Perempuan itu terisak sambil menggenggam tangan ibunya erat. Seolah sedang mencari perlindungan dari badai yang ia ciptakan sendiri.
Paman Beni menatap tajam dengan rahang mengeras. “Arka itu calon suami kakak sepupumu, Sabrina! Bagaimana bisa kamu melakukan hal sememalukan ini?” bentaknya dengan suara meninggi.
Tangan Paman Beni sempat terangkat, namun Bibi Siska buru-buru menghalangi.
“Sudah Pa, cukup! Semarah apa pun Papa, cukup dengan kata-kata saja. Jangan main fisik!” Bibi Siska berusaha menengahi. “Bagaimanapun juga Arka dan Sabrina sudah melangkah terlalu jauh. Kasihan janin yang tidak berdosa ini, Pa.”
Pengakuan itu menghantam telinga Irin. Diketahui Sabrina telah hamil 6 minggu. Itu berarti, hubungannya dengan Arka bukan sekadar kesalahan sesaat. Mereka sudah berkali-kali melewati batas tanpa sepengetahuan Irin.
“Sebentar lagi akan ada pemilihan kepala daerah. Mau ditaruh dimana muka keluarga kita kalau kelakuan anak ini tersebar?” geram Paman Beni frustasi. Napas pria paruh baya itu memburu, menunjukkan harga dirinya sebagai calon pejabat publik sedang dipertaruhkan.
Di tengah sesaknya suasana, Irin justru merasakan setitik kepuasan melihat Sabrina terpojok. Luka hatinya seolah menemukan pembenaran. Ia kemudian mengalihkan pandangan ke arah Arka yang duduk tak jauhnya. Pria itu sejak tadi hanya diam membisu menonton kekacauan ini.

“Itu yang tadi kamu sebut khilaf, Mas?” sindir Irin dengan suara rendah tapi menusuk.
“Aku sadar aku salah, Rin. Aku memang tidak pantas menerima maaf darimu,” ucap Arka lirih tanpa berani menatap.
“Tega kamu, Mas! Jadi selama ini kamu hanya menganggap hubungan kita sebagai lelucon?” ucap Irin tenang namun sarat dengan amarah.
“Bukan seperti itu, Rin. Perasaanku padamu benar-benar tulus. Hanya saja….”
“Mas Arka, bicaralah sama papa.” Sabrina langsung menyela. “Semua sudah terjadi dan kak Irin pun sudah mengetahuinya. Setidaknya demi bayi ini,” pintanya memohon. Seakan sengaja menekankan kata ‘bayi’ untuk mengunci pergerakan Arka.
Paman Beni menghela napas berat, lalu menatap Arka dengan sorot mata mengintimidasi. “Jadi bagaimana keputusanmu, Arka? Kamu berencana menikahi keponakanku, tapi disisi lain kamu juga sudah melakukan hal yang berdampak besar pada putriku. Kamu tahu resikonya jika masalah ini sampai ke telinga publik.”
Arka terdiam sesaat, pikirannya seakan terseret di antara dua arah. Di satu sisi ada Irin, perempuan yang ia rencanakan sebagai pendamping hidup. Tapi di sisi lain ada Sabrina yang kini menjadi beban tanggung jawabnya. Tatapan Arka kembali jatuh pada Irin, penuh harapan sekaligus ketakutan.
“Saya tergantung jawaban Irin,” ucap Arka akhirnya.
Irin tersenyum getir. Di saat seperti ini Arka masih mengharapkan jawabannya? Apa pria itu berharap ingin memperistri mereka berdua sekaligus?
“Sudahlah, Irin. Kamu ikhlaskan saja apa yang terjadi.” Bibi Siska memecah suasana. “Anggap saja ini sebagai balas budi untuk kami yang sudah merawatmu sejak orang tuamu tiada.”
Irin mengernyit heran. “Maksud Bibi?”
“Serahkan saja pernikahanmu dengan Arka untuk Sabrina. Demi kehormatan keluarga kita,” ucap Bibi Siska tanpa beban.
Kehormatan keluarga? Enteng sekali kedengarannya.
Irin tersenyum getir. Bukan berarti ia masih berharap ingin melanjutkan pernikahan dengan Arka. Hanya saja, cara mereka membungkus pengkhianatan ini sebagai balas budi terasa begitu tidak adil dan menyakitkan.
Atau jangan-jangan, Bibi dan Pamannya sudah tahu hubungan tersembunyi antara Arka dan Sabrina sejak awal?
“Tidak apa-apa, anggap saja sedekah sampah. Suatu saat nanti mereka pasti akan merasakan karmanya.” Irin tersenyum getir saat meninggalkan gerbang rumah itu.