Posted in

Tujuh Tahun Setelah Perceraian Mereka, Dia Membeku Saat Melihat Wajah yang Sangat Mirip Dengannya…

Tujuh Tahun Setelah Perceraian Mereka, Dia Membeku Saat Melihat Wajah yang Sangat Mirip Dengannya…

Pukul sebelas malam, seluruh apartemen tua di Makati tiba-tiba mengalami pemadaman listrik setelah badai besar melanda.

Hujan menghantam keras atap seng, sementara air mengalir di lorong seperti sungai dingin. Di apartemen kecil lantai dua belas, Isabel duduk di samping meja makan sambil gemetar, cahaya lilin yang redup menerpa wajahnya yang pucat.

Tiba-tiba pintu terbuka.

Gabriel masuk masih mengenakan jas basah, wajahnya dingin setelah seharian bekerja di De La Cruz Holdings.

Dia baru saja kembali dari penandatanganan kontrak di Cebu. Penerbangannya tertunda karena badai, bahkan ponselnya mati selama perjalanan. Namun hal pertama yang dilihatnya saat masuk rumah adalah sepasang sepatu pria tepat di depan kamar tidur mereka.

Gabriel langsung terdiam.

Sorot matanya menggelap.

Dari dalam kamar, terdengar suara seorang pria:

“Isabel, di mana obat ibumu?”

Dunia Gabriel terasa berhenti beberapa detik.

Lalu dia tersenyum pahit.

Tawanya pelan… tetapi cukup membuat tangan Isabel gemetar saat memegang gelas air.

“Jadi begitu…”

Isabel langsung berdiri.

“Gabriel, tolong dengarkan dulu—”

Pintu kamar terbuka.

Seorang pria muda dengan polo sederhana keluar sambil membawa kotak obat.

Udara terasa membeku.

Gabriel menatap pria itu. Lalu menatap Isabel.

“Kau membawa pria lain ke rumah kita?”

“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan!” Isabel panik mendekat. “Dia dokter ibu saya—”

“Dokter?” ulang Gabriel dingin. “Malam-malam begini? Saat suamimu tidak di rumah?”

Pria itu buru-buru menjelaskan:

“Ini cuma salah paham. Ibu Isabel tiba-tiba sesak napas jadi saya—”

“Diam.”

Gabriel memotong dingin.

Belum pernah dia semarah itu.

Selama enam tahun pernikahan mereka, Isabel selalu lembut dan penuh kasih. Dulu Gabriel merasa dirinya pria paling beruntung di Manila karena berhasil menikahinya.

Sampai tiga bulan terakhir.

Isabel sering keluar malam.

Diam-diam menerima telepon di kamar mandi.

Bahkan asistennya pernah mengatakan melihat Isabel bersama seorang pria di St. Luke’s Hospital.

Semua kecurigaan yang selama ini dia pendam… meledak bersamaan malam itu.

Suara Isabel bergetar.

“Gabriel, please… aku tidak pernah mengkhianatimu.”

“Kalau begitu, apa yang sedang kau sembunyikan?”

Isabel terdiam.

Dan satu detik keraguan itu… justru membuat mata Gabriel semakin dingin.

Dia mengangguk sambil tersenyum pahit.

“Sampai sekarang pun kau masih tidak bisa jujur.”

“Bukan seperti itu—”

“Cukup.”

Gabriel melepas cincin pernikahan mereka dan meletakkannya perlahan di atas meja.

Suara benturannya kecil.

Tetapi hati Isabel terasa hancur berkeping-keping.

“Semuanya sudah selesai.”

Kilatan petir menerangi seluruh ruangan.

Wajah Isabel langsung pucat.

“Gabriel… jangan pergi…”

Gabriel menatapnya lama.

Di matanya, sudah tidak ada lagi kehangatan pria yang dulu rela begadang saat Isabel sakit, atau menerobos hujan hanya untuk membelikan kue favoritnya di Quezon City.

Yang tersisa hanya kelelahan dan kekecewaan.

“Aku lelah.”

Setelah mengatakan itu, Gabriel berbalik dan pergi.

Isabel mengejarnya, air mata bercampur hujan di lorong apartemen.

“Gabriel!”

Namun pintu lift sudah tertutup.

Malam itu, Isabel duduk sendirian di luar apartemen sampai pagi.

Dan Gabriel… tidak pernah kembali lagi.

Tiga hari kemudian, dunia bisnis Manila dikejutkan oleh kabar bahwa Gabriel De La Cruz terbang ke Singapura untuk proyek jangka panjang.

Tak seorang pun tahu bahwa sebelum pergi, surat perceraian mereka sudah ditandatangani.

Tak seorang pun tahu bahwa Isabel pingsan setelah menandatanganinya.

Dan lebih dari itu…

Tak ada yang tahu bahwa hari itu, dokter mengatakan sebuah rahasia kepada Isabel yang tidak pernah didengar Gabriel.

Tujuh tahun berlalu.

Manila telah banyak berubah.

Lampu-lampu BGC bersinar terang di malam hari, sementara gedung-gedung baru terus menjulang tinggi.

Kini Gabriel menjadi salah satu nama paling berpengaruh di dunia finansial Asia Tenggara.

Dingin.

Pendiam.

Tanpa skandal.

Tanpa wanita di sisinya.

Orang-orang berkata dia tidak pernah benar-benar melupakan mantan istrinya.

Tetapi tak ada yang berani bertanya.

Mobil mewah berhenti di depan Grand Hyatt Manila pada sore hujan itu.

Gabriel turun bersama bodyguard dan asistennya.

Dia menghadiri acara lelang amal untuk anak-anak penderita penyakit jantung bawaan.

Namun baru saja memasuki lobby…

Dia mendengar tawa seorang anak dari belakang.

Jelas.

Akrab.

Gabriel otomatis menoleh.

Dan seketika tubuhnya membeku.

Beberapa meter darinya, seorang bocah laki-laki sekitar enam tahun memeluk bola sambil berlari di lorong hotel.

Mata anak itu sama persis dengannya.

Bahkan senyumnya… sangat mirip dengannya.

Dan di belakang anak itu…

Berdiri Isabel.

Masih secantik dulu, tetapi kini sorot matanya jauh lebih tenang dan damai.

Gabriel terpaku.

Napasnya kacau.

Sementara itu, bocah kecil itu berhenti saat melihatnya.

Lalu perlahan bertanya:

“Mommy… kenapa wajahku mirip dengan om itu?”

Pertanyaan polos bocah itu bergema di lobi Grand Hyatt yang megah, meruntuhkan seluruh dinding pertahanan yang dibangun Gabriel selama tujuh tahun terakhir.

Isabel tersentak mendengar pertanyaan putranya. Ia mendongak, dan sedetik kemudian, matanya beradu dengan tatapan Gabriel. Wajah Isabel sempat memucat, namun tidak ada lagi kepanikan atau ketakutan seperti malam berdarah tujuh tahun lalu. Tatapannya kini dilapisi oleh ketenangan seorang ibu yang telah melewati badai terdahsyat dalam hidupnya.

“G-Gabriel…” bisik Isabel, suaranya hampir tersapu oleh suara rintik hujan di luar.

Gabriel melangkah maju, mengabaikan asisten dan para bodyguard-nya yang kebingungan. Setiap langkahnya terasa amat berat. Matanya tidak lepas dari bocah laki-laki di depan Isabel. Jantungnya berdegup kencang, menuntut jawaban atas teka-teki yang tiba-tiba terhampar di depannya.

“Isabel…” Suara Gabriel serak, sarat akan emosi yang tertahan. Ia berlutut di hadapan bocah itu, menyamakan tingginya. Dengan tangan yang gemetar, Gabriel menyentuh pundak kecil sang anak. Kedekatan ini membuatnya sadar—anak ini adalah salinan sempurna dirinya saat kecil. “Siapa… siapa namanya, Isabel?”

“Namanya Leo,” jawab Isabel pelan, berjalan mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Leo, melindunginya. “Leo De La Cruz.”

Mendengar nama belakang itu disebut, Gabriel mendongak dengan mata berkaca-kaca. “De La Cruz? Isabel, apa maksudnya semua ini? Mengapa dia sangat mirip denganku? Mengapa usianya…” Gabriel menjeda kalimatnya, menghitung garis waktu di kepalanya. Enam tahun. Anak ini lahir beberapa bulan setelah ia pergi ke Singapura.

“Dia anakmu, Gabriel,” ucap Isabel, sebutir air mata akhirnya lolos membasahi pipinya. “Putra kandungmu.”

“Tapi bagaimana bisa?!” Gabriel berdiri, suaranya meninggi karena syok dan rasa bersalah yang tiba-tiba menghunjam dadanya. “Malam itu… malam saat aku pergi, kau bersama pria lain! Kau mengkhianatiku, Isabel!”

“Aku tidak pernah mengkhianatimu!” potong Isabel, kali ini suaranya terdengar tegas dan berani. “Pria malam itu benar-benar dokter rumah sakit! Tiga bulan sebelum malam terkutuk itu, ibuku didiagnosis menderita kanker stadium akhir. Alasan aku sering keluar malam, menerima telepon sembunyi-sembunyi, dan pergi ke St. Luke’s Hospital… adalah karena aku berjuang mencari donor dan merawat ibuku sendirian!”

Gabriel membeku, napasnya tertahan di tenggorokan.

“Aku merahasiakannya darimu karena saat itu De La Cruz Holdings sedang berada di ambang kebangkrutan karena proyek Cebu,” lanjut Isabel dengan suara bergetar, menahan tangis yang selama tujuh tahun ini ia pendam. “Kau sangat stres, Gabriel. Kau jarang tidur dan sering sakit kepala. Aku tidak mau membebanimu dengan biaya pengobatan ibuku yang miliaran peso. Aku menanggungnya sendiri… sampai malam itu, ibuku kritis di apartemen, dan dokter itu berbaik hati mengantarkan obat ke rumah karena apotek tutup akibat badai.”

Isabel menatap Gabriel dengan pandangan terluka. “Tapi kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Kau langsung mencampakkan cincin pernikahan kita dan pergi.”

Dunia Gabriel runtuh seketika. Kenyataan menghantamnya lebih keras daripada badai Manila malam itu. Sifat keras kepala dan kecemburuannya telah membutakan matanya dari pengorbanan suci sang istri.

“Lalu… lalu kenapa kau tidak mencariku setelah itu? Kenapa kau menandatangani surat cerai kita?” tanya Gabriel dengan suara parau, air matanya kini mengalir deras.

“Karena tepat di hari aku menandatangani surat itu, dokter memberi tahu rahasia lain… bahwa aku sedang hamil dua minggu,” bisik Isabel, memeluk Leo lebih erat. “Aku ingin mengejarmu ke bandara, Gabriel. Tapi ibumu… Doña Teresa, datang ke apartemen tua itu.”

Mata Gabriel membelalak. “Ibuku?”

“Ya. Ibumu melemparkan surat cerai yang sudah kau tanda tangani ke wajahku. Dia berkata wanita miskin sepertiku hanya akan menjadi batu sandungan bagi karier internasionalmu di Singapura. Dia mengancam, jika aku tidak menandatanganinya dan menjauh darimu, dia akan menghentikan seluruh akses pengobatan kanker ibuku di rumah sakit. Aku tidak punya pilihan, Gabriel… Aku menyelamatkan ibuku, dan aku pergi untuk melindungi anak kita dari keluargamu yang kejam.”

Mendengar fakta itu, Gabriel merasakan dadanya begitu sesak hingga sulit bernapas. Ibunya sendiri telah memanipulasi perpisahan mereka. Selama tujuh tahun ini, dia hidup dalam kebencian palsu, mengira dirinya adalah korban pengkhianatan, padahal dialah bajingan sesungguhnya yang telah menelantarkan istri dan anaknya yang sedang berjuang di tengah kemiskinan.

“Isabel… maafkan aku… demi Tuhan, maafkan aku…” Gabriel berlutut di lobi hotel mewah itu, bersujud di depan kaki Isabel. Miliarder agung yang ditakuti di dunia finansial Asia Tenggara itu kini menangis meraung-raung penuh penyesalan, mengabaikan tatapan semua orang di lobi.

Leo yang kebingungan melihat pria dewasa itu menangis, perlahan mendekat dan mengulurkan tangan kecilnya, mengusap kepala Gabriel. “Om… jangan menangis. Kalau Om nakal, minta maaf saja pada Mommy. Mommy selalu memaafkan Leo kalau Leo minta maaf.”

Sentuhan tangan kecil Leo membuat hati Gabriel semakin hancur berkeping-keping. Ia menggenggam tangan kecil anaknya, lalu mendongak menatap Isabel dengan tatapan memohon yang amat sangat.

“Isabel, beri aku satu kesempatan… Tolong. Izinkan aku menebus tujuh tahun yang hilang ini. Aku akan melepaskan seluruh kekuasaanku, aku akan menghukum siapa saja yang menyakitimu, asal kau dan Leo kembali ke sisiku,” ratap Gabriel.

Isabel memandang mantan suaminya yang bersujud di tanah. Rasa sakit itu masih ada, tetapi melihat penyesalan yang begitu tulus di mata Gabriel, dan melihat bagaimana Leo memiliki ikatan batin yang instan dengan ayahnya, hati Isabel perlahan melunak. Badai panjang yang menyiksa mereka selama tujuh tahun akhirnya mulai mereda sore itu, di bawah rintik hujan Manila.