Mertua laki-lakiku, usia 72 tahun, ingin menikahi ART kami tepat di penthouse kawasan SCBD, Jakarta.

Mertua laki-lakiku, usia 72 tahun, ingin menikahi ART kami tepat di penthouse kawasan SCBD, Jakarta.
Aku tidak menolak… bahkan mengucapkan selamat. Tapi sebuah rahasia tentang tanah di Bali membuatnya tiba-tiba ragu…

Aku baru saja pulang ke apartemen di kawasan SCBD ketika langsung mendengar tawa keras dari ruang tamu.

Itu bukan tawa biasa.

Seperti tawa orang yang baru memenangkan sesuatu.

Aku meletakkan tas dan masuk.

Lalu aku terpaku.

Mertua laki-lakiku, Pak Surya Mahendra, 72 tahun, duduk di tengah ruang tamu sambil menggenggam erat tangan seorang wanita.

Di sampingnya ada Rini — ART kami selama empat tahun terakhir.

Sekarang dia tidak memakai seragam.

Dia mengenakan gaun merah ketat, rambut tersisir rapi, lipstik tebal.

Seolah-olah… dia pemilik rumah ini.

— Nadine, Arga… kalian sudah pulang.

Suara Pak Surya sedikit bergetar, tapi ada kilatan aneh di matanya.

Suamiku, Arga Mahendra, yang masuk setelahku, langsung terdiam.

— Pa… ini apa maksudnya?

Pak Surya menarik napas panjang.

— Saya sudah memutuskan. Saya akan menikahi Rini.

Semua mendadak hening.

Kunci mobil jatuh dari tangan Arga.

— Apa?!

Dia berdiri.

— Pa, Anda sadar dengan yang Anda katakan?!

Rini menggenggam tangan Pak Surya lebih erat dan menatap kami.

— Arga, tolong hormati keputusan ayahmu.
— Kami saling mencintai.

Aku hanya memperhatikan.

Tatapannya.
Senyumnya.

Itu bukan senyum perempuan yang sedang jatuh cinta.

Itu senyum seseorang yang merasa akhirnya mendapatkan apa yang lama diincarnya.

Aku melangkah mendekat.

— Begitu ya?

Arga menatapku cemas.

— Nadine, jangan bilang kamu—

Aku mengangkat tangan menghentikannya.

Aku tersenyum.

Senyum sederhana… tapi cukup membuat Rini sedikit kaku.

— Selamat.

Ruang tamu langsung sunyi.

Pak Surya tampak lega.

Rini justru tersenyum lebih lebar.

— Saya tahu kamu orang baik, Nadine.
— Kita akan jadi keluarga.

Aku mengangguk.

— Tentu.

Aku duduk dan menatapnya.

— Hanya ada satu hal yang ingin aku sampaikan.

Alisnya sedikit berkerut.

— Apa itu?

Aku berbicara pelan.

— Pensiun Pak Surya sekitar 12 juta rupiah per bulan.
— Tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman.

— Setelah menikah, kamu yang akan mengurusnya, ya?

Senyumnya sempat goyah satu detik.

Lalu kembali normal.

— Saya tidak peduli uang. Saya di sini karena cinta.

Aku tersenyum kecil.

— Tentu saja.

Aku menoleh ke sekeliling penthouse.

Langit-langit tinggi. Pemandangan seluruh Jakarta malam hari.

Sebuah penthouse bernilai puluhan miliar rupiah.

— Rumah ini…

Aku berhenti.

Mata Rini berbinar.

— … kamu juga ingin namamu masuk ke sertifikat setelah menikah?

— Nadine!

Suara Arga menegang.

Tapi aku tetap tenang.

Rini kini tidak menyembunyikan niatnya.

— Ya. Saya rasa itu wajar.
— Saya menyerahkan hidup saya padanya. Saya butuh jaminan.

Pak Surya terlihat ragu.

— Rini… mungkin tidak perlu—

— Apa Anda tidak percaya pada saya?!

Nada suaranya berubah tajam.

Ketegangan meningkat.

Aku tersenyum tipis.

— Kamu salah paham.

Dia menatapku.

— Maksudmu?

Aku menatapnya lurus.

— Penthouse ini… bukan milik mertua saya.

Dia terdiam.

— Apa?

Arga mulai tersenyum kecil.

Aku melanjutkan.

— Bukan juga milik Arga.
— Ini milik saya.

— Aset pribadi saya sebelum menikah.

Wajah Rini langsung pucat.

— Tidak mungkin…
— Pria tinggal di rumah istrinya?

Aku mengangkat bahu.

— Zaman sekarang biasa saja.

Arga tertawa kecil.

— Sudah dengar? Ini rumah istriku.

Rini mundur selangkah.

Tapi dia belum menyerah.

Tatapannya berubah tajam.

— Baiklah.

— Kalau rumah ini bukan miliknya…

— Bagaimana dengan aset lain?

Ruangan kembali sunyi.

— Maksudmu apa?

Dia menatapku.

— Misalnya… tanah di Bali.

Arga langsung menegang.

Wajah Pak Surya berubah drastis.

Aku tidak bicara.

— Saya dengar tanah itu sudah lama atas nama beliau.
— Nilainya puluhan miliar rupiah.

Senyum Rini kembali.

Lebih licik.

— Kalau kalian menikah… saya juga berhak atas bagian itu, kan?

Udara terasa berat.

— Pa… apa yang dia maksud?

Pak Surya tidak berani menatap anaknya.

Tangannya mulai gemetar.

Aku melangkah maju.

— Kamu yakin ingin membahas tanah itu?

Rini tersenyum percaya diri.

— Ya.

Aku perlahan tersenyum.

— Sebenarnya… kamu memang harus tahu.

Aku menoleh ke Arga.

— Telepon notaris.

Suaraku tenang, tapi tegas.

Arga langsung menghubungi notaris keluarga.

Rini mulai gelisah.

— Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?

Aku menatapnya dalam.

— Kita hanya akan meluruskan… status tanah yang ingin kamu miliki.

Aku berhenti sejenak.

— Dan alasan sebenarnya kenapa tanah itu atas nama Pak Surya.

Senyumnya benar-benar hilang.

Pak Surya kini pucat dan berkeringat.

Di luar, hujan turun deras membasahi kaca penthouse.

Dan tepat saat itu—

Bel pintu berbunyi.

Ting—tong.

Notaris sudah datang.

Dan rahasia tentang tanah di Bali…
akan segera terbongkar.

Ding—dong.

Arga membuka pintu.

Yang masuk bukan hanya notaris keluarga.

Tapi juga dua pria berpakaian rapi membawa map tebal berlogo kantor hukum.

Wajah Rini mulai kehilangan warna.

Notaris duduk dengan tenang, membuka berkas, lalu berkata:

— Kita langsung saja.

Ia menatap Pak Surya.

— Pak Surya Mahendra, apakah Anda masih ingin melanjutkan proses perubahan status kepemilikan tanah di Bali?

Ruangan membeku.

Rini cepat menjawab lebih dulu.

— Tentu saja. Kalau sudah menikah, wajar kalau ada pembagian hak.

Notaris tersenyum tipis.

— Sayangnya… tanah itu tidak bisa dibagi.

Rini terdiam.

— Kenapa tidak?

Notaris memutar map ke arahnya.

— Karena tanah di Bali itu bukan aset pribadi Pak Surya.

— Tanah itu adalah aset perwalian keluarga Mahendra.

Arga mengangguk pelan.

Aku berdiri dengan tenang.

Notaris melanjutkan:

— Tanah tersebut dibeli atas nama Pak Surya dua puluh tahun lalu. Namun sejak lima belas tahun lalu, statusnya berubah menjadi aset trust keluarga, dengan penerima manfaat utama…

Ia berhenti sejenak.

Lalu menatapku.

— Nadine Mahendra.

Ruangan hening.

Rini menoleh cepat ke arahku.

— Apa?!

Aku tersenyum kecil.

— Tanah itu memang atas nama mertua saya.

— Tapi secara hukum… bukan miliknya.

Notaris menambahkan:

— Tanah itu dilindungi klausul khusus. Tidak bisa dijual, tidak bisa diwariskan ke pihak luar, dan tidak bisa dialihkan melalui pernikahan.

Wajah Rini benar-benar pucat.

— Tidak mungkin…

Aku melangkah mendekat.

— Kamu pikir kenapa aku begitu tenang saat kamu menyebut tanah itu?

Dia menatap Pak Surya.

— Pak… ini tidak benar, kan?

Tangan Pak Surya gemetar.

Akhirnya ia berbicara.

— Rini… tanah itu memang tidak pernah untuk siapa pun selain keluarga inti.

— Bahkan Arga pun tidak bisa menjualnya tanpa persetujuan Nadine.

Sunyi.

Lalu notaris membuka lembar lain.

— Dan ada satu hal lagi.

Ia mengeluarkan beberapa foto cetakan CCTV.

Rini langsung membeku.

— Berdasarkan rekaman dan laporan dari pengelola apartemen, Anda beberapa kali mencoba mengakses brankas dokumen Pak Surya tanpa izin.

Arga mengerutkan dahi.

— Apa maksudnya?

Aku menatap Rini.

— Kamu pikir aku tidak sadar ada berkas yang berpindah?

Notaris menambahkan dengan suara datar:

— Secara hukum, itu sudah termasuk percobaan penyalahgunaan akses dokumen pribadi.

Rini mundur satu langkah.

— Saya… saya hanya membersihkan!

Aku tertawa pelan.

— Membersihkan brankas?

Keheningan terasa berat.

Pak Surya akhirnya berdiri.

Untuk pertama kalinya, tatapannya tegas.

— Rini… cukup.

Suaranya berat, tapi tidak lagi ragu.

— Saya memang menyukaimu.

— Tapi cinta bukan berarti saya harus buta.

Rini gemetar.

— Jadi… ini semua jebakan?

Aku menatapnya lurus.

— Bukan jebakan.

— Ujian.

Arga akhirnya berbicara.

— Ayah ingin memastikan… siapa yang mencintainya, dan siapa yang mencintai hartanya.

Rini tertawa pahit.

— Jadi kalian sudah curiga sejak awal?

Aku mengangguk.

— Sejak kamu mulai bertanya tentang sertifikat.

Hujan di luar semakin deras.

Rini melihat sekeliling penthouse sekali lagi.

Kemewahan yang tadi hampir ia genggam… kini terasa begitu jauh.

— Jadi… saya tidak mendapatkan apa pun?

Aku tersenyum tipis.

— Kamu mendapatkan satu hal.

Dia menatapku.

— Pelajaran.

Sunyi panjang.

Akhirnya Rini meraih tasnya.

Tanpa menoleh lagi, ia berjalan keluar.

Pintu tertutup perlahan.

Tinggal kami bertiga di ruang tamu yang kini terasa lebih ringan.

Pak Surya duduk kembali, lelah.

— Maafkan Ayah.

Aku duduk di sampingnya.

— Tidak perlu minta maaf.

Arga menggenggam tanganku.

— Yang penting sekarang jelas.

Aku menatap jendela, lampu Jakarta berkilau di balik hujan.

Harta bisa menarik banyak orang.

Tapi hanya kejujuran yang bisa bertahan.

Dan malam itu…

bukan hanya rahasia tanah yang terbongkar.

Melainkan juga wajah asli seseorang yang hampir menjadi keluarga.