KARENA TIDAK MAMPU MEMBAYAR BIAYA RUMAH SAKIT, GADIS ITU RELA MENYERAHKAN DIRINYA KEPADA DOKTER YANG MERAWAT IBUNYA AGAR SEMUA TAGIHAN MEREKA DIGRATISKAN. NAMUN TIGA TAHUN KEMUDIAN, IBUNYA KEMBALI MASUK RUMAH SAKIT. GADIS ITU SANGAT TERKEJUT SAAT MENGETAHUI BAHWA DOKTER YANG KEMBALI MEMERIKSA IBUNYA ADALAH DOKTER YANG SAMA YANG DULU PERNAH IA BERIKAN DIRINYA. AYAH DARI ANAKNYA!
Pada saat itu, dunia di sekitarnya seolah kehilangan makna. Kata-kata yang ingin diucapkan Amiella tenggelam dan hilang begitu saja dalam kehangatan dan kepekatan bibir Zackary. Ciuman itu tidak lembut, tidak juga mesra, melainkan penuh dengan amarah, kepedihan, dan rasa sakit.
Zackary semakin merapatkan seluruh tubuhnya ke tubuh Amiella, membuatnya tidak punya tempat untuk lari ataupun melepaskan diri. Kedua tangan pria itu bertumpu di kedua sisi kepalanya, seolah membangun dinding kokoh yang tidak bisa ia lewati. Setiap sentuhan dan kecupan dari bibir Zackary terasa seperti aliran listrik yang merambat ke setiap urat dan tulang Amiella, melumpuhkan seluruh kekuatannya.
Ia ingin melawan. Ia ingin mendorong pria itu menjauh, berteriak, dan mengatakan bahwa semua ini salah, bahwa mereka tidak memiliki hak atas satu sama lain. Namun, sesuatu yang aneh terjadi di dalam dirinya. Bukannya melawan, seluruh tubuhnya justru terasa lumpuh. Tangan yang seharusnya mendorong dada pria itu justru menggantung di udara, seolah menolak mematuhi perintah otaknya. Air mata yang sejak tadi mengalir kini tumpah semakin deras, bukan karena marah, melainkan karena kebingungan dan kenyataan pahit yang tidak bisa ia terima—bahwa terlepas dari semua yang telah terjadi, ada bagian dari hatinya yang masih menanggapi kehadiran pria itu.
Amiella kehilangan akal sehatnya. Ia melupakan masa lalu, melupakan segalanya, bahkan melupakan ketakutannya jika Zackary akan merebut Zaios darinya. Pada momen itu, satu-satunya yang ia rasakan hanyalah kehangatan dari pria di hadapannya, dan kesedihan yang seolah mereka tanggung bersama. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara, dan yang terpenting, ia tidak bisa lepas. Jiwanya seolah terikat pada pria itu, dan sekeras apa pun ia mencoba melepaskan diri, ikatan itu tetap rekat.
Jika saja Amiella tidak mendengar panggilan keras dan jelas dari luar pintu, jika saja suara salah satu tantenya tidak memanggil namanya, ia pasti tidak akan bisa lepas dari Zackary. Ia akan tetap menempel di dinding itu, tetap terperangkap dalam pelukan dan ciumannya, dan mungkin pada akhirnya akan menyerah pada perasaan yang sudah lama ia sangkal.
“Amiella! Kamu di mana?!”
Dalam sekejap, ia seperti disiram air es. Kesadaran dan akal sehatnya mendadak kembali dari tidur yang lelap. Mendengar panggilan itu, ia segera membuka mata dan seolah ada kekuatan yang menggerakkan tubuhnya yang sempat mati rasa tadi.
Dengan kesadaran yang pulih sepenuhnya secara tiba-tiba, ia berusaha keras mendorong Zackary. Meski lengannya gemetar dan lemah, ia berhasil menepis pria itu menjauh. Dengan napas terengah-engah dan rambut yang berantakan, ia segera menutupi bibirnya dengan telapak tangan, bibir yang masih terasa hangat dan kaku karena apa yang baru saja terjadi. Matanya terbelalak lebar, penuh keterkejutan, rasa malu, dan ketakutan saat menatap pria di depannya.
Zackary pun menjauh, namun tatapannya yang gelap dan penuh emosi tetap tertuju padanya. Napas pria itu juga memburu, amarah dan hasrat yang tertunda terlihat jelas di wajahnya. Zackary melirik ke arah pintu, lalu kembali menatap Amiella dengan pandangan bertanya.
“Kita belum selesai—” kata Zackary dengan suara berat dan dalam, terdengar seperti sebuah peringatan sekaligus janji.
“Cukup, Zack! Kamu tahu batasan kita!” Amiella mengepalkan tangannya.
“Aku tahu ini tidak akan berakhir di sini, baby. Kita baru saja mulai. Ingat itu!”
Amiella menggelengkan kepala sambil cepat-cepat menyeka air mata di pipinya.
“A-apa yang kamu katakan?” bisiknya, meskipun ia tahu dirinya sendiri pun tidak memercayai ucapannya.
“Pergilah sekarang, jangan ganggu aku dulu. Ibu masih disemayamkan, jadi tolong hentikan ini sekarang!” Tatapan pria itu seketika melembut.
“Kamu harus memberi tahu anak itu tentang siapa aku. Aku memberimu waktu sampai pemakaman selesai. Jika kamu tidak mengatakan yang sebenarnya pada Zaios, aku sendiri yang akan—”
“Tidak! Ya, ya, aku akan memberi tahu anak itu. Tapi tolong tunggulah sebentar—” Zack menghela napas panjang, lalu merapikan penampilannya. Sambil menatap Amiella, ia menyelipkan sehelai rambut yang menutupi mata gadis itu.
“Jangan pernah mencoba menjauhkan Zaios dariku,” ancamnya.
“Ti-tidak, aku tidak akan menjauhkannya, asal kamu mau menunggu!”
Zackary tidak menjawab. Ia hanya menatap Amiella lama, seolah sedang merekam setiap detail wajah gadis itu, sebelum perlahan membuka kunci pintu dan membukanya.
Amiella segera berlari keluar, seolah sedang melarikan diri dari sesuatu yang bisa merenggut nyawanya. Begitu keluar, ia melihat Tante Rosa berdiri di dekat pintu, tampak heran melihat penampilannya yang berantakan—mata memerah, rambut kusut, dan masih terengah-engah.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya tantenya sambil memperhatikan penampilannya.
“Ti-tidak ada apa-apa, Tante. Hanya sedang mencari sesuatu di kamar!” jawabnya gugup.
“Di mana kita bisa menaruh belanjaan ini?” tanya tantenya beralih menunjuk beberapa kardus belanjaan di atas meja panjang.
“Di kamar Ibu saja, Tante. Tolong masukkan ke sana!” Tantenya menuruti permintaannya, namun saat melangkah masuk ke ruang tamu…
Tantenya sempat melirik ke dalam kamarnya, dan saat itulah ia melihat Zackary keluar. Pria itu berjalan keluar dengan tenang, wajahnya serius, dan pandangannya tidak lepas dari Amiella selama melangkah. Tatapan itu, Amiella tahu betul, berarti semuanya belum berakhir di antara mereka.
Ia sadar. Jika saja tantenya tidak memanggil dan suaranya tidak terdengar, ia tidak akan pernah bisa lepas. Dan di lubuk hati terdalamnya, ia merasa takut… takut bahwa di kesempatan berikutnya, jika tidak ada lagi yang memanggil, jika tidak ada lagi yang mengganggu, ia tidak akan mampu lagi melawan. Bahwa pada akhirnya, ia hanya akan menyerah, bukan karena tidak ada pilihan lain, melainkan karena terlepas dari segalanya, pria itu sudah memiliki tempat istimewa di hatinya sejak dulu.
Ia ingin menyuruh Zack pergi, tapi ia tidak bisa, terutama karena banyak mata yang mengawasi mereka. Ia mengira pria itu akan langsung pergi, tetapi saat berpapasan dengannya, Zackary justru meraih tangannya.
“Sebentar ya, Tante, ada yang ingin saya bicarakan dengan keponakan Anda!” kata Zack kepada tantenya yang sedang sibuk memasukkan barang belanjaan ke dalam kamar ibunya.
Pria itu menariknya lagi, kali ini bukan ke kamar, melainkan ke arah dapur. Zack kemudian mengangkat dan mendudukkannya di atas meja wastafel, lalu mengurungnya dengan kedua lengan kekarnya yang bertumpu pada permukaan wastafel.
“Zack, a-apa-apaan ini!”
“Ingat, waktu yang kuberikan hanya cukup bagi mumu untuk menceritakan segalanya pada anak itu. Jika kamu tidak melakukannya, aku yang akan melakukannya untukmu. Dan kamu tidak akan menyukai caraku, baby.”
“He-hentikan memanggilku baby!” katanya kesal. Pria itu menyeringai.

“Aku hanya menandai kepemilikanku dengan kata-kata. Lain kali, tubuhmu yang akan kutandai berikutnya, terutama karena aku merindukan semua itu, baby—” Amiella menelan ludah berkali-kali saat merasakan telapak tangan pria itu mengusap pahanya dan sedikit mengangkat ujung gaun yang dikenakannya.
“S***tt!!!! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi—”
“Amiella!!?” Ia mendadak turun dari wastafel karena mendengar panggilan tantenya lagi. Namun sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pintu dapur, Zack menangkup pipinya dan kembali merenggut bibirnya yang ternganga.
“Apa-apaan sih!!” Amiella mendorong pria itu dengan sekuat tenaga. Zackary mengangkat kedua telapak tangannya ke udara seolah menyerah.
“Ingat janjimu, Amiella,” bisik Zackary, suaranya serak namun penuh kepastian yang mengikat. Pria itu mundur satu langkah, menurunkan tangannya, lalu merapikan jas dokternya yang sedikit kusut dengan gerakan tenang yang teramat menyebalkan.
Amiella tidak menjawab. Ia memutar knop pintu dapur dengan tangan yang gemetar hebat, lalu melangkah keluar setengah berlari sebelum tantenya sempat masuk dan memergoki mereka dalam posisi yang lebih intim lagi.
Di ruang tengah, suasana duka kembali menyelimuti. Aroma bunga kamboja dan kepulan asap dupa membuat dada Amiella semakin sesak. Beberapa pelayat dari tetangga sekitar mulai berdatangan, duduk bersila di atas karpet tipis di dekat peti jenazah ibunya. Di sudut ruangan, seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun dengan mata bulat yang cerdas dan rambut hitam legam yang persis seperti milik Zackary—Zaios—sedang duduk diam sambil memeluk mainan mobil-mobilan usang.
Zaios mendongak saat melihat ibunya datang. “Bunda…” panggilnya dengan suara cadel yang polos.
Amiella langsung berlutut, mendekap tubuh kecil Zaios ke dalam pelukannya. Air matanya yang sempat mengering kini luruh kembali. Zaios adalah dunianya, satu-satunya alasan mengapa ia mampu bertahan setelah menyerahkan kehormatannya tiga tahun lalu di kamar hotel rumah sakit demi memperpanjang umur ibunya. Dan kini, takdir dengan kejam membawa pria itu kembali—bukan lagi sebagai penolong rahasia, melainkan sebagai ayah kandung yang menuntut hak atas darah dagingnya.
Langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari arah dapur. Zackary berjalan melewati ruang tamu. Kehadirannya yang tinggi, tegap, dan memancarkan aura otoritas yang kuat langsung membuat beberapa kerabat Amiella menoleh dengan pandangan segan. Seorang dokter spesialis ternama dari rumah sakit pusat, berdiri di rumah duka yang sederhana ini, tentu memicu tanda tanya.
Zackary berhenti tepat di samping Amiella yang masih memeluk Zaios. Pria itu menunduk, menatap lekat-lekat pada bocah kecil yang memiliki garis rahang dan sorot mata yang persis sama dengan dirinya.
Zaios melepaskan pelukannya dari Amiella, menatap Zackary dengan rasa ingin tahu yang besar. “Om dokter yang kemarin tolong Eyang, ya?” tanya Zaios polos.
Zackary berlutut di sebelah Amiella. Untuk pertama kalinya, Amiella melihat kelembutan yang tulus di mata pria yang biasanya sedingin es itu. Zackary mengulurkan tangannya yang besar, mengusap puncak kepala Zaios dengan sangat hati-hati.
“Iya, ini Om dokter,” jawab Zackary, suaranya melembut, namun matanya melirik ke arah Amiella, memberikan kode keras bahwa jarum jam taruhan mereka sudah mulai berdetak. “Nanti, Om akan sering main ke sini untuk menjaga Zaios dan Bunda. Zaios mau?”
Zaios mengangguk bersemangat. “Mau! Bunda, Om dokternya baik.”
Amiella hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis yang menyesakkan dada. Ia tahu, setelah prosesi pemakaman ibunya selesai esok hari, tidak akan ada lagi tempat untuk bersembunyi. Rahasia yang ia kubur dalam-dalam selama tiga tahun ini harus dibongkar.
Zackary berdiri kembali, menatap Amiella untuk terakhir kalinya malam itu. “Aku pergi dulu. Besok pagi aku akan kembali untuk mengantar Ibumu ke pemakaman. Bersiaplah, baby.”
Tanpa menunggu jawaban, Zackary berbalik dan melangkah keluar dari rumah duka, meninggalkan Amiella yang terduduk lemas di lantai, memeluk erat putranya di tengah kepungan takdir yang tidak mungkin lagi ia hindari. Sisa kehangatan ciuman Zackary di bibirnya dan sentuhan pria itu di pahanya seolah menjadi segel tak terlihat bahwa cepat atau lambat, seluruh hidupnya akan kembali menjadi milik pria itu.