Posted in

“Lho, Bu Sulastri… lagi-lagi cuma tahu sama tempe? Memang nggak pernah bosen, ya?” suara Bu Rini terdengar nyaring.

“Iya, tuh. Dari dulu sampai sekarang, menunya itu-itu aja,” sambung Bu Tati sambil terkekeh.

“Hidupnya sederhana banget, ya, Bu. Mau beli apa sih? Mobil? Rumah? Atau pesawat dan pulau?!”

“Ya mau gimana lagi, Bu,” celetuk Bu Yuni. “Namanya juga orang nggak punya…”

“Iya sih, tapi kasihan juga. Masa tiap hari makanannya cuma begitu?” Bu Rini kembali menimpali. “Anak sama menantunya ke mana, ya? Katanya anak nya baru menikah? Kok nggak unduh mantu sih? Anak sarjana kerja di kota kok jadi sopir. Percuma aja kuliah! Mending kayak kami, gak usah sekolah tinggi tinggi, di sawah aja tapi makan ayam tiap hari.”

“Ah, paling menantunya juga sama saja,” kata Bu Tati. “Nggak peduli.”

“Bisa jadi malah numpang hidup,” Bu Yuni menambahkan, membuat ketiganya tertawa kecil.

“Saya beli ini saja, Pak,” suara Bu Sulastri pelan, nyaris tak terdengar pada tukang sayur langganan.

“Cuma dua potong tahu sama tempe segini?” Bu Rini mengernyit.

“Iya… cukup…”

“Ya Allah, irit amat, sih,” Bu Tati menggeleng. “Kalau saya jadi Ibu, malu keluar rumah.”

“Sudahlah, nanti juga pulang makan tahu lagi, tempe lagi,” Bu Yuni menimpali sinis.

“Namanya juga nasib!” Bu Rini menutup dengan tawa.

Suara plastik berkeresek saat Bu Sulastri mengambil belanjaannya. Tangannya gemetar halus, tapi ia tetap tersenyum.

“Tunggu, Bu!”
Langkahnya bu Sulastri terhenti mendengar sebuah suara dari teras rumahnya .

“Ayo, Bu, kita beli bahan lagi,” ujar seorang perempuan cantik berjilbab sambil menggamit tangan bu Sulastri dan mengajaknya agar kembali ke tukang sayur.

“Lho, Mbak ini siapa?” Bu Tati mengamati.

“Saya?” suara itu dingin. “Saya menantunya. Nama saya Alya.”

“Eh… menantu?” Bu Yuni terkejut.

“Iya. Yang katanya nggak peduli. Yang katanya numpang hidup.”

“E… bukan begitu maksud kami…” Bu Rini mulai gugup.

“Oh ya?” Alya menatap tajam. “Terus maksudnya apa?”

“Ya cuma bercanda, Mbak…” Bu Tati mencoba tersenyum.

“Bercanda?” Alya menarik napas panjang. “Kalau Ibu saya tiap hari pulang dengan hati sakit, itu juga bercanda?”

“Lho, kami kan nggak tahu,” Bu Yuni lirih.

“Sekarang tahu, kan?”

Suasana mendadak sunyi.

“Bu,” suara Alya melembut. “Tahu sama tempenya sini dulu.”

“Ndak usah, Nak. Sudah cukup…” Bu Sulastri menolak pelan.

“Kasih sini, Bu.”

Plastik itu berpindah tangan.
“Mbak, kalau mau beli yang lain, silakan, tapi jangan ribut.” tukang sayur menyela hati-hati.

“Saya bukan bikin ribut,” jawab Alya. “Saya cuma mau belanja.”

“Belanja?” Bu Rini mengernyit.

“Iya. Semua ayamnya berapa?”

“Semua?” tukang sayur kaget.
“Iya. Ayam potong, ayam utuh, semuanya.”

“Ada lima kilo ayam potong sama tiga ekor ayam utuh.”

“Saya ambil semua.”

“Tapi, Mbak—”

“Berapa harganya?”

“Ini… sekitar…”

“Sudah, hitung saja. Saya ambil semua.”

“Terus daging sapi?” tanya Alya lagi. “Ada berapa kilo?”

“Sekitar empat kilo…”

“Saya ambil semua.”

“Semua lagi?” bisik Bu Tati.

“Sayurannya sekalian,” lanjut Alya. “Bayam, kangkung, wortel, cabai, tomat… semua.”

“Mbak, nanti yang lain nggak kebagian…” tukang sayur mengingatkan.

“Memangnya dari tadi mereka mikirin orang lain?” jawab Alya tajam.

Semua terdiam.

“Iya, bungkus saja semua,” katanya lagi.

“Mbak… ini banyak sekali…”

“Gak apa-apa. Saya bayar.”

“Ini mahal, lho…”

“Saya bayar.”

Uang diserahkan.

“Ini lebih, kembaliannya simpan saja,” katanya.

“Lho, Mbak…” Bu Rini mulai gelisah. “Kalau semua diborong, kami beli apa?”

“Iya, Mbak Alya! Kita juga butuh makan!” Bu Yuni ikut bersuara.

“Oh, sekarang kalian butuh?” Alya tersenyum tipis. “Baru sadar?”

“Maksudnya?”

“Waktu kalian menghina Ibu saya, kalian nggak mikir beliau juga butuh dihargai.”

“Itu kan cuma—” Bu Tati terdiam.

“Cuma apa?” potong Alya. “Cuma menyakiti?”

“Maaf, Mbak…” Bu Rini menunduk.

“Maaf itu gampang,” kata Alya. “Tapi luka itu susah hilang.”

Bu Sulastri menunduk, matanya berkaca-kaca.
“Sudah, Nak… nggak usah…”

“Enggak, Bu. Harus.”

“Nak…”

“Ibu diam dulu, ya.”

Semua kembali diam.

“Ibu saya beli tahu tempe bukan karena dia nggak mampu,” lanjut Alya. “Tapi karena dia terbiasa hidup sederhana. Dia lebih memilih mengalah demi keluarganya.”

Tak ada yang berani menyela.

“Dan sekarang, kalian menertawakannya?”

“Maaf, Mbak Alya… kami salah…” Bu Yuni lirih.

“Saya nggak masalah kalau kalian nggak suka saya,” kata Alya tegas. “Tapi jangan pernah menghina Ibu saya lagi.”

“Iya, Mbak… nggak akan…”

“Kalau masih saya dengar…”

“Enggak, Mbak. Sumpah.”

“Bagus.”

Alya menarik napas.
“Sekarang, kalau mau beli ayam atau daging… silakan cari di tempat lain.”

“Mbak…” Bu Tati hanya bisa menelan ludah.

“Saya sudah beli semuanya.”

Suasana jadi canggung.
“Bu, kita pulang, ya,” kata Alya lembut.

“Iya, Nak…”

“Kita masak yang enak hari ini.”

“Ndak usah repot…”

“Harus. Biar Ibu juga tahu rasanya makan tanpa dihina orang.”

Bu Sulastri tersenyum haru.

“Terima kasih, Alya.”
“Bukan apa-apa, Bu.”

Mereka berjalan pergi, meninggalkan Bu Rini, Bu Tati, dan Bu Yuni yang hanya bisa saling pandang dengan wajah malu dan kesal.

Next?