Nenek Minah terdiam sejenak. Tatapannya tidak lagi tertuju pada Maisarah maupun Aris, melainkan kosong ke arah depan, seolah ia sedang menembus waktu—mengingat sesuatu yang telah lama terkubur di masa lalu.
ajahnya perlahan berubah, tidak lagi setenang sebelumnya. Ada bayangan kenangan yang tampak jelas di matanya.
Beberapa saat ia hanya diam, hingga akhirnya ia menarik napas pelan dan mulai berbicara.
“Mungkin lebih dua puluh tahun yang lalu…” ucapnya lirih, suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya. “Seorang wanita datang ke tempatku bersama suaminya. Seperti orang-orang lainnya, mereka juga ingin sesuatu… sesuatu yang bisa membuat usaha mereka cepat berkembang, lancar, dan disukai banyak orang.”
Maisarah dan Aris langsung diam, menyimak dengan saksama.
“Mereka punya sebuah toko,” lanjut Nenek Minah perlahan. “Awalnya, toko itu berjalan dengan baik. Cukup besar, cukup ramai, dan bisa dibilang laris. Tidak ada masalah berarti pada awalnya.”
Ia berhenti sejenak, seolah mengingat lebih dalam.
“Namun, beberapa waktu kemudian… semuanya berubah. Toko itu tiba-tiba sepi. Bukan sekadar sepi pembeli… tapi benar-benar kosong, seperti tidak pernah ada aktivitas sama sekali.”
Maisarah mengernyit, mencoba memahami.
“Orang-orang yang lewat bahkan bilang… toko itu tidak pernah buka,” sambung Nenek Minah. “Padahal, kenyataannya, toko itu selalu buka setiap hari.”
Aris dan Maisarah saling pandang sekilas.
“Pasangan itu… yang bernama Latifah dan suaminya… mulai berpikir kalau usaha mereka dis1hir orang lain,” lanjutnya. “Karena itulah mereka datang kepadaku, meminta bantuan.”
Nenek Minah kembali menarik napas panjang, lalu melanjutkan.
“Aku pun memberikan beberapa pilihan kepada Latifah. Ada bedak, kapur sirih, j4rum, dan tanah. Masing-masing punya fungsi dan konsekuensinya sendiri.”
Maisarah menelan ludah tanpa sadar.
“Dan Latifah… memilih bedak itu,” ucap Nenek Minah. “Alasannya sederhana. Ia bilang, itu yang paling mudah.”
Suasana terasa semakin sunyi.
“Bedak itu,” lanjutnya, “jika dipakai oleh seseorang yang memiliki usaha, lalu ia pergi ke tokonya… maka orang-orang akan datang dengan sendirinya. Mereka akan tertarik, membeli, bahkan merasa nyaman tanpa tahu sebabnya.”
Maisarah merasakan bulu kuduknya perlahan meremang.
“Bukan hanya itu,” tambah Nenek Minah. “Ke mana pun orang itu pergi, orang-orang akan menyukainya. Ia akan disukai, dihormati, bahkan dipercaya dengan mudah.”
Aris menatap serius, sementara Maisarah mulai merasa tidak nyaman.
“Tapi…” suara Nenek Minah berubah sedikit lebih berat, “bedak itu punya konsekuensi.”
Ia menatap mereka berdua secara bergantian.
“Bedak itu meminta tvmb4l.”
Jantung Maisarah seolah berhenti sesaat.
“Setiap satu tahun… satu ny4wa,” lanjutnya pelan namun jelas.
Ruangan itu terasa semakin dingin.
“Itu yang kemudian aku dengar setelah mereka pergi dari sini,” kata Nenek Minah. “Usaha Latifah dan suaminya berkembang pesat. Mereka punya banyak toko, cabang di mana-mana, tanah, aset… semuanya bertambah.”

Ia terdiam lagi, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lirih.
“Namun… anak-anak mereka… m3n1nggal satu per satu.”
Maisarah refleks menahan napas.
“Setelah itu,” lanjutnya, “aku tidak lagi mendengar kabar tentang mereka. Karena tidak lama kemudian… aku pindah ke tempat ini.”
Ia menatap sekeliling rumahnya sejenak.
“Aku lebih memilih tinggal di sini,” tambahnya pelan.
Suasana hening beberapa detik setelah cerita itu berakhir.
Aris dan Maisarah yang sejak tadi mendengarkan hanya bisa saling menatap, mencoba mencerna semua yang baru saja mereka dengar.
Aris akhirnya memecah keheningan.
“Kalau begitu… sekarang apa yang bisa kita lakukan untuk melepas diri dari s1hir bedak itu?” tanyanya serius.
Nenek Minah tidak langsung menjawab. Ia terdiam cukup lama, lalu perlahan menggeleng.
“Aku hanya bisa membantu,” ucapnya. “Aku tidak bisa melepaskan s1hir bedak itu.”
Maisarah menatapnya dengan cemas.
“Lalu… siapa yang bisa?” tanyanya lirih.
“Hanya Latifah sendiri,” jawab Nenek Minah tegas. “Atau… seseorang yang memang diwarisi bedak itu.”
Aris langsung mengernyit. “Kalau begitu… di mana kita bisa menemui Latifah?”
Nenek Minah menatapnya sejenak sebelum menjawab.
“Dia tinggal di Desa Renggasi,” katanya. “Jaraknya sekitar lima belas kilometer dari desa kalian.”
Maisarah dan Aris kembali saling pandang. Kali ini, tatapan mereka seolah sudah memiliki arah yang sama.
Aris mengangguk pelan, tanda mengerti.
Tanpa banyak bicara, ia merogoh saku dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah, lalu meletakkannya di atas meja sebagai bentuk terima kasih.
Namun, Nenek Minah segera menggeleng dan mendorong uang itu kembali.
“Tidak perlu,” katanya pelan.
Aris sedikit terkejut.
“Aku sudah lama tidak meminta imbalan atas bantuanku,” lanjut Nenek Minah. “Aku sudah bertobat. Sekarang aku hanya ingin membantu orang… bukan untuk hal-hal seperti itu lagi.”
Aris menatapnya sejenak, lalu mengangguk paham.
“Terima kasih,” ucapnya singkat namun tulus.
Maisarah juga ikut mengangguk, meski masih diliputi rasa cemas.
Setelah itu, mereka pun pamit dan keluar dari rumah tersebut.