Posted in

Aku dije bak warga setempat harus menikahi perempuan lusuh yang tinggal di gubuk tua. Namun, disaat malam pertama kami, aku dikejutkan dengan fakta baru tentang siapa sosok perempuan itu sebenarnya.

Aku dije bak warga setempat harus menikahi perempuan lusuh yang tinggal di gubuk tua. Namun, disaat malam pertama kami, aku dikejutkan dengan fakta baru tentang siapa sosok perempuan itu sebenarnya.

“Sepertinya si Evita lagi nguli panggul.” Laki-laki berperawakan kurus melayangkan pendapatnya.

“Istrinya kerja, tapi suaminya enak-enakan ngopi diwarung.” Timpal pria yang memakai jaket hitam. Melirik ke arahku dengan senyum sinisnya.

“Oh iya, Aa ini suami Evita kan?” Pemilik warung datang menghampiri. “Kebetulan A, Evita punya utang sama Saya. Sudah dua bulan dia nunggak.” Wanita paruh baya itu memperlihatkan buku catatan utang milik Evita.

Di sana tertera catatan utang milik Evita sebesar 230 ribu rupiah. Angka yang tidak seberapa kalau menurutku, tapi mungkin cukup besar buat Evita. Buktinya Evita belum bisa bayar.

Tak banyak bicara, aku mengambil dompet dari saku celana dan membayarnya.

Tatapan ku kembali tertuju ke arah Evita yang tengah menyimpan gendongannya di teras rumah milik salah satu warga setempat. Kebetulan rumah tersebut berhadapan dengan warung, tempat dimana aku berada. Sesekali Evita mengusap wajah dengan ujung kerudungnya.

“Evita asli orang sini?” Laki-laki berpakaian rapi melayangkan pertanyaan. Sepertinya ia tertarik dengan kisah hidupnya Evita.

Jelasnya, aku sendiri juga tidak tahu siapa Evita dan kenapa bisa tinggal di gubuk tua.

“Bukan.” Yang punya warung yang jawab. “Katanya sih dia di usir sama keluarganya.”

Aku langsung menoleh. “Kenapa?”

“Lah, kamu kan suaminya. Masa gak tahu.” Laki-laki berkumis tebal melirik kearah ku.

“Selentingan kabar sih katanya dia perusak rumah tangga orang.” Yang baju kuning yang jawab.

“Wah, pantesan aja gak ada yang mau berteman sama dia.” Tawa laki-laki berkumis tebal langsung pecah. “Harus bersyukur sih karena warga setempat gak usir dia dari kampung kita.”

“Sebenarnya sudah mau di usir, tapi dilarang sama Pak RT, katanya biarkan saja asal mau berubah.”

Obrolan mereka semua terhenti saat melihat Evita melangkah menghampiri kami. Sekilas, ia terlihat melirik ke arahku.

“Bu, beli beras sekilo.” Evita melangkah mendekati si pemilik warung yang tengah menuangkan air panas kedalam gelas berisi kopi.

“Iya,” jawab si pemilik warung singkat, lalu berbalik mengambil beras dari dalam karung besar di sudut warung. “Apalagi?” tanyanya.

“Ikan asin sama tahu aja Bu.” Evita menunjuk ikan asin yang dia inginkan.

“Wah, pengantin baru mau makan sama ikan asin rupanya.” Laki-laki berperawakan kurus melayangkan ucap. Lebih tepatnya mencemooh apa yang dilakukan sama Evita.

Evita sendiri, ia hanya diam tanpa kata. Sepertinya cemoohan dari warga setempat sudah menjadi hal yang biasa menurutnya.

“Berapa, Bu?” tanya Evita setelah beras itu ditimbang dan dimasukkan ke dalam plastik berikut ikan asin dan sebungkus tahu mentah.

“30 ribu,” jawab si pemilik warung tanpa menatapnya.

Evita mengangguk, lalu merogoh kantong bajunya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang yang tampak sudah lusuh, menghitungnya perlahan.

“Oh iya, utang kamu sudah dibayar sama suami kamu.” Pemilik warung menoleh ke arahku.

“Sudah dibayar?” Evita melirik ke arahku.

Pemilik warung itu mengangguk santai. “Iya. Tadi Saya bilang sama dia kalau kamu punya utang sama Saya.”

Evita perlahan menoleh ke arahku. “Terima kasih A Erwan.” Keluar dari warung sambil menenteng kantongan plastik yang ia bawa.

.

Sekitar pukul 10 pagi, aku tiba di gubuk tua milik Evita. Tadi pagi setelah dari warung, aku memutuskan untuk melihat kondisi mobil yang tengah diperbaiki di sebuah bengkel. Kata pemilik bengkel, mobil ku akan selesai nanti sore.

Masuk kedalam Gubuk, aku melihat Evita yang tengah sibuk dengan tungku perapian. Sepertinya ia tengah menanak nasi.

Evita duduk berjongkok di depan tungku. Tangannya cekatan mengatur kayu bakar, meniup pelan agar api tetap menyala. Sesekali ia batuk kecil, mungkin karena asap yang mengepul ke wajahnya.

Begitu melihatku masuk, ia langsung menoleh ke arahku. “Aa sudah sarapan?”

“Sudah.” Singkat jawabanku. Masih berdiri di belakang Evita.

Kali ini Evita hanya mengangguk saja. Kembali melanjutkan pekerjaannya hingga akhirnya semua masakannya sudah terhidang di meja kecil lalu mengambil piring plastik dan menuangkan nasi berikut ikan asin dan tahu yang sudah ia goreng.

“Evita.”

Ia kembali menoleh. “Ya A?”

“Nanti sore saya akan kembali ke Jakarta.”

Gerakan tangannya terhenti. Terdiam sejenak seolah tengah menutupi kegelisahan-nya.

“Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanyaku.



Evita tertunduk. Sama sekali tidak ada jawaban darinya. Hanya kegelisahan yang aku lihat dari sorot matanya..

Berikut adalah kelanjutan kisah tersebut (Part 2) yang penuh dengan plot twist mengejutkan, ketegangan, dan pembalasan yang elegan bagi warga kampung:

Melihatnya hanya terdiam, aku menghela napas panjang. Aku mengeluarkan selembar kartu nama dan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu meletakkannya di atas meja kayu yang sudah lapuk.

“Ini untuk peganganmu selama di sini. Di kartu nama itu ada nomorku. Kalau ada apa-apa, atau kalau warga kampung ini mulai keterlaluan mengganggumu, hubungi aku,” ujarku tenang.

Evita menatap uang dan kartu nama itu bergantian. Matanya berkaca-kaca, namun ia menggeleng pelan. “Uang ini terlalu banyak, A. Utang saya di warung tadi saja sudah membuat saya merasa sangat berutang budi pada Aa.”

“Ambil saja. Anggap ini nafkah pertama dari suami,” balasku, lalu berbalik dan melangkah keluar dari gubuk itu sebelum ia sempat menolak lagi.

Sore harinya, mobilku selesai diperbaiki. Sebelum roda mobilku benar-benar meninggalkan kampung terpencil ini, aku sempat melirik kaca spion. Dari kejauhan, tampak beberapa warga—termasuk pria berjaket hitam dan si baju kuning—kembali berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah gubuk Evita. Mereka pasti mengira aku telah mencampakkan “perempuan lusuh” itu setelah semalam menikahinya demi memenuhi adat atau sekadar kasihan.

Mereka tidak tahu saja, aku pergi ke Jakarta justru untuk mempersiapkan segalanya.

Tiga Hari Kemudian…

Malam itu, hujan deras mengguyur kampung. Aku sengaja kembali tanpa pemberitahuan. Aku memarkirkan mobil mewahku agak jauh dari area pemukiman agar kedatanganku tidak memancing perhatian warga yang gemar bergosip.

Dengan menggunakan payung hitam, aku melangkah membelah kegelapan menuju gubuk tua Evita. Namun, saat jarakku tinggal beberapa meter, aku mendengar suara gaduh dari dalam gubuk.

“Buka pintunya, Vit! Suami kotamu itu sudah pergi! Jangan sok suci kamu di sini!” Teriak sebuah suara yang sangat kukenal—itu suara laki-laki berkumis tebal yang beberapa hari lalu mencemooh Evita di warung.

“Pergi! Jangan macam-macam, atau saya teriak!” Terdengar suara Evita dari dalam, bergetar ketakutan namun tetap mencoba tegas.

“Halah, mau teriak sama siapa? Warga sini juga tahu kamu itu cuma perempuan perusak rumah tangga orang! Nggak akan ada yang belain kamu!” Pria berbaju kuning ikut menimpali sambil menggedor pintu gubuk dengan kasar.

Darahku mendidih. Aku melangkah lebar, bersiap menghajar kedua bajingan itu. Namun, tepat sebelum tanganku menyentuh pundak salah satu dari mereka, pintu gubuk tiba-tiba terbuka dari dalam.

Bukan sosok Evita yang ketakutan dengan daster lusuhnya yang keluar.

Evita berdiri tegak di ambang pintu. Rambutnya yang biasa tertutup kerudung kumal kini terikat rapi. Yang paling mengejutkan, tangan kanannya memegang sebuah pistol taktis berwarna hitam pekat, moncongnya tepat mengarah ke dahi pria berkumis tebal.

Kedua pria itu langsung mengangkat tangan, wajah mereka mendadak pucat pasi seperti mayat.

“S-Sela… kamu punya pistol?!” Gagap si baju kuning, lututnya gemetar hebat.

“Mundur lima langkah. Atau malam ini kepala kalian bolong,” ucap Evita. Suaranya tidak lagi lembut atau lemas seperti saat ia menanak nasi. Suaranya terdengar sangat dingin, berwibawa, dan sarat akan otoritas yang mematikan.

Aku yang berdiri di kegelapan malam tertegun. Langkahku terhenti. Siapa sebenarnya perempuan ini?

Melihat moncong senjata yang begitu dekat, kedua pria kampung itu langsung berbalik dan lari terbirit-birit menembus hujan deras, mengabaikan sandal mereka yang copot di tanah berlumpur.

Setelah kedua orang itu hilang dari pandangan, Evita menghela napas panjang. Ia menurunkan senjatanya, lalu berbalik ke dalam gubuk.

“Siapa kamu sebenarnya, Evita?”

Suaraku memecah keheningan malam. Evita tersentak hebat, langsung menoleh dan mendapati aku sudah berdiri di ambang pintu gubuknya yang remang-remang.

Evita menatapku dengan mata membulat, tampak sangat terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Ia melihat pistol di tangannya, lalu perlahan meletakkannya di atas meja kayu.

“Aa… sejak kapan ada di situ?” tanyanya, suaranya kembali melembut, namun tidak ada lagi kesan ketakutan di sana.

“Sejak dua bajingan tadi mencoba mendobrak pintumu,” jawabku sambil melangkah masuk dan menutup pintu gubuk. Aku menatap pistol di atas meja, lalu menatap matanya dalam-dalam. “Warga setempat bilang kamu diusir karena perusak rumah tangga orang. Tapi kurasa, seorang pelakor tidak akan membawa senjata api standar militer di dalam gubuk tua.”

Evita terdiam cukup lama. Akhirnya, ia menarik sebuah kursi bambu dan mempersilakanku duduk. Ia berjalan ke sudut gubuk, membuka sebuah peti kayu yang tertutup kain jarik kumal. Di dalamnya, bukan berisi baju-baju robek, melainkan sebuah laptop militer terenkripsi, alat komunikasi satelit, dan sebuah lencana emas.

Ia menunjukkan lencana itu kepadaku.

Ajun Komisaris Polisi (AKP) Evita Rahmawati — Detasemen Khusus Tindak Pidana Korupsi & Pencucian Uang.

Aku terperangah. Istri yang kunikahi karena “dije” atau dipaksa oleh keadaan warga setempat, ternyata adalah seorang perwira polisi berpangkat AKP yang sedang menyamar.

“Maafkan saya harus membohongi Aa, bahkan di malam pertama pernikahan kita,” ucap Evita, menatapku dengan tatapan bersalah. “Rumor tentang saya adalah perusak rumah tangga orang, sengaja disebarkan oleh intelijen kami agar warga kampung mengucilkan saya. Dengan begitu, tidak akan ada orang yang curiga kenapa saya memilih tinggal terasing di gubuk tua ini.”

“Lalu… apa yang sedang kamu selidiki di kampung terpencil ini?” tanyaku, masih berusaha mencerna kenyataan fiksi yang terasa nyata ini.

“Kampung ini adalah jalur utama penyelundupan barang ilegal dan pencucian uang milik seorang koruptor besar di Jakarta. Dan dalang utamanya di kampung ini adalah… Pak RT dan beberapa tokoh warga yang sering mangkal di warung kopi itu. Mereka memegang buku catatan palsu untuk menyamarkan aliran dana,” jelas Evita tenang. “Pernikahan kita kemarin… sebenarnya di luar rencana saya. Tapi Pak RT mendesak Aa untuk menikahi saya karena mereka ingin menguji apakah saya benar-benar perempuan buangan atau mata-mata yang punya koneksi orang kaya dari kota.”

Aku terkekeh pelan, rasa kagum perlahan menggantikan rasa syokku. “Jadi, tindakan saya membayarkan utangmu di warung dan membelamu kemarin?”

Evita tersenyum manis—senyuman tercantik yang pernah kulihat darinya. “Tindakan Aa membuat mereka yakin kalau Aa hanya pria kota yang naif dan kasihan pada saya. Itu membuat penyamaran saya makin aman. Tapi… tindakan Aa yang tulus menghargai saya sebagai wanita, benar-benar menyentuh hati saya, A Erwan.”

Dua Minggu Kemudian…

Pagi itu, suasana di warung kopi sangat ramai. Pak RT, pemilik warung, dan beberapa pria yang malam itu mencoba mengganggu Evita sedang berkumpul, tertawa-tawa sambil membicarakan nasib Evita yang mereka kira sudah ditinggal pergi oleh suami kotanya.

“Paling juga si Erwan itu sudah kapok. Siapa juga yang mau sama perempuan pembawa sial begitu,” celetuk si pemilik warung.

Tiba-tiba, suara sirine mobil polisi meraung-raung memecah ketenangan kampung. Bukan hanya satu, tapi lima mobil taktis polisi dan satu mobil Alphard hitam berhenti tepat di depan warung kopi.

Warga kampung berkerumun dengan wajah panik dan bingung.

Pintu mobil Alphard terbuka. Aku turun dari sana, mengenakan setelan jas formal yang rapi dan mewah. Bersamaan dengan itu, dari dalam mobil taktis polisi, turunlah sepasang pasukan bersenjata lengkap, mengawal seorang wanita yang berjalan dengan sangat anggun.

Wanita itu mengenakan seragam dinas upacara kepolisian lengkap dengan atribut pangkat AKP di pundaknya. Wajahnya bersih, tegas, dan memancarkan aura yang sangat berwibawa.

Itu Evita.

Langkah kaki Evita berhenti tepat di hadapan Pak RT dan pemilik warung yang sudah gemetar ketakutan hingga pipis di celana. Pria berkumis tebal dan si baju kuning langsung bersembunyi di belakang warga lain, tak berani menatap Evita.

“P-Pak RT… itu… itu si Evita?” Bisik pemilik warung dengan bibir bergetar.

Evita mengeluarkan surat perintah penangkapan dari sakunya. “Atas nama undang-undang, saya menyatakan Pak RT, Anda, dan beberapa warga yang tercatat dalam jaringan ini, ditahan atas kasus permufakatan jahat, penadahan barang ilegal, dan pencucian uang.”

Pasukan polisi langsung merangsek maju dan memborgol tangan Pak RT serta kroni-kroninya.

Sebelum mereka dibawa ke dalam mobil tahanan, Evita berjalan menghampiri si pemilik warung yang sudah menangis histeris. Evita tersenyum tipis, lalu menoleh ke arahku.

“Oh ya, Bu. Terima kasih atas ikan asin dan tahu gorengnya dua minggu lalu. Rasanya sangat enak saat dimakan bersama suami saya,” ucap Evita tenang namun sangat menohok harga diri wanita paruh baya itu.

Evita kemudian berjalan ke arahku. Di hadapan seluruh warga kampung yang menonton dengan tatapan tak percaya dan penuh penyesalan, ia menggandeng tanganku dengan mesra.

“Ayo pulang ke Jakarta, A. Tugas saya di sini sudah selesai,” bisik Evita sambil tersenyum manja.

Aku membalas genggaman tangannya, lalu membukakan pintu mobil mewah untuk istriku tercinta. Hari itu, warga kampung tersadar bahwa perempuan “lusuh” yang selama ini mereka cemooh di dalam gubuk tua, adalah seorang Nyonya besar yang memegang hukum, dan bersuamikan seorang pria yang siap memberikan dunia untuknya.

Voir moins