Posted in

Kampung Tanpa Penduduk 10

Aku mengedip pelan.
Lalu mengedip lagi.

Tapi bayangan itu tetap tersenyum—senyum samar, tipis, seperti mengejek. Dan matanya… kosong. Hitam tanpa ujung.

Kampung Tanpa Penduduk 10

Aku mengedip pelan.
Lalu mengedip lagi.

Tapi bayangan itu tetap tersenyum—senyum samar, tipis, seperti mengejek. Dan matanya… kosong. Hitam tanpa ujung.

Aku melangkah mundur perlahan. Cermin itu kembali seperti semula. Pantulan bayanganku tampak normal. Tidak tersenyum, tidak bergerak lebih dulu.

Namun aku tahu… ada yang berubah.

Sejak cermin itu hancur, sejak suara jeritan dari balik kaca menggema, sesuatu telah keluar. Sesuatu yang tidak seharusnya bebas.

Dan aku takut… bukan hanya satu yang berhasil lolos.

Hari itu, kampung Luwung Asih tampak lebih hidup dari biasanya. Orang-orang beraktivitas seperti biasa—menjemur pakaian, menyapu halaman, anak-anak bermain di lapangan. Tapi dari caraku memperhatikan, aku tahu: ada yang tidak sama.

Bu Marmi, yang biasanya cerewet di warung, kini hanya diam dan tersenyum setiap orang lewat. Pak Ranto, yang dulunya pincang karena kecelakaan, kini berjalan tegap, lurus, dan terlalu tenang. Bahkan suara tawa anak-anak… terdengar terlalu seragam, seperti diputar dari rekaman lama.

Aku berjalan di antara mereka, membawa Harsa yang terus menggenggam tanganku erat. Tapi sesekali, aku bisa merasakan sorot mata itu. Tatapan kosong. Tatapan yang tidak benar-benar melihatku, tapi menembus ke dalam. Seperti mereka tahu siapa aku… atau lebih tepatnya, apa yang telah aku lakukan.

“Aku harus bicara sama Ayala,” gumamku pelan saat kami sampai di rumah.

Harsa hanya mengangguk. Ia jadi lebih pendiam sekarang, seperti mengerti bahwa dunia di sekelilingnya mulai bergerak aneh. Tidak lagi sesederhana permainan dan boneka.

Aku menemukan Ayala sedang di dapur, menyiangi sayur. Cahaya matahari sore menembus jendela, membuat wajahnya terlihat hangat. Tapi aku tak berani percaya begitu saja.

“Ada yang mau kamu omongin, Dek?” tanyanya tanpa menoleh.

Aku kaget. “Kakak tahu aku di sini?”

“Tentu. Kamu selalu bikin suara kecil waktu berdiri di ambang pintu.”

Aku menelan ludah. “Kak… kamu masih… kamu, kan?”

Ayala berhenti mengiris. Ia meletakkan pisaunya, lalu menatapku dengan pelan.

“Maksudmu, bukan mereka yang di dalam kaca itu?”

Aku mengangguk, pelan sekali.

Ayala menghela napas panjang. “Aku… nggak tahu, Amrita. Aku merasa aku masih aku. Tapi ada malam-malam di mana aku bangun dengan tangan kotor tanah. Aku bermimpi menggali. Aku bermimpi menyeret tubuh ke dalam lubang.”

Deg.

“Aku tidak tahu mana yang mimpi dan mana yang nyata,” lanjutnya. “Tapi satu hal yang pasti… sejak cermin itu hancur, mereka tidak lagi terkurung. Mereka menyebar.”

Aku memejamkan mata, menahan rasa dingin yang menjalari tengkukku. “Kak… kenapa mereka bisa ikut ke sini? Bukankah tempat itu sudah ditutup?”

Ayala menatapku lama. Lalu ia berbisik:

“Karena kita membukakan jalannya.”

Malam itu, suara aneh terdengar lagi.

Tapi kali ini bukan dari luar.

Dari dalam rumah.

Suara langkah kaki. Berat. Tertatih. Seperti seseorang menyeret kakinya di lantai kayu.

Aku membuka mata. Harsa tertidur di sisiku. Aku bangkit perlahan, meraih senter kecil dari tas.

Lorong rumah gelap. Lampu dapur masih menyala remang.

Langkah kaki berhenti.

Aku mengendap menuju sumber suara.

Dan kutemukan—Mama berdiri di depan cermin lorong.

Tubuhnya diam. Bahunya naik turun seperti sedang menangis. Tapi saat aku mendekat, aku melihat wajahnya di cermin…

Tersenyum.

Bukan menangis.

Tapi bibirnya tertarik sangat lebar. Hampir tak masuk akal.

“Ma…?” bisikku.

Ia menoleh perlahan. Matanya sayu, lalu berkaca-kaca.

“Amrita… Ibu kenapa tadi ada di sini?”

Aku menelan ludah. “Mama tadi… nangis?”

Ia mengangguk. “Iya… tapi aku lupa kenapa.”

Aku tahu itu bukan tangis biasa.

Dan aku tahu… mama sedang tidak sendirian di dalam tubuhnya.

Pagi harinya, aku mendapati banyak penduduk kampung berkumpul di balai desa. Mereka membicarakan satu hal: seorang anak kecil hilang.

Namanya Riyo. Anak lelaki berusia lima tahun. Dikenal sebagai anak ceria. Terakhir terlihat malam tadi… berjalan menuju sumur tua di belakang rumahnya.

Dan yang lebih mengerikan lagi… Riyo kembali pagi ini.

Tapi bukan sebagai dirinya.

Ia diam, duduk di pojok rumah, menatap lantai. Tidak menangis. Tidak bicara.

Dan saat ditanya, ia hanya menjawab satu kalimat:

“Aku sudah kembali… tapi bukan sebagai Riyo.”

Aku tahu waktu kami sudah tak banyak.

Mereka mulai menggantikan orang-orang. Pelan-pelan. Satu per satu.

Seperti wabah yang menyebar dalam keheningan.

Dan aku mulai meragukan semua yang ada di sekitarku. Ayala. Papa. Bahkan Harsa.

Karena semalam… aku melihat sesuatu.

Saat aku berpura-pura tidur, aku mengintip dari balik selimut.

Dan kulihat Harsa berdiri menghadap jendela, membelakangi ranjang.

Ia bicara.

Tapi bukan pada siapa pun.

Ia bicara pada pantulannya sendiri.

Dan pantulan itu… membalas.