Posted in

Dua kali hamil, dua kali melahirkan. Dan dua kali pula anakku diambil oleh kakak ipar. Kebahagiaanku dirampas, tidak salah ‘kan kalau kurampas balik kebahagiaannya dengan merebut suaminya?


“Kamu cantik sekali hari ini, Mel. Mas sampai pangling melihatnya,” ujar Beni sembari melangkah masuk ke ka mar. Matanya tak berkedip menatap istrinya yang sedang berdiri di depan cermin besar.

Melda tidak menyahut. Ia sedang merapikan gamis berwarna pastel yang pas di badan, menonjolkan lekuk tu buhnya yang telah kembali sempurna. Empat puluh hari telah berlalu, dan Melda telah benar-benar sembuh. Diet ketat dan perawatan yang ia lakukan diam-diam telah membuahkan hasil yang nyata. Ia tampak lebih segar, lebih bersinar, dan jauh lebih cantik daripada saat mereka pertama kali menikah.

Beni yang merasa terpesona mulai mendekat. Ia meletakkan tangannya di bahu Melda, lalu mencoba memajukan wajahnya untuk mencium pipi istrinya. Namun, dengan gerakan cepat dan dingin, Melda memutar tu buhnya, menghindar dari sentuhan itu.

“Jangan sekarang, Mas. Nanti dandananku rusak. Di luar sudah banyak tamu,” ucap Melda datar.

“Mel, aku ini suamimu. Masa cium sedikit saja tidak boleh?” Beni mengeluh dengan nada kecewa.

Melda hanya menatap suaminya melalui pantulan cermin, sebuah tatapan yang membuat Beni merasa sangat asing. “Banyak hal yang sudah berubah, Mas. Sebaiknya Mas segera keluar dan bantu Mas Aris.”

Melda menarik napas panjang setelah Beni keluar dengan wajah dongkol. Ia melangkah keluar ka mar menuju ruang tengah yang sudah mulai ramai. Di sana, ia melihat Sandra sedang duduk di sofa besar, menggendong ba yi yang diberi nama Arsa—perpaduan nama Aris dan Sandra.

Sandra tampak sangat berbeda hari ini. Wajahnya terlihat kusam karena kurang ti dur, dan dandanannya yang semula rapi mulai terlihat berantakan karena ia terus bergerak gelisah. Kesibukannya merawat ba yi tanpa bantuan Mbak ART benar-benar telah melunturkan pesonanya.

Tak lama kemudian, Aris masuk ke dalam ruangan. Ia mengenakan baju koko putih bersih. Begitu matanya menangkap sosok Melda, Aris sempat tertegun selama beberapa detik. Ia seolah tidak percaya melihat transformasi wanita yang selama ini ia beri vitamin lebih itu.

“Mel, kamu… kamu sudah benar-benar sehat?” tanya Aris. Meski matanya sudah menangkap jawaban dari penampilan Melda yang luar biasa, ia tetap merasa perlu memastikannya.

“Alhamdulillah sudah, Mas Aris. Terima kasih sudah banyak membantuku selama ini,” jawab Melda sembari memberikan senyum tipis yang mematikan.

Acara inti pun dimulai. Namun, tepat saat prosesi akan berlangsung, Arsa justru semakin bertambah rewel. Jeritan tangisnya memenuhi ruangan, membuat suasana yang sakral menjadi tegang. Sandra mulai kewalahan. Ia mencoba menimang, menggoyang-goyangkan tu buh ba yi itu, namun tangis Arsa malah semakin melengking. Keringat mulai membasahi dahi Sandra, membuat riasannya semakin luntur tak keruan.

Melihat itu, Melda hanya diam membeku di sudut ruangan, namun di dalam hatinya ia tertawa puas. Rasakan itu, Mbak. Kamu pikir menjadi ibu itu semudah merampas anak dari rahim orang lain? batin Melda sinis. Sandra benar-benar terlihat kaku dan tidak seluwes ibu pada umumnya.

“Duh, Sandra, bay inya ditenangkan dulu. Kasihan dia sampai sesak begitu. Tenangkan dulu sebelum diajak keliling untuk poton g rambut,” saran salah seorang tamu senior yang merasa tidak tega.

Sandra dan Ibu mertuanya mencoba segala cara. Mereka memberikan botol susu, memberikan dot, hingga menggantinya dengan kain bedung baru, namun Arsa tetap menolak. Ba yi itu seolah tahu bahwa dekapan yang memeluknya bukanlan dekapan yang ia kenal.

Di tengah kegaduhan itu, Melda melangkah maju. Ini adalah panggungnya. Ia tahu, dalam situasi terjepit seperti ini, Sandra dan mertuanya tidak punya pilihan lain.

“Mbak, sini… biar aku coba sebentar. Mungkin dia gerah,” ucap Melda lembut, tanpa nada memaksa.

Sandra yang sudah hampir menangis karena malu dan lelah, akhirnya menyerahkan Arsa ke tangan Melda. Begitu berpindah ke pelukan Melda, sebuah keajaiban terjadi. Hanya dalam hitungan detik, tangisan histeris Arsa mereda. Bayi itu menghela napas panjang, mencari kenyamanan di dada Melda, dan perlahan terdiam.

Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Para tamu berdecak kagum melihat betapa cepatnya bayi itu tenang di tangan Melda.

“Nah, sudah tenang sekarang. Ayo, Sandra, ambil lagi. Kita mulai prosesinya,” ujar Ibu mertua dengan nada tidak sabar.

Sandra mengulurkan tangan untuk mengambil Arsa kembali, namun begitu jemari Sandra menyentuh pakaian ba yi itu, Arsa kembali menjerit keras. Tangisannya bahkan lebih kencang dari sebelumnya, seolah ia tidak mau dilepaskan dari Melda.

Tamu-tamu mulai berbisik. Suasana menjadi canggung. Akhirnya, tamu senior yang tadi bicara kembali bersuara. “Sudahlah, daripada anaknya menangis terus dan kasihan, biar Melda saja yang menggendong berkeliling. Ayo, Mas Aris, silakan dimulai. Kasihan tamu-tamu sudah menunggu lama.”

Sandra terpaku di tempatnya dengan wajah merah padam karena malu yang luar biasa. Ia terpaksa berdiri di samping, menyaksikan pemandangan yang paling ia takuti: Melda berdiri dengan anggun di samping Aris, menggendong Arsa dengan penuh kasih sayang, sementara mereka berdua berjalan berkeliling menyapa para tamu untuk prosesi potong rambut.

Mereka terlihat seperti pasangan orang tua yang sempurna, sementara Sandra hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri. Melda menatap Aris yang berjalan di sampingnya, lalu melirik sekilas ke arah Sandra yang sedang menahan amarah di pojok ruangan.

Ini baru permulaan, Mbak, batin Melda sembari mencium kening bayinya dengan kemenangan yang mutlak.