Posted in

Kutransfer 150 juta ke rekening wanita simpananku untuk liburan ke Swiss. Sementara istriku sendiri harus mengutang di warung demi membeli susu ayahku yang stroke.

Ponselku berdering keras sejak pagi.

Aku bahkan belum benar-benar sadar ketika suara Pak Darto langsung menghantam telingaku dari balik sambungan telepon.

“Arga, kamu lagi tidur?! Laporan cabang Surabaya kacau semua!”

Aku langsung duduk. Dadaku terasa panas.

“Pak, bentar. Saya cek dulu.”

“Cek apa? Sistem pusat nggak bisa akses data! Tim audit marah dari tadi pagi!”

Telepon ditutup begitu saja.

Aku mengusap wajah kasar lalu segera meraih laptop di meja samping ranjang. Jari-jariku bergerak cepat mengetik password.

Loading. Gagal.

Aku mencoba lagi.

Tetap gagal.

“Apa sih ini…”

Aku menarik napas panjang lalu mengetik ulang lebih cepat. Tetap tidak masuk. Keringat mulai muncul di pelipisku.

Sejak kapan sistem kantor error separah ini?

Dari luar kamar terdengar suara Vina.

“Mas Arga! Aku lapar!”

Aku memejam mata sesaat.

“Ya makan!”

“Aku nggak bisa masak!”

Nada manjanya membuat kepalaku semakin pening.

Aku keluar kamar dengan emosi yang sudah naik sampai leher. Saat melewati ruang makan, meja masih kosong. Tidak ada sarapan seperti biasanya.

Tidak ada kopi hitam. Tidak ada roti panggang. Tidak ada suara Rania yang sibuk di dapur.

Aku langsung berjalan ke belakang.

Dan perempuan itu ada di sana.

Rania berdiri tenang sambil menuang bubur ke mangkuk kecil. Wajahnya datar seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku menatapnya tajam.

“Kamu sengaja ya?”

Rania menoleh pelan. “Sengaja apa?”

“Sistem kantor error semua.”

Dia malah membawa mangkuk itu menuju kamar Ayah tanpa menjawab tuduhanku. Aku mengejarnya sampai depan pintu kamar.

Rania duduk di sisi ranjang sambil membantu Ayah makan perlahan.

“Ayah, pelan-pelan.”

Ayah langsung memegang tangan Rania.

“Rania… jangan tinggalin Ayah lama-lama.”

“Iya, Yah.”

Aku semakin kesal melihat kedekatan mereka.

“Aku lagi ngomong sama kamu.”

Rania akhirnya menoleh.

“Aku dengar.”

“Jangan pura-pura nggak tahu.”

“Aku cuma cuti kerja.”

Jawaban itu membuat rahangku mengeras.

“Karena kamu cuti semua jadi kacau?”

Rania diam beberapa detik sebelum kembali menyuapi Ayah.

“Aku biasanya yang memperbaiki laporan tim Mas sebelum dikirim ke pusat.”

Aku tertawa sinis.

“Oh jadi sekarang kamu mau merasa paling penting?”

“Aku cuma capek.”

Entah kenapa kalimat pendek itu membuat dadaku terasa tidak nyaman. Vina muncul di depan kamar sambil melipat tangan.

“Mas, serius deh. Aku lapar.”

Aku langsung membentaknya.

“Bisa diam nggak sih?!”

Vina terkejut. Bibirnya langsung manyun.

“Aku cuma bilang lapar.”

Biasanya aku tidak pernah semarah ini pagi-pagi. Tapi rumah ini terasa berbeda hari ini.

Sepi.

Berantakan.

Dan anehnya, Rania justru terlihat paling tenang. Dia keluar dari kamar Ayah sambil membawa baskom kecil.

Aku kembali mengejarnya.

“Kamu puas sekarang?”

“Aku nggak ngerti maksud Mas.”

“Kamu bikin aku malu di kantor.”

Rania berhenti melangkah. Lalu dengan mata nanar dia menatapku lurus.

“Aku cuma berhenti menutupi kesalahan Mas.”

Aku terdiam sesaat. Kalimat itu seperti tamparan.

“Apa maksud kamu?”

“Selama ini data tim Mas sering salah. Aku yang bantu perbaiki diam-diam.”

Aku langsung mendekat.

“Kamu jangan sok berjasa.”

Rania tidak membalas. Dia malah membuka lemari obat dekat dapur.

“Obat Ayah tinggal satu.”

Aku mengerutkan dahi.

“Terus?”

“Nanti beli.”

Aku semakin kesal.

“Kenapa nggak dari kemarin?”

Karena biasanya aku yang ingat.

Dia memang tidak mengatakannya keras-keras. Tapi aku bisa menangkap maksudnya dari tatapan itu.

Aku mendecih lalu masuk kamar untuk bersiap kerja. Namun saat membuka lemari, emosiku langsung meledak lagi.

“Kemeja putihku mana?!”

Rania muncul di depan pintu.

“Ada.”

“Ini kusut semua!”

“Iya.”

“Iya gimana?”

“Aku belum sempat setrika.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Selama menikah, aku bahkan tidak pernah menyetrika bajuku sendiri. Semua selalu siap. Aku tinggal pakai.

Dan hari ini semuanya terasa kacau.

Vina malah duduk santai di sofa sambil bermain ponsel.

“Pakai yang lain aja, Mas.”

Aku menatapnya kesal.

“Kamu bisa bantu malah diam.”

“Aku nggak tahu cara setrika.”

Aku menahan emosi lalu mencari map meeting di meja kerja.

Tidak ada.

“Rania!”

Dia datang lagi.

“Dokumen meeting mana?”

“Di laci kedua.”

Aku membuka asal-asalan tapi tetap tidak menemukannya. Rania mendekat lalu mengambil map biru tepat di depan mataku.

Aku langsung merebutnya kasar.
Entah kenapa aku mulai merasa bodoh di rumah sendiri. Padahal selama ini aku pikir semua berjalan normal karena aku yang mengatur semuanya.

Ternyata banyak hal yang bahkan tidak pernah aku perhatikan.

Belum selesai pikiranku kacau, Ayah kembali memanggil dari kamar.

“Rania… air hangat Ayah belum diganti.”

Rania langsung berjalan masuk tanpa banyak bicara. Aku berdiri diam beberapa detik. Untuk hari itu aku sadar, rumah ini berjalan karena ada dia.

Bukan karena aku.

Aku akhirnya pergi kerja dengan kemeja yang masih sedikit lecek.

Sepanjang jalan, telepon kantor terus masuk tanpa henti. Pak Darto marah. Tim audit marah. Bahkan beberapa data klien hilang dari sistem.

Kepalaku terasa mau pecah.

Saat malam tiba, aku pulang dengan emosi yang sudah habis.

“Rania!”

Tidak ada jawaban. Rumah terasa sunyi.

Aku langsung menuju kamar.

Langkahku berhenti mendadak. Lemari pakaian Rania kosong sebagian. Beberapa baju miliknya hilang. Tas kerjanya juga tidak ada.

Aku berjalan cepat ke meja kerja.

Laptop milik Rania lenyap.

Dadaku mulai terasa aneh.

Lalu mataku melihat secarik kertas putih di atas meja. Tanganku mengambil kertas itu perlahan.
Tulisan tangan Rania masih rapi seperti biasanya.

“Mulai besok, aku tidak tinggal di rumah ini lagi.”