“Kenapa lagi, Jeng?”
“Itu menantuku yang b0-doh, miskin dan sebatang kara itu, hanya bisa menyusahkan aja!”
“Kenapa Tian nggak cer4ikan dia aja? Toh sekarang posisi Tian itu manager di perusahaan besar.”
“Sayang tenaganya lumayan, nggak perlu nyari pemb4ntu.”
Sesak, sakit dadaku mendengar ucapan penuh nada menghina itu.
“Nggak perlu dicer4ikan. Poligami aja lah. Nara buat ngurusin rumah, istri kedua cari yang cantik, kinclong dan bisa dipamerkan di mana-mana.”
“Ah iya, bener banget. Lagian Nara itu b0doh dan sendirian. Dia pasti bakalan terima terima aja apapun yang dilakukan Tian padanya. Nanti aku bicarakan sama Tian aja, biar istri keduanya juga bisa nikah secara resmi.”
Aku benar-benar heran dengan pemikiran mereka. Bisa-bisanya Mama mertua dan teman-temannya menganggap aku hanya seperti b4bu.
Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa mereka jadi sekej4m itu setelah menikah? Padahal dulu Mas Tian susah payah mengejarku. Ada apa sebenarnya?
Aku berdiri mematung di balik tembok dapur, mencengkram pinggiran lemari kayu hingga kukuku memutih. Suara tawa mereka yang melengking itu seperti sembilu yang meny4yat-ny4yat jantungku.
Air mata yang kukira sudah habis, kini kembali mendesak keluar, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Aku tidak boleh terlihat lemah di depan sekumpulan serigala berbulu domba ini.
”Iya, bener banget, Jeng Indah,” sahut salah satu teman Mama yang memakai kalung emas renteng sebesar rantai kapal.
“Sayang kalau diceraikan sekarang. Zaman sekarang nyari asisten rumah tangga yang jujur dan serba bisa itu susah. Apalagi si Nara ini kan sudah dididik buat nurut. Biar saja dia jadi penghuni tetap dapur, tapi kalau buat diajak kondangan atau acara kantor Tian … ya jangan dia, lah. Malu-maluin!”

”Nah, makanya itu!” Mama Indah menyambar dengan nada penuh semangat, seolah sedang mendiskusikan strategi bisnis, bukan menghancurkan hidup menantunya sendiri.
“Kemarin aku sempat ketemu sama Rissa, mantannya Tian pas SMA dulu. Kalian ingat, kan? Yang bapaknya punya pabrik tekstil itu?”
”Oh, Rissa yang cantik jelita itu? Yang sekarang jadi j4nda?”
”Iya! Rissa baru saja cerai enam bulan lalu. Dia sekarang jadi Head of Marketing di perusahaan multinasional. Bayangkan, Jeng! Biarpun dia j4nda anak satu, tapi badannya … aduh, tetap singset kayak gadis. Skincare-nya saja jutaan. Kalau disandingkan sama Tian, baru cocok. Bukan sama yang di dalam sana, yang baunya cuma bau bawang sama minyak jelantah!”
Tawa mereka pecah lagi. Sebuah hin4an yang begitu telak menghantam h4rga diriku. Jadi, selama ini mereka diam-diam sudah merencanakan penggantiku? Bahkan saat aku tengah berjuang mempertahankan ny4wa b4yi di rahimku?
”Rissa itu tipikal istri idaman buat posisi Tian yang sekarang sudah jadi Manajer,” tambah teman Mama yang lain, Jeng Ratna.
“Pintar bahasa Inggris, pergaulannya luas. Kalau Tian bawa Rissa, klien pasti langsung deal. Kalau bawa si Nara? Orang-orang pasti ngira Tian bawa pemb4ntunya ikut makan malam. Hahaha!”
”Iya, Tian juga sebenarnya sudah mulai risih,” bisik Mama Indah, tapi suaranya cukup keras untuk kudengar.
“Kemarin dia bilang, ‘Ma, Nara kok makin kusam ya? Mana sekarang hamil jadi makin males dandan’. Aku bilang saja, ya sudah, sabar saja dulu sampai anaknya lahir. Nanti kalau Rissa sudah mau, kita atur saja pernikahan siri dulu, baru nanti pelan-pelan kita buat si Nara ini nggak betah dan minta cerai sendiri. Jadi kita nggak perlu keluar uwng pesangon atau gono-gini.”
Hatiku mencelos. Dingin. Beku.
Inilah rencana besar mereka. Menjadikanku mesin repr0duksi dan pelayan tanpa up4h, sementara Mas Tian bersenang-senang dengan masa lalunya yang bersinar. Mereka pikir aku sebatang kara, mereka pikir aku tidak punya tempat kembali, sehingga mereka merasa bisa menginjak-injakku sesuka hati.
”Eh, tapi apa Rissa mau sama laki-laki beristri?” tanya seseorang sangsi.
”Halah, kalau Tian yang maju, siapa yang nolak? Apalagi kalau kita bilang istrinya yang sekarang itu cuma pembantu rumah tangga yang kebetulan dinikahi karena kasihan. Rissa pasti merasa tertantang buat jadi nyonya besar yang sesungguhnya di rumah ini.”
Aku memejamkan mata. Rasa mual di perutku bukan lagi karena kehamilan, tapi karena rasa ji-jik yang luar biasa pada keluarga ini. Mas Tian, laki-laki yang dulu berlutut memohon cintaku di bawah hujan, yang berjanji akan menjagaku lebih dari nyal4wanya sendiri, ternyata hanya pengecut yang membiarkan ibunya merancang kehancuran rumah tangganya.
Aku meraba perutku. Nak, dengar itu? Mereka ingin menggantikan posisi Ibu dengan wanita yang lebih berkelas. Mereka ingin kamu lahir di tengah keluarga yang menganggap Ibumu hanya seonggok sampah.
Keputusanku sudah bulat. Aku tidak butuh KTP atau KK untuk sekadar keluar dari gerbang neral4ka ini. Aku punya sesuatu yang lebih kuat, kenyataan bahwa aku adalah putri dari keluarga yang bisa meratakan perusahaan Mas Tian dalam semalam jika aku mau.
Aku berbalik, kembali ke kamar dengan langkah mantap. Aku tidak akan menangis lagi. Jika mereka ingin bermain peran, maka aku akan memberikan mereka ending yang tidak akan pernah mereka lupakan.