Aku menandatangani surat perceraian setelah tiga tahun menjalani pernikahan kontrak.

Aku menandatangani surat perceraian setelah tiga tahun menjalani pernikahan kontrak.

Dia merobeknya tepat di depan mataku.

Dan rahasia yang ia sembunyikan selama tiga tahun… tiba-tiba terbuka dan mengguncang duniaku sepenuhnya.


Saat aku melangkah masuk ke rumah keluarga Dela Cruz di kawasan elit Menteng, Jakarta, Alejandro Dela Cruz melemparkan dua benda ke atas meja di hadapan seluruh keluarganya.

Sebuah kunci mobil.
Sebuah kontrak.

— “Mobilnya ada di garasi. Apartemennya di Sudirman Central Business District. Setiap bulan aku transfer 300 juta rupiah ke rekeningmu. Kalau kurang, bilang saja.”

Ia bersandar santai di sofa kulit, dua kancing kemejanya terbuka. Nada bicaranya datar—seolah ini hanya transaksi bisnis biasa.

— “Satu syarat. Jangan ikut campur urusanku. Dan jangan ganggu hidupku.”

Aku berdiri di tengah ruang tamu mewah itu, masih mengenakan gaun pengantin putih yang belum sempat kulepas. Lampu kristal di langit-langit terasa dingin dan menyesakkan.

Di sekelilingku, keluarga Dela Cruz—wajah-wajah kaya, angkuh, dan tak peduli.

Keluargaku tidak ada.

Karena mereka tak lagi punya hak untuk berdiri di sana.

Perusahaan ayahku bangkrut. Terlilit utang miliaran rupiah. Keluarga Dela Cruz yang melunasi semuanya.

Dan sebagai gantinya… aku.

Namaku Mai Santos. Usia 25 tahun. Lulusan Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia. Hidupku bahkan belum benar-benar dimulai… tapi sudah “dijual” dalam pernikahan tanpa cinta.

Aku memutar kunci mobil itu di antara jari-jariku.

— “Alejandro,” kataku tenang, “aku menerima syaratmu. Tapi kau juga harus hati-hati. Aku tak mau besok jadi headline: ‘Pengantin wanita ditinggal suami di malam pertama.’”

Sudut bibirnya terangkat tipis.

— “Tenang saja. Aku lebih benci skandal daripada kamu.”

Itulah percakapan terpanjang kami di malam pernikahan.

Setelah itu—

Dia pergi.

Ya.

Di malam pernikahan kami.

Ia hanya mengganti pakaian… lalu keluar.

Aku berdiri di balkon lantai dua, melihat Mercedes-Maybach S-Class perlahan meninggalkan halaman. Lampu belakangnya merah seperti luka di tengah gelap.

Di bawah, pesta masih berlangsung.

Cincin berlian di jariku berkilau.

Aku melepasnya.

Dan meletakkannya di meja.

Tanpa ragu.


Tiga tahun berlalu.

Kami seperti dua orang asing.

Dia punya hidupnya.
Aku punya hidupku.

Ia dikenal di kalangan elite Jakarta—dekat dengan banyak perempuan. Semua tahu. Tak ada yang berani bicara.

Aku membangun perusahaan PR kecil di kawasan Kuningan. Dari nol, dalam dua tahun namaku mulai dikenal.

Kami tinggal di rumah yang sama.

Tapi jarang sekali bertemu.

Sampai suatu malam hujan deras di Jakarta.

Aku pulang dalam keadaan setengah mabuk.

Terpeleset di depan pintu.

Sebuah tangan menangkapku.

Dia.

Tangannya dingin.

Tapi genggamannya kuat.

Lampu tiba-tiba padam.

Dalam gelap, aku mencium aroma parfum kayunya.

— “Mai…” suaranya pelan, “kamu minum.”

— “Iya…”

Dan kemudian—

Dia menciumku.

Bukan lembut.
Bukan bertanya.

Seperti ada sesuatu yang sudah lama ia tahan.

Jantungku berdegup kencang.

Tapi aku tidak mendorongnya.

Dan juga tidak membalasnya.

Beberapa detik kemudian—

Ia melepaskanku.

Lampu menyala kembali.

Dan ia kembali menjadi dirinya yang biasa—dingin, jauh.

— “Lain kali, jangan minum sebanyak itu.”

Lalu pergi.

Kami tak pernah membahasnya.

Namun sejak malam itu—

Sesuatu berubah.


Hari jadi pernikahan ketiga.

Aku meletakkan surat perceraian di depannya.

Ia membacanya.

Diam.

Sampai akhir.

— “Kamu mau mengakhiri ini?”

— “Iya.”

— “Ada pria lain?”

— “Tidak. Aku hanya tidak mau hidup seperti ini lagi.”

Sunyi.

— “Tidak.”

Aku mengernyit.

— “Apa?”

— “Kita tidak bercerai.”

Ia merobek kertas itu.

Sobekan putih jatuh ke lantai.

— “Kamu tidak punya hak.”

— “Aku punya.”

Ia berdiri.

Tatapannya berbeda.

— “Kontraknya belum selesai.”

— “Sudah tiga tahun.”

— “Tiga setengah.”

Tubuhku terasa dingin.

Aku berlari ke kamar.

Mengambil kontrak itu.

Membukanya.

Dan di sana tertulis jelas:

“Durasi: 3 tahun dan 6 bulan.”

Tanganku gemetar.

Aku ingat jelas—tiga tahun.

Aku menoleh.

Ia berdiri di ambang pintu.

— “Aku tidak menipumu.”

— “Enam bulan saja. Apa bedanya?”

Ia mendekat.

— “Besar.”

— “Besar bagaimana?”

Ia berhenti tepat di depanku.

Dan berkata—

— “Dalam enam bulan itu… aku akan mulai.”

— “Mulai apa?”

Untuk pertama kalinya, ia menyentuh wajahku dengan lembut.

Bukan sebagai pemilik.

Bukan sebagai pria arogan.

Tapi sebagai seseorang yang… takut kehilangan.

— “Menjadi suamimu.”

Lututku melemah.

Bukan karena takut.

Tapi karena itu jauh lebih berbahaya.

— “Kamu gila.”

Ia tersenyum tipis.

— “Mungkin.”

Hujan semakin deras di luar.

Dan tiba-tiba—

Ponselku berdering.

— “Ibu Mai Santos? Kami dari bank di Jakarta Selatan. Rekening Anda dibekukan. Dan seluruh utang keluarga Anda… sudah dibeli oleh Tuan Alejandro Dela Cruz.”

— “Apa?”

Perlahan aku menoleh padanya.

Ia berdiri diam.

— “Kenapa kamu lakukan ini?”

Ia mendekat.

Dan berbisik—

— “Karena kalau bukan aku yang mengikatmu… dunia akan melakukannya dengan cara yang lebih kejam.”

Petir menyambar.

Dan saat itu aku akhirnya mengerti.

Pernikahan ini bukan sekadar kontrak.

Bukan sekadar transaksi.

Selama tiga tahun, ia menjauh bukan karena tak peduli—

Tapi karena ia tahu, begitu ia benar-benar masuk ke hidupku… ia tak akan bisa mundur.

Dan enam bulan itu—

Bukan perpanjangan hukuman.

Tapi kesempatan.

Untuk memilih.

Bukan sebagai gadis yang dijual demi utang.

Bukan sebagai pewaris keluarga kaya.

Tapi sebagai dua orang yang berdiri sejajar.

Hujan berhenti perlahan.

Dan untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan kami—

Aku tidak merasa terperangkap.

Mungkin… kali ini, bukan kontraknya yang menentukan akhir cerita.

Melainkan hati kami.

Enam bulan.

Kupikir itu akan menjadi enam bulan terpanjang dalam hidupku.

Ternyata… justru enam bulan tercepat.

Alejandro tidak lagi pulang tengah malam.

Tidak ada lagi aroma parfum wanita asing.

Tidak ada lagi telepon rahasia di balkon.

Sebaliknya—

Ia mulai makan malam di rumah.

Mulai bertanya tentang perusahaan PR-ku di Jakarta.

Mulai duduk di ruang keluarga hanya untuk mendengarkan ceritaku tentang klien sulit, proposal gagal, dan ambisi-ambisiku.

Tidak mengatur.

Tidak memerintah.

Hanya mendengarkan.

Suatu malam, saat aku sedang merevisi proposal, ia meletakkan sebuah map di depanku.

— “Apa ini?”

— “Seluruh utang keluargamu.”

Jantungku terasa berhenti.

— “Sudah aku alihkan atas namamu. Tidak ada lagi yang memegangnya. Bukan aku. Bukan bank.”

Aku menatapnya.

Ia tidak menatap balik.

— “Kalau kamu ingin pergi… kamu bisa pergi kapan saja. Tidak ada lagi yang mengikatmu.”

Saat itu aku mengerti.

Selama tiga tahun.

Yang mengikatku bukan kontrak.

Melainkan utang.

Dan dia tahu itu.

Dia menyimpannya bukan untuk menahanku.

Tapi untuk memastikan tidak ada orang lain yang bisa menggunakannya untuk menekanku.

Dua minggu sebelum kontrak berakhir—

Aku meletakkan setumpuk kertas di depannya.

Ia melihat judulnya.

“Surat Perceraian.”

Tangannya menegang.

Namun kali ini—

Aku tersenyum.

— “Tanda tangani.”

Ia menatapku lama.

— “Kamu yakin?”

— “Ya.”

Ia menandatangani.

Tanpa ragu.

Tanpa menahan.

Tanpa bertanya lagi.

Setelah itu, aku mengeluarkan satu lembar lagi.

Kutaruh di atas meja.

Kali ini—

Formulir pendaftaran pernikahan baru.

Tanpa klausul.

Tanpa uang.

Tanpa batas waktu.

Ia terdiam.

— “Mai…”

Aku menatap lurus ke matanya.

— “Kali ini bukan transaksi.”

— “Bukan karena utang.”

— “Bukan karena keluarga.”

— “Kalau kamu mau jadi suamiku… kita mulai dari awal.”

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun—

Alejandro, pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun—

Diam dengan mata yang bergetar.

Ia melangkah mendekat.

Tidak tergesa.

Tidak posesif.

Hanya menggenggam tanganku dengan lembut.

— “Kali ini… aku melamarmu.”

Tidak ada pesta mewah di Jakarta.

Tidak ada media.

Tidak ada kontrak tebal.

Hanya dua tanda tangan.

Dan dua orang dewasa.


Satu tahun kemudian.

Perusahaan PR-ku membuka cabang kedua di Surabaya.

Alejandro tidak lagi menjadi nama kontroversial di kalangan elite Jakarta.

Ia mundur dari beberapa bisnis kotor.

Mulai berinvestasi dalam dana pendidikan dan program sosial.

Bukan demi citra.

Tapi karena ia ingin.

Suatu malam, saat aku berdiri di balkon apartemen kami di Sudirman melihat lampu kota berkilau—

Ia memelukku dari belakang.

Tanpa kata-kata.

Hanya pelukan hangat.

Saat itu aku sadar—

Hal paling berbahaya dalam cinta bukanlah terkurung.

Melainkan diberi kebebasan… lalu tetap memilih untuk tinggal.

Dan kali ini—

Aku tidak dibeli.

Aku tidak ditahan.

Aku tinggal.

Karena aku mau.

Dan dia juga.

Tamat.