Posted in

“Penghasilan bulanan suamiku mencapai 5 juta peso, tapi dia bahkan tidak pernah memberiku satu sen pun.

“Penghasilan bulanan suamiku mencapai 5 juta peso, tapi dia bahkan tidak pernah memberiku satu sen pun.
Saat anak kami tiba-tiba membutuhkan 20 juta peso untuk operasi, dia malah membentakku:

‘Pinjam saja uang dari orang tuamu! Aku tidak peduli dengan operasinya!’

Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi begitu saja.

Tapi setelahnya… apa yang dia lihat membuatnya diliputi ketakutan luar biasa…”

Sekitar pukul sebelas malam, aku duduk gemetar di koridor rumah sakit yang dingin. Bau disinfektan yang menyengat menusuk hidungku, sampai perutku terasa mual karena ketakutan. Di dalam ruang emergency, putraku yang baru berusia tiga tahun, Aarav, sedang berjuang mempertahankan hidupnya—penyakit jantung bawaan yang dideritanya tiba-tiba menjadi kritis.

Dokter kepala keluar dengan wajah penuh ketegangan.

“Bu, anak Anda harus segera dioperasi. Anda harus menyiapkan 20 juta peso sekarang juga. Kebocoran pada katup jantungnya sudah sangat parah. Keterlambatan beberapa jam saja bisa merenggut nyawanya.”

Dua puluh juta peso.

Jumlah itu terasa seperti batu besar yang menghantam dadaku.

Di rekening bankku hanya ada lima ratus ribu peso—seluruh tabunganku dari hasil berjualan online kecil-kecilan.

Dengan tangan gemetar, aku menelepon suamiku, Rohan.

Rohan adalah senior sales manager di sebuah perusahaan properti besar di Makati. Gaji dan komisinya tidak pernah kurang dari 5 juta peso per bulan.

Namun selama empat tahun pernikahan kami, dia bahkan tidak pernah mengizinkanku memegang uang. Dia hanya memberiku lima puluh ribu peso setiap bulan—untuk seluruh kebutuhan rumah tangga. Katanya, sisanya digunakan untuk “reinvestasi dan networking.”

Butuh waktu lama sampai teleponku diangkat. Dari seberang terdengar musik keras, tawa orang-orang, dan suara gelas beradu.

“Hello? Ada apa? Kenapa telepon malam-malam begini? Aku lagi meeting.”

Suaranya jelas terdengar mabuk.

“Rohan… tolong datang ke sini. Kondisi Aarav memburuk. Kata dokter dia harus segera dioperasi… butuh 20 juta peso sekarang juga…”

Suaraku pecah karena tangis.

Beberapa detik hening.

Lalu tiba-tiba dia meledak.

“Apa?! 20 juta peso?! Kau sudah gila? Dari mana aku dapat uang sebanyak itu?!”

“Penghasilanmu besar… kita harus menyelamatkan anak kita, Rohan… nyawanya lebih penting daripada uang…”

“Oke, aku datang. Dasar drama.”

Setengah jam kemudian, dia tiba—memakai jas mengilap, berbau parfum mahal dan alkohol.

Alih-alih melihat kondisi Aarav, dia malah berdiri di depanku dengan tangan di pinggang dan wajah memerah.

“Mana dokternya? Kenapa operasi harus terburu-buru? Jangan-jangan dia cuma mau memeras uangmu?”

Aku menggenggam tangannya sambil memohon.

“Kita bayar uang muka dulu saja… tolong… kita sudah kehabisan waktu… aku tidak punya uang…”

Dia menepis tanganku kasar.

Matanya menyipit penuh amarah.

Dan kata-kata berikutnya menghancurkan harapan terakhirku.

“Aku tidak punya uang, mengerti?! Semua penghasilanku sudah habis. Bisnis juga lagi rugi. Kau ibunya—itu anakmu—kau sendiri yang cari cara untuk dapat uang. Aku tidak punya tanggung jawab soal itu! Kalau butuh operasi, pinjam saja dari orang tuamu!”

Aku membeku.

“Apa yang kau katakan? Kau menghasilkan 5 juta peso setiap bulan, punya mobil mewah, pakaian branded… lalu sekarang saat nyawa anakmu dipertaruhkan, kau bilang tidak punya uang?”

“Sudah kubilang TIDAK ADA! Dan diamlah! Jangan bikin drama untuk semua hal!”

Dia berteriak begitu keras sampai para perawat menoleh ke arah kami.

“Aku pergi dulu. Besok pagi masih ada meeting dan kontrak yang harus kutandatangani. Urus sendiri semuanya.”

…dan setelah itu…

…dan setelah itu, dia benar-benar berbalik, melangkah pergi dengan angkuh tanpa sekali pun menengok ke arah ruang emergency tempat putranya bertaruh nyawa.

Aku tersungkur di lantai koridor yang dingin, menangis histeris sampai dadaku sesak. Duniaku runtuh. Di dalam sana, Aarav sedang sekarat, sementara pria yang berjanji melindungiku justru menginjak-injak harga diriku dan membiarkan darah dagingnya sendiri mati.

“Ibu… tolong berdiri,” sebuah suara lembut dan berwibawa tiba-tiba terdengar dari atasku.

Saat aku mendongak, Dr. Vargas—dokter kepala yang tadi keluar—sudah berdiri di sana. Namun, dia tidak lagi memakai jas labnya. Di belakangnya, berdiri tiga orang pria berjas hitam dengan emblem emas di kerah mereka. Aura mereka begitu menekan dan dingin.

“Maaf, apakah Anda nyonya…” Pria berjas hitam di tengah mencocokkan wajahku dengan sebuah foto di tablet digitalnya. “…Nyonya Elena Soriano? Putri tunggal dari Don Fernando Soriano?”

Aku tertegun, perlahan mengangguk sambil menghapus air mataku. “I-iya… itu nama gadisku. Tapi saya sudah tidak berkomunikasi dengan ayah saya selama lima tahun…”

Lima tahun lalu, aku menentang perjodohan yang diatur ayahku demi menikahi Rohan, seorang pria biasa yang kupikir tulus mencintaiku. Ayahku yang murka mengusirku dan bersumpah tidak akan memberiku satu sen pun jika aku nekat pergi. Sejak hari itu, aku hidup sederhana dan menyembunyikan identitas asliku dari Rohan, mengira ayahku benar-benar telah membuangku.

Pria berjas hitam itu langsung membungkuk hormat sembilan puluh derajat, diikuti oleh dua orang di belakangnya.

“Nyonya Muda, Don Fernando tidak pernah sedetik pun membuang Anda. Selama lima tahun ini, beliau selalu mengawasi Anda dari jauh untuk memastikan Anda belajar arti kehidupan,” ucap pria itu dengan suara tegas. “Dan setengah jam yang lalu, beliau mendengar rekaman telepon suami Anda. Don Fernando sangat murka.”

Ia menyerahkan sebuah kartu hitam logam (Black Card) khusus tanpa batas limit ke tanganku.

“Don Fernando sudah mengambil alih Rumah Sakit Apex Global ini lima menit yang lalu melalui akuisisi saham kilat. Kamar operasi terbaik dan tim dokter spesialis dari Amerika Serikat sudah disiapkan. Putra Anda, Tuan Muda Aarav, akan segera dioperasi. Anda tidak perlu mengkhawatirkan biaya apa pun lagi.”

Tangisku pecah lagi, namun kali ini adalah tangis kebahagiaan. Aku melihat Dr. Vargas langsung membungkuk hormat padaku dan berlari masuk ke ruang operasi bersama tim terbaiknya.

Pria berjas hitam itu kembali berbicara, namun kali ini nadanya sedingin es. “Dan mengenai suami Anda, Rohan… Don Fernando berkata: ‘Waktunya bermain-main sudah habis.’


Keesokan Harinya, Pukul 09.00 Pagi…

Rohan melangkah masuk ke ruang rapat utama di kantor properti elit di Makati dengan senyum semringah. Hari ini adalah hari besar. Dia akan menandatangani kontrak properti senilai 500 juta peso dengan investor misterius yang baru saja membeli mayoritas saham perusahaan mereka. Jika kontrak ini gol, komisi Rohan akan meroket, dan dia bisa membeli mobil sport baru yang sudah lama dia incar.

Sama sekali tidak ada ruang di pikirannya untuk memikirkan kondisi Aarav atau istrinya di rumah sakit.

“Selamat pagi, semuanya!” sapa Rohan dengan nada angkuh kepada rekan-rekan kerjanya yang tampak duduk tegang di dalam ruang rapat.

Tiba-tiba, pintu besar ruang rapat terbuka. Dua baris pengawal berjas hitam masuk dan berdiri tegap di sepanjang dinding. Di tengah-tengah mereka, berjalan seorang pria paruh baya berambut perak dengan setelan jas seharga miliaran rupiah. Auranya begitu agung dan mematikan—dialah Don Fernando Soriano, salah satu dari tiga orang terkaya di negeri ini.

Rohan langsung gemetar karena kagum sekaligus takut. Ia segera maju, membungkuk, dan mengulurkan tangannya. “Don Fernando! Suatu kehormatan besar Anda bersedia hadir secara pribadi! Saya Rohan, senior sales manager yang menangani proyek ini—”

Don Fernando bahkan tidak melirik tangan Rohan. Beliau berjalan melewatinya begitu saja dan duduk di kursi utama dialis ujung meja.

“Rohan,” suara Don Fernando berat, menggema di dalam ruangan yang mendadak sunyi senyap. “Aku mendengar kamu baru saja menolak membiayai operasi anakmu karena kekurangan uang?”

Rohan tersentak, wajahnya mendadak pias. Bagaimana bisa seorang konglomerat tingkat atas mengetahui urusan pribadinya? Dengan gagap, ia mencoba membela diri.

“A-Ah… itu… Anda tahu sendiri bagaimana wanita, Don. Istri saya sangat suka mendramatisir sesuatu. Anak saya hanya sakit ringan, tapi dia meminta 20 juta peso. Perusahaan saya sedang butuh banyak dana untuk networking, jadi saya menyuruhnya meminjam dari orang tuanya yang miskin di kampung. Saya hanya mendidik istri saya agar tidak manja, Don.” Rohan tertawa canggung, mengira trik bualannya akan berhasil.

Mendengar itu, mata Don Fernando berkilat penuh kebencian yang mendalam. Beliau menjentikkan jarinya.

Pintu samping terbuka. Seorang wanita anggun dengan terusan hitam elegan masuk, melangkah dengan dagu terangkat. Di belakangnya, seorang perawat mendorong kereta bayi khusus yang memperlihatkan Aarav sedang tertidur pulas dengan ventilator kecil, kondisinya sudah stabil setelah operasi yang sukses.

Rohan melotot hingga matanya hampir keluar dari rongganya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa sulit bernapas.

“E-Elena?! Kenapa kamu bisa ada di sini?! Dan siapa yang membiayai operasi itu?!” teriak Rohan histeris, kehilangan seluruh kesopanannya.

Elena berjalan mendekat, menatap Rohan tanpa ada lagi sisa cinta di matanya. Hanya ada kekosongan yang dingin.

“Rohan, perkenalkan,” kata Elena pelan, menunjuk ke arah pria paruh baya di ujung meja. “Ini adalah pria yang kemarin malam kamu sebut sebagai ‘orang tua miskin di kampung’. Beliau adalah ayah kandungku, Don Fernando Soriano.”

BUM!

Kata-kata itu bagai bom yang meledakkan seluruh kewarasan Rohan. Lututnya langsung lemas, dan ia jatuh terduduk di atas lantai marmer ruang rapat. Tubuhnya bergetar hebat dibalut ketakutan yang luar biasa.

Istri yang selama empat tahun ini dia tindas, dia beri uang jajan pas-pasan, dan dia maki sebagai wanita pengemis, ternyata adalah putri mahkota dari dinasti bisnis terbesar di negara ini.

“Don… Elena… maafkan aku… aku tidak tahu…” Rohan merangkak di lantai, mencoba menggapai kaki Elena dengan air mata penyesalan yang terlambat. “Elena, demi anak kita, Aarav… aku mencintaimu! Aku hanya khilaf kemarin malam!”

Don Fernando berdiri dari kursinya, menatap Rohan seperti melihat seekor serangga.

“Dalam waktu dua belas jam terakhir, aku telah membeli seluruh aset perusahaan tempatmu bekerja ini, Rohan. Dan keputusan pertamaku sebagai pemilik baru adalah memecatmu secara tidak hormat,” ucap Don Fernando dengan nada dingin yang mematikan.

Beliau melemparkan seonggok dokumen ke wajah Rohan yang menangis.

“Semua rekening bankmu sudah dibekukan atas dugaan penggelapan dana komisi perusahaan. Rumah, mobil mewah, dan semua barang branded yang kamu beli dari uang hasil memeras kebutuhan rumah tangga anakku akan disita hari ini juga. Dan ini… surat gugatan cerai serta hak asuh penuh atas Aarav. Kamu akan keluar dari gedung ini tanpa membawa satu sen pun, persis seperti apa yang kamu lakukan pada putriku semalam.”

Dua pengawal berjas hitam langsung mencengkeram lengan Rohan, menyeretnya keluar dari ruang rapat layaknya sampah, sementara Rohan terus meraung dan memohon ampun, menyadari bahwa keserakahan dan kesombongannya telah menghancurkan hidupnya dalam sekejap mata.