“Mas, aku beneran nggak mau ngecewain Mama yang begitu banyak berharap sama kita. Jadi aku iyain aja. Lagian aku nggak keberatan kok sama kondisi kamu sekarang. Toh pernikahan kita juga baru 6 bulan dan masih banyak waktu untuk mengupayakan kesembuhanmu,” jelasku malah membuat Mas Rivanda cemberut.
“Aku akan makin kelihatan jadi suami gagal kalau kamu ngajak aku ke sana, Aruni. Harusnya setelah sembuh.”
“Ayo bero-bat ke mamaku. Keluargaku pemilik rumah sakit terbesar di negeri ini. Kita udah nyoba berbagai rumah sakit. Tapi hasilnya nihil, Mas.”
Anehnya, wajah suami itu berubah pucat dan langsung mencari-cari alasan agar kami tidak bero-bat ke rumah sakit Medika utama.
“Emhhh … jangan gitu. Mas malu kalau keluargamu tau aib Mas dan berakhir memisahkan kita.”
Huh, selalu begitu. Alasannya terlalu klise. Padahal keluargaku bukan orang kolot yang akan memisahkan anaknya begitu saja dari suaminya sendiri.
“Mamaku bukan perempuan kolot, Mas. Papa juga udah jadi Jenderal sekarang. Waktunya lebih banyak ngurusin negara ini dibandingkan ngurusin masalah menantunya yang belum bisa ere–ksii akibat dari kecela-ka-an!”
“Ya karena itu Mas jadi makin malu, Aruni,” jelasnya lagi.
“Terserahlah. Mas. Aku cuma nggak mau mengecewakan Mama aja yang udah membooking tiket dan mencarikan jadwal cuti untukmu dari perusahaan. Papa pasti mati-matian menghandle semuanya karena mas Rajendra juga sibuk di karir militernya ‘kan?”
“Makanya lebih baik kita nggak ke Swiss, Aruni. Ke Bogor aja cukup. Nanti aku tanya kapan Mas Rajen kosong, jadi kita bisa berangkat barengan mereka juga. Libur bersama,” bujuknya lagi.
Selalu begitu. Dari awal nikah, dia juga kalau kemana-mana akan mengikuti jadwal dari abangnya. Padahal sebagai seorang istri, aku juga butuh privasi dan ingin hanya berdua saja dengan suamiku. Kali ini, aku tak akan mau mengalah lagi.

“Nggak, Mas. Pokoknya aku mau kita Swiss berdua!”
Mas Rivanda mendengus kasar, wajahnya yang kuyu tampak semakin tegang. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah lebar meninggalkan dapur, mengabaikan panggilanku. Aku menghela napas panjang, bersandar pada tepian meja marmer yang dingin.
Ada rasa sesak yang tak biasa, bukan lagi sekadar rasa iba, melainkan mulai ada benih kejengkelan yang tumbuh. Kenapa dia selalu ingin melibatkan Mas Rajen dan Mbak Salma dalam setiap rencana kami?
Aku memutuskan untuk menyusulnya ke lantai atas, ingin memastikan dia tidak benar-benar marah. Namun, saat melewati lorong sunyi menuju ruang kerja pribadinya di sayap kanan rumah, langkahku tertahan.
Pintu ruang kerja itu tidak tertutup rapat. Aku mendengar suara bisikan yang intens, disusul isakan tertahan yang sangat kukenal. Itu suara Mbak Salma. Kenapa dia ada di ruangan suamiku?
“Kamu gi-laa, Van! Kenapa kamu malah mengiyakan rencana bulan madu itu di depan Mama tadi?” Suara Mbak Salma terdengar bergetar, penuh tuntutan.
“Aku nggak punya pilihan, Sal! Arunika bersikeras. Kalau aku menolak terus, Mama dan Papa akan semakin curiga. Kamu tahu sendiri Papa udah mulai bertanya-tanya kenapa aku tidak kunjung sembuh! Aku harus apa lagi?” sahut Mas Rivanda dengan nada yang tak pernah kudengar sebelumnya, tegas, tanpa sisa-sisa kemalangan yang biasa ia tunjukkan padaku.
Aku membeku di balik pintu. Jantungku berpacu begitu cepat hingga rasanya ingin melompat keluar. Tanganku mengepal kuat, meremas kain daster rumahan mewah yang kukenakan.
“Tapi Swiss itu jauh, Van! Berapa lama kalian di sana? Seminggu? Dua minggu? Kamu mau meninggalkan aku dalam kondisi seperti ini?”
Mbak Salma mulai terisak lebih keras. Namun, justru hatiku yang serasa seperti diremas-remas.
“Kamu udah janji akan menjagaku sampai semuanya selesai!”
“Aku tahu, Sal. Aku tahu! Tapi tolong mengertilah, ini demi menutupi sandiwara kita agar tidak ada yang curiga di rumah ini. Aku akan mencari alasan untuk pulang lebih cepat, aku janji.”
Hening sejenak, hanya terdengar suara napas yang memburu. Aku memberanikan diri untuk mengintip dari celah pintu yang hanya terbuka beberapa sentimeter.
Di sana, di balik meja kerja, aku melihat pemandangan yang membuat seluruh duniaku runtuh seketika. Mbak Salma berdiri sangat dekat dengan suamiku, tangannya mencengkram kemeja Mas Rivanda. Wajahnya yang biasanya anggun kini tampak kalap.
“Nggak! Aku nggak peduli!” bentak Mbak Salma dengan suara rendah yang mencekam.
“Kalau kamu tetap nekat pergi ke Swiss bareng Arunika, aku akan gug–uriin kandungan ini! Walaupun aku harus m a t i karena janin ini udah besar banget, Van! Udah hampir delapan bulan! Kamu mau kehilangannya? Kehilangan an4k kita?”