“Cek cctv di semua area kantor.”
“Siap, Bos.”
“Kalau udah ketemu siapa orangnya, kirim ke saya.”
“Baik.”
Aldi terkekeh setelah telpon terputus. Segampang itu padahal melihat siapa dalang dari semuanya yang telah merencanakan hal ini.
Pria itu merasa menang banyak sekarang dari istrinya. Ia berjoget-joget ria karena sebentar lagi akan mendapatkan apa yang dia inginkan dari sang istri.
Tak butuh waktu lama, satu pesan masuk ke ponsel pria itu. Dengan cepat ia membukanya. Cctv menunjukan kejadian saat ada seseorang yang mengambil barang dan dengan sengaja memasukannya di tas Rania.
Wajah Aldi yang semula sangat bahagia, kini wajahnya datar kembali karena ternyata orang itu memakai jaket hitam dan tidak terlihat wajahnya.
“Eh, tapi kan sudah tau kalau bukan Rania yang lakuin.” Wajah pria itu kembali berseri, dan dengan penuh percaya diri keluar dan ingin menunjukan keajdian itu pada karyawannya.
Ia meminta semuanya untuk kumpul dan melihat kejadian yang sebenarnya. Kapan waktu orang itu mengambil barang, dan saat itu sedang di mana Rania berada.
Semua orang di sana mengangguk dan merasa bersalah karena telah terlanjur menuduh Rania. Sebagian dari mereka ada yang meminta maaf, tapi juga yang hanya diam dan menganggap semua ini hanya keisengan semata.
Aldi meminta mereka untuk kembali bekerja. Sedangkan Siska dan Nita diam-diam mengacungkan jempol satu sama lain. Mereka berpikir mereka itu pintar karena terpikir lebih dulu untuk tidak menampakan wajah.
“Kamu ikuti saya.”
Rania dengan malas membuntuti suaminya itu. Di dalam, Aldi tersenyum penuh arti, sedangkan Rania menatap dengan bingung karena suaminya itu senyum-senyum sendiri sedari tadi.
“Ada apa?” tanya Rania, ia tidak ingin lama-lama ada di ruangan berdua dengan suaminya itu.
“Kamu lupa perjanjian kita?”
“Enggak,” kata Rania.
“Bagus kalau begitu. Ya udah, langsung aja. Aku mau….”
“Mau apa? Kan perjanjiannya juga kita semua tau siapa yang udah lakuin itu, siapa yang udah memfitnah aku. Baru kamu bisa minta sesuatu. Ini pelakunya aja belum ditangkap udah minta-minta aja. Udah ah, aku sibuk!”
Rania pergi kembali ke tempatnya. Sedangkan Aldi hanya bisa menganga mendengar ucapan istrinya. Jika di pikir lagi, ada benarnya juga. Kan pelakunya belum diketahui siapa.
Aldi tertunduk dengan tubuh yang mendadak tak semangat. Gagal deh mendapat apa yang ia mau selama ini.
***
Setelah makan malam, semua orang sudah masuk ke kamar. Aldi yang juga sudah di ranjang tapi masih memainkan ponsel dan duduk. Ia merasa mual dan ingin muntah.
Cepat ia berlari ke kamar mandi, dan mengeluarkan semua makana yang tadi. Ia merasa kepalanya pusing dengan badan yang keringat dingin.
Jalan pun sampai ingin jatuh, beruntung Rania yang baru masuk setelah menidurkan Azka, dia dengan sigap menahan agar sang suami tidak jatuh ke lantai.
“Mas, kamu kenapa?”
Lesu sekali Aldi menggelengkan kepalanya. Rania membawanya untuk tidur di ranjang.
“Kamu keringat dingin begini. Pusing?”
“Iya, aku mual, pusing. Badanku gak enak rasanya.”
Rania meminta Aldi untuk diam di atas kasur. Ia mencari-cari koin di tasnya, kemudian mengambil minyak angin yang biasa ia bawa.
“Buka bajunya!”
“Hah? Ja—jangan sekarang, aku lagi begini. Nanti kamu gak puas lagi.”
“Ishh, pikirannya.” Rania menggeleng, pusing lama-lama menghadapi suaminya itu.
Ia membantu Aldi untuk duduk. Dan tanpa ba-bi-bu ia membuka baju yang dikenakannya, dan membalikan badan pria itu.
“Aaaa!” Aldi yang tak biasa di kerok, ia berteriak kesakitan sampai badannya melenting-melenting seperti pria tulang lunak.
“Suttt, diem! Ini kamu masuk angin.”
“Iya tapi sakiitt!”
“Udah diem dulu. Tuh merah banget!”
Aldi menggigit selimut untuk melampiaskan rasa sakitnya. Ia berbapas tersegal-segal saat Rania sudah selesai mengerok badannya.
Wanita itu mengambil tempat obat dan memberikan obat masuk angin pada sang suami.
“Pake lagi bajunya, dan minum obat ini. Aku mau bikinin kamu teh anget dulu.”
Dia ke bawah membuat teh, kemudian kembali lagi. Tapi saat ingin menaiki tangga, Mbok Nem yang keluar dari kamarnya tersenyum pada Rania.

“Jangan kenceng-kenceng, Neng, kasian Den Aldinya.”
Mendengar itu Rania hanya bisa bengong, otaknya tak sampai mencerna kata-kata si Mbok Nem.
Ia kembali ke atas, di sana Aldi sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
“Nih minum tehnya. Biar badannya angetan.” Ia mengusap-usap pundak sang suami saat Aldi meminum teh itu sampai tandas.
“Dah istirahat. Kalau besok masih kurang enak badan, gak usah kerja, ya.”
“Hmmm.” Aldi membenarkan posisi tidurnya yang miring menghadap Rania.
Sedangkan wanita itu memijat kepala sang suami yang membuat Aldi menikmatinya dan tak lama ia tertidur.
Diam Rania memperhatikan wajah suami keduanya itu. Halisnya tebal, hidungnya mancung. Wajahnya bersih, jujur ia akui Aldi memang tampan, mungkin karena itu lah banyak perempuan yang terobsesi padanya.
“Sayang sekali kamu, Mas. Dengan parasmu yang tampan, usahamu yang sukses. Kamu malah melanjutkan hidup dengan seorang wanita yang sudah pernah berumah tangga. Dengan seorang wanita yang ditinggal meninggal oleh suaminya. Harusnya kamu sekarang hidup bahagia dengan seseorang yang sepadan denganmu. Dan itu bukan aku.”
Rania kembali merasa bersalah, ia bangkit dan membuka sedikit gorden. Ia menatap kosong ke arah bulan. Sejauh mana takdir akan membawanya.