“Pelan-pelan, Mas. Hati-hati kena b4-yi kita!”
Enam bulan menikah, aku masih suci karena suamiku kecel4ka–an setelah akad, yang membuatnya maan-dul dan gak bisa bangun lagi.
Namun, aku justru melihat langsung dia dan kakak iparnya bermain. Kubalas saja semuanya dengan ….
“Maaf, Aruni. Aku nggak bisa. Liatlah, tetap nggak mau,” ucap suamiku, Rivanda dengan nada sedih dan malu.
Aku mengelus lembut tangannya, berusaha menenangkannya dan tidak akan membuatnya merasa rendah diri. Pasca kecel aka4n setelah akad nikah kami, suamiku mengalami gangguan di bagian organ rep ro-du ksinya.
Dia maan-dul dan tidak bisa bangun lagi selayaknya laki-laki normal. Hal ini sudah berlangsung selama enam bulan dan kami sudah banyak melakukan terapi di berbagai tempat. Sayangnya, kesembuhan belum juga kami dapatkan. Namun, Mas Rivanda tetap mencoba memberikanku na fk ah batin.
Aku tersenyum getir, menahan sesak yang mulai menghimpit dada. Kupandangi wajah Mas Rivanda yang tampak begitu terpukul. Di bawah remang lampu kamar, pria yang kucintai itu terlihat sangat rapuh. Enam bulan pernikahan kami hanya diisi dengan tangis tersembunyi dan janji-janji medis yang tak kunjung terwujud.
Padahal keluargaku pemilik rumah sakit besar. Mamaku bahkan dokter spesialis kandungan ternama, tapi hanya pada Mama dia tidak mau bero–bat. Dia malu.
“Sabar, Mas. Jangan dipaksa. Aku menerimamu apa adanya,” bisikku lirih.
Aku merebahkan kepala di d4danya, mendengarkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Ada rasa iba yang luar biasa, namun jauh di lubuk hatiku, ada kehampaan yang mulai mengakar.
Lalu, Mas Rivanda tertidur lebih awal, atau setidaknya itu yang dia tunjukkan padaku. Aku sendiri hanya bisa menatap langit-langit kamar, membayangkan masa depan kami yang terasa abu-abu.
Sebagai pengantin baru, kamar ini seharusnya penuh bunga dan tawa, bukan aroma obat-obatan dan keheningan yang menyesakkan.
Sudahlah, baru juga enam bulan. Sekarang, medis itu sangat canggih. Aku yakin masih banyak waktu kami untuk bisa menemukan dokter dan cara pengobatan yang tepat untuk kesembuhan suamiku.

Pagi ini, sinar matahari masuk menembus jendela ruang makan keluarga Megantara yang megah. Aroma kopi dan nasi goreng terasi menguar, namun entah kenapa, suasana di meja makan terasa lebih dingin dari biasanya.
Aku duduk di samping Mas Rivanda. Dia tampak tenang, bahkan sesekali menyuapkan potongan buah ke mulutku dengan perhatian yang luar biasa. Sejak masih p4-caran, effort Mas Rivanda padaku memang tak kaleng-kaleng.
Mas Rajendra duduk di seberang kami, sibuk dengan tabletnya, sementara Mbak Salma duduk dengan anggun di sebelahnya, mengenakan blouse sutra yang sangat rapi. Cantik sekali memang.
“Gimana terapinya kemarin, Van? Ada kemajuan?” tanya Papa Banu memecah keheningan.
Beliau selalu peduli pada kesehatan putra bungsunya, meski terkadang pertanyaannya terasa seperti beban tambahan bagi kami. Mas Rivanda menghela napas panjang, memasang wajah melankolis yang sempurna.
“Belum ada perubahan signifikan, Pa. Dokter bilang ini memang butuh waktu lama karena syarafnya yang kena saat kece-lak4an itu.”
Mama Thalia menghentikan denting sendoknya. Beliau menatap kami berdua dengan tatapan penuh selidik, tapi tetap lembut. Sebagai ibu, beliau tentu tidak sabar menantikan kehadiran cucu dari putra bungsunya.
“Kalian ini masih muda, meski kecel4_kaan itu memang musibah, tapi jangan menyerah,” ujar Mama Thalia.
“Begini aja, Mama udah membatalkan semua jadwal rapat kalian untuk minggu depan. Mama udah memesan vila di Swiss. Kalian harus pergi bulan madu. Nggak ada tapi-tapian!”
Uhuk!
Suara tersedak itu terdengar bersamaan dari dua arah yang berbeda. Mas Rivanda langsung menyambar gelas air putihnya, sementara Mbak Salma yang baru saja menyesap teh hangatnya tampak terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah. Ia buru-buru mengambil tisu, menghindari tatapan mata siapapun di meja itu.
“Hati-hati, Salma,” tegur Mas Rajendra heran sambil mengusap punggung istrinya dengan lembut.
“Ada apa? Kamu kaget dengar rencana Mama? Kok bisa?”
“Ti-tidak, Mas. Hanya tehnya terlalu panas,” jawab Mbak Salma gugup.
“Mau … bulan m4du?” Suara Mas Rivanda bergetar.
Dia melirikku sekilas dengan tatapan penuh kepanikan yang ditutupi rasa malu.
“Apa nggak terlalu cepat? Rivanda merasa belum siap kalau harus … ke sana. Kondisi Rivanda masih seperti ini, Ma. Rasanya percuma aja buang-buang bi4-ya.”
“Justru itu tujuannya, Sayang,” potong Mama Thalia tegas.
“Arunika juga butuh istirahat. Dia udah sangat sabar merawatmu selama enam bulan ini tanpa mengeluh. Perubahan suasana mungkin bisa membantu sarafmu bekerja lebih baik.”
Aku merasakan remasan tangan Mas Rivanda di bawah meja. Tangannya yang dingin itu seolah memohon dukungan dariku untuk menolak ide g i-l a ini. Namun, aku justru melirik ke arah Mbak Salma yang tampak meremas serbetnya dengan sangat kencang di atas meja. Aneh rasanya, tapi aku juga tidak paham kenapa.
“Tentu aja, Ma,” jawabku dengan nada datar yang membuat Mas Rivanda tersentak di kursinya.
“Mungkin udara dingin di Swiss bisa memberikan keajaiban yang nggak bisa diberikan oleh dokter di sini.”
Mas Rivanda kembali tersedak, kali ini lebih parah, hingga air putih membasahi dagunya. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, antara takut, malu, atau mungkin … terpojok.
“Sayang, terlalu cepat nggak, sih? Apa nggak bisa ditunda sampai Mas sembuh?” pinta Mas Rivan dengan mata memelas.
Suaranya terdengar sangat rapuh dan tertekan. Biasanya aku akan menurut, tapi entah kenapa, pagi ini ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.
Aku melirik ke arah Mbak Salma. Kakak iparku itu masih menunduk, masih menggenggam erat serbet hingga buku-buku jarinya memutih. Kenapa dia tampak jauh lebih gelisah daripada suamiku sendiri?