Wanita yang masih tetap terlihat cantik di usia setengah abad, tersenyum begitu melihat Mika. “Masih pusing, Mik?” tanyanya lembut.
Mika menggeleng. Obat yang Tante Sari berikan semalam, membuatnya sangat mengantuk, lalu tertidur lelap. Mika tidak mendengar suara apa-apa lagi. Termasuk lagu keroncong yang sebelumnya berbunyi kencang di kamarnya.
“Alhamdulillah, Tante. Makasih, Tante. Maaf aku merepotkan.”
“Nanti Tante kasih kamu obat itu setiap kali pusing ya. Itu obat andalan Tante kalau sakit kepala.”
Mika mengangguk. Mika memang tidak tahu nama obatnya, karena hanya diberikan satu butir.
“Sarapan dulu, Mik. Kamu duluan aja ya. Tante mau nganterin kopi ini ke ruang kerja Om. Om gak suka kalau kopinya dingin.”
Tante Sari mengangkat cangkir yang baru dia aduk dengan sendok kecil.
Mika membelalakan matanya berkali-kali, berusaha meyakini penglihatannya yang masih baik. Mika tidak melihat ada kopi dalam cangkir yang Tante angkat.
Apa Tante Sari sedang berhalusinasi? Mika bersumpah, cangkir itu kosong, tapi Tante mengaduk seolah-olah ada isinya.
Tante Sari membuka pintu garasi, lalu berjalan ke arah samping menyebrangi taman kecil. Mika tidak pernah pergi ke sana, tapi sepertinya di dekat taman belakang pun ada ruangan.
Mika penasaran, hatinya memerintah untuk mengikuti Tante. Kakinya sudah maju beberapa langkah mendekat ke arah pintu yang menghubungkan ke arah garasi.
Di depan pintu garasi, langkahnya berhenti. Bola matanya tertuju pada sebuah mobil Pajero sport yang terparkir di dalam garasi.
Depan mobil itu hancur, tidak lagi berbentuk. Hanya body belakang yang masih tampak sedikit mulus. Bau hanyir darah menguar memenuhi garasi.
Oek! Mika menutup mulutnya, menahan mual yang tiba-tiba menyerang.
Perkataan ibunya kemarin benar. Mobil bekas kecelakaan Om Ardi sengaja Tante Sari simpan di rumahnya. Bahkan mungkin bekas darahnya pun masih menempel di kabin.

Bulu di punduk Mika seketika berdiri. Kakinya beringsut mundur ke belakang. Degup jantungnya bertalu kencang, sangat kencang. Ribuan pertanyaan bergumul di dalam kepalanya.
Kenapa Tante Sari menyimpan mobil itu?
Apa karena itu arwah Om Ardi tidak tenang, dan masih ada di rumah ini?
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tante Sari? Apa cinta membuatnya sebuta itu, sampai meyakini orang yang sudah meninggal masih hidup?
Tadi juga. Tantenya bilang mau mengantarkan kopi, tapi jelas-jelas cangkir itu kosong.
Ya Tuhan ….
Mika memegang kepalanya. Rasanya dia ingin kabur dari rumah Tantenya, tapi di kota ini dia tidak kenal siapa pun. Dia bahkan belum tahu seluk beluk kota.
“Sudah makannya, Mik?”
Mika tersentak, tubuhnya sontak terlonjak begitu sadar Tante Sari sudah ada di hadapannya.
“Kayaknya kamu pusing lagi. Wajahnya sampai pucat begitu. Mau minum obat yang semalam?”
Mika menggeleng. Ini hari keduanya bekerja, dia tidak mau izin. Lagipula lebih baik ada di luar rumah, daripada berada di dalam rumah dengan Tante yang membuatnya takut.
“Mika … Mika … sarapan di kantin aja, Tante,” jawab Mika mencari alasan agar bisa cepat-cepat pergi.
“Ini masih pagi, Mika. Kamu sarapan dulu, terus naik lagi ojek. Gak bakal kesiangan, kok,” ujar Tante Sari seraya mengambil piring yang sudah dia rapikan di atas meja makan.
Seperti biasa, ada tiga piring.
Seolah-olah memaksa, Tante Sari menuangkan sendiri nasi beserta ayam goreng juga sayur sop ke atas nasi.
“Tante sudah masak dari subuh, masa tidak mau kamu makan.”
Perkataan Tante Sari membuat Mika jadi tidak enak hati. Diputuskannya untuk kembali duduk.
Mika mengaduk-aduk nasi. Dia tidak nafsu makan, mobil ringsek, dan bau hanyir itu terus memenuhi bayangannya. Perutnya mual, apalagi mengingat arwah Om nya masih tertahan di rumah ini. Bagaimana bisa dia makan, tapi jika tidak dimakan, Tante Sari bisa kecewa dan curiga.
Meski mual, Mika memasukkan sesendok demi sesendok nasi ke dalam mulutnya.
“Masakan Tante enak, kan?”
Mika mengangguk. Ibunya pun pandai masak. Kata Ibu, semua cucu nenek sudah diajari memasak dari SD. Sebab itu hampir semua cucu perempuan Nenek, termasuk ibu dan Tante Sari pandai memasak.
“Om selalu bilang. Katanya, restoran bintang lima pun, masakannya gak seenak buatan Tante. Padahal Tante tahu itu cuma kebohongan yang Om bikin supaya Tante senang. Hahaha ….”
Mika berusaha tertawa, padahal hatinya lagi menangis ingin pulang.
“Kamu sudah punya pacar, Mik?” tanya Tante Sari lagi. Kali ini Mika terkejut mendengar pertanyaannya.
“Pacar, Tante?”
“Iya. Umur kamu 21 tahun. Masa belum punya pacar?”
Mika menggeleng. “Mika sibuk urus adik-adik, Tante. Jadi gak pernah pacaran.”
“Oh iya. Dulu waktu ibumu melahirkan adik keduamu. Tante sempat minta salah satu anaknya untuk Tante urus di sini. Tapi, Ibumu bilang, jangan. Dia masih sanggup urus sendiri. Eh, ternyata beneran sekarang kamu yang ikut Tante di sini.” Senyum Tante Sari merekah, tatapan matanya seperti tulus dan penuh kasih sayang.
Mika pernah mendengar cerita itu. Alasan itu pula yang membuat ibunya memaksa Mika cari kerja di kota ini, biar bisa tinggal dengan Tante Sari yang kaya raya.
“Tante kesepian, Mik. Tante gak punya anak. Cuma hidup berdua dengan Om. Kalau dulu Om sering keluar kota, jadi Tante suka sedih. Tapi, sudah dua tahun ini, Om di rumah saja. Gak pernah ke mana-mana. Jadi Tante gak terlalu kesepian.”
Mika jadi teringat lagi mobil rusak yang dilihatnya di garasi.
Tantenya hidup dengan arwah Om nya.
Benar-benar tidak masuk akal.
“Untung saja Om tetap sayang sama Tante meskipun kami tidak punya anak. Dia laki-laki baik, dan romantis,” lanjut Tante Sari. Bibirnya tersenyum, seakan-akan sedang mengingat kisah cintanya dengan Om Ardi.
“Semoga nanti kamu juga dapat laki-laki yang baik seperti Om.”
Mika tidak mau. Lidahnya tidak mengaminkan doa itu
Segera Mika mengambil gelas yang berisi air putih. Diteguknya sampai habis. Seandainya Om Ardi masih hidup, kisah cinta Tantenya bisa terdengar menyenangkan. Tapi, ini sudah tidak normal kalau Tantenya masih menganggap Om Ardi masih hidup, padahal jasadnya sudah terkubur.
Mika berdiri, mengambil tas yang tadi dia simpan di atas kursi makan. “Mika berangkat sekarang ya, Tante.”
Tante Sari mengangguk setelah melihat makanan di piring Mika habis. “Oh iya, Mik. Tadi Om berpesan. Katanya kalau nanti kamu pulang naik ojek lagi. Jangan turun di depan rumah ini ya. Turun di depan belokan aja. Om gak suka kalau rumahnya diperhatikan orang asing.”
Mika tertegun lama.
Kalimat sopir ojek kemarin, berputar di telinganya, “Bapak Neng kayak marah lihat saya. Padahal saya cuma ojek yang nganter Neng pulang.”
Sopir ojek itu benar. Dia bisa melihat ada Om Ardi duduk di teras, dan menatap benci ke arahnya.
Tante Sari menepuk bahu Mika. “Kamu ikuti perkataan Tante, ya. Kalau Tante bilang, jangan. Maka, kamu jangan mencari tahu apa-apa. Tempat yang boleh kamu masuki hanya kamar kamu, juga ruang makan. Selebihnya tidak. Om tidak suka diganggu, Mika. Jangan buat Om marah.”
Tante Sari tersenyum ramah, tapi ucapannya barusan terdengar seperti ancaman di telinga Mika.