Suara tegas petugas provos di gerbang utama Markas Besar militer itu membuat nyaliku menciut sejenak. Aku berdiri di bawah terik matahari pagi yang menyengat, meme luk kardus besar berisi sisa-sisa kenangan pahit yang mulai terasa seberat bongkahan batu. Di sekelilingku, mobil-mobil mewah dengan pelat dinas militer berlalu lalang, membawa para perwira tinggi dan istri-istri mereka yang tampil anggun dengan kebaya Persit yang seragam, rapi, kaku, dan penuh kelas.
“Saya hanya ingin mengembalikan barang milik Lettu Pandu, Pak. Saya janji tidak akan lama,” ucapku, mencoba menahan getar di suaraku agar tidak terdengar seperti sedang mere ngek.
Petugas itu menatapku dari ujung kaki hingga ujung jilbab dengan tatapan yang sangat merendahkan. Di matanya, aku mungkin hanya seorang rakyat jelata yang ingin membuat keributan di hari besar ini. “Lettu Pandu sedang bersiap untuk upacara kenaikan pangkat. Ibu silakan tunggu di luar area markas jika tidak memiliki undangan resmi!”
Aku menggi git bibir bawahku, menahan rasa malu yang mulai menjalar ke seluruh tu buh saat beberapa orang yang mengantre di belakangku mulai berbisik-bisik. Mereka adalah keluarga-keluarga perwira yang tampak begitu elit. Aku hanyalah seorang guru desa dengan pakaian sederhana yang sudah sering dicuci, meme luk kardus bekas yang pinggirannya sudah sedikit sobek. Benar kata Pandu semalam, aku memang tidak sepadan berada di sini. Kehadiranku hanya akan menjadi no da di tengah kemilau baret dan lencana mereka.
Namun, bayangan wajah sombong Pandu dan senyum li cik Siska semalam kembali mencuat di benakku, memba kar sisa-sisa rasa takutku. Aku tidak boleh mundur. Aku harus membuang sampah ini sekarang, atau aku akan terus terc ekik oleh kenangannya seumur hidup.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku merogoh saku jaket kusamku. Aku mengeluarkan kartu nama kusam yang sudutnya sudah melengkung itu. “Saya … saya kenal dengan Pak Baskara Aditama. Beliau yang memberikan ini pada saya dua tahun lalu.”
Petugas provos itu awalnya menerima kartu itu dengan malas, namun sedetik kemudian, gerakannya membeku. Matanya membe lalak lebar saat membaca nama yang tertera di sana. Ia menatap kartu itu berkali-kali, lalu menatap wajah sembapku dengan pandangan tak percaya. Seolah-olah kartu di tangannya itu tiba-tiba berubah menjadi bom yang siap mele dak. Ia segera mengambil radio panggil di pundaknya dengan gerakan panik.
“Lapor! Ada seorang warga sipil di gerbang satu membawa kartu nama pribadi Bapak Pangdam. Ulangi, kartu nama pribadi berwarna emas. Siap, instruksi?”
Pangdam? Jantungku seolah berhenti berdetak. Dua tahun lalu, seingatku dia hanya seorang perwira menengah yang ramah dan bijaksana saat menolong sekolah kami. Aku benar-benar tidak tahu jika pria itu kini telah menjadi orang nomor satu di Kodam ini.
“Ibu … mohon maaf sebesar-besarnya. Saya tidak tahu,” ucap petugas itu, nada bicaranya berubah drastis menjadi sangat sopan, bahkan dia sedikit membungkukkan badannya. “Silakan ikut saya ke gedung utama. Biar kardusnya saya bawakan, Bu.”
“Tidak usah, Pak. Biar saya bawa sendiri. Saya hanya ingin mencari Lettu Pandu—”
“Instruksi atasan adalah membawa tamu Bapak Pangdam ke ruang transit VIP, Bu. Mohon kerjasamanya,” potong petugas itu dengan sikap hormat yang membuatku merasa sangat asing.
Aku berjalan dengan lutut lemas melewati lapangan upacara yang sangat luas. Di sana, ratusan prajurit berdiri tegak dalam barisan yang sempurna, menciptakan lautan loreng yang tampak sangat perkasa di bawah sinar matahari. Di kejauhan, di barisan para perwira muda yang baru saja naik pangkat, aku melihatnya. Pandu. Ia berdiri dengan dada membusung, dagunya terangkat angkuh seolah ia adalah pemilik dunia.
Di tenda undangan yang berhias kain merah putih, aku melihat Siska duduk bersanding dengan ibu-ibu pejabat lainnya. Siska tampak tertawa kecil sambil mengipasi wajahnya, sesekali merapikan kebaya mahalnya dengan gaya yang sangat dipaksakan agar terlihat seperti nyonya besar. Da daku sesak melihat pemandangan itu. Itu seharusnya tempatku. Tapi mereka telah mencurinya dengan cara yang paling ko tor.
Aku dialihkan ke sebuah lorong gedung utama yang lantainya terbuat dari marmer mengkilap. Suasananya sepi, dingin, dan sangat berwibawa. Setiap prajurit yang berpapasan dengan kami memberikan hormat tegak. Tak lama kemudian, dari balik pintu kayu besar, suara langkah kaki yang berat dan mantap terdengar mendekat.

Seorang pria dengan seragam lengkap, dengan dua bintang emas di pundaknya yang lebar, melangkah masuk ke ruangan. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang keras dan mata yang setajam elang. Namun, anehnya, sorot matanya yang dingin itu melembut saat melihatku. Mayor Jenderal Baskara.
Ia berhenti tepat di hadapanku. Bau parfumnya yang maskulin dan berwibawa memenuhi ruangan, membuatku merasa semakin kerdil.
“Ibu Gendis? Guru SD dari Sukamaju itu, kan?” Suaranya berat dan tenang, namun memiliki wibawa yang membuat siapa pun akan tunduk tanpa perlu dipaksa.
“I-iya, Bapak. Maaf saya lan cang datang kemari dan menggunakan kartu nama Anda untuk bisa masuk.” Suaraku tercekat di tenggorokan. Aku menunduk dalam, memerhatikan ujung sepatuku yang berdebu. Kardus di pelu kanku terasa semakin memalukan untuk dibawa ke hadapan pria sehebat dia.
Baskara tidak langsung menjawab. Ia menatap kardus yang kubawa, lalu beralih ke wajahku. Ia pasti melihat mataku yang bengkak, sisa tangis semalam yang tidak bisa kusembunyikan meski sudah kupoles bedak tipis-tipis. Sebagai seorang Jenderal, ia pasti sangat ahli membaca manusia. Tanpa aku perlu bercerita panjang lebar, ia seolah sudah tahu bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
Ia hanya menunjuk ke arah lapangan upacara di mana Pandu sedang berdiri bangga. “Kamu datang untuk pria yang baru saja naik pangkat itu? Lettu Pandu?”
Aku terdiam, menarik napas panjang untuk menguatkan diri. “Saya ingin mengembalikan semua barang-barangnya, Pak. Hubungan kami berakhir semalam. Dia bilang … saya tidak sepadan berdiri di sampingnya karena saya hanya seorang guru desa yang kusam.”
Hening sejenak. Aku bisa merasakan aura di sekitar Baskara mendadak menjadi sangat dingin. Ia melihat ke arah lapangan melalui jendela besar, menatap sosok Pandu yang sedang tertawa som bong di sela barisan prajurit.
“Tidak sepadan, ya?” Baskara bergumam pelan, namun nadanya memiliki ketajaman yang mengerikan. “Lelaki yang baru saja memakai balok dua itu merasa dirinya sudah menjadi raja hingga lupa cara menghargai wanita yang menemaninya dari nol.”
Baskara berbalik ke arah ajudannya yang sejak tadi berdiri kaku di belakangnya. “Letnan, batalkan kehadiran saya di mimbar utama untuk sepuluh menit pertama. Bawa wanita ini ke ruangan Persit. Panggilkan tim tata rias terbaik dan penjahit. Berikan dia kebaya kasta tertinggi yang kita miliki.”
“Bapak? Apa yang Anda lakukan? Saya tidak bisa—” Aku terperangah, jan tungku berdegup kencang karena panik.
Baskara melangkah mendekat, satu langkah yang membuatku harus mendongak untuk menatap wajahnya. “Gendis, dengarkan saya. Kamu datang kemari untuk menagih harga diri yang dia injak-injak semalam, bukan?”
Aku mengangguk perlahan.
“Kalau begitu, kembalikan barang-barangnya dengan cara yang paling terhormat. Jangan biarkan dia melihatmu sebagai wanita lemah yang memohon. Biarkan dia melihatmu sebagai wanita yang tidak akan pernah bisa dia gapai lagi seumur hidupnya.” Baskara menatapku dengan sorot mata yang tak bisa dibantah. “Hari ini, di markas saya, kasta ditentukan oleh pangkat. Dan hari ini, saya akan meminjamkan ‘pangkat’ saya padamu agar pria itu tahu, siapa yang sebenarnya tidak sepadan di sini.”
“Tapi Pak … orang-orang akan salah paham,” bisikku ragu.
“Biarkan mereka salah paham. Itu bagian dari hukuman untuknya,” sahut Baskara dengan senyum tipis yang sangat dingin. “Sekarang pergi, bersiaplah. Kardus ini biar ajudan saya yang bawa ke bawah meja VIP. Saat saya memberi kode, kamu yang akan mengembalikannya langsung di depan semua undangan.”
Aku terpaku. Takdir macam apa ini? Guru SD yang baru saja dibuang ke lumpur dan dihina sebagai debu, kini sedang dipaksa duduk di singgasana kasta tertinggi militer oleh sang pemilik markas.
Lima belas menit kemudian, aku hampir tidak mengenali diriku di cermin. Kebaya beludru berwarna biru gelap dengan sulaman emas itu membungkus tu buhku dengan sempurna. Rambutku disanggul rapi, wajahku dipoles riasan yang membuatnya tampak tegas namun anggun. Aku bukan lagi Gendis yang berdebu.
Saat pintu ruang transit dibuka, Baskara sudah menungguku di sana. Ia mengenakan baretnya, lalu menawarkan lengannya padaku.
“Sudah siap, Gendis? Mari kita beri Lettu Pandu sebuah pelajaran tentang bagaimana cara menghormati seorang wanita.”
Aku menarik napas panjang, meletakkan tanganku di lengan kokoh sang Jenderal. Saat kami melangkah keluar menuju tribun VIP, seluruh mata prajurit yang sedang apel langsung tertuju pada kami. Suara langkah kaki kami menggema, memecah keheningan lapangan upacara.
Di barisan depan, aku melihat wajah Pandu yang tadinya penuh tawa, tiba-tiba memucat seketika saat matanya bertemu dengan mataku yang kini berdiri di samping komandan tertingginya.
Bersambung ….