Sebuah wawancara kerja di sebuah korporasi besar, dan salah satu pewawancara adalah ibu kandungku—yang sudah sepuluh tahun tidak pernah kutemui.

Sebuah wawancara kerja di sebuah korporasi besar, dan salah satu pewawancara adalah ibu kandungku—yang sudah sepuluh tahun tidak pernah kutemui.

Ia mengenakan setelan bisnis mahal dari ujung kepala sampai kaki. Wibawanya terasa menekan ruangan.

Ketika tatapan dinginnya melewati wajahku, ia sempat terdiam sesaat—sesuatu yang jarang sekali terjadi pada wanita sepertinya.

Setelah wawancara selesai, staf HR menarikku ke samping.

“Kamu keluarganya Bu Sophia Wijaya, kan? Bu Sophia sudah bilang, kamu diterima. Mulai kerja hari Senin depan.”

Aku tersenyum tipis. Lalu, perlahan-lahan, kusobek surat pengangkatan itu di depan mereka.

“Tidak perlu. Saya tidak mau bekerja untuk seorang pembunuh.”


1

HR itu terpaku.

Butuh waktu cukup lama sebelum ia berbicara dengan ragu, “Kamu yakin dengan ucapanmu… tentang Bu Sophia?”

Aku tidak menjawab.

Setelah hening beberapa detik, ia menurunkan suaranya.

“Sebenarnya… saat Bu Sophia melihat CV-mu, beliau langsung memanggil saya. Katanya kamu satu-satunya anaknya. Beliau minta kami memastikan kamu diterima…”

“Maaf,” potongku pelan.

Aku tersenyum.

“Saya yatim. Saya tidak punya ibu.”

Wajah HR berubah kaget, lalu penuh kebingungan dan iba. Ia tak lagi menahanku.

Saat lift turun, pintunya kembali terbuka di lantai bawah. Masuklah suami ibu kandungku sekarang—Om Henry.

Ia mengangguk menyapa. Suaranya terdengar emosional.

“Aku dengar kamu mau wawancara hari ini. Kukira cuma kabar angin. Kamu sudah sebesar ini, Niña.”

Karena aku diam, ia melanjutkan dengan nada lebih lembut.

“Niña, dengarkan Om. Soal kejadian dulu… setiap orang punya kesulitannya masing-masing.”

“Tapi bagaimanapun juga, dia tetap ibumu. Sudahlah, lepaskan masa lalu.”

Nasihat seperti itu sudah terlalu sering kudengar selama bertahun-tahun.

Hanya karena hubungan darah, aku harus melupakan semuanya?

Haruskah aku mengabaikan bagaimana Nenek meninggal… karena tekanan dan penghinaan yang dia terima?

Aku tidak bisa.

Aku menunduk, lalu menggeleng pelan.

“Aku tidak akan melupakan.”

Kesalahan yang dilakukan wanita itu… harus ada yang mengingatnya seumur hidup.


Sesampainya di rumah kontrakan kecilku di pinggiran Jakarta, aku mencuci tangan, lalu meletakkan makanan yang kubeli di depan sebuah foto hitam putih.

Nenek tersenyum lembut di foto itu.

Hari ini adalah ulang tahun wanita itu—ibu biologisku.

Dan dulu, setiap ulang tahunnya, Nenek adalah orang yang paling bahagia.

Dalam foto itu, Nenek menatap ibuku dengan senyum penuh kebanggaan.

Sudah sepuluh tahun sejak hari itu.

Dan tahun ini adalah peringatan sepuluh tahun kepergian Nenek dari dunia ini.


2

Aku mengelap bingkai foto dengan hati-hati.

Setelah itu, aku kembali ke kamar untuk mengirim CV ke perusahaan lain.

Tak lama kemudian, sebuah perusahaan dengan gaji belasan juta rupiah per bulan membalas dan menjadwalkan wawancara keesokan harinya.

Namun saat aku berdiri di depan gedung perusahaan itu, aku kembali melihat Sophia.

Ia bersandar pada sebuah Mercedes-Maybach hitam, rokok menyala di tangannya.

Saat melihatku, ia mematikan rokoknya dan berjalan mendekat dengan sepatu hak tinggi yang berbunyi tegas di lantai.

Tatapannya seperti seorang investor yang sedang menilai aset miliknya sendiri.

Setelah beberapa saat, ia mengangguk tipis.

“Aku sudah baca CV-mu. Lumayan. Kamu ada perkembangan beberapa tahun ini.”

Aku tidak menjawab. Aku langsung masuk ke gedung.

Lift terbuka.

Aku menarik napas dalam dan masuk ruang wawancara.

HR mengambil CV-ku, melirik sekilas, lalu berkata datar:

“Maaf, kamu tidak lolos. Silakan cari perusahaan lain.”

Aku mengernyit. “Tapi saya bahkan belum diwawancara.”

Ia terlihat ragu sebelum menjawab hati-hati:

“Posisi ini kurang cocok untukmu. Mungkin kamu lebih sesuai di perusahaan Bu Sophia. Kemampuanmu akan lebih dihargai di sana…”

Mendengar nama perusahaan Sophia, aku langsung mengerti.

Selama bertahun-tahun, ia mencoba “memperbaiki” hubungan kami.

Tapi setiap usahanya selalu seperti ini.

Mengendalikan. Mengatur. Memaksaku kembali ke dalam bayangannya.

Aku menarik napas dalam, mengucapkan terima kasih, lalu berbalik pergi.

Di belakangku terdengar bisik-bisik pegawai:

“Itu anaknya Bu Sophia?”

“Katanya dibesarkan neneknya di kampung.”

“Sepuluh tahun nggak pernah dijenguk, lho…”

“Bagaimanapun juga, tetap anak kandung…”

Aku mempercepat langkah.

Sophia masih menunggu di bawah, seolah sudah tahu wawancaraku tidak akan lama.

Aku melewatinya, tapi ia meraih lenganku.

“Niña, begitu cara nenekmu mendidikmu? Bertemu ibumu sendiri tidak tahu cara menyapa?”

Ketika ia melihat tatapanku yang penuh kebencian, ucapannya terhenti.

Wajahnya mengeras.

“Niña, sikap macam apa itu?”

Aku menepis tangannya.

“Kamu tidak berhak menyebut nama Nenek.”

Aku berbalik dan berjalan pergi.

Di belakangku, ia berteriak marah:

“Aku juga anaknya! Kenapa aku tidak boleh menyebutnya—”


Seminggu kemudian, tak satu pun perusahaan di Jakarta menerimaku.

Aku terpaksa membeli tiket kereta Rp350.000 untuk kembali ke kampung di Jawa Tengah.

Sesampainya di rumah, aku membeli buah-buahan dan pergi ke panti jompo kecil tempat teman-teman lama Nenek tinggal.

Saat kami duduk mengobrol di halaman, nama Sophia tiba-tiba disebut. Suasana langsung hening.

Akhirnya Bu Marni berbicara pelan.

“Sebenarnya… ibumu menelepon ke sini beberapa hari lalu. Dia tanya kabarmu.”

“Saya bilang kamu ke Jakarta cari kerja…”

Pak Leman menghentakkan tongkatnya keras ke tanah.

“Kenapa masih diladeni perempuan tak tahu diri itu!”

“Niña kita ini pintar! Tidak perlu uangnya!”

Ia menyerahkan jeruk besar kepadaku.

“Makan, Nak. Di sini cukup. Kita tidak butuh rupiahnya.”

Aku menggigit jeruk itu. Rasanya asam.

Benar kata Pak Leman.

Ibuku memang pintar.

Sejak kecil selalu jadi juara kelas.

Dulu waktu SMA, ia diam-diam berjualan komik di sekolah demi membeli barang-barang mahal.

Guru-gurunya bahkan pernah datang ke rumah Nenek, membujuk agar ia kuliah di universitas top seperti UI atau UGM.

Di masa itu, tatapan Nenek kepadanya penuh harapan dan kebanggaan.

Sampai akhirnya…

Sophia melakukan dua kesalahan.

Dengan pria yang sama.

Dan dari kesalahan kedua itulah… aku lahir.

Semua orang bilang aku adalah “noda” dalam hidup Sophia.

Anak yang datang di saat yang salah.
Bukti dari cinta yang memalukan.

Pria itu—ayahku—akhirnya menikahi wanita lain yang lebih “sepadan”.
Sophia memilih kariernya.
Memilih nama besar.
Memilih reputasi.

Dan Nenek… memilihku.

Ia menutup semua gosip dengan punggungnya sendiri.
Menanggung semua bisik-bisik tetangga.
Menghabiskan tabungannya untuk membesarkanku.

Sophia pergi ke Jakarta dengan satu koper dan ambisi setinggi langit.
Nenek tinggal di kampung dengan satu cucu dan sisa harga diri yang berusaha ia jaga.

Bertahun-tahun kemudian, Sophia benar-benar berhasil.

Namanya masuk majalah bisnis.
Wajahnya muncul di televisi.
Ia menjadi simbol “wanita sukses yang bangkit dari keterpurukan.”

Tapi tidak ada satu pun media yang tahu—
bahwa wanita yang ia sebut sebagai “masa lalu kelam” itu adalah ibu yang pernah memohon agar ia tidak meninggalkan anaknya.


Tahun kesepuluh setelah kepergian Nenek, aku akhirnya mengerti satu hal.

Membalas dendam tidak akan membuat Nenek hidup kembali.
Membenci Sophia juga tidak akan menghapus masa kecilku.

Yang bisa kulakukan… hanyalah hidup lebih baik darinya.


Beberapa bulan setelah aku kembali ke kampung, aku membuka kelas bimbingan kecil di rumah Nenek.

Awalnya hanya tiga anak.
Lalu lima.
Lalu sepuluh.

Anak-anak yang tidak mampu membayar, tetap kuterima.
Orang tua mereka membayar dengan beras, sayur, atau telur.

Aku tersenyum setiap kali melihat mereka belajar dengan mata berbinar.

Untuk pertama kalinya, aku merasa… cukup.


Suatu sore, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.

Sophia turun.

Tidak ada sopir.
Tidak ada asisten.
Tidak ada sepatu hak tinggi.

Ia hanya berdiri di depan pagar kayu tua itu, memandang rumah yang dulu ia tinggalkan.

Aku keluar.

Kami berdiri saling berhadapan dalam diam.

Waktu telah menambahkan garis-garis halus di wajahnya.
Wibawanya masih ada—
tapi tidak lagi menakutkan.

“Aku dengar kamu membuka kelas di sini,” katanya pelan.

Aku mengangguk.

Ia melihat papan tulis kecil di ruang tamu, mendengar suara anak-anak menghafal perkalian.

Matanya sedikit bergetar.

“Ibumu dulu… juga suka mengajariku seperti itu,” katanya lirih.

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, suaranya tidak terdengar sombong.

Hanya… lelah.

“Aku tidak datang untuk memaksamu kembali,” lanjutnya.
“Aku hanya ingin tahu… kamu baik-baik saja atau tidak.”

Aku menatapnya lama.

Di hadapanku bukan lagi CEO besar.
Hanya seorang wanita yang telah kehilangan ibunya… dan anaknya.

“Aku baik-baik saja,” jawabku tenang.
“Karena Nenek membesarkanku dengan benar.”

Kalimat itu seperti pisau kecil yang tajam—
tidak berteriak, tapi cukup dalam untuk melukai.

Sophia menunduk.

“Aku gagal sebagai anak,” bisiknya.
“Dan gagal sebagai ibu.”

Angin sore bertiup pelan.

Aku tidak memaafkannya.
Tapi untuk pertama kalinya, aku juga tidak membencinya.

Karena aku akhirnya sadar—

Hidupku bukan bayangan kesalahannya.
Aku bukan noda dalam kisahnya.

Aku adalah kelanjutan dari cinta Nenek.

Dan itu… sudah lebih dari cukup.

Sophia berbalik pergi.

Mobil hitam itu menghilang di tikungan jalan desa.

Aku kembali masuk ke rumah, duduk di depan foto hitam putih itu.

“Nenek,” bisikku pelan,
“aku tidak akan membiarkan namamu dilupakan.”

Di luar, suara anak-anak tertawa memenuhi halaman.

Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun—

aku benar-benar merasa pulang.