Posted in

“Kamu datang sendiri saja, Ben. Sandra dan mamasmu, Dirman, baru pulang dari Jakarta. Rumah bakal ramai, jangan tambah pusing dengan bawa anak-anak yang lasak itu. Apalagi istrimu, tak ada yang sudi melihatnya datang ke rumah,” ujar Ibu kemarin.

Hubungan aku dengan Ibu dan semua saudaraku memang tak pernah baik, ditambah sejak aku menikahi Ayumi. Lebih tepatnya karena aku lebih memilih Ayumi yang hanya gadis sederhana dibanding perempuan pilihan Ibu. Mereka jadi tak suka juga pada anak kembarku, walau berbagai cara sudah kulakukan untuk meluluhkan hati Ibu.

Saat ada acara di rumah Ibu, baik acara kecil-kecilan maupun pesta, aku selalu diundang sendiri. Ayumi tak pernah mau ikut dan tidak mengizinkan anak kami kubawa karena tahu mereka tidak diundang. Namun, sore tadi, saat aku bersiap berangkat, Rima dan Romi, si kembar yang usianya 6 tahun memeluk kakiku. Mata mereka yang bulat dan bening menatapku penuh harap.

“Ayah, ikut. Kami mau makan enak di rumah Nenek,” bisik Romi.

“Aku juga. Pasti banyak oleh-oleh dari Jakarta. Kami mau makanan enak, Yah,” timpal Rima.

Hati ayah mana yang tak luluh?

“Kalau tidak diundang, anak-anak tak perlu datang, Mas. Kamu juga kalau tak dihargai, harusnya jaga jarak. Apa Mas gak lelah mengambil hati mereka?” desis istriku.

“Aku hanya berusaha membuat mereka menerima hubungan kita, Dek. Aku coba dulu, ya,” balasku.

Dengan sisa keberanian yang kupaksakan, kubonceng mereka dengan motor tuaku. Aku berpikir, setidaknya ini bulan ramadhan, hati Ibu mungkin sedikit melunak. Aku mengabaikan larangan istriku untuk tidak membawa anak-anak.

Di ruang makan, tawa pecah menyambut kepulangan Mbak Sandra dan Mas Dirman. Meja jati besar itu penuh sesak dengan ayam bakar madu, rendang yang aromanya menusuk hidung, hingga hamparan takjil mewah yang mereka bawa dari kota.

“Wah, Sandra, kulitmu makin bersih saja sejak tinggal di Jakarta. Beda ya kalau sudah jadi orang kota,” puji Ibu sambil menyendokkan nasi ke piring menantu kesayangannya. Mbak Sandra berasal dari kampung sebelah dan merupakan anak orang berada, tapi setelah menikah ikut Mas Dirman tinggal di kota.

Adikku Anita merantau juga. Mereka tinggal di Batam. Kalau mereka pulang, disambut antusias juga oleh Ibu. Hanya aku yang tak pernah membawa istriku ke rumah ini. Lebih tepatnya, Ayumi tidak mau kalau memang tak ada yang mengharapkan kehadirannya.

Hanya aku, anak Ibu dan Bapak yang nasibnya kurang beruntung. Tak bisa membanggakan mereka dengan uang yang berlimpah. Merantau pun tak pernah sukses, padahal aku selalu berusaha kerja keras. Saat menikah, aku malah tak mau dijodohkan Ibu dengan anak seorang Juragan sawah yang merupakan janda.

“Iya dong, Bu. Kan perawatannya mahal,” sahut Sandra manja. Matanya sempat melirik ke arah Rima dan Romi yang berdiri di ambang pintu ruang makan, namun ia segera memalingkan wajah seolah melihat tumpukan sampah.

Keponakanku, anak Mas Dirman yang sebaya dengan anakku, duduk di kursi sambil asyik mengunyah paha ayam. Tidak ada satu pun dari mereka yang bergeser atau sekadar menawari kursi untuk si kembar. Aku berdiri mematung di belakang anak-anakku, merasakan hawa dingin yang bukan berasal dari AC.

“Duduk di sana saja, Ben. Di karpet depan TV. Di sini penuh,” cetus Ibu tanpa menoleh padaku.

Aku mengajak Rima dan Romi mundur. Kami duduk bertiga di karpet yang sudah tipis itu. Dari sini, kami hanya bisa mendengar denting sendok dan tawa riang mereka. Bau rendang itu begitu nyata, namun jarak dari ruang tamu ke meja makan terasa seperti ribuan kilometer.

“Ayah … laper. Mana makanannya,” bisik Rima. Suaranya sangat kecil, tapi di ruangan sesunyi ini, ia terdengar seperti guntur.

Ibu mendengarnya. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar, menimbulkan bunyi trek yang tajam. Bapak, yang sejak tadi hanya diam menunduk sambil menyuap nasinya, tetap tak bersuara. Bapak selalu begitu. Ia adalah bayangan yang tunduk pada titah Ibu.

“Berisik sekali sih anak-anak ini. Gak pernah makan enak kali, ya,” gerutu Ibu. Tampak sekali tak suka saat aku membawa kedua cucunya. Biasanya Ibu tak seketus ini kalau aku datang sendiri. Ibu berdiri, melangkah menuju dapur, lalu kembali dengan sebuah baskom plastik besar berisi cairan berwarna hijau kusam.

“Nih, makan ini saja. Cendol. Masih banyak di kulkas,” kata Ibu ketus, meletakkan mangkuk itu di depan Rima dan Romi.

Tanpa sendok. Tanpa mangkok kecil. Hanya baskom plastik yang pinggirannya sudah sedikit berlumut.

Rima dan Romi, yang memang sudah sangat lapar karena seharian berpuasa, langsung berbinar. Mereka membaca doa berbuka, tepat saat azan maghrib berkumandang.

Keduanya menyendokkan cairan itu dengan tangan kecil mereka yang gemetar. Namun, baru saja sesapan pertama masuk ke mulut, wajah Romi berubah pucat. Ia menjauhkan mulutnya dari baskom.

“Ayah … rasanya aneh. Asem,” keluh Romi pelan.

“Iya Ayah, kayak kecut-kecut gitu,” tambah Rima sambil menjulurkan lidahnya.

Darahku berdesir. Aku mengambil sedikit cairan itu dan mencicipinya. Benar saja. Ini mungkin cendol sisa entah berapa hari yang lalu. Santannya sudah pecah dan berbau ragi yang tajam. Ini bukan makanan, ini limbah kulkas.

“Bu, ini sudah basi. Kasihan anak-anak, perut mereka bisa sakit,” ujarku, mencoba tetap sopan meski jantungku berdegup kencang karena marah.

Tiba-tiba, Ibu berdiri. Wajahnya merah padam. Mbak Sandra dan Mas Dirman berhenti makan, menonton pertunjukan gratis di depan mereka dengan wajah malas.

“Oalah! Sudah dikasih hati malah minta jantung! Dasar anak-anak tak tahu diuntung, persis ibunya!” teriak Ibu. Suaranya melengking, membelah kehangatan semu di rumah itu.

“Ibu, ini bukan soal tidak bersyukur, tapi ini sudah asem ….”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Ibu merangsek maju. Dengan gerakan yang sangat cepat, ia menyambar baskom plastik berisi cendol basi itu.

“Mau yang segar? Mau yang tidak asem? Nih, biar kepala kalian dingin!”

Byuuur!

Cairan hijau yang kental dan berbau busuk itu tumpah tepat di atas kepala Rima dan Romi. Santan basi yang lengket mengalir dari ubun-ubun mereka, melewati dahi, hingga masuk ke mata mereka yang kecil. Butiran cendol yang lembek tersangkut di antara helai rambut mereka yang baru saja kusisir rapi sore tadi.

Tangis pecah seketika. Rima dan Romi menjerit, bukan karena sakit fisik, tapi karena kaget dan pedih di mata mereka.

“Lihat itu! Mengotori karpet saja! Dasar pembawa sial!” bentak Ibu lagi. “Beni! Bawa mereka pulang sekarang! Bikin selera makan hilang saja. Gara-gara anak-anakmu, suasana jadi rusak! Kalau mau makan di sini, datang sendiri. Jangan bawa anak-anak itu!”

Aku terpaku. Aku melihat ke arah Bapak. Beliau masih diam, tangannya gemetar memegang gelas, tapi matanya tetap terpaku pada piring. Ia tidak membelaku. Tidak juga membela cucu-cucunya.

Mbak Sandra mendengus pelan, “Makanya, kalau dibilangin jangan dibawa anaknya, ya jangan dibawa. Jadi ribet kan?”

Aku tidak menjawab. Tidak ada gunanya bicara dengan manusia yang hatinya sudah tertutup tembok beton. Dengan tangan gemetar, kuusap mata Rima yang perih terkena santan basi. Aku melepas kaus luarku untuk menyeka wajah Romi yang tersedu-sedu.

“Ayo, Nak … kita pulang,” bisikku. Suaraku tercekat di kerongkongan.

Aku menggendong mereka berdua sekaligus, satu di kiri dan satu di kanan. Bau basi itu kini melekat di bajuku, di tubuh mereka. Sepanjang jalan menuju pintu keluar, tak ada satu pun kata maaf. Yang terdengar hanyalah suara Ibu yang sibuk mengomeli noda di karpetnya.

Saat kakiku melangkah keluar dari teras, udara malam yang dingin menyapu wajah kami. Di bawah sinar lampu jalan yang temaram, aku melihat butiran cendol masih menempel di telinga Rima.

Aku mempererat dekapanku. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan lagi, menyatu dengan sisa-sisa santan basi di bahuku.

“Kita makan bakso paling enak di depan kompleks, ya, Nak. Ayah janji. Tapi kita pulang dulu.”

Saat tiba di rumah, Ayumi histeris melihat anak-anak kami.

“Ya Allah, Nak. Kenapa bisa gini?” tanyanya.

Romi menceritakan apa yang terjadi di rumah neneknya. Wajah Ayumi seketika jadi merah padam. Ia menyuruh anak-anak untuk mandi bergantian. Sangat tidak nyaman kalau hanya ganti baju saja.

Ayumi menatapku kesal. “Mas, tadi kan sudah kuperingatkan, jangan bawa anak-anak. Kalau tidak diundang, gak perlu pergi. Kita perlu menghargai diri sendiri, Mas. Aku tak pernah sakit hati tidak dianggap sama Ibu dan keluargamu. Tapi melihat anak-anakku diperlakukan seperti ini, akan kubuktikan kalau kita tak pernah butuh mereka. Dan kamu, jangan pernah datang lagi ke sana, Mas,” ujar istriku dengan tegas.

Aku hanya diam. Aku memang suami dan ayah yang tak berguna.

Setelah anak-anak siap mandi dan ganti baju, Ayumi menyuruhku ganti pakaian juga.

“Ayo, Mas. Kita makan di restoran. Aku sudah pesan tempat di sana.”

“Memangnya kamu punya uang?” tanyaku heran.

“Tentu punya, Mas. Tak mungkin aku ngajak kalau tidak punya uang. Selama ini, aku sengaja menyembunyikan penghasilanku karena takut kamu minder. Tapi kalau kemiskinan hanya akan membuat keluargamu menginjak-injak harga diri kita, aku tak perlu menyembunyikan lagi hartaku,” balas Ayumi mantap.

Bersambung. Lanjut?