Posted in

“Siapa bilang aku numpang, Bu? Anakmu yang selama ini numpang hidup sama aku!”

Sendok di tangan Maya berhenti di udara.Halimah menatap Risma seperti disiram air panas, sementara Walid langsung berdiri setengah badan.

“Risma!” bentaknya. “Jaga mulut kamu di depan orang tuaku.”

Risma tidak menunduk.

Untuk sekali ini, perempuan yang mereka anggap menumpang membiarkan harga dirinya terlihat.

Meja makan itu masih dipenuhi tawa kecil Maya yang lebih mirip pisau dibungkus candaan.

Halimah datang dari Palembang bersama Burhan dan Maya, membawa pempek, cerita tetangga, dan kebiasaan lama: menilai hidup Risma dari rahimnya.

“Rumahmu makin nyaman, Lid,” kata Halimah. “Ibu senang anak Ibu bisa bikin keluarga hidup enak begini.”

Walid tersenyum.

“Alhamdulillah, Bu,” jawab Walid. “Sedikit-sedikit.”

Maya tertawa.

“Sedikit-sedikit tapi rumah begini? Kalau aku jadi Mbak Risma, tiap hari sujud syukur dapat suami seperti Abang.”

Risma meletakkan mangkuk sayur di meja.

“Silakan tambah, Bu.”

Halimah meliriknya.

“Kamu duduklah. Jangan sibuk di dapur terus. Nanti orang kira Walid tidak mampu bayar orang.”

Maya menyahut, “Atau Mbak Risma memang lebih nyaman di dapur daripada di rumah sakit?”

Walid menoleh cepat ke arah Maya.

Risma menangkap gerakan itu.

“Memangnya kenapa kalau aku nyaman di dapur?” tanya Risma.

Maya mengangkat bahu.

“Enggak kenapa-kenapa. Katanya kerja di rumah sakit, tapi kok sering santai. Nakes sukarela memang jadwalnya longgar, ya?”

Halimah tersenyum miring.

“Nakes sukarela itu mulia. Tapi perempuan kalau menikah jangan terlalu bangga kerja di luar. Yang penting itu rumah tangga, suami, anak.”

Empat tahun menikah dengan Walid, Risma sudah terlalu sering dihukum dengan pertanyaan yang sama.

“Betul,” kata Burhan. “Rumah tangga lengkap kalau ada anak. Orang tua mana yang tidak ingin menimang cucu?”

Walid hanya minum.

Ia tidak membela.

Halimah melanjutkan, “Empat tahun itu bukan sebentar. Kalau perempuan lain, mungkin sudah dua anak.”

Maya terkekeh.

“Bu, jangan begitu. Nanti Mbak Risma tersinggung. Orang sekarang sensitif kalau ditanya anak.”

Risma mengangkat wajah.

“Kalau kenyataan cuma dipakai untuk melukai, apa masih disebut nasihat, Bu?”

Maya meletakkan sendoknya keras.

“Wah, sekarang sudah pandai menjawab.”

Walid menyentuh siku Risma di bawah meja.

Bukan menenangkan.

Memperingatkan.

“Sudahlah, Ris,” kata Walid rendah. “Ibu sama Bapak jauh-jauh datang. Jangan bikin suasana tidak enak.”

“Jadi yang bikin suasana tidak enak itu aku?”

“Jangan memutar kata-kataku.”

“Kalau aku diam, mereka lanjut. Kalau aku jawab, aku yang salah.”

Halimah menaruh gelas.

“Ibu bisa bedakan mana menantu tahu diri dan mana yang mulai tinggi hati.”

Maya tersenyum sinis.

“Mungkin karena rumahnya bagus, Bu. Jadi merasa sudah sejajar.”

Burhan menatap Risma.

“Walid ini laki-laki bertanggung jawab. Dia kerja keras, tetap kirim uang ke Palembang, tetap membahagiakan kamu. Jangan langsung melawan.”

Risma menatap Burhan.

“Bapak yakin Walid membahagiakan saya?”

Halimah menyela, “Kalau bukan Walid, kamu bisa tinggal di rumah sebesar ini? Bisa pakai mobil nyaman? Jangan lupa asalmu, Risma. Tidak semua perempuan dari kampung bisa hidup seperti ini.”

Ia tidak malu menjadi anak Sahar dan Murni.

Ia hanya marah karena orang yang menikmati diamnya menjadikan asalnya sebagai cambuk.

“Bu,” kata Risma pelan, “keluarga saya memang dari kampung. Tapi orang tua saya tidak pernah mengajarkan saya mengambil hak orang lalu berdiri seolah paling berjasa.”

Walid menoleh tajam.

“Risma, cukup.”

Maya mendengkus.

“Maksudnya siapa itu?”

“Aku belum bicara sembarangan, Maya.”

Halimah mencondongkan badan.

“Kalau belum, berarti kamu menyimpan kurang ajar lebih banyak?”

“Saya cuma ingin tanya,” kata Risma. “Kalau rumah ini hasil kerja keras Walid, kenapa tagihan listrik, air, keamanan komplek, sampai cicilan renovasi lebih sering masuk ke ponsel saya?”

Wajah Walid berubah.

Halimah mengerutkan dahi.

“Apa maksudmu?”

Walid menekan suara.

“Dek, jangan bawa urusan rumah ke depan orang tua.”

“Kenapa? Bukannya ini rumah hasil kerja keras kamu?”

“Jangan bikin masalah.”

Bertahun-tahun Risma membayar ini dan itu, lalu diam ketika Walid dipuji sebagai pusat nafkah.

Halimah berdiri.

“Kamu ini menantu macam apa? Suami sudah capek kerja, kamu malah menghitung tagihan!”

“Kalau saya tidak menghitung, rumah ini tidak akan serapi yang Ibu lihat.”

“Risma!” bentak Walid.

Maya menunjuk dengan sendok.

“Mulai kelihatan aslinya. Selama ini diam-diam merasa paling berjasa. Padahal numpang hidup sama suami sendiri.”

Risma menatap mereka satu per satu.

Mereka semua berdiri di sisi Walid.

Walid sendiri lebih takut rahasianya terbuka daripada takut kehilangan istrinya.

Lalu kalimat itu keluar.

Maya membeku.

Burhan mengeraskan wajah.

Walid berdiri setengah badan.

“Risma! Jaga mulut kamu di depan orang tuaku.”

Risma ikut berdiri.

“Selama ini aku menjaga terlalu banyak, Mas. Mungkin itu yang bikin kamu lupa bahwa aku juga punya mulut untuk bicara.”

“Jangan kurang ajar.”

“Kurang ajar itu membiarkan istrimu dihina di rumahnya sendiri.”

“Rumahnya sendiri?” Halimah menukas. “Sekarang kamu mau mengaku rumah ini rumahmu?”

Walid cepat menyambar, “Bu, sudah.”

Risma menatap Walid.

Ada takut di wajah itu.

Takut ketahuan.

“Kenapa, Mas?” tanya Risma. “Takut aku jawab?”

“Aku minta kamu diam.”

“Aku sudah terlalu lama menurut.”

Burhan berdiri.

“Risma, kamu sudah kelewatan. Jangan mempermalukan suami di depan orang tuanya.”

“Bapak benar,” kata Risma. “Mempermalukan pasangan itu tidak baik.”

“Tapi membiarkan pasangan dipermalukan ramai-ramai juga bukan sikap kepala keluarga.”

Wajah Burhan kaku.

Halimah menunjuk dada sendiri.

“Jadi kami yang salah? Kalau kamu belum bisa kasih anak, setidaknya jangan merasa paling berjasa.”

Walid meraih pergelangan tangan Risma.

Kuat.

“Lepaskan.”

“Duduk,” perintah Walid pelan.

“Lepaskan, Mas.”

“Jangan memperkeruh suasana.”

“Suasana ini sudah keruh sebelum aku bicara.”

Maya tertawa pendek.

“Drama sekali, Mbak. Baru ditanya anak saja sudah begini. Pantas Abang capek.”

Risma menatap Maya.

“Maya, kalau suatu hari kamu tahu apa yang selama ini aku tahan, kamu mungkin akan malu pernah bicara paling keras.”

Ponsel Risma bergetar di atas meja.

Nama Sari RS muncul di layar.

Walid melihatnya lebih dulu.

Wajahnya kembali berubah.

Risma meraih ponsel, tetapi tangan Walid lebih cepat menutup layar.

“Jangan angkat sekarang,” katanya.

“Kenapa?”

Ponsel itu bergetar lagi.

Maya menyipit.

“Sari RS? Teman nakes sukarela itu?”

Halimah menatap Walid, lalu Risma.

“Kok sampai malam begini orang rumah sakit menelepon?”

Risma menarik ponselnya.

Walid menahan sebentar.

“Mas,” kata Risma pelan, “kalau cuma nakes sukarela, kenapa kamu takut aku mengangkat telepon?”

Mata Walid mengeras.

“Risma, aku bilang jangan.”

Pesan baru masuk sebelum panggilan berhenti.

Layar menyala di antara mereka.

Sari RS

[Dok, IGD butuh keputusan sekarang.]

Halimah membaca lebih dulu.

Wajahnya berubah.

“Dok?”