Aku terkejut. “Ada apa?”
Tubuhnya gemetar saat menjawab,
“Tidak ada waktu. Kita harus keluar dari rumah sekarang.”
Aku segera mengambil barang-barang kami dan menggenggam gagang pintu—tapi tiba-tiba…
Itu terjadi.
—
Pagi ketika hidupku runtuh tidak dimulai dengan teriakan atau api.
Semuanya dimulai dengan sunyi.
Anakku, Nara, sedang menuangkan sereal ke mangkuknya.
Kipas angin berdengung pelan di sudut ruangan.
Dan suamiku, Adrian Pratama, sedang menutup koper untuk apa yang ia sebut sebagai “perjalanan bisnis penting ke Bali.”
Ia mencium pipiku, memeluk Nara, lalu keluar rumah seolah itu hari biasa.
Aku melihat mobilnya menjauh dari kompleks perumahan—tanpa tahu bahwa semua yang kupercayai tentang dirinya… tentang pernikahan kami… akan segera hancur.
Baru dua langkah aku kembali ke dapur ketika Nara berlari ke arahku.
Bukan berjalan.
Dia berlari.
Wajahnya pucat.
Tangan kecilnya gemetar.
“Mama… kita harus kabur. Sekarang juga.”
Aku berlutut. “Sayang, ada apa?”
Dia menggeleng keras.
“Tidak ada waktu. Kita harus keluar dari rumah sekarang.”
Perutku terasa mual. “Kamu mimpi buruk?”
“Tidak,” katanya sambil menelan ludah.
“Aku dengar tadi malam. Daddy bicara di telepon. Dia bilang…
‘Kalau mereka sudah tidak ada, semua akan jadi milikku.’
Dia bilang harus terlihat seperti kecelakaan.”
Dadaku terasa sesak.
“Nara,” bisikku, “dia bicara dengan siapa?”
“Dengan Nenek Ratna,” jawabnya pelan.
“Dia bilang sistemnya sudah siap. Pintu dan jendela bisa dikunci dari luar.”
Seluruh tubuhku membeku.
Beberapa minggu terakhir Adrian bilang dia memasang “pelindung badai” baru.
Katanya untuk keamanan.
Tapi sekarang… semuanya terasa berbeda.
Aku mengambil ponsel, dompet, dan amplop darurat—uang, KTP, paspor.
Ada sesuatu dalam diriku yang berkata: anakku tidak mengada-ada.
Dia menarik lenganku.
“Tolong, Mama… kita harus pergi sebelum suara itu mulai.”
“Suara apa?”
“Aku tidak tahu,” katanya, “tapi Daddy bilang timer akan mulai saat kita mendengarnya.”
Jantungku berdegup kencang.
“Baik. Kita pergi sekarang.”
Aku menggendong Nara dan berlari ke pintu belakang.
Aku memutar gagang pintu.
Tidak bergerak.
Terkunci.
Dari luar.
Sebelum aku sempat bereaksi—
CLANG.
Suara logam keras bergema di lorong.
Lalu satu lagi.
Aku menoleh—dan melihat setiap jendela rumah tertutup oleh pelindung baja, satu per satu… seolah kami dikurung di dalam brankas.

Nara menangis.
“Itu suara itu, Mama…”
Tiba-tiba hidungku mencium sesuatu.
Bensin.
Lututku melemas.
“Ya Tuhan…”
Dan kemudian—
bunyi klik.
Bukan dari kompor.
Bukan dari listrik.
Api.
Seseorang menyalakan rumah ini.
Adrian.
Dia tidak pergi ke perjalanan bisnis.
Dia ada di dekat sini.
Menunggu kami dilahap api.
Nara memelukku erat.
“Mama… aku tahu jalan. Aku pernah lihat pintu yang Daddy tidak tahu.”
“Pintu? Di mana?”
“Di pantry,” bisiknya.
“Kecil… di belakang rak.”
Api semakin membesar.
Lantai mulai panas.
Aku menatap anakku—matanya penuh takut, tapi tekadnya kuat.
Dan saat itu aku tahu:
Ini bukan sekadar ketakutan.
Ini bukan kesalahan.
Ini adalah perjuangan untuk hidup.
“Tunjukkan padaku,” kataku.
“Sekarang.”
Nara menarik tanganku dengan kekuatan yang tak terduga. Kami merangkak di bawah gumpalan asap hitam yang mulai turun memenuhi langit-langit. Panasnya mulai menyengat kulit, dan suara gemeretak kayu yang terbakar terdengar seperti raungan monster yang lapar.
Kami sampai di dapur. Rak-rak kayu yang biasanya tertata rapi kini sudah mulai disambar jilat api. Nara menunjuk ke arah rak bumbu yang paling bawah, tepat di sudut yang tersembunyi di balik lemari es besar.
“Di sana, Mama! Dorong pintunya!” teriak Nara di antara batuknya.
Aku menyingkirkan rak itu dengan sisa tenagaku. Di baliknya, bukan dinding beton, melainkan sebuah panel kayu yang tampak tidak wajar. Aku menghantamnya dengan bahuku sekali, dua kali—pada hantaman ketiga, panel itu jebol.
Itu adalah saluran pembuangan utilitas tua yang cukup lebar untuk tubuh kami. Kegelapan pekat menyambut di depan, namun aroma udara segar dari luar masuk melalui celah itu.
“Nara, masuk duluan!” perintahku.
Saat dia merangkak masuk, aku menoleh sekali lagi ke ruang tengah. Di sana, melalui celah pelindung baja yang belum tertutup sempurna, aku melihat siluet seorang pria.
Adrian.
Dia berdiri tenang di halaman rumah, memegang ponsel di tangannya, memperhatikan rumah ini terbakar dengan tatapan tanpa emosi, seolah sedang menonton pertunjukan seni. Dunianya yang dingin, ambisiusnya yang mengerikan—semuanya kini terpampang nyata. Dia tidak sedang dalam perjalanan bisnis. Dia sedang menyaksikan kematian kami demi harta yang diincarnya.
Amarah mengalahkan rasa takutku. Aku tidak akan membiarkan dia menang.
Aku merangkak masuk ke lubang itu, menyeret tubuhku melalui terowongan sempit yang berdebu. Suara ledakan kecil terdengar dari arah ruang tamu; kaca jendela mungkin telah pecah.
Kami merangkak sejauh sepuluh meter, sampai akhirnya aku menendang penutup saluran di sisi lain. Cahaya matahari silau menyambut kami. Kami berada di luar, di balik semak-semak lebat yang berbatasan dengan hutan kecil di belakang kompleks perumahan.
“Jangan menoleh, Nara. Lari,” bisikku tajam.
Kami berlari tanpa alas kaki menuju jalan raya utama, menjauh dari kepulan asap yang mulai membumbung tinggi ke langit. Aku mengeluarkan ponselku yang hampir mati, jemariku gemetar hebat saat menekan tombol panggil.
Bukan polisi. Bukan pula ambulans.
Aku menelepon pengacara keluarga yang tahu betul tentang semua aset dan wasiat yang selama ini diincar Adrian.
“Halo? Siapa ini?” suara di seberang terdengar bingung.
“Ini aku, Sarah. Adrian mencoba membunuh kami. Dia membakar rumah kami sekarang,” kataku dengan napas tersengal.
Aku berhenti di balik papan reklame besar di pinggir jalan, memantau dari kejauhan. Mobil Adrian masih terparkir di ujung jalan, mesinnya menyala. Dia masih menunggu. Dia yakin kami tidak akan bisa keluar.
Aku menatap Nara yang terisak dalam pelukanku. Anak ini bukan hanya menyelamatkan nyawaku; dia memberiku senjata paling mematikan bagi suamiku: kebenaran.
Adrian Pratama mungkin berpikir dia sudah membuat “kecelakaan” yang sempurna. Tapi dia lupa satu hal—aku masih hidup, dan aku tahu rahasia terbesarnya.
“Dia tidak akan mendapatkan apa pun,” bisikku pada diriku sendiri.
Malam ini, bukan kami yang akan berakhir. Adrianlah yang akan kehilangan segalanya. Aku akan memastikan dia membusuk di tempat yang jauh lebih sempit dan lebih dingin daripada rumah yang baru saja dia bakar.