Posted in

IBU KU MENARIK RAMBUT PANJANG 20-INCH KU AGAR AKU TIDAK MENYIANGI ADIKKU DI HARI PERNIKAHANNYA. AKU TIDAK MENYERIT. AKU HANYA MENGHUBUNGI PIHAK BERWENANG UNTUK SEBUAH LEDAKAN BESAR.

IBU KU MENARIK RAMBUT PANJANG 20-INCH KU AGAR AKU TIDAK MENYIANGI ADIKKU DI HARI PERNIKAHANNYA. AKU TIDAK MENYERIT. AKU HANYA MENGHUBUNGI PIHAK BERWENANG UNTUK SEBUAH LEDAKAN BESAR.

Aku Maya. Sepanjang hidupku, aku hanyalah bayangan di dalam keluargaku sendiri. Adikku, Chloe, selalu menjadi bintang utama—“Golden Child.” Apa pun yang dia inginkan, selalu diberikan oleh Mama dan Papa. Aku berjuang keras menyelesaikan pendidikanku dan kini menjadi Senior Financial Auditor, tetapi di mata mereka aku hanya anak biasa yang tidak berguna.

Satu-satunya hal yang aku banggakan dari diriku secara fisik adalah rambutku. Panjangnya 20 inci, hitam pekat, lurus, dan selalu terawat. Bagiku, itu simbol kebebasan dan bentuk perawatan diri.

Namun rambut inilah yang menjadi awal dari pengkhianatan paling menyakitkan dalam hidupku.

Malam sebelum pernikahan Chloe. Dia akan menikah dengan Richard Sterling, pria yang mengaku sebagai investor teknologi miliarder dari Singapura. Mama dan Papa benar-benar tergila-gila pada Richard. Mereka membanggakannya ke semua orang. Bahkan Papa menjual dua bidang tanah besar milik keluarga kami dan menginvestasikan uangnya ke perusahaan Richard, karena dijanjikan keuntungan dua kali lipat.

Malam itu, saat aku sedang tidur di kamarku, tiba-tiba aku merasakan tarikan tajam di kulit kepalaku.

Aku terbangun dan mataku langsung membesar. Aku melihat Mama, Nyonya Matilda, memegang gunting besar. Di tangan satunya, ia menggenggam helaian panjang rambutku.

SNIP. SNIP. SNIP.

Sebelum aku sempat melawan, dia memotong rambutku tanpa ampun. Rambut panjang dan indahku jatuh ke lantai. Dipotong sangat pendek, tidak rata, hampir botak di beberapa bagian.

“Ma?! Apa yang Mama lakukan?!” tanyaku gemetar, tangan menahan dada karena shock.

Dia menatapku tajam. Tidak ada sedikit pun penyesalan di matanya.

“Jangan drama, Maya,” kata Mama dingin dan kejam. “Rambutmu terlalu mencuri perhatian. Besok pernikahan adikmu! Dia menikah dengan seorang miliarder. Kamu tidak boleh mengalahkan adikmu. Dia satu-satunya yang boleh terlihat cantik besok!”

Tepat saat itu Papa, Don Carlos, masuk ke kamar. Alih-alih menghentikan Mama, dia malah tertawa sinis melihat rambutku yang berantakan.

“Pakai saja topi besok, anak egois,” hina Papa. “Kamu harusnya bersyukur bisa ikut menikmati kekayaan Richard. Bukannya malah cari perhatian. Tidur saja, dan jangan bikin masalah besok!”

Mereka keluar dan membanting pintu.

Aku tertinggal sendirian dalam kegelapan. Perlahan aku mengangkat tangan yang bergetar dan menyentuh kulit kepalaku. Rambut yang aku rawat bertahun-tahun kini berubah menjadi potongan tidak rata yang menyakitkan.

Darahku terasa seperti membeku.

Air mata yang sempat menggenang di pelupuk mataku mendadak surut, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke setiap dinding nadiku. Aku tidak menangis. Aku tidak menjerit. Jeritan adalah reaksi dari mereka yang terkejut dan tidak berdaya, sedangkan aku? Aku adalah seorang Senior Financial Auditor.

Pekerjaanku adalah menemukan kebusukan yang disembunyikan di balik angka-angka rapi. Dan malam itu, sambil memandangi potongan rambutku yang berserakan di lantai seperti bangkai komitmenku pada keluarga ini, aku menyadari satu hal: sudah saatnya audit itu dilakukan pada keluargaku sendiri.

Aku bangkit, berjalan ke arah cermin, dan melihat bayanganku. Potongan rambutku mengerikan, compang-camping, dan berantakan. Aku mengambil sisa gunting yang ditinggalkan Mama, lalu dengan tangan yang sangat stabil, aku merapikan potongan itu menjadi model buzz cut yang sangat pendek. Kulit kepalaku terasa dingin, namun isi kepalaku mendadak menjadi sangat jernih.

Aku duduk di depan laptopku. Richard Sterling. Investor teknologi miliarder dari Singapura. Nama itu sudah mengusik intuisi profesionalku sejak sebulan lalu, tetapi aku memilih diam karena tidak ingin dituduh “iri” oleh Mama. Namun malam ini, batasan itu sudah dihancurkan oleh mereka sendiri.

Aku masuk ke dalam basis data korporat internasional, melacak nomor registrasi perusahaan yang digunakan Richard untuk menguras dua bidang tanah Papa. Aku memeriksa arus kas, memverifikasi rekening tujuan di Singapura, dan mencocokkannya dengan daftar cek merah dari otoritas moneter global.

Hanya butuh waktu tiga jam.

Tepat jam empat pagi, aku menemukan segalanya. Richard Sterling bukan miliarder. Dia adalah buronan kasus skema Ponzi internasional yang sedang dicari oleh interpol dan otoritas pajak Singapura. Perusahaannya kosong. Uang hasil penjualan tanah Papa? Sudah dialihkan ke rekening penampungan di Kepulauan Cayman dan siap ditarik tunai besok siang—tepat setelah akad nikah selesai.

Richard tidak sedang menikahi Chloe karena cinta. Dia sedang mencari paspor keluarga baru untuk pelarian berikutnya sebelum seluruh kedoknya meledak. Dan orang tuaku dengan bodohnya menyerahkan seluruh hidup mereka di atas nampan perak, sambil mengorbankan aku.

Aku menutup laptop. Aku tidak menghubungi polisi lokal. Skala bajingan ini terlalu besar untuk hukum setempat. Aku menekan nomor saluran khusus dirjen pajak, imigrasi, dan perwakilan agensi federal luar negeri yang memiliki kerja sama investigasi denganku.

“Halo,” kataku, suaranya terdengar begitu tenang hingga nyaris menyerupai bisikan malaikat maut. “Saya memiliki dokumen lengkap, lokasi persis, dan waktu penangkapan untuk target merah kelas kakap, Richard Sterling. Saya ingin penindakan dilakukan tepat pukul sepuluh pagi ini. Di tengah acara pemberkatan.”


Jam 09.30 Pagi. Hari Pernikahan.

Ballroom hotel bintang lima itu dipenuhi dekorasi bunga lili putih dan ratusan tamu dari kalangan elit. Chloe terlihat anggun dengan gaun pengantin custom-made yang harganya bisa membiayai kuliah tiga orang anak. Di sampingnya, Richard Sterling tersenyum percaya diri dengan setelan jas seharga ribuan dolar.

Mama dan Papa berdiri di barisan depan, membusungkan dada dengan senyum paling lebar yang pernah mereka miliki.

Lalu aku masuk.

Aku tidak memakai topi seperti yang diperintahkan Papa. Aku mengenakan blazer hitam potongan maskulin yang tajam, celana kain senada, dan membiarkan kepala buzz cut pendekku terekspos sepenuhnya di bawah lampu kristal.

Penampilanku langsung memicu bisikan di antara para tamu. Mama yang melihatku langsung membelalak panik. Ia bergegas menghampiriku, wajahnya merah padam karena murka.

“Maya! Apa-apaan penampilanmu ini?!” desis Mama, tangannya bergerak ingin mencengkeram lenganku. “Kamu sengaja membuat Mama malu? Di mana topimu?! Dasar anak tidak tahu diuntung!”

Papa ikut mendekat, matanya berkilat penuh ancaman. “Pergi dari sini, Maya! Jangan merusak hari paling bahagia adikmu dengan kegilaanmu!”

Aku hanya menatap mereka berdua flat. Tidak ada kemarahan di mataku, hanya kekosongan yang mutlak.

“Aku tidak di sini untuk merusak hari Chloe, Pa,” kataku, melirik jam tangan pintarku. 09.59. “Aku di sini untuk menyaksikannya.”

Tepat saat jarum jam menyentuh angka sepuluh, pintu ganda ballroom dihantam terbuka dari luar.

Bukan kepolisian biasa. Belasan agen berseragam taktis hitam dengan tulisan FEDERAL INVESTIGATION dan otoritas imigrasi masuk dengan senjata laras panjang, memecah keheningan musik gereja yang anggun. Para tamu berteriak histeris, beberapa wanita menjatuhkan gelas sampanye mereka.

“Jangan bergerak! Otoritas Federal! Tetap di tempat Anda!” gema suara komandan operasi memekahkan ruangan.

Richard Sterling yang sedang menggenggam tangan Chloe mendadak berbalik, wajahnya berubah seketika menjadi pucat pasi. Ia mencoba melangkah mundur menuju pintu darurat di belakang panggung, namun tiga agen sudah menodongkan senjata tepat ke dadanya.

“Richard Sterling, atau nama aslimu, Chen Wei. Anda ditahan atas tuduhan penipuan finansial lintas negara, pencucian uang, dan pemalsuan identitas,” kata agen utama sambil memiting tangan Richard ke belakang dan memasangkan borgol besi yang dingin.

“Richard?! Ada apa ini?! Mas, katakan pada mereka ini salah paham!” Chloe menjerit histeris, gaun pengantinnya yang indah kini ternoda karena ia jatuh terduduk di lantai, menangis meraung-raung.

Papa maju dengan panik, mencoba menghalangi petugas. “Tunggu dulu! Menantu saya ini miliarder! Anda tidak bisa menangkapnya begitu saja! Investasi tanah saya ada di perusahaannya!”

Mendengar kata ‘investasi’, agen utama itu menoleh ke arah Papa dengan tatapan kasihan. “Investasi? Tuan, seluruh uang Anda sudah menguap di rekening Cayman tiga jam yang lalu. Pria ini bangkrut dan merupakan buronan internasional. Seluruh aset yang Anda lihat di sini disewa dengan sisa uang tanah yang Anda berikan padanya.”

Kalimat itu bagai petir yang menyambar langsung ke jantung Don Carlos. Papa memegang dadanya, napasnya mendadak sesak, dan ia jatuh berlutut di samping Chloe yang masih menangis sejadi-jadinya.

Mama, Nyonya Matilda, berdiri membeku di tengah kekacauan itu. Matanya yang tadinya penuh kesombongan kini kosong, menatap menantu “miliarder”-nya yang sedang diseret keluar seperti kriminal kelas teri.

Di tengah badai kehancuran keluarga mereka, Mama perlahan menoleh ke arahku. Ia melihatku berdiri dengan tenang, melipat tangan di dada, di samping agen senior yang memimpin operasi yang baru saja menjabat tanganku sebagai tanda terima kasih atas data auditku.

Mama menyadari segalanya dalam sekejap.

“Kamu…” bisik Mama dengan bibir bergetar, air matanya akhirnya tumpah karena rasa kehilangan yang amat sangat—kehilangan harta, kehormatan, dan masa depan emas Chloe. “Kamu yang melakukan ini, Maya? Kamu menghancurkan pernikahan adikmu sendiri?!”

Aku melangkah maju, berhenti tepat satu jengkal di depan Mama. Dengan perlahan, aku menyentuh kepala buzz cut-ku, merasakan tekstur rambut pendekku yang tersisa.

“Aku tidak menghancurkan apa pun, Ma,” bisikku, memastikan suaraku cukup tajam untuk mengiris sisa-sisa harga dirinya. “Aku hanya memastikan bahwa tidak ada seorang pun di ruangan ini yang mencuri perhatian dari kecantikan Chloe hari ini. Bukankah itu yang Mama inginkan?”

Aku berbalik, meninggalkan jeritan histeris Chloe, tubuh Papa yang terkulai lemas, dan Mama yang menatap kosong ke arah lantai yang kini dipenuhi pecahan impian palsu mereka.

Saat aku melangkah keluar dari ballroom menuju sinar matahari pagi, aku merasakan angin dingin menerpa kulit kepalaku yang pendek. Rasanya sangat ringan. Sangat bebas. Rambut 20 inciku mungkin sudah hilang, tetapi bersama dengannya, rantai yang mengikatku pada keluarga beracun ini telah putus selamanya.