Posted in

“Mbak hanya menantu di rumah ini, makan, minum, tidur gratis … Jadi, tahu diri lah, Mbak!”

“Dewi, kamu ngapain?” Mas Arman menghentikanku saat aku mulai memasukkan satu per satu pakaian ke dalam tas.

“Aku mau pindah, Mas. Aku ga tahan lagi.”

“Kamu sudah tahu, kan, keputusan Mas? Mas nggak akan ikut denganmu? Mas nggak bisa meninggalkan Ibu.”

“Aku tahu, Mas. Tapi aku juga tak bisa tinggal serumah dengan Ibu. Lihat, hanya karena Ibu, kamu sampai menamparku, Mas!”

“Itu karena kesalahanmu sendiri. Mas tak akan melakukan semua ini kalau kamu tidak bertingkah? Apa sih yang membuat kamu berubah seperti ini?”

“Aku tak berubah, Mas. Aku hanya lelah. Aku capek. Aku selama ini mengurus rumah ini dengan sangat baik, tapi apa pernah sekalipun Ibu atau adik-adikmu menghargai aku? Tidak, Mas. Mereka bahkan hanya menganggapku sebagai pembantu di rumah ini. Mereka memintaku melakukan ini dan itu, dan masih menganggapku sebagai menantu tak tahu diri, yang tinggal di rumah ini secara gratis. Apa Mas berpikir aku juga seperti itu?”

“Tentu saja tidak. Kamu itu istriku. Dan kalau tidak tinggal di sini, kamu mau tinggal di mana lagi? Semua ini hanya salah paham.”

“Baiklah, Mas. Aku tetap akan tinggal di rumah ini. Tapi Mas harus tegas pada adik-adikmu. Aku tak mau lagi mengerjakan apa pun yang mereka mau. Aku tak masalah memasak dan membersihkan rumah. Aku tak masalah jika mereka tak membantuku, tapi jangan minta aku mengerjakan pekerjaan yang seharusnya mereka kerjakan sendiri. Dan tolong mengerti keadaan aku juga.”

“Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Tapi Mas mohon, jangan membuat Mas bingung memilih antara kamu dan juga Ibu. Mas tak mungkin pergi meninggalkan Ibu, meninggalkan rumah ini. Jika suatu saat ada yang pergi, tentu saja Airin dan Via yang akan pergi. Tapi itu nanti setelah mereka menikah. Kamu bersabar, ya.”

Aku mengusap perutku yang tiba-tiba terasa menegang. Aku sadar jika masih membutuhkan Mas Arman. Bagaimanapun, dia adalah ayah dari bayiku. Jika aku pergi, aku pun tak tahu apakah aku bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anakku kelak. Perceraian bukanlah hal yang baik untuk seorang anak. Dia butuh sosok ayah dan ibu yang mendampinginya. Dan aku juga saat ini tak memiliki persiapan apa pun. Pergi tanpa rencana, bukankah itu hanya akan merugikanku?

Tak punya pilihan lain, aku pun hanya mengangguk dan kembali merapikan barang-barangku.

Pagi hari, aku bangun lebih cepat dari kemarin, seperti biasanya. Menyiapkan pakaian kerja Mas Arman, lalu membuat sarapan.

“Sok-sokan mau pindah. Apa kamu pikir kamu bisa menguasai putraku? Kamu itu bukan apa-apa di rumah ini! Jika mau pergi, pergi saja! Tak usah mengajak anakku!”

Aku mengabaikan kata-kata itu. Sekarang memang aku tak pergi, tetapi aku tak akan menjadi pembantu gratis lagi untuk mereka. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk meninggalkan rumah ini.

“Mbak, kok pakaianku belum disetrika, sih? Semalam kan aku sudah bilang setrika dulu pakaianku. Hari ini aku mau memakainya.”

“Itu kan pakaianmu, setrika saja sendiri,” ucapku tanpa menoleh, masih sibuk menyiapkan sarapan untuk kami semua.

“Iya, tapi kan ini pekerjaan Mbak. Sana setrika dulu. Aku mau pakai. Aku bisa terlambat, gimana sih,” pintanya tanpa embel-embel kata ‘tolong’.

“Lihat jam berapa sekarang. Kalau Mbak nggak membuat sarapan, Mas Arman bisa nggak sarapan sebelum ke kantor?”

“Udah tahu Mbak banyak pekerjaan, kenapa telat bangun? Aku kan sudah bilang semalam untuk menyetrikanya. Kalau Mbak menyetrika semalam, pasti sekarang sudah selesai. Terus gimana? Apa aku harus memakai pakaian kusut?” ucapnya sambil menyentakkan kaki.

Aku hanya mengangkat bahu, tetap fokus pada pekerjaan yang sedang aku kerjakan.

“Ibu!” rengek Airin, menatap ibunya yang sejak tadi duduk mengawasiku memasak.

Mungkin dia takut aku memberi sesuatu pada makanannya.

“Dewi, sana setrika dulu pakaian Airin,” pintanya dengan nada memerintah.

Jika dulu aku langsung pergi meninggalkan pekerjaanku, tidak dengan sekarang.

“Bu, Airin sudah besar. Jika pakaiannya saja harus aku yang menyiapkan, bagaimana nanti jika dia sudah menikah? Siapa yang akan menyiapkan pakaian suaminya? Siapa yang akan mengerjakan rumahnya kelak? Sebaiknya sejak sekarang dia sudah dibiasakan.”

“Mbak, sekarang itu sudah ada pembantu. Ngapain harus capek-capek mengerjakan semua itu?”

“Ya, kalau suamimu mampu membayar pembantu. Kalau tidak, gimana? Kamu sebagai menantu yang harus mengurus semuanya, kan?”

“Ya nggak dong! Aku akan mengajukan syarat pada calon suamiku nanti. Kalau dia mau menikahiku, harus memiliki rumah sendiri. Mana mau aku tinggal bersama mertua.”

“Benar. Kamu memang pintar, jangan mau serumah dengan mertua. Andai dulu aku juga mengajukan syarat seperti itu, pasti sekarang aku sudah punya rumahku sendiri.”

Aku hanya menyunggingkan senyum mendengar jawaban Airin, sambil melirik ibu mertuaku yang terlihat menatapku kesal. Sepertinya dia sadar jika aku sedang menyindirnya.

“Sudahlah, Mbak. Nggak usah bertele-tele. Cepat setrika bajuku. Aku keburu terlambat, nih!”

“Nggak bisa. Mbak lagi sibuk. Sana minta Via saja,” ucapku saat melihat Via keluar dari kamar dengan piyama tidurnya. Sepertinya hari ini dia tak akan ke kampus.

“Enak aja. Emangnya aku pembantumu!” Via hanya menjawab santai, lalu berjalan menuju meja makan. Tanpa menunggu yang lain, Ia langsung mengambil sarapan yang baru saja aku buat.

“Mas, lihat Mbak Dewi. Dia nggak mau menyetrika seragamku,” keluh Airin saat melihat Mas Arman keluar dari kamar.

Mas Arman langsung melihatku, namun aku menatapnya dengan tajam.

“Kamu setrika saja sendiri. Mulai sekarang, jangan meminta Dewi mengurus pakaianmu lagi. Begitupun dengan kamu via, mulai sekarang Dewi hanya mencuci pakaian Mas saja, yang lain cuci pakaian masing-masing!”

Aku nyaris tertawa saat melihat wajah mereka semua yang terkejut dengan mulut yang menganga lebar.

Bersambung….