Posted in

“Maaf, Ibu tidak bisa masuk tanpa undangan resmi! Ini area steril untuk tamu VIP dan keluarga inti perwira!”

“Maaf, Ibu tidak bisa masuk tanpa undangan resmi! Ini area steril untuk tamu VIP dan keluarga inti perwira!”

Suara tegas petugas provos di gerbang utama Markas Besar militer itu membuat nyaliku menciut sejenak. Aku berdiri di bawah terik matahari pagi yang menyengat, meme luk kardus besar berisi sisa-sisa kenangan pahit yang mulai terasa seberat bongkahan batu. Di sekelilingku, mobil-mobil mewah dengan pelat dinas militer berlalu lalang, membawa para perwira tinggi dan istri-istri mereka yang tampil anggun dengan kebaya Persit yang seragam, rapi, kaku, dan penuh kelas.

“Saya hanya ingin mengembalikan barang milik Lettu Pandu, Pak. Saya janji tidak akan lama,” ucapku, mencoba menahan getar di suaraku agar tidak terdengar seperti sedang mere ngek.

Petugas itu menatapku dari ujung kaki hingga ujung jilbab dengan tatapan yang sangat merendahkan. Di matanya, aku mungkin hanya seorang rakyat jelata yang ingin membuat keributan di hari besar ini. “Lettu Pandu sedang bersiap untuk upacara kenaikan pangkat. Ibu silakan tunggu di luar area markas jika tidak memiliki undangan resmi!”

Aku menggi git bibir bawahku, menahan rasa malu yang mulai menjalar ke seluruh tu buh saat beberapa orang yang mengantre di belakangku mulai berbisik-bisik. Mereka adalah keluarga-keluarga perwira yang tampak begitu elit. Aku hanyalah seorang guru desa dengan pakaian sederhana yang sudah sering dicuci, meme luk kardus bekas yang pinggirannya sudah sedikit sobek. Benar kata Pandu semalam, aku memang tidak sepadan berada di sini. Kehadiranku hanya akan menjadi no da di tengah kemilau baret dan lencana mereka.

Namun, bayangan wajah sombong Pandu dan senyum li cik Siska semalam kembali mencuat di benakku, memba kar sisa-sisa rasa takutku. Aku tidak boleh mundur. Aku harus membuang sampah ini sekarang, atau aku akan terus terc ekik oleh kenangannya seumur hidup.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku merogoh saku jaket kusamku. Aku mengeluarkan kartu nama kusam yang sudutnya sudah melengkung itu. “Saya … saya kenal dengan Pak Baskara Aditama. Beliau yang memberikan ini pada saya dua tahun lalu.”

Petugas provos itu awalnya menerima kartu itu dengan malas, namun sedetik kemudian, gerakannya membeku. Matanya membe lalak lebar saat membaca nama yang tertera di sana. Ia menatap kartu itu berkali-kali, lalu menatap wajah sembapku dengan pandangan tak percaya. Seolah-olah kartu di tangannya itu tiba-tiba berubah menjadi bom yang siap mele dak. Ia segera mengambil radio panggil di pundaknya dengan gerakan panik.

“Lapor! Ada seorang warga sipil di gerbang satu membawa kartu nama pribadi Bapak Pangdam. Ulangi, kartu nama pribadi berwarna emas. Siap, instruksi?”

Pangdam? Jantungku seolah berhenti berdetak. Dua tahun lalu, seingatku dia hanya seorang perwira menengah yang ramah dan bijaksana saat menolong sekolah kami. Aku benar-benar tidak tahu jika pria itu kini telah menjadi orang nomor satu di Kodam ini.

“Ibu … mohon maaf sebesar-besarnya. Saya tidak tahu,” ucap petugas itu, nada bicaranya berubah drastis menjadi sangat sopan, bahkan dia sedikit membungkukkan badannya. “Silakan ikut saya ke gedung utama. Biar kardusnya saya bawakan, Bu.”

“Tidak usah, Pak. Biar saya bawa sendiri. Saya hanya ingin mencari Lettu Pandu—”

“Instruksi atasan adalah membawa tamu Bapak Pangdam ke ruang transit VIP, Bu. Mohon kerjasamanya,” potong petugas itu dengan sikap hormat yang membuatku merasa sangat asing.

Aku berjalan dengan lutut lemas melewati lapangan upacara yang sangat luas. Di sana, ratusan prajurit berdiri tegak dalam barisan yang sempurna, menciptakan lautan loreng yang tampak sangat perkasa di bawah sinar matahari. Di kejauhan, di barisan para perwira muda yang baru saja naik pangkat, aku melihatnya. Pandu. Ia berdiri dengan dada membusung, dagunya terangkat angkuh seolah ia adalah pemilik dunia.

Di tenda undangan yang berhias kain merah putih, aku melihat Siska duduk bersanding dengan ibu-ibu pejabat lainnya. Siska tampak tertawa kecil sambil mengipasi wajahnya, sesekali merapikan kebaya mahalnya dengan gaya yang sangat dipaksakan agar terlihat seperti nyonya besar. Da daku sesak melihat pemandangan itu. Itu seharusnya tempatku. Tapi mereka telah mencurinya dengan cara yang paling ko tor.

Aku dialihkan ke sebuah lorong gedung utama yang lantainya terbuat dari marmer mengkilap. Suasananya sepi, dingin, dan sangat berwibawa. Setiap prajurit yang berpapasan dengan kami memberikan hormat tegak. Tak lama kemudian, dari balik pintu kayu besar, suara langkah kaki yang berat dan mantap terdengar mendekat.

Seorang pria dengan seragam lengkap, dengan dua bintang emas di pundaknya yang lebar, melangkah masuk ke ruangan. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang keras dan mata yang setajam elang. Namun, anehnya, sorot matanya yang dingin itu melembut saat melihatku. Mayor Jenderal Baskara.

Ia berhenti tepat di hadapanku. Bau parfumnya yang maskulin dan berwibawa memenuhi ruangan, membuatku merasa semakin kerdil.

“Ibu Gendis? Guru SD dari Sukamaju itu, kan?” Suaranya berat dan tenang, namun memiliki wibawa yang membuat siapa pun akan tunduk tanpa perlu dipaksa.

“I-iya, Bapak. Maaf saya lan cang datang kemari dan menggunakan kartu nama Anda untuk bisa masuk.” Suaraku tercekat di tenggorokan. Aku menunduk dalam, memerhatikan ujung sepatuku yang berdebu. Kardus di pelu kanku terasa semakin memalukan untuk dibawa ke hadapan pria sehebat dia.

Baskara tidak langsung menjawab. Ia menatap kardus yang kubawa, lalu beralih ke wajahku. Ia pasti melihat mataku yang bengkak, sisa tangis semalam yang tidak bisa kusembunyikan meski sudah kupoles bedak tipis-tipis. Sebagai seorang Jenderal, ia pasti sangat ahli membaca manusia. Tanpa aku perlu bercerita panjang lebar, ia seolah sudah tahu bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.

Ia hanya menunjuk ke arah lapangan upacara di mana Pandu sedang berdiri bangga. “Kamu datang untuk pria yang baru saja naik pangkat itu? Lettu Pandu?”

Aku terdiam, menarik napas panjang untuk menguatkan diri. “Saya ingin mengembalikan semua barang-barangnya, Pak. Hubungan kami berakhir semalam. Dia bilang … saya tidak sepadan berdiri di sampingnya karena saya hanya seorang guru desa yang kusam.”

Hening sejenak. Aku bisa merasakan aura di sekitar Baskara mendadak menjadi sangat dingin. Ia melihat ke arah lapangan melalui jendela besar, menatap sosok Pandu yang sedang tertawa som bong di sela barisan prajurit.

“Tidak sepadan, ya?” Baskara bergumam pelan, namun nadanya memiliki ketajaman yang mengerikan. “Lelaki yang baru saja memakai balok dua itu merasa dirinya sudah menjadi raja hingga lupa cara menghargai wanita yang menemaninya dari nol.”

Baskara berbalik ke arah ajudannya yang sejak tadi berdiri kaku di belakangnya. “Letnan, batalkan kehadiran saya di mimbar utama untuk sepuluh menit pertama. Bawa wanita ini ke ruangan Persit. Panggilkan tim tata rias terbaik dan penjahit. Berikan dia kebaya kasta tertinggi yang kita miliki.”

“Bapak? Apa yang Anda lakukan? Saya tidak bisa—” Aku terperangah, jan tungku berdegup kencang karena panik.

Baskara melangkah mendekat, satu langkah yang membuatku harus mendongak untuk menatap wajahnya. “Gendis, dengarkan saya. Kamu datang kemari untuk menagih harga diri yang dia injak-injak semalam, bukan?”

Aku mengangguk perlahan.

“Kalau begitu, kembalikan barang-barangnya dengan cara yang paling terhormat. Jangan biarkan dia melihatmu sebagai wanita lemah yang memohon. Biarkan dia melihatmu sebagai wanita yang tidak akan pernah bisa dia gapai lagi seumur hidupnya.” Baskara menatapku dengan sorot mata yang tak bisa dibantah. “Hari ini, di markas saya, kasta ditentukan oleh pangkat. Dan hari ini, saya akan meminjamkan ‘pangkat’ saya padamu agar pria itu tahu, siapa yang sebenarnya tidak sepadan di sini.”

“Tapi Pak … orang-orang akan salah paham,” bisikku ragu.

“Biarkan mereka salah paham. Itu bagian dari hukuman untuknya,” sahut Baskara dengan senyum tipis yang sangat dingin. “Sekarang pergi, bersiaplah. Kardus ini biar ajudan saya yang bawa ke bawah meja VIP. Saat saya memberi kode, kamu yang akan mengembalikannya langsung di depan semua undangan.”

Aku terpaku. Takdir macam apa ini? Guru SD yang baru saja dibuang ke lumpur dan dihina sebagai debu, kini sedang dipaksa duduk di singgasana kasta tertinggi militer oleh sang pemilik markas.

Lima belas menit kemudian, aku hampir tidak mengenali diriku di cermin. Kebaya beludru berwarna biru gelap dengan sulaman emas itu membungkus tu buhku dengan sempurna. Rambutku disanggul rapi, wajahku dipoles riasan yang membuatnya tampak tegas namun anggun. Aku bukan lagi Gendis yang berdebu.

Saat pintu ruang transit dibuka, Baskara sudah menungguku di sana. Ia mengenakan baretnya, lalu menawarkan lengannya padaku.

“Sudah siap, Gendis? Mari kita beri Lettu Pandu sebuah pelajaran tentang bagaimana cara menghormati seorang wanita.”.

Aku menarik napas dalam-dalam, memantapkan langkah, lalu menyambut uluran lengan kokoh Sang Jenderal. Sentuhan kain seragam dinasnya yang kaku memberikan dorongan kekuatan baru yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

Saat kami melangkah keluar dari gedung utama menuju lapangan upacara, suasana mendadak hening. Ratusan pasang mata yang tadi sibuk beramah tamah kini serentak tertuju pada kami. Beberapa perwira menengah yang berpapasan langsung mengambil sikap tegap dan memberikan hormat luar biasa khidmat. Namun, sorot mata mereka tak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang besar: Siapakah wanita anggun di sebelah Sang Pangdam?

Baskara menuntunku berjalan bukan ke arah barisan penonton, melainkan langsung menuju panggung VIP utama, tempat para pejabat teras dan istri-istri mereka duduk.

Dari kejauhan, aku bisa melihat sosok Pandu dan Siska. Pandu yang sedang memegang gelas minuman mendadak menghentikan tawa sombongnya. Matanya membelalak, menyipit tajam mencoba mengenali wajah wanita yang berjalan di samping orang nomor satu di Kodam itu. Ketika jarak kami mengikis hingga beberapa meter, gelas di tangan Pandu bergetar hebat. Siska yang berada di sebelahnya langsung berdiri dari kursi, wajahnya mendadak pucat pasi, kehilangan seluruh keangkuhannya.

“G-Gendis…?” gumam Pandu lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Aku tidak menoleh ataupun membalas tatapannya. Aku tetap berjalan anggun dengan pandangan lurus ke depan, dagu terangkat, persis seperti instruksi Baskara. Kami naik ke podium utama, dan Baskara mempersilakanku duduk di kursi VIP yang berada tepat di sebelah kursi kebesarannya.

Upacara seremonial dimulai. Suasana begitu megah, namun bagiku, atmosfer di sekitar panggung terasa sangat menegangkan. Pandu yang berdiri di barisan perwira baru tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya dariku. Sorot matanya penuh dengan badai kebingungan, ketakutan, dan penyesalan yang mendalam.

Begitu sesi ramah tamah dan ucapan selamat dimulai, Jenderal Baskara berdiri. Ia memegang mikrofon podium, membuat seluruh hadirin langsung terdiam senyap.

“Para perwira dan hadirin sekalian,” suara berat Baskara menggema kuat melalui pengeras suara. “Hari ini, selain merayakan kenaikan pangkat prajurit-prajurit terbaik kita, saya juga ingin memperkenalkan tamu kehormatan sekaligus keluarga dekat saya, Ibu Gendis. Beliau adalah pahlawan tanpa tanda jasa, seorang pendidik yang dedikasinya membangun moral bangsa di pelosok desa patut kita teladani.”

Tepuk tangan riuh membahana di seluruh lapangan. Di tengah gemuruh itu, aku bisa melihat tubuh Pandu gemetar hebat. Ia sadar, wanita yang semalam dia sebut “guru desa kusam yang tidak sepadan” kini sedang dipuji setinggi langit oleh atasannya yang paling tertinggi.

Baskara kemudian melirik ajudannya, memberi kode yang telah kami sepakati. Sang ajudan maju, membawa kardus besar yang pinggirannya sobek itu, lalu meletakkannya di atas meja utama.

“Kebetulan,” lanjut Baskara dengan senyum yang sangat dingin, matanya mengunci langsung ke arah posisi berdiri Pandu. “Ibu Gendis datang kemari juga untuk menyelesaikan sebuah urusan kecil yang tertinggal dengan salah satu perwira muda kita. Lettu Pandu, silakan maju ke depan podium!”

Mendengar namanya dipanggil langsung oleh Pangdam, lutut Pandu tampak lemas. Dengan sisa-sisa keberaniannya, ia melangkah maju membelah barisan, menaiki tangga podium dengan tubuh yang kaku. Ia melakukan penghormatan militer dengan tangan yang bergetar.

“S-Siap, Lapor Lettu Pandu menghadap, Jenderal!”

Baskara tidak membalas hormatnya. Beliau hanya melangkah mundur satu langkah, memberikan panggung sepenuhnya kepadaku. “Ibu Gendis, silakan.”

Aku berdiri dari kursi VIP. Dengan langkah tenang dan anggun dibalut kebaya beludru emas, aku berjalan mendekati Pandu. Di atas meja di antara kami, tergelar kardus usang berisi barang-barangnya—foto-foto lama, jam tangan murah pemberiannya, dan seragam dinas pertamanya yang dulu kucuci dan kusetrika dengan tangan sendiri saat dia belum jadi apa-apa.

“Lettu Pandu,” ucapku tenang, suaranya terdengar jelas oleh beberapa pejabat di sekitar podium. “Ini seluruh barang milikmu. Saya kembalikan semuanya tanpa tersisa sepeser pun.”

Pandu menatap kardus itu, lalu menatap wajahku dengan mata yang berkaca-kaca penuh penyesalan. “Gendis… maafkan aku… ini semua salah paham…” bisiknya dengan suara yang hampir habis, mencoba memohon.

“Tidak ada yang salah paham, Lettu Pandu,” sela Jenderal Baskara, melangkah maju dan berdiri tepat di sampingku, memberikan aura tekanan yang luar biasa berat hingga Pandu tertunduk dalam. “Kamu benar semalam. Ibu Gendis memang tidak sepadan berdiri di sampingmu. Karena tingkat kehormatan dan martabatnya, berada jauh di atas pangkat dan kepribadianmu yang kerdil.”

Kalimat Sang Jenderal bagaikan tamparan keras yang menghantam harga diri Pandu di depan umum.

Aku menatap Pandu untuk terakhir kalinya, bukan dengan rasa marah, melainkan dengan rasa kasihan. “Selamat atas kenaikan pangkatmu, Lettu Pandu. Semoga seragam baru itu bisa mengajari kamu cara menjadi manusia yang tahu bersyukur.”

Setelah mengatakan itu, aku berbalik memunggungi Pandu, berjalan berdampingan dengan Jenderal Baskara meninggalkan podium utama menuju ruang VIP dalam. Sayup-sayup di belakang, aku bisa melihat Siska yang terduduk lemas di kursinya, sementara Pandu hanya bisa berdiri mematung memeluk kardus bekas di hadapan bisik-bisik sinis dari para seniornya.

Hari ini, di markas militer ini, aku tidak hanya membuang sisa-sisa masa laluku. Bersama langkah kakiku yang anggun, aku telah mengambil kembali seluruh harga diriku yang sempat diinjak-injak, meninggalkannya terkubur di bawah kaki mereka yang tak pernah tahu cara menghargai ketulusan.