Melihatku yang hanya membeku dengan mulut menganga, ia hanya tertawa kecil sambil merapikan piring kotor.
“Kenapa? Takut?” tanyanya santai tanpa menoleh.
Aku menggeleng cepat, meski dalam hati masih campur aduk. “Bukan takut sih, Bu… cuma… ya itu… Bu Hartini kan orangnya galak banget. Dulu aja aku sering dimaki-maki sama dia.”
“Iya, ibu udah nyangka kok, Hartini itu dari dulu emang gitu, mulut pedas, suka merendahkan orang, tapi mulai sekarang kan ada ibu yang akan selalu bela kamu,” jawabnya tegas.
Aku terdiam. Ada perasaan hangat saat mendengar ucapannya. Ucapannya membuatku merasa tenang dan aman seolah semua rasa takut dan cemas menghadapi kehidupan ini tiba-tiba hilang.
“Ibu gak akan biarin dia seenaknya lagi. Sekarang beda, Rianti,” lanjutnya sambil menatapku dalam-dalam.
Aku menelan ludah. Entah kenapa, ucapan itu membuat bulu kudukku meremang. Bukan karena takut… tapi karena terasa seperti janji yang pasti akan ditepati.
Kami pun lanjut mengobrol panjang lebar, membahas rencana jualan, pembagian tugas, sampai jenis lauk apa saja yang akan dijual. Aku mulai sedikit tenang karena semuanya terdengar masuk akal.
Setelah berbicara panjang lebar, ibu mertua langsung mencuci piring, sementara aku memasukan pakaian ke mesin cuci. Sambil menunggu cucian beres, aku menyapu lantai sambil sesekali melirik ke arah ibu mertua yang sedang mencuci piring sambil bernyanyi.

Rasanya menyenangkan memiliki ibu mertua yang bisa menjadi partner hidup, tidak seperti Bu Hartini yang memperlakukanku seperti babu.
Beberapa saat kemudian, cucian telah selesai. Aku langsung mengeluarkan dari mesin cuci dan membawanya ke lantai atas untuk dijemur.
Sambil menjemur pakaian, terlihat jelas Bu Hartini dan Tiara sedang menata nasi uduk dan aneka lauk di atas meja di teras rumahnya. Dulu, waktu aku masih tinggal di rumah itu, aku selalu bangun dari pukul 03 subuh, untuk memasak nasi uduk dan aneka lauk. Aku juga yang melayani pembeli, tetapi ketika aku dan anak-anakku lapar, kami hanya diperbolehkan makan dengan tumisan sisa kemarin yang telah dipanaskan dan dicampurkan. Aku yang bekerja keras, tetapi mereka yang menikmati uangnya. Bahkan mereka selalu merendahkanku dan mengataiku benalu. Awalnya A Irwan tak pernah membelaku, tetapi akhirnya ia setuju untuk membawaku pergi dari rumah itu lalu mengontrak kontrakan Bu Nur.
Suara mesin berat tiba-tiba terdengar dari depan rumah hingga membuyarkan lamunanku.
GROOOOMMM…
Aku langsung menoleh ke arah luar. Sebuah truk besar berhenti tepat di depan rumah kami. Aku segera turun untuk memastikan semuanya.
“Permisi! Kiriman barang!” teriak seseorang dari luar.
Aku mengernyit bingung. “Barang?”
Belum sempat aku berpikir lebih jauh, beberapa orang pria mulai menurunkan barang-barang dari atas truk.
Satu per satu…
Tiga buah tempat tidur. Dua lemari pakaian besar, dan 2 lemari ukuran sedang. Etalase kaca yang terlihat baru dan mengilap, dua buah meja berbahan jati dan beberapa kursi. Kompor gas lengkap dengan tabung besar. Bahkan rice cooker keluaran terbaru. Serta berbagai perabotan dapur dalam jumlah yang tidak sedikit. Semuanya lengkap, mulai wajan besar dan kecil, panci besar dan kecil, Cooper, Blender dan berbagai jenis pisau juga talenan.
“Kalian gak salah alamat kan?” tanyaku memastikan.
“Atas nama Bu Salma, benar kan disini alamatnya?”
“I-iya, betul.”
Aku hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu. Mataku membelalak, pikiranku kosong.
“Itu semua ibu yang pesan,” ujar mertua yang tiba-tiba muncul dari dalam.
“Tapi….”
Ibu mertua berjalan santai ke sampingku, lalu melipat tangan di dada sambil memperhatikan para lelaki yang sibuk menurunkan barang.
“Iya, ibu sengaja memesan semua itu,” jawabnya ringan.
“T-tapi, ngapain ibu beli barang sebanyak ini? Kapan pesennya?”
“Dari kemarin.”
Aku menoleh cepat ke arahnya. “Kemarin?”
“Iya. Kita butuh semua itu,” katanya santai, seolah semua ini hal biasa.
Dadaku tiba-tiba terasa sesak.
Bukan karena sedih… tapi karena terlalu kaget.
“Bu… ini pasti mahal banget…ibu terus aja menghabiskan tabungan ibu,” suaraku melemah.
Ia menatapku sekilas, lalu tersenyum tipis. “Yang penting kamu senang.”
Air mataku mengalir dengan deras.
Bagiku ini lebih dari cukup. Ini seperti mimpi.
Para pekerja mulai memasukkan barang-barang itu ke dalam rumah. Tempat tidur ditaruh di kamar, lemari disusun rapi, meja, etalase, dan kursi ditempatkan di depan, pas sekali untuk jualan.
Aku masih berdiri terpaku, mencoba mencerna semuanya.
Selama ini… untuk makan saja kami harus berpikir keras. Tapi sekarang… dalam sekejap, semua seperti berubah.
“Ibu…” panggilku lirih.
“Hm?”
“Ibu sebenarnya… punya uang sebanyak itu dari mana?”
Pertanyaan itu tak pernah bosan kuranyakan padanya.