Aku dituduh mencuri kalung pusaka milik keluarga Pak Jendral oleh wanita selingkuhan suamiku di acara kenaikan pangkatnya. Tapi, wajahnya langsung pucat saat Pak Jendral datang dan mengumumkan sesuatu. Karena sebenarnya aku adalah…
“Istrimu bisa ditinggal di rumah aja nggak sih, Ren? Nggak pantes banget anak babu kayak dia bersanding sama kamu. Terlalu jomplang. Mending ajak si Meli aja. Dia berkelas dan penampilannya modis. Serasi sama kamu.”
Ningrum yang sedang berdiri di balik pintu kamar seketika membeku. Itu suara Mbak Siska—kakak iparnya yang sejak dulu tak pernah benar-benar menganggapnya manusia.
“Masalahnya harus bawa istri, Mbak,” jawab Rendi dingin. “Kalau nggak sih, aku juga ogah ngajak cewek kampungan kayak dia. Apalagi nanti bakal ada Pak Jendral yang ikut hadir. Mudah-mudahan aja dia nggak bikin malu.”
Deg.
Mendengar ucapan Rendi, rasanya seolah ada yang merem_4s jantungnya tanpa ampun. Ningrum menunduk, menggenggam ujung gamis yang ia kenakan. Ada rasa nyeri luar biasa di dadanya. Ia ingin menutup telinga, berusaha untuk tidak mendengarkan kalimat bernada merendahkan itu, tetapi percuma, kata-kata seperti itu sudah seperti makanan sehari-hari baginya.
Ningrum menarik napas panjang, lalu kembali duduk di depan cermin kecil di kamarnya. Wajahnya terlihat pucat dan sembab, tapi berusaha ia sembunyikan dengan senyum tipisnya.
Hari ini acara penting. Acara kenaikan pangkat suaminya. Ia ingin terlihat pantas berdampingan dengan Rendi, meskipun tahu, di mata mereka, ia tak akan pernah dianggap layak.
Ningrum mengulurkan tangannya, perlahan meraih sebuah kotak kecil dari dalam laci. Di dalamnya, terbaring sebuah kalung sederhana. Bukan emas berkilau. Bukan berlian mewah. Namun liontinnya unik. Ukiran langka dengan simbol cenderung rumit yang tak pernah ia mengerti. Itu satu-satunya peninggalan ibunya yang ia punya. Satu-satunya harta yang tak ternilai harganya.
Ningrum menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Ibu… temenin Ning, ya,” gumamnya pelan.
Ia mengenakan kalung itu di lehernya. Setidaknya… ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak sendirian.
Ceklek!
Pintu tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. Rendi masuk, masih dengan wajah dinginnya. Tatapannya langsung menyapu Ningrum dari ujung kepala sampai kaki, dan raut wajahnya seketika berubah kelam.
“Kamu mau datang ke acara militer pakai baju begitu?” sindirnya tajam. “Itu gamis atau lap pel sih? kucel banget.”
Ningrum menunduk. Jemarinya tanpa sadar merem_4s kain gamisnya sendiri. Ia akui, pakaian itu mungkin tidak terlalu bagus. Namun, dari semua pakaian Ningrum, gamis inilah yang ia anggap cukup bagus untuk dipakai menghadiri acara resmi.
“Aku nggak punya baju lain, Mas… aku kan nggak pernah dibeliin baju selama—”
“Makanya kerja! Kalau pengen baju bagus tuh usaha!” potong Rendi kasar. “Jadi istri jangan cuma bisa minta! Kayak pengemis aja.”
Kata-kata itu jatuh dengan entengnya. Namun Ningrum hanya diam. Ia sudah terlalu lelah untuk membela diri.
“Cepat. Jangan sampai kita terlambat gara-gara kamu yang lelet,” lanjut Rendi singkat, lalu berbalik keluar tanpa menunggu Ningrum.
Beberapa detik Ningrum hanya berdiri diam. Lalu setelah menguatkan dirinya, ia melangkah keluar kamar yang langsung disambut tatapan sinis Siska di ruang tengah. Sama seperti yang dilakukan Rendi, mata Siska meneliti penampilannya dari atas ke bawah sampai kemudian, tatapannya berhenti ke lehernya. Alisnya terangkat tinggi, lalu bibirnya melengkung meremehkan.
“Itu kamu beli kalung imitasi di mana sih?” tanyanya sinis. “Modelnya jadul banget, kayak kalung prasejarah. Dari penjual barang loak ya?”
Ningrum refleks memegang liontin itu.
“Ini… peninggalan ibuku, Mbak.” Ningrum menjawab sambil menunduk dalam. Jari-jarinya menggenggam ujung gamisnya erat.
Siska malah terkekeh sambil geleng-geleng kepala. “Ya ampun… pantesan. Selera murahannya turun-temurun ternyata.”
Dan seperti biasa… Ningrum hanya diam. Ia tidak membela diri atau melawan.
“Udah, cepatan, Rendi udah nunggu di mobil,” sambung Siska akhirnya.
Ningrum hanya mengangguk pelan, lalu melangkah mengikuti iparnya itu sambil menelan semua sakitnya sendirian.
Saat mereka sampai di tempat acara, Ningrum mencoba menggandeng lengan suaminya, tetapi bahkan sebelum tangan Ningrum benar-benar menyentuh lengan Rendi, dia sudah lebih dulu menepisnya dengan kasar.
“Jangan!” desisnya dingin. Kedua matanya sedikit melotot. Peringatan itu cukup keras, seolah Rendi sangat jijik tangannya disentuh istrinya sendiri.
Ningrum terdiam. Perlahan, ia menarik kembali tangannya. Hatinya seperti direm_4s… tetapi ia tetap tersenyum. Mencoba kuat di depan banyak orang.
“Rendi!”
Sebuah suara ceria memanggil. Ningrum menoleh. Dan di sanalah… Meli berdiri. Wanita yang dulu hampir dinikahi Rendi kalau saja ibunya tak berwasiat untuk menikahi Ningrum. Wanita itu sangat cantik dan elegan. Jelas sangat kontras dengan Ningrum. Meli adalah anak seorang Kolonel yang dihormati. Sangat setara dengan Rendi. Berbanding terbalik dengan Ningrum yang bukan siapa-siapa.
Meli berjalan mendekati mereka, wanita itu tersenyum lebar pada Rendi. “Kamu kelihatan ganteng banget malam ini,” pujinya, tanpa malu. Keberadaan Ningrum di sana seolah tak ada artinya untuk wanita itu.
Rendi tersenyum. Senyum yang… tak pernah ia berikan pada Ningrum.
“Terima kasih,” jawabnya.
Tatapan Meli lalu bergeser ke Ningrum. Dan senyumnya berubah menjadi sinis.
“Oh… kamu juga datang? Nggak kelihatan.” ucapnya sambil menatap Ningrum dari atas ke bawah.
Ningrum hanya menunduk, lalu memilih menjauh. Mencari sudut sepi. Namun tiba-tiba—
Bruk!
Tubuhnya tak sengaja menabrak seseorang.
“Oh! Maaf, Bu! Saya nggak sengaja,” ucap Ningrum panik, buru-buru menunduk.
Wanita paruh baya itu sedikit terhuyung, namun segera ditopang oleh seorang ajudan di sampingnya.
Ruangan yang tadinya riuh, mendadak sunyi. Beberapa orang langsung menoleh. Seketika Ningrum dan wanita paruh baya itu menjadi pusat perhatian.
Ningrum mengangkat wajahnya perlahan. Dan detik itu juga, darahnya seakan berhenti mengalir. Wanita di hadapannya… bukan orang biasa.
“Itu… Ibu Pangdam!” bisik seseorang pelan, namun cukup jelas terdengar.
Ningrum langsung pucat.
“Maaf, Izin Ibu… saya benar-benar nggak sengaja…” suaranya gemetar.
Namun sebelum wanita itu sempat menjawab—
“YA AMPUUUN, NINGRUM!”
Suara melengking Mbak Siska tiba-tiba memecah suasana. Ia berlari mendekat dengan wajah merah padam.
“INI YANG AKU TAKUTIN!” bentaknya tanpa peduli siapa yang ada di sekitar. “Baru juga datang, kamu udah bikin masalah!”
Ningrum tersentak.
“Mbak, aku—”

“Diem kamu!” lanjut Siska tanpa ampun. “Lihat! Sekarang kamu nabrak IBU PANGDAM! Jalan tuh pake mata Ningrum, bukan pake dengkul! Astaga, kamu itu benar-benar ya…”
Air mata Ningrum langsung menggenang di pelupuk. Ini jauh lebih menyakitkan sebab Ningrum dipermalukan di depan banyak orang. Namun, lagi-lagi ia tetap menunduk. Tidak melawan.
“Maaf… Mbak…” lirihnya.
“Maaf?!” Siska tertawa sinis. “Kalau cuma maaf, semua orang juga bisa! Tapi gimana kalau Rendi sampai kena imbasnya hah?!”
Ia lalu menoleh pada wanita paruh baya yang disegani itu, dan langsung merubah nada bicaranya.
“Mohon izin ibu. Maafkan adik ipar saya, ya Bu. Memang orangnya agak sembrono.”
Wanita paruh baya itu tersenyum ramah. Tidak ada kemarahan di wajahnya. “Tidak apa-apa, Nak. Namanya juga tidak sengaja.”
“Aduh, terimakasih banyak ya, Ibu. Sekali lagi mohon maaf.” Siska membungkukkan badannya sekali lagi sebelum menarik lengan Ningrum dengan kasar. “Sudah, kamu keluar aja!” bisik Siska mengusir.
Hati Ningrum sakit sekali. Ia diusir di acara kenaikan pangkat suaminya sendiri ditambah dipermalukan pula.
Tepat saat ia hendak berbalik—
“Tunggu.”
Langkah Siska dan Ningrum terhenti. Siska sudah yakin Bu Pangdam akan memberi mereka hukuman. Tetapi, wanita paruh baya itu justru menatap Ningrum lekat-lekat. Bukan tatapan marah, melainkan tatapan penuh selidik.
“Kemari, Nak,” panggilnya.
Ningrum ragu. Ia sendiri takut kalau kejadian tadi menjadi perkara besar. Namun, akhirnya ia mendekat dengan langkah gemetar.
Wanita itu tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Matanya turun… ke leher Ningrum, mengamati dengan kelopak mata menyipit. Dan seketika… Ekspresinya berubah.
“Kamu…” suaranya pelan, hampir tak terdengar. “Dari mana kamu dapat kalung itu, Nak?”
Ningrum tertegun. Refleks, tangannya menyentuh liontin itu.
“Ini… Kalung peninggalan ibu saya, Bu,” jawabnya jujur.
Ruangan kembali dipenuhi bisik-bisik. Siska mengernyit penasaran. Namun wanita itu tetap menatap Ningrum, tak berkedip seperti sedang memastikan sesuatu.
“Kalung itu sangat mirip dengan pusaka milik Keluarga Jendral Wijaya. Apa jangan-jangan…. kamu anaknya?“
Deg!
Ningrum membelalak kaget, begitu pun dengan orang-orang yang berada di ruangan itu.