiri sebagai terdakwa.

Beberapa hari kemudian, keluarga suami Kylie mulai menyelidiki lebih dalam. Mereka menemukan hasil tes lama yang menunjukkan penyakit itu memang diturunkan dari garis keluarga mereka.

Kylie tidak lagi punya kambing hitam.

Posisinya di keluarga itu mulai goyah.

Dia datang ke rumahku suatu malam, tanpa make-up, tanpa tas mahal.

Matanya sembab.

“Ate… aku cuma takut,” katanya lirih.
“Kalau mereka tahu sejak awal ini genetik, mereka pasti menyalahkanku.”

Aku menatapnya lama.

“Dan jadi solusi terbaikmu adalah menghancurkan hidupku?”

Dia tidak bisa menjawab.

Air matanya jatuh, tapi kali ini aku tidak goyah.

“Aku memaafkanmu,” kataku pelan,
“bukan karena kamu pantas. Tapi karena aku tidak mau membawa racunmu lagi dalam hidupku.”

“Tapi mulai sekarang, hidupmu adalah tanggung jawabmu. Anakku adalah tanggung jawabku. Kita tidak lagi saling berutang.”

Dia pergi malam itu.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar bebas.

Sebulan kemudian, aku resmi diterima bekerja sebagai konsultan nutrisi di perusahaan yang kulamar.

Pengalaman pahitku justru menjadi nilai tambah. Aku belajar tentang gizi anak secara ilmiah, bukan dari kabar burung atau ketakutan.

Aku bahkan mulai menulis blog tentang pola makan bayi yang sehat, berdasarkan data medis.

Banyak ibu muda yang membaca dan berterima kasih.

Ironisnya, penderitaan di kehidupan sebelumnya menjadi fondasi kekuatanku sekarang.

Suatu sore, saat menjemput anakku dari sekolah, dia berlari ke arahku dengan senyum lebar.

“Bu, hari ini aku dapat nilai tertinggi!”

Aku memeluknya erat.

Di kehidupan lalu, aku terlalu sibuk menebus kesalahan yang bukan milikku.

Sekarang, aku memilih hadir untuk anakku sendiri.

Beberapa tahun kemudian, aku mendengar kabar bahwa Kylie dan suaminya pindah ke kota lain. Hubungan mereka tidak lagi semewah dulu. Penyakit Pao-Pao tetap harus ditangani, dan kali ini mereka belajar bertanggung jawab sendiri.

Aku tidak merasa senang.

Aku juga tidak merasa dendam.

Aku hanya merasa… lega.

Karena akhirnya aku mengerti satu hal:

Menolong tanpa batas bukanlah kebaikan.

Mengorbankan diri tanpa dihargai bukanlah cinta.

Dan keluarga bukan berarti kita harus menjadi korban.

Di kehidupan ini, aku memilih berbeda.

Aku memilih berdiri tegak.

Aku memilih mencintai diri sendiri.

Dan untuk pertama kalinya—

Aku hidup bukan untuk membuktikan apa pun pada orang lain,

melainkan untuk menjalani hidup yang memang pantas kumiliki.