Posted in

KESALAHPAHAMAN DALAM PANGGILAN TELEPON

**KESALAHPAHAMAN DALAM PANGGILAN TELEPON**

Aku menelepon sahabatku untuk mengeluh soal bra yang terlalu sempit, tanpa sadar ternyata kakak laki-lakinya yang mengangkat telepon.

Karena sama sekali tidak tahu, aku terus saja bicara:

“Bestie, kamu udah lihat foto yang aku kirim di Messenger belum? Ketat banget, sampai ninggalin bekas di kulitku!”

Beberapa detik suasana di seberang telepon hening, lalu panggilan langsung terputus.

Aku menelepon lagi, dan kali ini Vanessa yang menjawab sambil berteriak:

“Kata Kak Dante, kamu itu sinting!”

Aku mahasiswa tingkat tiga di Manila waktu pertama kali bertemu Kak Dante. Saat itu dia datang mengantarkan makanan untuk adiknya, Vanessa.

Dengan bahunya yang lebar, tubuh atletis, dan tinggi badannya—siapa pun pasti bakal menelan ludah melihatnya.

Selama enam tahun setelah itu, diam-diam aku selalu mencari tahu tentang dirinya. Aku tahu sampai sekarang dia belum punya pacar.

Kupikir itu cuma karena aku sangat pandai menyembunyikan perasaanku.

Sampai kejadian telepon memalukan hari ini terjadi.

Aku datang ke rumah mereka untuk meminta maaf.

Tapi aku tidak menyangka dia malah menyandarkanku ke dinding.

“Aku sudah lihat foto-fotonya,” bisiknya. “Sekarang aku mau lihat… sebenarnya seberapa ketat itu.”

Dialah yang menjawab teleponku.

Aku benar-benar tidak menyangka hanya karena satu panggilan, harga diriku langsung lenyap dan rasanya ingin ditelan bumi saja.

Begini sebenarnya yang terjadi.

Minggu siang, aku cuma mengurung diri di apartemen sambil mencoba bra baru yang kubeli. Tapi baru dipakai saja, mood-ku langsung rusak.

Salah ukuran. Terlalu ketat dan bikin sesak napas. Setelah kulepas, ada dua bekas merah tepat di area dada—parahnya sampai terlihat seperti korban kekerasan rumah tangga.

Aku langsung kesal, mengambil ponsel, lalu menelepon Vanessa.

Baru dua dering, seseorang mengangkat.

Begitu tersambung, aku langsung mengomel:

“Bestie! Underwear yang kita beli kemarin sempit banget lagi! Kapan kamu senggang? Yuk tukar di mall. Kita beli bareng, kan? Struknya masih ada di kamu nggak?”

Tak ada jawaban dari seberang.

Kupikir dia sedang sibuk atau melakukan sesuatu, jadi sambil melihat bekas merah di kulitku, aku terus bicara:

“Hello? Denger nggak sih? Kamu lihat foto yang aku kirim di Messenger belum? Yang set hitam malam itu. Serius, ketat banget, aku sampai susah napas…”

Dunia seakan berhenti selama dua detik.

Lalu telepon ditutup.

Aku cuma menatap layar ponsel, bingung kenapa Vanessa tiba-tiba begitu. Apa sinyalnya jelek?

Kayaknya tidak juga.

Aku menelepon lagi.

Kali ini cepat diangkat, tapi suara yang terdengar berbeda.

“Hei, kamu gila ya?!”

Vanessa berteriak begitu keras sampai hampir memecahkan gendang telingaku.

“Kenapa sih? Memangnya ada apa?” tanyaku bingung.

“Teleponmu tadi!” teriaknya sampai suaranya nyaris habis. “Yang ngangkat itu Kak Dante!”

“…Siapa?”

“Kak Dante! Dia pinjam HP-ku buat lihat jam, pas banget kamu nelepon jadi dia langsung angkat!”

Otakku seperti berhenti bekerja selama tiga detik.

Kak Dante.

Pria tinggi besar yang sudah kuidam-idamkan sejak kuliah.

Laki-laki dengan bahu lebar, tubuh fit, dan karisma luar biasa.

Apa tadi yang aku bilang?

“Kamu udah lihat foto yang aku kirim di Messenger?”

“Yang set hitam itu.”

“Ketat banget.”

Aku langsung ingat.

Malam sebelumnya, memang aku mengirim beberapa foto ke Vanessa.

Saat mencoba lingerie baru, aku selfie—dari depan, samping, dan belakang. Ada tiga foto yang kukirim sambil bertanya:

“Cocok nggak di aku?”

Apa ya jawaban Vanessa waktu itu? Sepertinya dia bilang “lumayan” atau “bagus kok.”

Aku sudah lupa jelasnya.

Tapi satu hal yang sangat pasti—

Kak Dante melihat semuanya.

Vanessa bilang dia sedang melihat jam di ponselnya.

Artinya, bukan cuma mendengar keluhanku soal bra sempit… dia juga melihat…

Tiga foto itu.

Yang sangat jelas.

Tuhan, boleh nggak aku meninggal sekarang juga?

“Vanessa…” suaraku gemetar. “Reaksi kakakmu… gimana?”

Vanessa terdiam beberapa saat sebelum menjawab dengan nada aneh:

“Kata Kak Dante… kamu itu sinting.”

Babak Lanjutan: Menembus Batas Malu

Kalimat “kamu itu sinting” terus terngiang-ngiang di kepalaku bagai kaset rusak.

Aku melempar ponselku ke atas kasur, lalu menenggelamkan wajahku ke bantal dan berteriak sekencang-kencangnya. Bayangan Kak Dante—pria berwibawa, dingin, dan selalu tampil sempurna yang kukagumi selama enam tahun—kini telah melihat foto-foto paling privat dalam hidupku. Dan yang lebih parah, dia mengira aku sengaja memamerkannya lewat telepon!

“Nggak bisa. Aku harus meluruskan ini,” gumamku panik.

Kalau aku membiarkan kesalahpahaman ini berlarut-larut, aku tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di rumah Vanessa lagi. Aku tidak mau dicap sebagai wanita agresif yang kurang waras oleh pria impianku.

Setengah jam kemudian, dengan mengabaikan rasa malu yang sudah berada di ubun-ubun, aku nekat berkendara menuju rumah keluarga mereka. Di sepanjang jalan, aku merapal mantra permintaan maaf yang terdengar logis.

“Kak Dante, maaf, itu salah sambung. Saya kira itu Vanessa. Dan foto-foto itu… itu cuma testimoni belanjaan!” Ya, terdengar cukup profesional. Semoga saja.

Begitu sampai, aku mengetuk pintu dengan tangan gemetar. Berharap Vanessa yang membuka pintu sehingga aku bisa bersembunyi di kamarnya terlebih dahulu.

Namun, dunia seolah sengaja ingin menyiksaku hari ini.

Pintu terbuka, dan sosok tinggi besar dengan kaus abu-abu ketat yang mencetak jelas lekuk dadanya berdiri di hadapanku. Kak Dante. Aroma parfum maskulinnya yang khas langsung menyerbu indra penciumanku.

Ia menatapku datar, satu tangannya bersandar di bingkai pintu. “Ya?” suara beratnya terdengar begitu mengintimidasi.

“K-Kak Dante…” suaraku mencicit. “Vanessa ada? Anu… soal telepon tadi, aku mau minta maaf. Itu benar-benar salah paham. Aku nggak tahu kalau Kakak yang angkat, dan foto-foto di Messenger itu—”

Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, Kak Dante tiba-tiba meraih pergelangan tanganku. Gerakannya begitu cepat namun lembut, menarikku masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan satu sentakan kaki.

Blam.

Tubuhku terdorong mundur hingga punggungku menyentuh dinding lorong yang dingin. Kak Dante maju selangkah, mengurungku di antara kedua lengan kokohnya. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan deru napas hangatnya di keningku.

“Kak… Dante?” jantungku berpacu begitu cepat, rasanya seperti mau melompat keluar.

Ia menunduk, menatap langsung ke mataku dengan tatapan intens yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat seksi.

“Aku sudah lihat foto-fotonya,” bisiknya rendah, suaranya parau di dekat telingaku. “Sekarang aku mau lihat… sebenarnya seberapa ketat itu.”


Kenyataan di Balik Layar

Aku membeku. Seluruh fungsi otakku mendadak mati total. “A-apa?”

Kak Dante terkekeh pelan, suara bas rendahnya bergetar di dadanya yang bidang. Ia perlahan menurunkan lengannya, memberikan sedikit jarak agar aku bisa bernapas, walau pandangan matanya tetap mengunci mataku.

“Vanessa sedang keluar beli bumbu dapur ke supermarket depan,” kata Kak Dante tenang, kembali ke mode santainya yang biasa, meski kilat jahil masih terlihat di matanya. “Dan soal telepon tadi… aku sengaja bilang kamu sinting ke Vanessa.”

“Kenapa?!” tanyaku spontan, setengah kesal dan setengah masih syok.

Kak Dante merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel milik Vanessa dan menunjukkannya di depan wajahku. Layarnya menampilkan ruang obrolan Messenger kami.

“Karena kalau aku nggak bilang begitu, Vanessa pasti bakal curiga kenapa aku menatap ponselnya sampai dua menit penuh,” ujar Kak Dante blak-blakan tanpa kedip. “Foto-foto yang kamu kirim… set hitam itu. Kamu kelihatan sangat cantik.”

Wajahku seketika memanas. Aku yakin warnanya sudah semerah tomat matang.

“Dan soal bra yang kekecilan sampai bikin bekas merah…” Kak Dante mendekatkan wajahnya lagi, kali ini berbisik tepat di samping telingaku, “Lain kali, kalau mau beli pakaian dalam, ajak aku. Aku tahu ukuranmu hanya dengan sekali lihat semalam. Dan aku jamin, pilihanku nggak akan bikin kamu susah napas… kecuali kalau kita sedang berdua.”

Setelah mengatakan itu, Kak Dante mundur sambil tersenyum penuh arti, tepat saat terdengar suara kunci pintu diputar dari luar—Vanessa telah kembali.

Aku masih berdiri menyandar di dinding, lemas tak berdaya. Harga diriku mungkin memang sudah lenyap, tapi melihat bagaimana tatapan Kak Dante kepadaku hari ini… sepertinya kesalahpahaman memalukan ini justru menjadi awal dari sesuatu yang sudah kunantikan selama enam tahun.