Posted in

Dokter yang merupakan mantan istriku bilang, istriku menelan benda mirip balon ukuran kecil. Padahal, aku tak pernah memakainya. Dia saja hamil! Jadi apa sebenarnya benda itu dan kenapa ada di perut istri keduaku?

“Pak Arhan, mohon tunggu di luar. Biar kami yang menangani pasien,” pinta Safira terdengar mutlak, tak terbantahkan.
Ia bahkan tidak memandangku. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada peralatan medis di depannya. Aku ingin membantah, ingin memastikan Nadira baik-baik saja, namun sorot mata Safira yang dingin seolah membangun tembok baja di antara kami.

Dengan langkah gontai dan hati yang berat, aku terpaksa melangkah mundur, keluar dari balik tirai hijau yang kini menyekat duniaku dengan kenyataan pahit di dalam sana.

Di balik tirai, kegaduhan belum mereda. Suara Nadira yang melengking memecah kesunyian koridor UGD yang mencekam.

“Lepaskan! Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu, Safira!” teriak Nadira. Aku bisa membayangkan ia sedang meronta di atas brankar. “Mas Arhan! Jangan tinggalkan aku sama perempuan iblis ini! Dia mau memb unuh anak kita, Mas!”

Heh, aku tak mengerti kenapa dia begitu membenci Safira? Padahal, sekali pun Safira tidak pernah mengganggunya. Bahkan ketika Safira tahu aku menikahi Nadira. Dia hanya melampiaskan kemarahannya kepadaku, bukan Nadira. Padahal, jelas-jelas sedari awal Nadira yang tak berhenti menggodaku.

Aku menyandarkan punggung ke dinding rumah sakit yang dingin, merosot hingga terduduk di lantai. Kepalaku terasa ingin pecah. Di dalam sana, Safira tetap diam. Aku hanya mendengar bunyi denting instrumen logam dan suara tenang Safira memberikan instruksi kepada perawat, seolah makian Nadira hanyalah angin lalu. Ketenangan Safira justru membuat suasana semakin tegang.

“Kenapa diam saja? Sok suci kamu! Sok kalem, sok lembut di depan Mas Arhan!” Nadira terus memaki, suaranya naik satu oktav. “Aku tahu akal bulusmu! Kamu mau menunjukkan kalau kamu dokter hebat, kan? Kamu mau cari perhatian Mas Arhan lagi supaya dia menyesal telah memilihku?”

“Tekanan darah pasien meningkat, Dokter. Detak jantung janin juga tidak stabil.” Suara perawat terdengar cemas.

“Biarkan saja! Dia hanya haus perhatian!” Nadira tertawa sumbang, tawa yang dibarengi rintihan kesakitan. “Kenapa, Safira? Kurang gaji doktermu sampai masih mau mendekati suamiku? Masih mau dinafkahi Mas Arhan? Bilang saja kalau kamu miskin tanpa dia!”

Kalimat itu bagai tamparan keras bagiku yang mendengarnya di luar. Bagaimana bisa Nadira sekejam itu? Safira adalah perempuan yang mandiri, dia tidak pernah meminta sepeser pun dariku sejak perceraian kami.

Di dalam ruangan, kulihat bayangan Safira melalui celah tirai. Ia berhenti bergerak. Jemarinya yang terbungkus sarung tangan lateks mengepal kuat di sisi brankar. Rahangnya mengeras, menahan ledakan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. Namun, harga dirinya sebagai dokter jauh lebih tinggi daripada meladeni wanita yang sedang kehilangan akal sehat di depannya.

Safira menatap tajam ke arah mata Nadira yang liar. “Cukup, Ny. Nadira. Jika Anda terus berteriak, Anda bukan hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga janin Anda. Simpan tenaga Anda untuk tetap hidup.”

“Halah! Jangan menceramahiku! Kamu itu hanya pelakor yang ga gal mempertahankan suami!”

Kesabaran Safira tampaknya telah habis. Bukan karena dihina, tapi karena perilaku Nadira sudah membahayakan prosedur medis yang harus segera dilakukan.

“Perawat!” Suara Safira meninggi, tegas dan penuh otoritas. “Pasien mengalami agitasi akut yang membahayakan tindakan. Berikan injeksi Diazepam sesuai dosis sekarang juga. Kita harus menenangkannya sebelum melakukan tindakan lebih lanjut.”

“Tapi, Dokter… pasien sedang hamil,” perawat itu ragu sejenak.

“Lakukan! Risiko kejang karena histeria lebih besar bagi janinnya daripada obat ini. Cepat!”

Aku mendengar suara pergulatan singkat, tangisan Nadira yang perlahan mulai memudar dan berubah menjadi gumaman tak jelas, hingga akhirnya… sunyi. Keheningan yang menyusul justru terasa lebih menyesakkan daripada teriakan tadi.

Aku menangkupkan wajah ke kedua telapak tangan. Rasa bersalah menghujam jantungku seperti ribuan jarum. Aku teringat bagaimana dulu aku meninggalkan Safira—wanita yang begitu tegar dan tulus—hanya demi janin yang dikandung Nadira. Meski pada akhirnya Nadira keguguran, dan baru hamil lagi setelah lima tahun Pernikahan kami.

Sekarang, aku melihat betapa jauh perbedaan kelas antara keduanya. Safira bertarung dengan profesionalisme demi menyelamatkan nyawa orang yang menghancurkan hidupnya, sementara aku hanya bisa menunggu di koridor yang dingin, menyadari bahwa aku telah menghancurkan berlian demi sebongkah batu kali yang kini justru menyiksaku dengan keraguan.

Setiap detik terasa seperti jam. Aku menanti pintu itu terbuka, namun sekaligus takut melihat tatapan Safira yang akan mengingatkanku pada betapa pecundangnya aku sebagai seorang laki-laki.

Langkah kaki Safira yang mendekat terdengar berat di atas lantai koridor yang sunyi. Tirai disingkap dengan kasar. Aku segera berdiri, lututku masih terasa lemas. Wajah Safira yang biasanya tenang kini memerah, bukan karena lelah, melainkan karena kemarahan yang tertahan di balik masker medis yang ia lepaskan dengan gerakan sentak. Aku sangat mengenal wanita itu.

Ia mengembuskan napas panjang—napas yang sarat akan rasa muak—sambil melemparkan map rekam medis ke atas meja administrasi di dekat kami.

“Ikut saya sekarang,” perintahnya dingin.

Aku mengekor di belakangnya menuju ruang konsultasi pribadi. Begitu pintu tertutup, Safira berbalik. Matanya berkilat tajam, menatapku seolah aku adalah makhluk paling rendah yang pernah ia temui.

“Apa yang sebenarnya ingin kamu pamerkan padaku, Arhan?” Suaranya rendah namun penuh penekanan. “Kamu membawanya ke sini, membiarkannya memakiku, hanya untuk menunjukkan ini?”

Aku mengernyit, benar-benar tidak paham. “Maksudmu apa, Safira? Aku hanya ingin menyelamatkan Nadira dan bayiku. Aku tidak pernah berniat memamerkan apa pun!”

“Oh, ya?” Safira tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. “Atau ini semacam aktivitas se k s ual dengan f e t i sh tertentu yang baru kamu pelajari? Kamu sengaja membiarkan dia melakukan hal gi la ini agar kalian bisa mendapatkan sensasi yang berbeda? Kamu ingin aku melihat betapa ‘berantakannya’ hubungan kalian?”

“Safira! Jaga bicaramu!” bentakku, meski suaraku bergetar. “Aku bahkan tidak mengerti apa yang kamu bicarakan! F eti sh apa? Dia sedang kesakitan, dia bilang dia kena guna-guna!”

Safira terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan tidak percaya sekaligus kasihan. Ia kemudian menarik sebuah lembar hasil print-out USG dan rontgen abdomen dari dalam map, lalu menghempaskannya ke hadapanku.

“Guna-guna? Berhenti bersikap b o d oh, Arhan! Lihat ini!” Safira menunjuk pada area lambung yang tampak dalam citra hitam putih tersebut.

Duniaku serasa runtuh saat mataku menangkap objek-objek asing yang bersarang di sana. Di dalam lambung Nadira, terlihat jelas itu adalah…..

Bersambung……