Posted in

“Bawa koper bulukmu ini dan angkat kaki dari rumah dinasku sekarang juga! Perempuan benalu dan tak bisa diandalkan sepertimu tidak pantas bersanding dengan seorang Sersan berprestasi sepertiku!”

“Bawa koper bulukmu ini dan angkat kaki dari rumah dinasku sekarang juga! Perempuan benalu dan tak bisa diandalkan sepertimu tidak pantas bersanding dengan seorang Sersan berprestasi sepertiku!”

Suara bariton Sersan Raka menggelegar, membelah kesunyian asrama militer sore itu.

Tepat setelah kalimat menyakitkan itu terucap, sebuah koper kain berwarna biru pudar melayang ke halaman berumput yang basah, menjatuhkan beberapa potong pakaian sederhana ke tanah.

Di ambang pintu, Raka berdiri berkacak pinggang. Di sebelahnya, seorang wanita bergaun merah marun, Sintia, bergelayut manja di lengan kokoh pria itu sambil menutupi mulutnya, menyembunyikan tawa meremehkan.

Beberapa istri prajurit lain mulai mengintip dari balik jendela rumah mereka, berbisik-bisik menyaksikan drama sore itu.

Namun, Anindya tidak menangis.

Jangankan bersimpuh memohon ampun, setetes air mata pun enggan keluar dari pelupuk matanya yang bulat bersinar.

Gadis berusia dua puluh dua tahun itu justru memungut pakaiannya yang berserakan dengan tenang, memasukkannya kembali ke dalam koper, lalu berdiri tegak.

Ia tersenyum manis, memamerkan lesung pipinya, dan membungkuk dengan gaya hormat militer yang dilebih-lebihkan.

“Siap, laksanakan, Pak Sersan!” Anindya menjawab dengan nada ceria yang sukses membuat rahang Raka mengeras seketika.

“Terima kasih sudah mengusir saya, awas menyesal nanti. Oh ya, sekadar mengingatkan, cicilan panci anti lengket yang dibeli ibumu bulan lalu belum lunas ya, Pak. Tolong dilunasi, jangan sampai ditarik debt collector pas kamu lagi asyik berduaan dengan wanita selingkuhan kamu ini!”

Anindya menutup koper buluknya rapat-rapat, lalu menyeretnya melewati halaman asrama dengan langkah ringan, seolah yang baru saja terjadi hanyalah candaan sore biasa.

Padahal di belakang punggungnya, tatapan puluhan pasang mata sedang menusuk penuh iba… dan sebagian lagi penuh rasa puas.

“Perempuan kampung memang nggak tahu diri.”

“Kasihan juga sih… tapi ya salah sendiri terlalu bergantung sama suami.”

Bisik-bisik itu beterbangan seperti nyamuk di telinga.

Namun Anindya tetap berjalan tanpa menoleh sedikit pun.

Sampai akhirnya suara Raka kembali terdengar dari belakang.

“Dan jangan pernah kembali lagi ke hidupku!”

Langkah Anindya berhenti sesaat.

Ia menoleh perlahan, tersenyum begitu manis hingga membuat Raka justru merasa tidak nyaman.

“Tenang aja, Mas,” katanya pelan. “Biasanya yang pergi duluan memang nggak pernah balik.”

Kalimat itu entah kenapa membuat dada Raka sesak sesaat.

Tapi Sintia buru-buru menyandarkan kepala di bahunya.

“Udahlah, Sayang. Perempuan miskin begitu paling nanti juga balik nangis-nangis.”

Raka akhirnya mendengus dan membanting pintu rumah dinas mereka.

Sementara Anindya… benar-benar pergi.

Tak ada yang tahu, malam itu gadis yang diusir dengan koper buluk itu justru naik bus antarkota menuju Jakarta.

Dan tak ada yang tahu pula… bahwa di dalam koper lusuhnya tersimpan sebuah map cokelat berisi saham, sertifikat tanah, dan rekening perusahaan bernilai miliaran rupiah.


Tiga tahun sebelumnya.

Anindya sebenarnya bukan perempuan miskin.

Ia putri tunggal Hendra Mahardika, pemilik perusahaan alat kesehatan terbesar di Jawa Tengah.

Namun sejak kecil, Anindya tidak pernah suka memamerkan kekayaan.

Ia bahkan lebih senang hidup sederhana dan menolak memakai mobil mewah keluarga.

Saat kuliah di Semarang, ia bertemu Raka.

Taruna muda dari keluarga biasa yang penuh semangat dan mimpi besar.

Raka jatuh cinta pada Anindya karena gadis itu berbeda.

Tidak manja.

Tidak sombong.

Mau makan di warteg pinggir jalan sambil tertawa lepas.

Dan yang paling penting… Anindya selalu percaya padanya bahkan saat tak ada orang lain yang mendukungnya.

Saat Raka gagal seleksi pertama masuk militer, Anindya yang diam-diam membayar biaya bimbingan fisiknya.

Saat ibu Raka sakit keras, Anindya menjual mobil hadiah ulang tahunnya untuk membantu biaya operasi tanpa pernah mengaku.

Namun semua pengorbanan itu tak pernah diketahui Raka.

Karena Anindya memang tidak pernah ingin dipuji.

Ia hanya mencintai pria itu dengan tulus.

Sayangnya… cinta tulus sering kalah oleh gengsi dan ambisi.

Setelah Raka resmi menjadi sersan dan mulai mendapat jabatan bagus, hidupnya berubah.

Ia mulai malu memiliki istri sederhana yang hanya memakai sandal jepit dan lebih suka memasak sendiri dibanding nongkrong bersama ibu-ibu pejabat.

Apalagi setelah Sintia hadir.

Wanita cantik anak pengusaha lokal yang selalu tampil glamor.

Sintia tahu persis kelemahan Raka: harga diri dan ambisi.

Ia terus membisikkan racun.

“Kamu itu ganteng, mapan, punya masa depan. Harusnya dapat perempuan yang selevel.”

Lama-lama Raka mulai melihat Anindya sebagai beban.

Puncaknya sore itu…

Saat Sintia sengaja datang ke rumah dinas dan berpura-pura melihat Anindya sedang mencuci baju sendiri.

“Ya ampun, Kak Raka…” katanya sambil tertawa kecil. “Istrimu kayak pembantu banget.”

Kalimat itu menusuk ego Raka.

Dan terjadilah pengusiran memalukan itu.


Bus malam berhenti di terminal Jakarta pukul empat pagi.

Anindya turun sambil menghirup udara dingin kota.

Ponselnya bergetar.

“Non akhirnya pulang juga.”

Suara tua penuh haru terdengar dari seberang sana.

Pak Wiryo.

Asisten kepercayaan ayahnya sejak dulu.

Anindya tersenyum kecil.

“Iya, Pak. Aku capek main rumah-rumahan.”

Satu jam kemudian, sebuah Alphard hitam berhenti di depannya.

Pak Wiryo turun tergesa.

Matanya memerah melihat kondisi Anindya yang kurus dan kusam.

“Ya Allah, Non… kenapa jadi begini?”

Anindya malah tertawa kecil.

“Lumayan, Pak. Pengalaman hidup.”

Tak lama mobil itu melaju menuju sebuah rumah megah di kawasan elite Jakarta Selatan.

Di sanalah semuanya berubah.

Begitu pintu rumah terbuka, puluhan pelayan membungkuk hormat.

“Selamat datang kembali, Nona Anindya.”

Anindya menarik napas panjang.

Sudah lama sekali ia meninggalkan hidup itu demi Raka.

Namun kini… ia kembali bukan sebagai gadis lugu yang jatuh cinta.

Melainkan sebagai pewaris tunggal Mahardika Group.


Enam bulan berlalu.

Karier Raka justru mulai kacau.

Sejak tinggal bersama Sintia, pengeluarannya membengkak.

Wanita itu gemar belanja tas mahal, perawatan, dan nongkrong sosialita.

Belum lagi utang kartu kredit yang diam-diam terus menumpuk.

Sementara itu, promosi yang dijanjikan atasan belum juga datang.

Suatu malam, Raka pulang dengan wajah kusut.

“Kenapa listrik mati lagi?!” bentaknya.

Sintia kesal.

“Ya bayar dong tagihannya! Aku bukan ATM!”

Raka mengepalkan tangan.

Dulu… rumah kecil mereka selalu rapi.

Makanan selalu tersedia.

Seragamnya selalu licin dan harum.

Ia baru sadar… selama ini Anindya melakukan semuanya sendirian tanpa pernah mengeluh.

Namun penyesalan selalu datang terlambat.


Di sisi lain, nama Anindya mulai muncul di berbagai media bisnis.

“Direktur muda Mahardika Group sukses ekspansi rumah sakit regional.”

“Anindya Mahardika jadi pengusaha wanita paling berpengaruh.”

Wajah Anindya yang dulu polos kini tampil elegan di berbagai acara perusahaan.

Namun sorot matanya berubah.

Lebih tenang.

Lebih dingin.

Suatu hari Mahardika Group mengadakan acara besar bekerja sama dengan institusi militer.

Raka termasuk salah satu sersan yang ditugaskan mengamankan acara.

Ia datang dengan seragam rapi, tapi hidupnya sedang berantakan.

Begitu memasuki ballroom hotel mewah, langkahnya mendadak terhenti.

Di atas panggung…

Seorang wanita anggun dalam blazer putih sedang memberikan sambutan.

Cantik.

Berwibawa.

Dan sangat dikenalnya.

“Selamat malam,” suara lembut itu menggema. “Saya Anindya Mahardika.”

Jantung Raka seperti dihantam palu.

Tangannya gemetar.

“Itu… Anindya?”

Temannya mengangguk kagum.

“Iya lah. Pemilik Mahardika Group. Gila ya cantik banget.”

Dunia Raka runtuh saat itu juga.

Ia teringat koper buluk.

Baju lusuh.

Dan hinaannya sendiri.

Selesai acara, Raka memberanikan diri mendekati backstage.

“Anin…”

Anindya menoleh.

Tatapan mereka bertemu untuk pertama kali setelah enam bulan.

Namun tidak ada lagi cinta berbinar di mata wanita itu.

Hanya ketenangan asing yang membuat Raka takut.

“Kamu… baik-baik aja?” tanya Raka lirih.

Anindya tersenyum tipis.

“Lebih dari baik.”

Raka menunduk malu.

“Aku nggak tahu kalau kamu…”

“Kalau aku kaya?” potong Anindya santai.

Raka tercekat.

Anindya melangkah mendekat sedikit.

“Aku sengaja hidup sederhana karena aku ingin dicintai sebagai manusia, bukan sebagai rekening berjalan.”

Setiap katanya terasa seperti tamparan.

“Aku pernah percaya kamu berbeda, Mas Raka. Tapi ternyata… kamu cuma malu punya istri yang tidak bisa menaikkan gengsimu.”

Raka buru-buru berkata, “Aku salah, Anin. Aku khilaf.”

Anindya tertawa kecil.

Lucu sekali.

Dulu saat ia diusir sambil membawa koper rusak, tak ada kesempatan menjelaskan.

Tak ada kesempatan menangis.

Sekarang setelah tahu dirinya kaya… pria itu baru menyesal.

“Mas,” katanya lembut, “orang miskin paling menyedihkan bukan yang tak punya uang.”

Raka menatapnya penuh harap.

“Tapi yang menjual orang tulus demi kesombongan.”

Kalimat itu menghancurkan pertahanan terakhir Raka.

Ia ingin meminta maaf.

Ingin memeluk Anindya.

Ingin mengulang semuanya.

Namun semua sudah terlambat.

Karena saat itu seorang pria tinggi berjas hitam datang menghampiri Anindya.

“Meeting berikutnya siap, Nona.”

Anindya mengangguk.

Pria itu lalu membukakan jalan dengan hormat.

Sebelum pergi, Anindya menoleh sekali lagi pada mantan suaminya.

“Oh ya,” katanya manis. “Cicilan panci ibumu akhirnya saya lunasi kok. Kasihan debt collector-nya bolak-balik.”

Wajah Raka langsung memerah.

Anindya tersenyum kecil lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Sepatu heels-nya berdetak pelan di lantai marmer hotel…

Meninggalkan Raka yang berdiri sendirian dengan penyesalan yang akan menghantuinya seumur hidup.