SEBELUM UJIAN MASUK UNIVERSITAS, CAMPUS QUEEN MENAWARKANKU 80 MILIAR RUPIAH UNTUK MELEPASKAN SLOT DIRECT ADMISSION-KU DI UI DAN UGM
Sebelum ujian masuk universitas, sang Campus Queen memberiku 80 miliar rupiah sebagai imbalan untuk melepas slot direct admission-ku di Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Roommate-ku menyuruhku menolak.
“Kalau kamu masuk UI atau UGM, setelah lulus kamu bakal diperebutkan perusahaan besar! 80 miliar itu cuma receh dibanding masa depanmu!”
“Kamu juga harus punya prinsip! Jangan jual dirimu cuma demi uang!”
Di kehidupan sebelumnya… aku percaya padanya.
Aku menolak 80 miliar itu.
Aku masuk UI.
Dan sejak hari pertama, hidupku seperti neraka.
Skripsi kelulusanku direvisi lebih dari 50 kali. Bolak-balik ditolak tanpa alasan jelas.
Saat akhirnya lulus, aku bahkan tak mendapat satu pun tawaran kerja.
Baru kemudian aku tahu—
Campus Queen, Angelica Wijaya, menyimpan dendam padaku.
Ia menggunakan uang dan koneksi keluarganya untuk memblokir semua perusahaan agar tidak menerimaku.
Untuk membayar pinjaman kuliah, aku terpaksa bekerja paruh waktu di kedai minuman teh.
Tapi itu belum cukup baginya.
Suatu malam sepulang shift, ia menyewa preman untuk memukulku sampai mati di sebuah gang sempit.
Ketika aku membuka mata lagi…
aku kembali ke hari di mana Angelica menawariku 80 miliar rupiah.
—
“Cheska, jangan pernah kamu terima itu!”
Roommate-ku, Dianne, berbicara dengan nada sama persis seperti di kehidupan sebelumnya.
Tubuhku gemetar.
Rasa sakit saat dipukul hingga mati masih terasa jelas dalam ingatanku.
“80 miliar rupiah… menurutku itu cukup masuk akal,” kataku tenang.
Di kehidupan lalu, karena percaya pada Dianne, aku menolak.
Tapi belakangan aku tahu—
Dianne dan Angelica tinggal di kompleks elite yang sama.
Ia tahu betul betapa besar kekuasaan keluarga Angelica.
Namun tetap menyuruhku menolak.
Kenapa?
Apa salahku padanya?
Padahal di kehidupan sebelumnya kami sahabat dekat.
Kali ini…
aku akan mencari tahu semuanya.
—
“Masuk UI atau UGM itu jaminan masa depan!” Dianne bersikeras.
“Lulusannya bisa dapat gaji miliaran rupiah per tahun. Dalam dua tahun kamu sudah bisa dapat lebih dari 80 miliar!”
Ia terdengar begitu tulus.
Terlalu tulus.
Dalam ranking direct admission, Angelica tepat di bawahku.
Jika aku melepas slot itu—
ia otomatis mendapatkannya.
Dan di kehidupan sebelumnya, bahkan tanpa slot pun, nilai ujianku cukup tinggi untuk lulus sendiri.
Jadi sebenarnya…
aku tetap bisa masuk lewat jalur reguler.
Kalau begitu, kenapa tidak ambil uangnya?
“Kalau kamu gagal di ruang ujian bagaimana?” kata Dianne lagi.
Kalimat itu seperti alarm di kepalaku.
Bagaimana kalau ada sabotase?
Mungkin bukan kebetulan aku hidupku hancur dulu.
“Masuk akal,” jawabku sambil tersenyum.
“Jadi kamu tidak akan melepas slotmu untuk Angelica?” tanya Dianne.
Aku mengangguk pelan.
Tapi bukan karena aku akan mempertahankannya.
Melainkan karena aku punya rencana lain.
—
Di kehidupan ini…
aku menerima 80 miliar itu.
Namun aku tidak langsung menandatangani apa pun.
Aku meminta kontrak resmi, disaksikan notaris.
Transfer dilakukan penuh di muka.
Dana masuk ke rekening aman atas nama orang tuaku di kampung di Jawa Tengah.
Setelah itu—
aku tetap mengikuti ujian masuk jalur reguler.
Dan seperti yang kuduga, nilainya tetap sangat tinggi.
Aku lulus dengan peringkat unggul.
Artinya?
Angelica membayar 80 miliar rupiah… tanpa benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan.
Karena sistem jalur reguler tidak bergantung pada slot direct admission-ku.
Wajahnya pucat saat melihat namaku tetap tercantum sebagai mahasiswa baru UI.
Dan aku tersenyum padanya.
“Terima kasih atas donasinya.”
—
Tapi itu baru permulaan.
Aku mulai menyelidiki.
Diam-diam aku menyewa pengacara menggunakan sebagian kecil dari uang itu.
Aku menemukan bukti bahwa di kehidupan sebelumnya, ada transfer dana mencurigakan dari perusahaan keluarga Angelica ke beberapa perusahaan rekrutmen.
Ada juga rekaman CCTV dari gang tempat aku dibunuh.
Di kehidupan ini, aku melaporkannya lebih awal.
Sebelum ia sempat bertindak.
Kasus penyalahgunaan kekuasaan dan intimidasi akademik terbuka.
Nama keluarga Wijaya mulai disorot media.
Dianne?
Ia panik.
Ternyata sejak dulu ia iri padaku.
Ia takut aku melampauinya.
Ia bekerja sama dengan Angelica untuk menjatuhkanku agar mereka berdua bisa berada di atas.
Kali ini—
aku tidak mati di gang gelap.
Aku berdiri di ruang sidang.
Hidup.
Kuat.
Dan kaya.
Angelica kehilangan reputasi.
Ayahnya terseret kasus korupsi pajak.
Dianne dikeluarkan dari sekolah karena terbukti membantu manipulasi data.
—
Dan yang paling penting…
orang tuaku tetap hidup.
Ayahku tidak pernah melihat jasadku.
Ibuku tidak perlu mengurus dua peti mati.
Di kehidupan ini, aku pulang membawa 80 miliar rupiah.
Aku membangun rumah baru untuk mereka.
Membuka usaha kecil di kampung.
Dan memastikan tak ada lagi yang bisa menyentuh keluargaku.
Karena kali ini…
aku tidak hanya pintar.
Aku juga tidak naif.
Di kehidupan sebelumnya, aku memilih prinsip tanpa strategi.
Di kehidupan ini, aku memilih strategi tanpa kehilangan prinsip.
Dan mereka yang dulu mempermainkanku…
akhirnya harus membayar lebih mahal dari 80 miliar rupiah.

Dan pada akhirnya, aku tidak perlu berteriak untuk membuktikan siapa yang benar.
Semua yang selama ini kusembunyikan rapi—bukti, rekaman, pesan-pesan yang ia kira sudah terhapus—berbicara dengan sendirinya. Wajahnya yang dulu penuh percaya diri perlahan memucat. Untuk pertama kalinya, dia terdiam… tanpa pembelaan.
Aku berdiri di sana, bukan lagi sebagai perempuan yang tersakiti, tetapi sebagai seseorang yang telah selesai dengan luka-lukanya.
“Aku tidak pernah kalah,” kataku pelan. “Aku hanya memilih diam… sampai waktunya tiba.”
Keputusan pun dibuat. Hubungan yang dibangun di atas kebohongan akhirnya runtuh oleh kebenaran. Tidak ada lagi sandiwara. Tidak ada lagi air mata yang sia-sia.
Beberapa bulan kemudian, hidupku jauh lebih tenang. Rumah yang dulu terasa sempit oleh pengkhianatan kini dipenuhi udara baru—udara kebebasan. Aku mulai membangun kembali mimpiku, sedikit demi sedikit. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tersenyum bukan karena pura-pura kuat… tetapi karena benar-benar bahagia.
Karena terkadang, kemenangan terbesar bukan tentang menghancurkan seseorang.
Melainkan tentang menyelamatkan diri sendiri.