Posted in

“Dek, jangan begini, kita bisa bicara baik-baik dulu,” te riak Mas Rasyid dari luar ruangan. Ia terus saja mengetuk pintu dengan kerasnya. Sesekali tangannya menarik hendel pintu yang sudah kukunci dari dalam.

Percuma saja berte riak, aku sudah tak ingin lagi bicara soal ini. Sakit hatiku tak akan bisa sembuh hanya dengan mendengar kalimat permintaan maafnya.

Beribu kali, bahkan berju ta kali kata maaf terlon tar dari bi birnya, tak akan membuat semuanya kembali seperti semula.

Pernah saat itu, ada seorang teman dari masa sekolah dulu datang untuk mengantarkan undangan reunian akbar. Ia memintaku untuk turut mengisi acara karena aku termasuk siswa aktif semasa sekolah dulu.

Namun aku tak berani asal mengiyakan. Semuanya tergantung Mas Rasyid sebagai suami. Sebab, ketika aku setuju untuk memenuhi permintaannya, otomatis aku akan sibuk untuk berlatih juga menyiapkan segala keperluan acara.

“Tidak, Dek. Mas tidak kasih izin,” ujar Mas Rasyid keras saat aku mencoba meminta izin. Sebagai seorang istri yang baik, aku tidak akan asal mengiyakan sebuah permintaan tanpa persetujuan suamiku.

“Kalau aku datang hanya sebagai alumni, apa Mas juga tidak kasih izin?” ujarku lagi. Siapa tahu jika hanya sebagai tamu, Mas Rasyid mau memberi izin.

“Tidak. Sebaiknya kamu di rumah saja, jaga Naila di rumah.” Mas Rasyid tak lagi menatapaku. Ia mengalihkan pandangannya ke layar laptop yang ada di depannya.

Kesibukan Mas Rasyid sebagai guru kelas tak bisa ku ganggu lagi dengan hal sepele soal reuni. Karena saat itu, ia sedang sibuk menyiapkan rapor kelas yang akan dibagi pada minggu depan.

Melihat Mas Rasyid yang sepertinya tidak mau diganggu, aku pun pergi. Aku tak mau perti kaian terjadi karena hal kecil dan lebih memilih untuk mengalah saja. Biarlah, biarlah aku mengalah, toh hanya sekedar reuni.

Namun, aku tidak pernah menyangka jika ketaatan dan kesungguhanku menjaga rumah tangga ini dibalas dengan pengkhia natan hingga pernikahan siri mereka.

“Buka pintunya, Dek!” teri ak Mas Rasyid lagi.

Namun aku mengabaikannya. Aku tetap meringkuk dibalik pintu ini. Kure mas pakaianku untuk melampiaskan rasa yang begitu dalam terasa.

Tiba-tiba terlintas dalam benakku, bagaimana ketika mereka mema du kasih layaknya pasangan lainnya. Apakah sama dengan ketika ia bersamaku?

Mendadak mulutku mu al saat terbayang tentang mereka. Sekujur tu buhku terasa ri sih, membayangkan badan suamiku yang sudah terbagi dengan perempuan lain itu.

“Dek!” teriak Mas Rasyid lebih ken cang.

“Pergi, Mas! Aku mau sendiri! Pergi saja ke rumah istrimu dan ce raikan aku!” balasku. Rasa ji jik membuatku berani menjawab ucapannya dengan lan tang.

“Buka pintunya, Dek! Buka! Jangan dur haka kamu!” te riak Mas Rasyid lagi. Kali ini lebih ken cang hingga tu buhku berjingkat karena kaget dengan suaranya.

“Siapa yang dur haka? Aku tau kamu?!” te riakku lagi membalas teriakannya.

“Keluar kamu! Jangan begini! Atau kudo brak pintunya!”

Aku yang sedang bersandar di balik pintu segera berdiri dan membukakan pintu untuknya. Meskipun keadaan sudah seperti ini, aku masih punya rasa takut saat mendengar suaranya yang ke ras itu. Terlebih ia pernah juga mendo brak pintu saat kami sedang berteng kar dan aku tidak mau itu terulang kembali.

“Kita bicara baik-baik, jangan ka bur! Mas ngga punya banyak waktu!” ujarnya sedikit melem but. Tangannya meraih pergelangan tanganku untuk dibawa ke meja makan.

Tanganku yang basah, hatiku yang han cur dan wajahku yang sudah tak berbentuk karena tangis, terpaksa menuruti keinginannya.

Kutepis tangannya meskipun tak urung aku tetap menuruti perintahnya. Dengan patuh aku duduk di hadapan ibu dan anak ini. Tapi kali ini, aku tak bisa diajak kompromi. Hatiku yang terlanjur sakit, tak akan bisa diam saja melihat perse lingkuhan mereka.

“Ibu hanya ingin menyampaikan soal Naila, soal rumah tangga kalian, ibu tak berhak ikut campur. Silahkan bahas masalah kalian sendiri. Ibu harap, ada keputusan yang baik untuk keluarga kalian kedepannya.” Ibu berujar sebelum pergi dari ruangan ini.

“Makasih ya, Bu. Rasyid nitip Naila sebentar,” balas Mas Rasyid.

Kubiarkan ibu pergi, karena aku tak mau kehadirannya hanya menambah lu ka dalam hatiku. Sebagai sesama wanita, yang kumau ia berpihak padaku.

Namun sayangnya aku lupa bahwa ia adalah wanita yang melahirkan suamiku. Baik dan buruk putranya tetap dibela. Dan itu makin menambah sakit yang sedang menyapa hatiku.

“Mas ngga mau pisah sama kamu.” Mas Rasyid memulai pembelaannya. Tangannya berusaha meraih jemariku. Tapi segera kutepis.

“Ngga bisa, Mas!”

“Ngga bisa bagaimana? Ini bukan masalah besar, Dek. Masalah ini masih bisa dicari jalan keluarnya.”

“Bukan masalah besar katamu, Mas? Masalah sebesar ini kami bilang bukan masalah besar? Kamu seorang guru, Mas! Harusnya kamu tahu bahwa masalah ini adalah masalah yang serius. Dan ini datangnya dari kamu. Mas yang memantik masalah ini.

Lupa dengan kertas yang kuso bek kemarin? Mas bisa mengembalikan so bekan kertas itu menjadi satu bagian yang utuh? Apa perlu kula porkan pada pihak sekolah agar Mas tahu betapa besar dampak masalah ini?” cecarku tak terima.

“Jangan bawa-bawa sekolah, Dek! Ini murni masalah keluarga! Sebagai tenaga pengajar itu sudah jadi sumber mata pencaharian kita, jangan bawa-bawa kerjaan!”

“Harusnya sebelum memulai mencari sebuah masalah, Mas sudah pikiran dampaknya matang-matang!”

“Mas khi laf, Dek! Khi laf!”

“Apa iya khi laf sampai bisa menikah siri dengan dia? Khi laf itu sebentar, Mas! Dan ngga sampai menikah siri! Itu niat banget namanya!”

“Terserah kamu mau marah bagaimana, yang jelas Mas minta maaf sama kamu.”

“Kumaafkan pun tak akan bisa membuatku lupa akan hal ini,” ujarku lirih.

“Ayolah, Dek. Kita selesaikan ini. Anggap tidak ada yang terjadi setelah ini. Mas akan tinggalkan dia dan kita memulai hidup baru, lembaran baru.”

Aku terdiam dengan tangan menge pal. Jika saja dibolehkan, ingin sekali kulem par kepa lan tangan ini pada wajah suamiku. Sayangnya aku tidak mau mengotori tanganku untuk melu kai laki-laki yang sudah melu kai hatiku.

Saat ini, aku seperti sedang dii kat dalam sebuah tiang. Hanya mampu berdiri tegak tanpa bisa bergerak bebas. Hanya mampu menerima setiap kata-katanya tanpa mampu membalas perbuatannya.

Aku bagaikan seong gok sam pah tak berguna. Kebaikan dan keikhlasanku dibalas begitu ke jam. Aku bagai pohon pisang yang babak be lur diti kam be lati tapi tak mampu membalas sedikit pun.

Sakit tapi tak berda rah. Pe rih tapi tak terdapat lu ka sedikitpun. Aku hanya mampu menunduk sambil sesekali menghela napas dalam.

“Pikirkan Naila, Dek. Apa kamu sanggup membesarkannya tanpa suami? Apakah dia bisa hidup tanpa ayah jika kamu tetap bersikukuh untuk berpisah?”