Anakku menghabiskan Rp8 miliar untuk membelikanku sebuah mansion besar di kawasan elite Jakarta.

Anakku menghabiskan Rp8 miliar untuk membelikanku sebuah mansion besar di kawasan elite Jakarta.

Dengan hati penuh bahagia, aku datang ke sana untuk pindah.

Namun aku dihentikan oleh satpam tepat di gerbang:

“Maaf Bu, Anda tidak punya kunci, juga tidak ada sertifikat atas nama Anda. Bagaimana kami bisa memastikan Anda pemilik rumah ini?”

Lalu mereka menyeretku keluar dari kompleks.

Aku kehilangan tempat tinggal, terpaksa tidur di bawah jembatan dan memungut sampah demi bertahan hidup.

Seorang reporter merekam kehidupanku dan mewawancarai anakku yang berada di luar negeri.

Setelah menonton video itu, ia murka dan memarahiku di depan publik:

“Sudah tua masih saja pura-pura sengsara demi viral dan cari views!”

“Aku ini investor terkenal di Wall Street, kenapa aku punya ibu yang memalukan seperti ini?!”

Setelah itu, ia memblokir nomorku.

Ia juga menyatakan tak akan memberiku satu rupiah pun lagi.

Tiga tahun berlalu. Ia bangkrut dan kembali ke Indonesia.

Penuh utang, ia berlutut di depanku sambil menangis memohon.

Katanya, jual saja mansion itu untuk melunasi utangnya.

Aku hanya menghela napas panjang.

“Anakku… apa kau lupa? Kau tak pernah memberiku kunci.

Dan namaku tak pernah tercantum di sertifikat rumah itu.

Rumah itu… tak bisa kujual.”


1

“Bu Lan, beruntung sekali hidup Ibu!”

kata Bu Marites, tetanggaku, dengan mata penuh iri.

“Ethan itu anak yang sangat berbakti. Bayangkan, Rp8 miliar untuk mansion di Jakarta!

Nanti Ibu jadi orang kaya di sana, jangan lupa kami ya!”

Senyum tak lepas dari bibirku.

Empat puluh tahun aku tinggal di gubuk kecil di desa, bertani di tanah kering, membesarkan Ethan seorang diri.

Ayahnya meninggal saat Ethan masih kecil.
Pagi aku ke sawah, malam menjahit sepatu demi biaya sekolahnya sampai ia bisa bekerja di luar negeri.

Tak pernah kubayangkan ia akan sekaya itu.

Dengan hati riang, aku naik mobil yang menjemputku.

Perjalanan lebih dari tiga jam.

Saat turun, aku memegang gagang gerbang. Terkunci.

Aku memanggil satpam:

“Pak, ini rumah yang dibeli anak saya untuk saya. Tolong dibukakan ya,” kataku sambil tersenyum.

Ia memandangku dari atas sampai bawah.

“Bu, apakah Anda tidak punya kunci?”

Aku terdiam dan menggeleng.
Anakku bilang kunci akan diberi nanti, takut aku hilangkan.

“Tunggu sebentar, saya cek daftar pemilik.”

Ia membuka buku tebal, mencari lama sekali, lalu berhenti.

“Bu… nama pemilik mansion ini bukan atas nama Anda.”

Jantungku serasa berhenti.

“Tanpa kunci dan tanpa dokumen, kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk.

Kenapa tidak hubungi anak Anda?”

Tanganku gemetar saat mengambil ponsel.

Lama sekali baru Ethan menjawab.

“Bu, ada apa lagi? Kita beda zona waktu, saya sedang tidur!”

“Ethan…” suaraku bergetar,
“Mansion yang kamu beli… aku tidak punya kunci, jadi tidak bisa masuk.”

Ia langsung berteriak.

“Bu! Apa lagi masalahnya? Sudah saya habiskan Rp8 miliar supaya Ibu punya rumah, masih kurang?!

Sekarang Ibu mau pegang kuncinya juga?”

Air mataku hampir jatuh.

“Berikan saja kuncinya, Nak… kalau tidak, bahkan masuk pintu pun aku tak bisa…”

“Berikan kunci?”
Ia tertawa sinis.

“Sudah saya belikan rumah besar, itu belum cukup?

Mau pegang kunci juga?

Apa Ibu mau jadikan saya ATM? Nanti kalau sembarangan, Ibu jual rumah itu diam-diam!”

Tubuhku terasa dingin.

“Aku tak pernah berpikir begitu, Nak!”

“Sudah cukup!” potongnya.

“Saya tidak akan pernah memberikan kunci itu!

Kalau Ibu terus memaksa, anggap saja Ibu tak punya anak lagi!”

Telepon terputus.

Aku berdiri di depan gerbang, air mata menetes di atas semen dingin.

Di belakangku ada pintu mewah, tapi kakiku tak pernah bisa melangkah masuk ke “rumah” itu.


2

Tak lama, pintu mansion terbuka.

Seorang wanita berpakaian elegan keluar.

Aku terkejut. Itu Susan, kakak ipar almarhum suamiku.

Dulu saat Ethan sekolah, aku memberinya uang agar Ethan bisa tinggal di rumahnya tiap akhir pekan.

Aku berlari memegang tangannya.

“Kak Susan! Ini aku, Lan! Kenapa Kakak keluar dari dalam?”

Ia menepis tanganku.

“Siapa kamu? Saya tidak kenal.”

“Aku Lan, iparmu! Dulu aku membayarmu untuk menjaga Ethan!”

Ia mengerutkan dahi.

“Satpam, usir nenek gila ini.”

Dua satpam menyeretku keluar.

“Kak Susan! Lihat aku baik-baik!”

Tapi ia masuk kembali tanpa menoleh.

Gerbang tertutup.

Harapanku ikut tertutup.


3

Aku duduk di pinggir jalan dan menelepon Ethan lagi.

Begitu diangkat, ia langsung marah.

“Bu! Belum cukup juga?!”

Aku terisak.

“Aku melihat Bibi Susan tinggal di mansion itu. Katamu itu rumahku. Kenapa dia di sana?”

Ia menjawab dingin.

“Waktu Ayah meninggal, Bibi yang menampung saya enam bulan. Itu balas budi.

Saya sudah belikan Ibu rumah Rp8 miliar, kenapa masih bersaing dengan Bibi?

Kalau saya beri kunci, apa Ibu bisa jaga lebih baik?

Jangan-jangan malah dijual!”

Telepon diputus lagi.

Kali ini nomorku diblokir.

Perutku keroncongan. Sejak pagi aku hanya makan beberapa kacang.

Aku berjalan tanpa tujuan hingga melihat warung bubur hangat.

Di sakuku hanya ada dua koin dan sebuah foto.

Di foto itu, aku menggendong Ethan kecil sambil tersenyum bahagia.

Aku tertawa dan menangis bersamaan.

Kupelihara dia seumur hidupku.
Sekarang, bahkan tempat berteduh pun tak kupunya.

Aku menghapus air mata dan masuk ke klinik kecil bertuliskan:

“Donor Darah – Ada Bantuan Dana.”

Saat keluar, ada kapas di lenganku.

Dengan uang hasil donor darah, aku membeli semangkuk bubur.

Air mata bercampur kuah saat kutelan.

Mansion itu bukan rumahku.

Rumah lamaku di desa pun sudah terjual.

Aku tak punya apa-apa lagi.

Seorang satpam merasa kasihan padaku.

“Bu, Ibu seusia ibu saya. Saya tidak tega melihat Ibu menangis.

Sepupu saya butuh pembantu tinggal di dalam. Sementara saja sampai anak Ibu pulang dan semuanya jelas.”

Aku mengangguk.

“Aku sudah terbiasa hidup susah.”

Bertani, memelihara babi, mengangkat semen, menjahit sepatu—

Apa lagi penderitaan yang belum kualami?

Demi anakku, aku melakukan segalanya.

Dan sampai sekarang… aku masih begitu.

4

Aku bekerja di rumah sepupu satpam itu hampir setahun.

Membersihkan lantai marmer yang dingin, mencuci pakaian dengan tangan yang sudah penuh keriput, memasak untuk keluarga orang lain.

Tak ada yang tahu bahwa aku pernah hampir tinggal di sebuah mansion bernilai Rp8 miliar.

Suatu sore, saat aku sedang menyiram tanaman di halaman, seorang pria berjas kusut berdiri di depan pagar.

Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat. Mata merah karena kurang tidur.

Itu Ethan.

Anakku yang dulu berdiri tegak di panggung konferensi internasional, kini berdiri gemetar di hadapanku.

Ia melangkah mendekat, lalu tiba-tiba berlutut.

“Bu… maafkan aku…”

Suaranya pecah.

“Aku salah… Aku percaya pada orang yang salah… Semua hartaku habis… Aku dikhianati…”

Air matanya jatuh ke tanah.

“Aku sudah tidak punya apa-apa lagi, Bu… Tolong jual mansion itu… Hanya itu satu-satunya yang tersisa…”

Aku menatapnya lama.

Wajahnya tak lagi penuh kesombongan.

Hanya ada ketakutan.

Dan penyesalan.

Aku menarik napas dalam-dalam.

“Ethan… kau lupa sesuatu.”

Ia menatapku dengan harap.

“Kau tak pernah memberiku kunci.”

“Namaku tak pernah ada di sertifikat.”

“Rumah itu… sejak awal bukan milikku.”

Tubuhnya membeku.

“Apa maksud Ibu…?”

Aku tersenyum pahit.

“Sejak hari itu, aku sudah tahu. Mansion itu kau beli atas namamu sendiri.

Kau hanya ingin orang-orang melihat bahwa kau anak yang berbakti.

Bukan benar-benar memberiku rumah.”

Tangisnya semakin keras.

“Bu… aku bodoh… aku terlalu mencintai gengsi…”

Aku menggeleng pelan.

“Tidak. Kau bukan mencintai gengsi.

Kau takut miskin lagi.

Kau takut kembali menjadi anak petani yang dulu malu membawa bekal nasi dengan garam.”

Ia terdiam.

Itu adalah rahasia yang tak pernah ia akui.

Aku mengeluarkan sesuatu dari saku bajuku.

Sebuah amplop cokelat tua.

“Ini apa…?” tanyanya pelan.

“Kontrak jual beli.”

Matanya membesar.

“Tiga tahun lalu, mansion itu disita bank karena utang investasimu yang gagal.

Aku tahu dari berita.

Aku menjual satu-satunya sawah warisan ayahmu dan melunasi sebagian hutangmu diam-diam.”

Tangannya gemetar hebat.

“Bu… kenapa Ibu lakukan itu… setelah semua yang aku katakan…?”

Aku tersenyum lembut.

“Karena aku ini ibumu.”

Aku menatap langit sore yang mulai jingga.

“Aku tidak pernah butuh mansion.

Aku hanya butuh anakku tidak tersesat.”

Air mata Ethan jatuh tanpa suara.

Ia memeluk kakiku seperti anak kecil.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis bukan karena uang.

Melainkan karena cinta yang hampir ia hancurkan sendiri.

Aku menepuk kepalanya pelan.

“Hidup ini seperti rumah, Nak.

Kalau fondasinya kesombongan, ia pasti runtuh.

Tapi kalau fondasinya hati, bahkan gubuk pun terasa seperti istana.”

Senja itu, kami pulang bersama.

Bukan ke mansion.

Bukan ke rumah mewah.

Tapi ke kontrakan kecil dua kamar di pinggir kota.

Tak ada marmer.

Tak ada gerbang tinggi.

Tak ada satpam.

Hanya meja kayu tua, dua kursi plastik, dan sepanci sup hangat di atas kompor kecil.

Ethan duduk di depanku.

Tanpa jas mahal.

Tanpa status investor.

Hanya seorang anak.

“Bu…”

“Ya?”

“Boleh aku mulai lagi… dari nol?”

Aku tersenyum.

“Selama kau masih mau pulang, rumah selalu ada.”

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku—

Aku tidak merasa kehilangan apa pun lagi.