Ucapan itu membuatku sadar, jika aku tak pernah dianggap menantu tapi pembantu. Baiklah, aku tunjukkan apa itu menantu tak tahu diri.
“Dewi, kamu istirahatlah dulu. Tapi setelah istirahat, nanti kamu buat makan malam, ya. Oh ya, malam ini Mas akan pulang terlambat karena ada urusan pekerjaan dengan teman.”
Sebuah pesan masuk ke ponselku. Aku hanya bisa menghela napas panjang saat suamiku lebih memilih mengirim pesan daripada menyampaikan langsung semua itu, padahal dia masih ada di rumah.
Apa sebegitu tak berharganya diriku dalam kehidupan suamiku? Sejak kapan dia berubah menjadi seperti ini?
“Dewi, kenapa kamu tak menjawab? Apa kamu masih ingin mengeluh dan tak mau membuat makan malam? Ibu sedang sakit jadi tak mungkin membuat makan malam kalian.”
Satu pesan lagi masuk ke ponselku.
“Baik, Mas. Aku akan buat makan malam. Aku istirahat dulu,” balasku.
Aku berjalan ke arah pintu, membuka sedikit, lalu mengintip ke luar. Aku bisa melihat Mas Arman sedang duduk di sofa ruang tengah. Sepertinya dia sedang membaca pesanku. Aku bisa melihat senyum puas di wajahnya. Kemudian ia berjalan menghampiri kamar ibunya.
Wah, hebat sekali, Mas. Kamu sempat berpamitan pada ibumu, tapi tak sudi berpamitan padaku.
Aku terus menunggu, masih berharap Mas Arman menghampiri kamar kami sekadar berpamitan. Namun, itu hanya harapan kosong.
Aku ingin tertawa, benar-benar merasa bodoh selama ini. Diperlakukan tak adil di rumah itu, tapi aku terus berpikir jika cinta suamiku masih sama seperti dulu—cinta yang membuatku bertahan selama tujuh tahun, diperlakukan seperti pembantu di rumah ini.

“Nak, kita istirahat dulu, ya. Walau Ibu merasa kesal, bagaimanapun dia tetap ayahmu, ini keluarga ayahmu. Tapi, kamu tenang saja. Ibu akan menjagamu dengan baik.” Aku kembali mengingat pesan dokter agar aku tak stres dan kelelahan, aku kembali ke tempat tidur merebahkan diri dan memejamkan mata.
Setelah menikah dengan Mas Arman, aku langsung pindah mengikutinya, berharap hidupku akan bahagia.
Sudah tujuh tahun aku tinggal di kota ini, namun tak ada satupun teman atau kenalan. Selama ini aku hanya tinggal di rumah, mengurus segala keperluan rumah. Selain pelanggan kue dari para tetangga, tak ada lagi yang aku kenal.
Andai dulu aku tak memaksakan kehendakku menikah dengan mas Arman dan menuruti perjodohan kedua orang tuaku, semua ini mungkin tak akan terjadi. Sekarang, aku bahkan malu mengeluh pada mereka.
*
Dengan perut yang semakin besar, aku tetap berdiri di depan kompor membuat beberapa menu makan malam. Sebenarnya, memasak bukanlah sesuatu yang memberatkan. Namun, setelah kejadian kemarin, rasanya aku tak lagi ikhlas memasak untuk mereka semua. Tapi mau tak mau, aku tetap melakukannya, mengingat aku sudah mengiyakan permintaan suamiku.
“Mbak Dewi, nanti jangan lupa ya setrika seragam sekolahku. Tadi aku terpaksa pakai pakaian yang lecek karena Mbak bangun kesiangan.” ketus Airin.
“Itu kan bajumu. Setrika saja sendiri. Ini Mbak lagi buat makan malam.”
“Ya ampun, Mbak. Aku nggak nyuruh sekarang. Nanti saja setelah Mbak selesai masak.”
“Nggak bisa.”
“Loh, kenapa nggak bisa?” tanyanya kesal.
“Lihat, cucian piring menumpuk sejak semalam. Ditambah nanti habis makan malam, Mbak harus mencucinya. Jadi tak ada waktu.”
“Ya ampun, Mbak. Aku mau pakai itu besok pagi, bukan malam ini. Masa mencuci piring sampai besok pagi?”
“Kalau Mbak menuruti semua permintaanmu, baru itu namanya bodoh. Mbak ini kakak iparmu, bukan pembantumu. Masak, mencuci piring, dan sekarang harus menyetrika juga. Lalu kamu kerja apa di rumah ini?”
“Kok Mbak malah nyolot sih? Bukannya selama ini itu memang tugas Mbak? Kenapa sekarang jadi aku yang harus setrika sendiri?”
“Iya, selama ini Mbak melakukannya karena Mbak tidak sedang hamil. Apa kamu tidak lihat perut Mbak sudah semakin besar? Kata dokter, Mbak tidak boleh capek. Jadi setelah masak dan mencuci piring, Mbak ingin istirahat.”
“Pokoknya aku nggak mau tahu! Besok seragamku harus sudah disetrika!” Airin langsung pergi meninggalkan dapur. Aku hanya menggeleng dan melanjutkan memasak.
“Mbak Dewi, kalau masakannya sudah selesai, antar ke kamar Ibu, ya. Ibu mau makan di kamar.”
“Nggak bisa. Kamu saja yang antar. Mbak sudah memasaknya.”
“Mbak, Ibu sedang sakit. Dia nggak bisa keluar. Semua ini juga gara-gara Mbak, karena kemarin seharian keluar! Jadi Ibu yang harus membereskan semuanya.”
“Membereskan apa? Cucian piring masih numpuk, lantai belum di sapu dan pel. Cucian dan setrikaan masih menggunung, dan Mbak lihat makan siang juga ibu beli. Katakan sehari ini ibu kerja apa?” tanyaku kesal.
Tadinya aku berpikir ibu mertuaku itu benar-benar lelah mengerjakan semua pekerjaan rumah, karena setelah sekian lama akulah yang mengerjakannya. Namun, setelah memeriksa aku sampai bertanya-tanya pekerjaan apa yang dilakukan oleh ibu mertuaku itu sampai dia katanya sakit.
“Ga tau, yang jelas sudah jadi tugas Mbak untuk merawat Ibu. Dia itu mertuanya Mbak!”
“Iya, Ibu memang mertuanya Mbak. Tapi dia juga ibumu. Kenapa kamu tak mau merawat ibumu sendiri saat dia sedang sakit? Kamu tidak harus memasak, cukup mengantar makanan saja. Ini Mbak sudah selesai. Mbak lapar, mau makan. Ambilkan sendiri makanan untuk Ibu dan bawa ke kamarnya.”
“Aku ga bisa, Mbak! Aku lagi nonton, ini lagi seru-serunya ga bisa di tinggal.”
Aku meninggalkan dapur dan Via terus mengekoriku.
Aku mengambil nasi dan lauk, lalu membawanya ke kamar. Terserah dia mau mengantar makanan untuk ibunya atau tidak. Yang jelas, Mas Arman hanya memintaku memasak makan malam, dan aku sudah melakukannya.
Bersambung….