**SEORANG VLOGGER WANITA YANG TEROBSESI DENGAN ISTILAH “SELF-LOVE” MELUNCURKAN KAMPANYE “MENIKAHI DIRI SENDIRI.” DIA MEMESAN 50 GAUN PENGANTIN DARI TOKOKU SENILAI RP420 JUTA.**
Karena melihat riwayat akunnya yang punya tingkat “refund only, no return” sangat tinggi, aku membatalkan pesanannya setelah membayar sedikit kompensasi. Tapi setelah menerima uang itu, dia malah memutarbalikkan keadaan. Dia mengajak 50 peserta untuk melakukan cyberbullying terhadapku.
【Girls, hindari toko ini. Pemiliknya misoginis, benci perempuan yang ingin membeli gaun untuk dirinya sendiri.】
【Kelihatan banget budak laki-laki. Emangnya salah kalau perempuan menghadiahi dirinya sendiri sebuah pernikahan? Memangnya gaun cuma boleh dipakai buat menikah sama pria? Kalau kamu cinta banget sama laki-laki, sana nikah sama bapakmu sendiri!】
【Semoga kamu diperlakukan seperti budak di rumah mertua, melahirkan delapan anak laki-laki yang menguras hidupmu, dan dipukuli suami setiap hari. Memang cocok jadi budak!】
Seseorang melempar tabung gas LPG ke tokoku. Aku langsung tewas dalam ledakan itu. Saat tubuhku terkapar, mereka malah makan samgyeopsal dan pesta di depan reruntuhan tokomu.
Saat membuka mata lagi, aku kembali ke hari ketika vlogger itu memesan gaun.
50 gaun, ya?
Baiklah.
Akan kupersiapkan semuanya dengan “sempurna.”
Ponselku terus berbunyi. Banyak chat dari Jianna Garcia:
“Seller, ada? Aku Jianna Garcia, vlogger terkenal di TikTok dan IG. Aku mau bikin campaign ‘Girls Marrying Themselves,’ dan aku suka gaun di tokomu.”
“Aku mau dua koleksi paling mahal, masing-masing 25 pieces.”
“Nanti aku kirim ukuran 50 cewek. Masukkan para penjahitmu ke grup chat, semua harus disesuaikan sampai fitting-nya perfect.”
“Semuanya harus selesai dalam 3 hari. Setiap menit keterlambatan kena penalti Rp1,4 juta.”
“Packing harus pakai luxury box dengan preserved flowers dan handwritten card. Tulisan tangan harus cantik.”
“Aku juga mau gaun limited edition paling mahal untuk diriku sendiri. Upgrade kainnya jadi Italian Silk, lalu ekornya harus sepanjang 3 meter. Aku harus paling standout, ngerti?”
Aku melihat rating akunnya sebagai pembeli.
Tertulis jelas:
“High refund rate. Sering meminta ‘refund without return’ tanpa alasan yang jelas.”
Aku juga menemukan satu review buruk tentang dirinya dari toko barang mewah pre-loved:
【Hindari toko ini! Barangnya tidak sesuai foto dan seller menolak menerima return. Penipu!】
Dan balasan dari pihak seller:
【Ma’am, Anda mengotori gaun dengan noda besar sebelum mengembalikannya. Awalnya Anda bilang tidak tahu apa-apa, lalu tiba-tiba bilang itu karena menstruasi sehingga meminta refund 100%. Saat kami menolak, Anda menghina dan mengancam kami.】
Bahkan ada lampiran foto noda merah gelap yang besar.
Di kehidupan sebelumnya, karena takut menghadapi orang seperti ini, aku menolak pesanannya. Tapi ternyata aku tetap mati tragis.
Kali ini, aku akan menerima “pesanan besar” ini.
Aku segera mengetik:
“Konsep acara Anda sangat indah dan bermakna, Ma’am.”
“Jangan khawatir, kami akan memenuhi semua permintaan Anda.”
“Boleh minta foto-foto acara nanti suatu hari?”
Dalam hukum belanja online, kebijakan return 7 hari hanya berlaku untuk barang yang masih “seperti baru” dan bisa dijual kembali. Mencoba pakaian masih diperbolehkan, tapi memakainya untuk acara sudah dianggap “used” dan tidak bisa direturn.
Tapi karena dia seorang vlogger, pasti dia akan mengunggah foto-fotonya secara online.
Dan itu akan menjadi buktiku.
Jianna membalas dengan emoji rolling eyes:
“Foto? Kamu pikir aku model tokomu? PD banget, mau numpang promosi gratis?”
“Akunku profesional, bukan tempat livestream jualan murahanmu.”
“Tapi kalau kamu bayar Rp280 juta buat collab, mungkin nama tokomu bisa kutaruh kecil di pojok layar.”
“Coba saja pakai foto kami tanpa izin, aku tuntut kamu karena pelanggaran hak cipta.”
Aku tersenyum tipis.
Semua gaun selesai tepat waktu dan dikirim sesuai jadwal.
Keesokan harinya, videonya langsung viral:
【Hari ini, aku menikahi diriku sendiri.】
Di sebuah taman di Tagaytay, 50 wanita mengenakan gaun putih, tertawa dan berfoto bersama. Jianna berdiri di tengah memakai gaun paling mahal. Dalam videonya, dia memberi pidato tentang “women empowerment” dan memutus rantai pernikahan tradisional.
Video itu mencapai 2 juta views.
Banyak peserta ikut berkomentar:
“Apa yang dilakukan Jianna benar-benar menyentuh hati!”
“Aku selalu dibilang gemuk dan kulitku gelap, tapi hari ini dengan gaun ini, aku bisa bilang ke diriku sendiri: You deserve the best.”
Gaun-gaun itu terlihat cantik di kamera. Berkilau di bawah sinar matahari.
Tapi kamera HD tidak bisa menyembunyikan noda wine, es krim, dan bercak cokelat di bagian bawah gaun.
Aku menyimpan setiap fotonya.
Setelah acara selesai, notifikasi muncul:
“Request for Refund and Return.”
Alasan: “Change of Mind.”
Kurir datang membawa semua gaun yang dikembalikan. Aku membuka kotaknya di depan kurir sambil merekam video.
Baunya?
Campuran parfum, keringat, dan aroma asam yang sulit dijelaskan.
Gaun-gaun itu hanya dilempar begitu saja ke dalam box.
Gaun pertama: collar penuh noda foundation, ada dua bekas keringat besar di bagian ketiak.
Gaun kedua: bagian bawah penuh lumpur dan noda rumput.
Gaun ketiga: lining-nya penuh darah kering.
Semua 50 gaun rusak.
Ada renda yang sobek, zipper rusak, dan gaun Jianna yang paling parah—penuh bekas sepatu serta noda kuning yang entah apa.
“Parah banget… mereka apain ini semua?” kata kurir terkejut.
Aku memasukkan kembali semua gaun ke dalam box.
“Refused.”
Lalu aku menolak permintaan refund mereka.
Ponselku langsung dipenuhi voice note dari Jianna:
“Apa-apaan ini? Kenapa kamu tolak?”
“Tag-nya masih ada! Ini masih dalam 7-day return! Kamu nggak ngerti hukum?”
Aku menjawab tenang:
“Ma’am, semua 50 gaun menunjukkan bekas pemakaian dan kotoran yang jelas. Produk ini tidak memenuhi syarat return.”
Aku mengirim semua foto sebagai bukti.
Beberapa detik kemudian, dia meledak lewat voice note:
“Apa masalahmu? Cuma noda darah doang, terus kenapa? Emangnya kamu nggak pernah lihat menstruasi?!”
“Kamu jijik sama darah perempuan? Itu simbol kehidupan! Buatmu itu cuma kotoran? Dasar misoginis, mending mati aja!”
“Aku kasih tahu ya, aku ini vlogger. Mau aku expose kamu?”
Expose.
Aku langsung teringat ledakan LPG di kehidupan sebelumnya.

Aku menarik napas panjang.
Sekarang aku tidak takut lagi.
Karena kali ini…
Bukti ada di tanganku.
“Baiklah,” bisikku pelan. “Kita lihat saja nanti.”
Malam itu juga, aku membuka media sosial.
Tapi ternyata bukan aku yang sedang dia serang.
Sebuah postingan dari salah satu peserta acara justru viral:
Babak Lanjutan: Senjata Makan Tuan
Postingan yang viral itu bukan milik Jianna, melainkan milik salah satu pengikut setianya yang ikut dalam acara tersebut, seorang gadis muda bernama Chloe.
Namun, alih-alih memuji sang vlogger, Chloe justru mengunggah sebuah utas panjang yang dipenuhi dengan bukti tangkapan layar percakapan grup chat panitia acara “Girls Marrying Themselves.”
[@Chloe_Tan]: “Aku harus angkat bicara. Aku mengagumi Jianna karena kampanyenya tentang self-love. Tapi hari ini aku sadar, semuanya cuma bisnis palsu yang menjijikkan. Di depan kamera kita diajak merayakan diri sendiri, tapi di belakang layar… kami semua diperas.”
Utas itu menjelaskan secara rinci kebusukan Jianna.
Ternyata, Jianna tidak pernah membelikan gaun-gaun itu untuk para peserta. Dia memungut biaya pendaftaran sebesar Rp5 juta per orang dengan janji mereka akan mendapatkan hak milik gaun pengantin eksklusif tersebut. Namun, setelah acara selesai, Jianna memaksa 50 peserta untuk melepaskan gaun itu kembali dan mengancam tidak akan membagikan foto serta video HD estetis mereka jika mereka menolak.
Di dalam grup chat yang dibocorkan Chloe, Jianna menulis:
“Kalian kembalikan gaunnya sekarang. Biar aku yang urus refund 100% ke seller bajingan itu dengan alasan berubah pikiran. Uang pendaftaran kalian tetap masuk ke kantongku sebagai biaya eksposur di akunku. Jangan berani-berani mengotori gaunnya, atau foto kalian tidak akan aku edit!”
Seketika, netizen yang tadinya memuja Jianna berbalik arah. Kolom komentar vlogger itu dipenuhi caci maki. Kampanye self-love yang diagungkannya runtuh dalam semalam menjadi skandal penipuan berkedok pemberdayaan perempuan.
Serangan Balik yang Sempurna
Melihat posisinya yang terpojok, Jianna yang panik mencoba mengalihkan isu. Seperti di kehidupan sebelumnya, dia mulai meluncurkan narasi bahwa akulah dalang di balik semua ini. Dia mengunggah video klarifikasi sambil menangis, menuduh tokoku bersekongkol dengan Chloe untuk menjatuhkan gerakannya yang “suci”.
【Toko ini sengaja mengirimkan gaun-gaun cacat dan bernoda sejak awal agar mereka punya alasan untuk menolak refund dan menghancurkan reputasiku! Mereka benci melihat perempuan mandiri!】
Para pengikut fanatiknya yang tersisa mulai bergerak. Mereka mencoba meneror akun tokoku dan mengancam akan mendatangi toko fisikku, persis seperti skenario ledakan LPG yang menewaskanku dulu.
Namun, kali ini aku sudah siap. Aku tidak lagi diam dan gemetar di sudut toko.
Satu jam setelah video klarifikasi Jianna diunggah, aku merilis video tandingan di seluruh platform media sosial milik tokoku. Video itu berdurasi 15 menit, dikemas dengan sangat profesional, dan langsung memuncaki daftar trending topic.
Di dalam video tersebut, aku menampilkan:
- Rekaman CCTV Proses Packing: Bukti video HD berkapasitas tinggi yang menunjukkan setiap dari 50 gaun tersebut diperiksa secara detail, bersih tanpa noda, dilipat dengan rapi ke dalam luxury box, lengkap dengan kartu ucapan tulis tangan yang indah sebelum disegel di depan kurir.
- Video Unboxing Retur: Rekaman saat kotak-kotak itu kembali, memperlihatkan noda darah, lumpur, robekan, dan bau asam yang bahkan membuat kurir di dalam video muntah.
- Data Hukum Internasional: Surat resmi dari pengacaraku yang menyatakan bahwa kebijakan retur 7 hari batal demi hukum jika barang terbukti telah digunakan untuk konsumsi publik (dengan melampirkan tangkapan layar video viral Jianna yang meraup 2 juta views menggunakan gaun-gaun kami).
Di akhir video, aku menatap langsung ke kamera dan berkata dengan tenang:
“Kebaikan dan hak konsumen adalah prioritas kami. Namun, memanipulasi gerakan pemberdayaan perempuan demi menipu puluhan gadis dan memeras pelaku UMKM adalah sebuah kejahatan. Sampai jumpa di pengadilan, Jianna Garcia.”
Menuai Badai
Efek dari video tandinganku sangat masif. Tidak ada ruang bagi Jianna untuk mengelak. Bukti digital yang kupegang terlalu solid, teliti, dan tidak terbantahkan.
Pihak platform belanja online tidak hanya menolak total pengajuan retur senilai Rp420 juta tersebut, tetapi juga membekukan akun profesional Jianna karena terbukti melakukan manipulasi ulasan dan aktivitas penipuan sistematis (high refund rate).
Keesokan paginya, alih-alih tabung gas LPG yang datang ke tokoku, yang datang adalah surat panggilan dari kepolisian untuk Jianna atas kasus penipuan massal, pencemaran nama baik, dan pelanggaran kontrak dagang. Para peserta yang merasa ditipu oleh biaya pendaftaran Rp5 juta berbondong-bondong mendatangi rumah Jianna, menuntut uang mereka kembali.
Aku berdiri di balik jendela lantai dua tokoku, menghirup kopi hangat sambil melihat berita di ponsel. Di layar, terlihat Jianna yang biasanya tampil glamor kini tertunduk dengan wajah pucat, dikerumuni wartawan dan korban-korbannya saat digiring masuk ke dalam mobil polisi.
Aku mengembuskan napas lega. Di kehidupan ini, aku tidak hanya menyelamatkan tokoku dan nyawaku sendiri, tetapi aku juga berhasil membuktikan satu hal: Self-love yang sejati bukanlah tentang ego yang serakah dan merugikan orang lain, melainkan tentang menghargai diri sendiri dengan cara hidup jujur dan bertanggung jawab.