Aku ditampar pasien di hari pertamaku bertugas.

Aku ditampar pasien di hari pertamaku bertugas.
Pria yang membelanya… adalah pacarku sendiri.
Dan saat aku melepas maskerk u, dunianya runtuh dalam sekejap…

Bunyi monitor jantung terus berdetak, “tit… tit…” di ruang IGD kecil di RS swasta Jakarta Selatan.

Aku menarik maskerku sedikit, merapikan sarung tangan, dan tetap fokus pada lengan kecil seorang anak yang menggigil karena demam tinggi.

Ini seharusnya hanya rotasi dinas sementaraku sebagai dokter residen.

Aku tidak pernah menyangka… pasien pertamaku akan menghancurkan seluruh hidupku.

Jarum menyentuh kulitnya.

Pembuluhnya terlalu tipis.

Tusukan pertama… gagal.

Aku bahkan belum sempat berkata “maaf”—

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.

Telingaku berdengung.

— Dokter macam apa kamu?! Kalau anak saya kenapa-kenapa, kamu sanggup tanggung jawab?!

Wanita itu memeluk anaknya erat-erat, wajahnya penuh amarah.

— Suami saya kenal direktur rumah sakit ini! Satu kata saja dari dia, kamu bisa dipecat!

Aku mundur satu langkah. Pipiku panas.

Belum sempat aku menenangkan diri—

— Sayang… gimana anak kita?!

Suara pria itu terdengar dari belakangku.

Jantungku berhenti.

Aku menoleh.

Dan dunia runtuh.

Adrian Wijaya.

Pria yang kucintai delapan tahun di Jakarta.

Ia berlari menghampiri wanita itu dan memeluknya.

— Kamu nggak apa-apa? Anak kita gimana?

Ia mencium kening anak itu dengan lembut.

Lembut… seperti dulu saat ia memelukku di apartemen Sudirman dan berjanji akan menikahiku.

— Adrian… aku takut…
Wanita itu menangis dan menunjuk ke arahku.
— Dia nggak bisa pasang infus! Anak kita hampir kehabisan tenaga nangis!

Tatapan Adrian langsung berubah tajam.

Ia menatapku—tak mengenaliku karena masker.

— Dokter macam apa kamu?
Suaranya dingin.
— Itu cuma anak kecil.

Aku diam.

Wajah anak itu…

Seperti versi kecil dirinya.

— Saya bicara sama kamu!

Plak!

Tamparan kedua.

Lebih keras.

Kepalaku miring ke samping.

Aku menggenggam tanganku.

Menatapnya.

Mata kami bertemu.

Ia terdiam satu detik.

— Kamu…

Lalu ia memalingkan wajah.

— Salah lihat.
Ia tersenyum tipis.
— Kamu mirip petugas cleaning service di kantor saya.

Aku tersenyum.

Jadi begini aku dalam ceritanya.

Seorang cleaning service.

— Lihat kan? Dari mukanya saja sudah kelihatan kampungan!
— Adrian, jangan dibiarkan!
— Ganti dokternya!

Adrian mengangguk.

— Fokus ke anak dulu.

Ia menggendong anaknya.

Dan pergi.

Tanpa menoleh.

Aku menatap punggung mereka.

Sampai bibirku berdarah karena kugigit terlalu keras.

Dua minggu lalu—

Ia berlutut di rooftop hotel mewah di SCBD.

— Anika, menikahlah denganku.

Tapi hari ini—

Ia punya istri.

Punya anak.

Dan keluarga… yang bukan aku.

Aku mengambil ponselku.

— Papa.

Suara di seberang langsung menjawab.

— Anika, ada apa?

Aku menarik napas panjang.

— Tolong cek… Adrian Wijaya punya keluarga resmi di Jakarta atau tidak.

Hening.

Dua detik.

Lalu suara Ayahku menjadi dingin.

— Dia menyakitimu?

Aku menutup mata.

— Bekukan semua rekening yang terhubung dengan perusahaan startup-nya.

— Tarik kembali saham 60% atas namaku.

— Dan audit semua transfer dalam tiga tahun terakhir.

Pelan-pelan aku berkata,

— Aku ingin tahu… keluarga mana yang dia biayai dengan uangku.


Keesokan harinya.

Aku kembali ke kamar pasien.

Pintunya sedikit terbuka.

— Daddy sudah tiup… ayo sembuh ya, Nak…

Suara Adrian penuh kelembutan.

Wanita itu—Mika Santoso—mengupas apel.

— Aku beruntung punya kamu. Walau sibuk di Jakarta, kamu selalu pulang buat kami.

Aku masuk.

Mereka tidak mengenaliku.

— Kamu lagi?!
Mika kesal.
— Ganti dokter ini!

Aku tidak menjawab.

Kubuka berkas medis.

— Pasien: Ethan Wijaya. Tiga tahun dua bulan. Pneumonia dengan indikasi myocarditis ringan.

Aku menatap mereka.

— Ada riwayat penyakit jantung di keluarga?

— Nggak ada!
Jawab Mika cepat.
— Dia kuat, turunan ayahnya!

Aku menatap Adrian.

Ia memalingkan wajah.

Mika tersenyum bangga.

— Semua kesuksesan suamiku hasil kerja keras sendiri!
— Dulu ada perempuan tua jelek yang mau sponsor dia—

— Perempuan itu…
Aku memotong pelan.
— Dia yang investasi dari nol, bukan?

Udara membeku.

Tangan Adrian menegang.

— Mika, cukup.

— Kenapa? Takut?
Mika berteriak.
— Bukannya kamu bilang sudah putus dengan perempuan itu?
— Bukannya kamu bilang perusahaan itu sepenuhnya milikmu?!

Setiap kata seperti pisau.

Tiba-tiba seorang perawat masuk.

— Keluarga Ethan Wijaya! Deposit kurang, harus top up sekarang!

— Kita banyak uang!
Mika berkata.
— Adrian, bayar!

Adrian mengeluarkan kartu hitamnya.

Pergi hampir berlari.

Aku menatapnya.

Mataku dingin.

Kartu itu…

Terhubung ke rekening investasiku.

Dan aku tahu—

Mulai kemarin malam…

Kartu itu sudah tak bernilai.

Beberapa menit kemudian terdengar keributan di luar.

— Maaf Pak, kartunya declined.
— Mustahil!
— Rekeningnya dibekukan.

Sunyi.

Langkah kaki tergesa kembali.

Pintu terbuka.

Adrian berdiri di sana.

Pucat.

Gemetar.

Ia menatapku.

Kini tidak menghindar.

— Kamu…
Suaranya bergetar.
— Sebenarnya kamu siapa?

Perlahan aku melepas maskerku.

Tersenyum.

— Coba kamu jawab.
Aku melangkah mendekat.
— Siapa yang membiayai hidupmu delapan tahun terakhir?

Ruangan membeku.

Mika menatapku.

Anak itu mengerang pelan karena demam.

Adrian mundur satu langkah.

— Anika…?

Aku menatapnya tanpa emosi.

— Sekarang…
Suaraku dingin.
— Kita bicara tentang tiga tahun lalu.

Di luar ruangan—

Terdengar langkah sepatu kulit.

Berat.

Tenang.

Berwibawa.

Pintu terbuka perlahan.

Ayahku berdiri di sana.

— Adrian Wijaya.
Suaranya dingin.
— Jelaskan… kenapa uang anak saya kamu pakai untuk membangun keluarga lain.

Ruangan itu sunyi.

Bahkan suara monitor jantung terdengar lebih keras dari sebelumnya.

Adrian menatap Ayahku, lalu menatapku lagi.

Wajahnya kehilangan seluruh warna.

— Om… ini tidak seperti yang Anda pikirkan—

Ayahku melangkah masuk dengan tenang.

Setiap langkahnya berat, penuh wibawa.

— Tidak seperti yang saya pikirkan?
Suaranya rendah.
— Dana investasi 12 miliar rupiah atas nama Anika digunakan untuk ekspansi perusahaan.
— Lalu 4,8 miliar di antaranya ditransfer ke rekening pribadi Anda.
— Dan dari sana, mengalir ke apartemen, mobil, serta biaya hidup keluarga ini.

Mika berdiri tiba-tiba.

— Apa maksudnya?!
Ia menoleh ke Adrian.
— Kamu bilang perusahaan itu murni hasil kerja kerasmu!

Adrian berkeringat.

— Mika, dengarkan dulu—

Aku maju satu langkah.

— Delapan tahun.
Suaraku tenang.
— Aku membiayai kuliah S2-mu.
— Modal awal startup-mu.
— Bahkan cicilan apartemen di SCBD.

Aku tersenyum tipis.

— Dan selama tiga tahun terakhir… kamu juga membiayai istri dan anakmu dari uang yang sama.

Mika mundur perlahan.

— Istri?
Ia menatap Adrian.
— Jadi… dia siapa?

Aku menatapnya.

— Tunangan resminya.
— Yang diumumkan ke publik dua minggu lalu.

Dunia Mika runtuh dalam satu detik.

— Kamu bilang dia cuma investor tua yang terobsesi padamu!

Tamparan kali ini bukan dariku.

Mika yang menampar Adrian.

Keras.

Suara itu menggema di ruangan.

Ironis.

Kemarin aku yang ditampar.

Hari ini, karma yang bekerja.


Ayahku berbicara dengan suara datar.

— Tim hukum sudah melaporkan dugaan penggelapan dan penipuan investasi.
— Semua aset atas nama perusahaan akan disita sementara.

Adrian panik.

— Anika… aku bisa jelaskan!
Ia berlutut.
— Aku memang salah, tapi aku mencintaimu!
— Anak ini… itu kesalahan—

Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Kesalahan?”

Aku melirik anak kecil di ranjang.

Anak itu bukan kesalahan.

Yang salah adalah kebohongan.

— Kamu tidak mencintaiku.
Suaraku lembut.
— Kamu mencintai kenyamanan.

Tangannya mencoba meraihku.

Aku mundur.

— Mulai hari ini, kamu tidak punya perusahaan.
— Tidak punya saham.
— Tidak punya akses rekening.
— Dan mungkin… tidak punya keluarga lagi.

Mika berdiri terpaku.

Air matanya jatuh.

Ia akhirnya menyadari bahwa “kesuksesan” yang ia banggakan hanyalah bangunan dari uang orang lain.


Beberapa minggu kemudian

Berita tentang skandal startup teknologi itu menyebar di media bisnis.

Investor utama menarik diri.

Rekening perusahaan dibekukan.

Kasus hukum berjalan.

Adrian kehilangan semuanya dalam waktu kurang dari satu bulan.

Penthouse di SCBD disita.

Mobil mewah dilelang.

Nama besarnya menghilang dari dunia startup.


Aku?

Aku menyelesaikan rotasiku dengan tenang.

Tamparan di pipiku sudah lama hilang.

Tapi pelajarannya tinggal.

Suatu sore, aku berdiri di balkon rumah Ayahku.

Langit Jakarta berwarna jingga.

Ayah berdiri di sampingku.

— Kamu baik-baik saja?

Aku mengangguk.

— Aku kehilangan pria yang kucintai.
Aku tersenyum pelan.
— Tapi aku menemukan harga diriku kembali.

Ayah menepuk bahuku.

— Uang bisa kembali.
— Perusahaan bisa dibangun lagi.
— Tapi martabat… jangan pernah kamu gadaikan.

Aku memandang kota di bawah.

Delapan tahun cinta.

Tiga tahun kebohongan.

Semua runtuh dalam satu malam.

Namun anehnya—

Yang runtuh bukan duniaku.

Melainkan dunianya.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku tidak lagi menjadi perempuan yang menunggu untuk dipilih.

Aku adalah perempuan yang memilih untuk pergi.