Ketika aku memutuskan membawa putriku kembali ke kampung halaman karena sudah tak sanggup lagi menahan kekurangan, satu panggilan dan satu video akhirnya membongkar semua rahasia dalam pernikahanku…

Ketika aku memutuskan membawa putriku kembali ke kampung halaman karena sudah tak sanggup lagi menahan kekurangan, satu panggilan dan satu video akhirnya membongkar semua rahasia dalam pernikahanku…

Aku menandatangani surat pindah sekolah putriku. Wali kelasnya menatapku lama, jelas tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

— “Bu Mia… keluarga Ibu sudah berjuang begitu keras agar Alya bisa masuk sekolah ini. Kenapa tiba-tiba dipindahkan?”

Aku tersenyum tipis. Suaraku tenang, bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.

— “Saya tidak mau memaksakan lagi, Bu. Saya akan membawanya ke Yogyakarta, tinggal bersama kakek dan neneknya.”

Guru itu terdiam beberapa detik, lalu menghela napas panjang.

— “Alya anak yang pintar. Semester lalu dia peringkat 15 besar… sangat disayangkan kalau pindah sekarang.”

Aku tidak menjawab. Hanya menerima kertas itu dan melipatnya dengan hati-hati.

Alya menungguku di lorong.

Tas lamanya sudah diikat pita karena resletingnya rusak dua bulan lalu. Setiap kali ia melangkah, tas itu hampir terlepas.

Di depan sekolah ada toko perlengkapan sekolah kecil. Ada tas baru seharga sekitar Rp250.000.

Tidak mahal.

Tapi… uang itu dipakai Arman—suamiku—minggu lalu untuk membayar uang sekolah anak perempuan lain.

Aku menggenggam tangan Alya.

Ia menoleh ke arah sekolah.

Tidak berkata apa-apa.

Hanya diam dan mengikuti langkahku.

Saat melewati sebuah toko roti, langkahnya melambat.

Di balik kaca etalase ada kue berwarna merah muda, dihias bunga-bunga kecil.

Ia menatapnya dua detik.

Lalu berbalik.

Tidak meminta.

Tidak bertanya.

Tidak mengatakan apa pun.


Saat kami tiba di apartemen kecil kami di Depok, ada dua kardus di depan pintu.

Satu sudah terbuka.

Di dalamnya tas baru warna navy, merek terkenal.

Yang satu lagi susu formula impor, harganya lebih dari Rp800.000.

Arman duduk di sofa, memotong label tas.

— “Untuk Dimas?” tanyaku.

— “Iya,” jawabnya datar. “Syarat dari preschool.”

Ia mengelus tali tas dengan bangga.

— “Ergonomis. Bagus buat postur anak.”

Alya berdiri di pintu, mengganti sepatu.

Ia menatap tas baru itu.

Lalu menunduk, mengencangkan pita pada tas rusaknya.

Baru saat itu Arman menyadari kami.

— “Kenapa pulang cepat?”

Aku meletakkan surat pindah di meja.

— “Sudah selesai. Alya pindah sekolah. Dua hari lagi kami ke Yogyakarta.”

Ia terdiam.

— “Apa maksudmu?”

— “Sekolah di kampung juga tidak apa-apa. Setidaknya… aku tidak perlu berutang tiap kali bayar SPP.”

Suaraku tetap tenang.

Tapi setiap kata seperti memotong bagian dari diriku sendiri.

Ia membanting tas itu.

— “Kamu tahu berapa kali aku memohon agar dia bisa masuk sekolah itu?”

— “Kita ambil uang dari mana?”

Tiga kata.

Cukup untuk membungkamnya.

— “Hampir Rp15.000.000 uang masuknya. Separuh dari tabungan ibuku.”

— “Tiga kali dia dipermalukan karena telat bayar.”

— “Dia tidak bilang ke kamu.”

— “Tapi dia bilang ke aku.”

Mulut Arman terbuka.

Tapi tak ada suara keluar.

Ponselnya berbunyi.

Ia melihat layar, lalu keluar ke balkon untuk menjawab.

Aku tidak mendengar percakapannya.

Tapi aku melihatnya tersenyum.

Senyum yang sudah lama tidak pernah ia tunjukkan padaku.


Saat kembali—

— “Dimas demam. Rina tidak bisa sendirian. Aku ke sana sebentar.”

Ia mengambil tas baru dan susu itu.

Saat melewati Alya, ia sempat berhenti.

Seolah ingin mengusap kepala anak itu.

Tapi kedua tangannya sudah penuh.

Akhirnya… ia pergi.

Pintu tertutup.

Dan rumah menjadi sangat sunyi.


Malam itu, aku membereskan barang-barang Alya.

Saat membuka kantong terdalam tasnya, selembar kertas jatuh.

Aku memungutnya.

Sebuah gambar.

Empat orang berdiri di depan rumah.

Seorang pria.

Seorang wanita.

Seorang anak perempuan.

Dan… seorang anak laki-laki.

Di atas kepalanya tertulis:

“Abang.”

Aku membalik kertas itu.

Tulisan berantakan, banyak salah eja.

“Aku mau punya kue sendiri.
Yang ada tulisan Alya happy birthday.
Pink.
Aku tidak suka cokelat.
Tapi papa selalu beli cokelat.
Karena abang suka.”

Lututku lemas.

Tanganku mulai gemetar.

Alya tertidur di sampingku.

Memeluk tas rusaknya.

Bergumam pelan dalam mimpi—

— “Papa… pulang malam ini nggak?”

Di saat itu… aku benar-benar hancur.


Tengah malam, ponselku bergetar.

Nomor tak dikenal.

“Kamu istrinya Arman, kan?”

Aku membeku.

“Aku orangnya Rina.”

“Ada yang perlu kamu tahu.”

Sebuah video dikirim.

Aku menekan putar.

Rekamannya goyang.

Sebuah apartemen lain.

Arman ada di sana.

Tersenyum.

Senyum yang sudah lama tidak pernah kulihat.

Di depannya—Rina.

Dan seorang anak.

Bukan Dimas.

Seorang anak perempuan.

Sekitar lima tahun.

Rina berkata pelan:

“Tenang saja. Anak kita nggak kekurangan.”

“Kamu lihat mereka… mungkin masih susah ya?”

Arman tertawa.

— “Itu pilihan dia.”

— “Aku nggak pernah paksa.”

Video itu selesai.

Aku tak bisa bergerak.

Anak kita?

Aku menoleh pada Alya.

Ia tertidur pulas.

Memeluk tas rusaknya.

Berbisik dalam tidur—

— “Papa… pulang ya…”

Saat itu aku tahu.

Besok…

bukan hanya sekolah yang akan berubah.

Hidupku juga.

Dan kali ini—

aku tidak akan diam lagi.

Keesokan paginya, aku tidak menangis.

Aku menatap wajahku di cermin lama sekali.

Perempuan di depanku bukan lagi istri yang menunggu dipilih.

Ia adalah ibu yang akhirnya sadar… anaknya selama ini selalu menjadi pilihan kedua.

Aku memotret surat pindah sekolah, foto gambar Alya, dan menyimpan video itu di tiga tempat berbeda.

Lalu aku menelepon seorang pengacara—teman kuliahku dulu di Yogyakarta.

Aku hanya berkata satu kalimat:

— “Aku mau selesai dengan bersih.”

Siang itu Arman pulang.

Wajahnya tampak lelah, tapi tidak bersalah.

Ia berhenti ketika melihat koper di ruang tamu.

— “Kamu serius mau pergi?”

Aku menatapnya tenang.

— “Bukan mau. Sudah.”

Ia menghela napas kesal.

— “Kamu lebay, Mia. Aku cuma bantu anak yang butuh.”

Aku menyodorkan ponselku.

Video itu kuputar.

Raut wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya… ia kehilangan kata-kata.

— “Kamu… salah paham.”

— “Anak kita nggak kekurangan.”

Aku mengulang kata-katanya sendiri.

Sunyi.

Lalu aku meletakkan beberapa lembar dokumen di meja.

— “Aku sudah ajukan gugatan cerai.”

— “Apartemen ini atas nama bersama. Kamu tidak bisa jual tanpa persetujuanku.”

— “Dan semua bukti ini cukup untuk memastikan Alya mendapat haknya.”

Ia menatapku seolah baru pertama kali melihatku.

Bukan sebagai istri.

Tapi sebagai lawan.

— “Kamu berubah.”

Aku tersenyum tipis.

— “Tidak. Aku hanya berhenti diam.”


Dua minggu kemudian, aku dan Alya benar-benar pindah ke Yogyakarta.

Rumah orang tuaku sederhana.

Cat temboknya sedikit mengelupas.

Tapi di sana… tidak ada kebohongan.

Hari ulang tahun Alya tiba beberapa bulan setelah itu.

Aku menabung sedikit demi sedikit.

Tidak banyak.

Tapi cukup.

Di meja makan kayu tua, ada kue kecil warna pink.

Dengan tulisan:

“Alya Happy Birthday.”

Bukan cokelat.

Strawberry.

Alya menatapku dengan mata berbinar.

— “Ini… buat Alya sendiri?”

Aku mengangguk.

— “Iya. Kali ini tidak berbagi. Ini milik kamu.”

Ia memelukku erat.

Pelukan kecil.

Hangat.

Dan untuk pertama kalinya… aku tidak merasa kekurangan.

Karena mungkin selama ini aku salah.

Yang membuat kami miskin bukan uang.

Tapi keberadaan seseorang yang tidak pernah benar-benar memilih kami.

Beberapa bulan kemudian, putusan cerai turun.

Hak asuh jatuh padaku.

Arman masih mengirim uang.

Tapi Alya tidak lagi menunggu suaranya setiap malam.

Ia mulai tertawa lebih sering.

Dan aku mulai bekerja kembali, dari nol.

Pelan-pelan.

Tapi dengan harga diri yang utuh.

Malam itu, saat Alya tertidur, ia berbisik pelan:

— “Mama… sekarang papa nggak lupa aku lagi, ya?”

Aku mengusap rambutnya.

— “Sekarang, kita tidak menunggu siapa pun lagi.”

Di luar, angin Yogyakarta berhembus pelan.

Hidupku memang berubah.

Bukan karena satu panggilan.

Bukan karena satu video.

Tapi karena akhirnya… aku memilih diriku dan anakku.

Dan kali ini—

kami tidak lagi menjadi pilihan kedua.