Posted in

“Kenapa kamu baru pulang, Risa? Kamu lihat, ibuku sampai harus mengepel dan mencuci baju.” Aku bahkan belum mengucap salam, tapi Mas Adit sudah lebih dulu mengomel di teras.

“Kenapa? Kenapa kamu gak suruh menantu barunya yang mengerjakan pekerjaan rumah? Apa istri baru kamu itu hanya mau melayanimu di r4njang saja, tanpa mau membantu pekerjaan rumah?” ejekku membuat Mas Adit tergeragap.

“Aku menikah dengan Mas Adit untuk jadi istrinya, bukan jadi pembantu!” teriak Nita dari dalam . Aku yang geram dengan jawabannya, segera masuk ke rumah dan menghampirinya.

“Apa kamu pikir aku bukan istrinya Mas Adit? Kamu pikir aku pembantunya, iya?” cecarku menatapnya dengan marah.

“Ya, bukan gitu maksudnya, mbak. Aku kan gak biasa pegang kerjaan rumah,” ucapnya membela diri.

“Ya kalau gitu kamu minta suami kamu buat cariin pembantu. Kalau kamu gak mau pegang kerjaan rumah, aku juga gak mau jadi babu di rumah ini.” Aku menatap Nita dengan sengit. Enak saja dia mau enak-enakan di rumah ini.

“Mas, aku gak mau ngerjain kerjaan rumah,” rengeknya manja sambil bergelayut di lengan suamiku, yang mana itu juga suaminya. Benar-benar situasi yang menyebalkan.

“Terus siapa yang beresin rumah, Nit? Kamu tega biarin ibu ngerjain semuanya? Lihatlah, ibu sudah tua. Harusnya beliau tak lagi disibukkan dengan urusan pekerjaan rumah.” Lembut sekali Mas Adit menasihati istri mudanya.

“Sebelum ada aku, kan Mbak Risa yang biasa ngerjain semuanya. Kenapa sekarang jadi aku yang disuruh?” keluhnya memanyunkan bibir. Jijik sekali aku melihat tingkahnya.

“Kamu dan Risa punya kewajiban yang sama, Nit. Hak kalian juga sama, kan? Jadi seharusnya kamu juga turut andil mengurus kebersihan rumah ini. Karena kamu juga bagian dari keluarga ini.”

Aku memutuskan masuk ke kamar karena muak melihat drama membosankan di depan mata. Lebih baik aku mandi lalu beristirahat, sebelum membuat makan malam. Tak kupedulikan rengekan Nita yang terus meminta untuk dicarikan pembantu.

***
“Ris, kalau kita ambil pekerja, kira-kira budget nya sampe gak ya?” tanya Mas Adit saat aku hendak menarik selimut.

“Gak ada,” jawabku jutek.

“Ayolah, Ris. Pasti kamu bisa kan sisihkan sedikit untuk gaji asisten,” bujuknya lagi dengan wajah memelas.

“Kalau dia pengen ada asisten, suruh dia bayarin sendiri.” Aku langsung menutup seluruh tubuhku dengan selimut tanpa berniat meladeninya lagi.

Berulang kali Mas Adit mencoba merayuku, tapi tak kuhiraukan dan lebih memilih pura-pura tidur.

***

“Capek aku, Pak, biasanya Risa gak pernah biarin ibu sekedar pegang sapu. Sekarang, baju aja ibu cuci sendiri. Yaa walaupun pakai mesin, tapi tetep aja jemur sama lipet baju kan pegel.” Kudengar keluhan ibu mertua saat aku melintas di depan kamar yang pintunya sedikit terbuka.

Sebenarnya aku kasihan membiarkan ibu mertua mencuci sendiri, tapi apa boleh buat dia yang bersikeras ingin punya menantu baru. Jadi kuberi ia kesempatan merasakan punya menantu selain aku. Selama ini kujadikan ia ratu di rumah ini. Tapi rupanya ia sudah bosan, dan ingin merasakan menjadi pelayan.

“Lagian ibu sih, pakai acara ngotot nyuruh Adit nikah lagi. Selama ini kita hidup enak, makan dan kebutuhan pribadi kita bahkan sudah terpenuhi semua. Sekarang ibu tahu, bapak udah jarang ngopi di warung. Semenjak Adit menikah, jatah kita ikut dip0tong karena ada anggota keluarga baru. Tentu saja kebutuhan rumah jadi meningkat. Ibu sadar gak sih?” Panjang sekali bapak mertuaku menasihati istrinya. Dari dulu ia memang selalu bersikap netral dan realistis. Tak pernah benar-benar berpihak siapapun.

“Ya ampun ibu!” Suara teriakan Nita menggema, mengagetkanku yang sedang menguping pembicaraan mertua. Aku menghampiri asal suara dengan setengah berlari. Penasaran dengan apa yang membuat adik maduku itu berteriak marah.