Saldonya hanya 200 ribu, Bu, bukan 160 juta,” ucap petugas bank saat aku akan mengambil uang yang aku tau sudah berjumlah 160 juta
Terus kemana uang yang selama ini aku tabung selama ini? Padahal aku selalu rutin nabung di bank 4 juta setiap bulannya dan rutin selama 5 tahun
Setelah diselidiki pihak kepolisian, ternyata ada seseorang yang mencurinya, dia adalah ….
****
“Ya iya, salahmu. Makanya jangan apa-apa langsung diceritain sama mereka. Kalau kejadian kayak gini kan kamu sendiri yang bingung!”
Emosi seketika tersulut.
“Bisa gak sih dalam kondisi kayak gini jangan nyalahin? Memang aku bakalan tau kalau ke depannya bakalan kayak gini?!” tukasku, meluapkan rasa kesal. Siapa juga yang mau mengalami hal seperti ini?
Uang ratusan juta yang aku kumpulkan dengan bersusah payah hilang begitu saja.
“Itu memang salahmu!” Mas Raka semakin tampak emosi.
Ia meraup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, lalu berkata,”Kalau kamu gak cerita, minimal gak tambah bingungnya. Mau gak mau harus bicara jujur, bilang saja kalau uangnya hilang. Siapa tau mereka bisa ganti.”
Bugh!
Bantal kulempar tepat mengenai wajahnya. Mudah sekali dia berbicara. Meminta ganti uang ke orangtuaku sedangkan aku sendiri tidak bisa memberikan kehidupan yang baik.
Mas Raka berdecak kesal, kemudian ia berbaring miring, memunggungiku. Aku menatap punggung Mas Raka yang bergerak naik turun seiring napas teraturnya.
Bagaimana bisa dia tidur senyenyak itu setelah melontarkan kalimat yang begitu menyakitkan? Rasanya, lelaki yang tidur di sampingku ini bukan lagi Mas Raka yang dulu meminangku dengan janji-janji manis.
Aku melirik ransel di samping tempat tidur. Di dalamnya ada seratus juta—harta terakhir yang harus kujaga dengan nyawaku. Aku tahu, jika bantal dan lemari saja bisa mereka obrak-abrik, maka tidak ada satu sudut pun di kamar ini yang aman.
Perlahan, aku beranjak ke kamar mandi sambil membawa ransel itu, memastikan Mas Raka tidak terbangun. Aku mengambil beberapa plastik klip transparan dan bungkusan pembalut yang baru kubeli.
Aku membagi uang itu ke dalam beberapa bagian. Sebagian besar kumasukkan ke dalam plastik, lalu kuselipkan di antara tumpukan pembalut di dalam wadahnya. Aku tahu, laki-laki seperti Mas Raka atau ibu mertuaku akan merasa risih atau tak terpikir untuk menggeledah isi kotak pembalut wanita.
Sisa uangnya, kulilitkan di pinggang menggunakan korset kain di balik dasterku.
Uang di korset ini terasa mengganjal dan panas di kulitku, tapi setidaknya inilah satu-satunya cara agar mereka tidak bisa menyentuhnya tanpa membangunkanku. Malam ini, aku tidur dengan kewaspadaan penuh.”
Sungguh, karena kejadian itu aku tidak bisa lagi percaya dengan siapapun, termasuk suamiku sendiri. Pasalnya aku yakin jika pelakunya tak jauh dari anggota keluarga sendiri.
Pagi menyapa dengan udara yang terasa berat. Aku terbangun dengan kepala berdenyut, efek dari perdebatan semalam dengan Mas Raka yang berakhir buntu. Sisi tempat tidur di sampingku sudah kosong.
Aku melirik jam di dinding, baru pukul enam pagi.
Masih dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, aku beranjak keluar kamar. Tenggorokanku terasa kering, aku butuh air minum. Saat melewati ruang tengah, rumah terasa sepi, namun aku mendengar sayup-sayup suara dari arah pintu belakang dekat jemuran.
Langkahku terhenti. Aku tidak jadi ke dapur, melainkan berjingkat menuju pintu belakang yang sedikit terbuka. Di sana, di bawah pohon mangga, aku melihat Mas Raka sedang berdiri diapit oleh Mama Mertua dan Mbak Norma. Wajah mereka tampak tegang, jauh dari kesan ramah yang mereka tunjukkan kemarin sore.
“Raka, kamu harus tegas! Sepuluh juta saja, masa Nada nggak mau kasih? Uangnya masih nganggur juga kan jadi gak apa-apa lah aku pakai dulu?” Suara Mbak Norma terdengar mendesak, penuh tuntutan.
“Susah, Mbak. Nada sekarang curigaan. Gara-gara uang seratus enam puluh juta itu hilang, dia jadi nggak percaya sama siapa pun, termasuk suaminya sendiri,” jawab Mas Raka dengan nada frustrasi.
Aku membeku di balik pintu. Tanganku secara refleks meraba daster, mencari ponsel di saku. Begitu menemukannya, aku segera menekan tombol record. Aku harus punya bukti.
“Ya kamu rayu! Bilang saja kalau rumah ini nggak aman buat simpan uang tunai. Bilang kalau mending uang itu didepositokan atas nama kamu, sedangkan rekening dia sedang bermasalah,” Mama Mertua menimpali, suaranya terdengar dingin dan penuh muslihat.
“Aku sudah coba semalam, Ma. Malah kami berantem. Dia nggak gampang dibohongi lagi,” sahut Mas Raka.
Mbak Norma mendengus kasar. “Masalahnya aku butuh banget uang itu, Raka!”
Mas Raka tampak menggaruk kepalanya. Jarak antara kami tidak lah jauh, jadi aku bisa mendengarnya denga jelas.
“Kalau gak bisa pakai cara baik, yasudah ambil saja diam-diam itu uangnya. Aku yakin dia simpan uangnya di rumah, terlalu beresiko kalau dia bawa uang itu kemana-mana Apalagi dibawa ke pabrik,” imbuh Mbak Norma..
“Utang di rentenir besok sudah jatuh tempo, Raka. Kalau gak aku bayar bisa-bisa motormu besok yang ditarik.”
“Loh, kok jadi motorku?!”
“Iya, soalnya aku pakai BPKB motormu buat jaminan. Makanya kamu bantu buat Nada kasih uang itu!”
Aku terperangah mendengarnya, sampai-sampai membuat tubuh ini membeku.
Sungguh, aku tidak menyangka kalau Mbak Norma senekat itu. Apalagi dari respon Mas Raka yang kaget, membuatku yakin kalau Mas Raka tidak tau menahu perkara surat motornya yang dijadikan jaminan.
“Oke, oke. Nanti aku coba cari di mana dia sembunyikan uang itu pas dia mandi. Dia hari ini harus kerja, itu waktu kita buat geledah kamarnya lagi,” ujar Mas Raka akhirnya, menyerah pada desakan dua wanita itu.
Cukup.
Aku mematikan rekaman itu dengan tangan yang gemetar hebat. Kemarahan yang luar biasa kini mengambil alih rasa sedihku.
Mereka berencana untuk mengambil sisa uangku.

Aku segera berbalik, kembali ke kamar dengan langkah seringan mungkin. Aku duduk di tepi ranjang, menatap tas ranselku yang berisi uang seratus juta yang semalam kupindahkan ke dalam wadah pembalut dan korset kain.
Tak lama, kudengar langkah kaki Mas Raka mendekat. Aku segera menarik selimut, pura-pura kembali terlelap. Begitu pintu kamar terbuka, aku bisa merasakan kehadirannya di sampingku…
Begitu pintu kamar terbuka, aku bisa merasakan kehadirannya di sampingku. Mas Raka berdiri diam selama beberapa saat, mungkin memastikan apakah aku benar-benar tertidur. Tatapannya terasa dingin, menembus selimut yang menutupi tubuhku.
Setelah memastikan tidak ada pergerakan dariku, kudengar langkah kakinya menjauh ke arah lemari pakaian, lalu terdengar suara ritsleting tas ranselku dibuka dengan sangat perlahan.
Sreeek…
Jantungku bertalu-talu. Di dalam hati, aku tersenyum sinis. Silakan cari, Mas. Cari sampai kamu lelah. Tas itu sudah kosong. Uang seratus juta itu kini melekat di tubuhku, terbalut aman di dalam korset kain yang melilit pinggangku, dan sebagian lagi tersembunyi di tempat paling tabu bagi seorang pria: kotak pembalutku.
Setelah beberapa menit mengobrak-abrik tas dan laci meja rias tanpa hasil, Mas Raka menghela napas kasar. Ia berjalan keluar kamar dan menutup pintu dengan sedikit dentuman.
Aku langsung membuka mata. Emosiku sudah di ubun-ubun, tapi aku harus cerdik. Aku tidak boleh langsung melabrak mereka sekarang. Jika aku hanya meributkan sisa uang seratus juta ini, bagaimana dengan nasib uang $160$ jutaku yang hilang di bank?
Tunggu. Rekening bank.
Otakku mendadak berputar cepat. Selama lima tahun ini, aku selalu menyetor uang tunai titipan ke bank, atau terkadang… aku menitipkannya pada Mas Raka jika aku lembur di pabrik. Dan kartu ATM-ku? Selama ini disimpan di dompet khusus di dalam rumah.
Aku segera bangkit, menyambar ponsel, dan mengirimkan rekaman suara tadi ke nomor WhatsApp pengacaraku dan seorang sepupuku yang bekerja di kepolisian.
“Mas Helmi,” ujarku saat menelpon sepupuku dengan suara berbisik. “Aku punya bukti rencana pencurian sisa uangku oleh suamiku dan keluarganya. Dan tolong… selidiki lagi rekening bankku yang terkuras. Aku curiga ini bukan pembobolan oleh orang asing.”
“Kamu tenang, Nada. Jangan tunjukkan kalau kamu tahu rencana mereka. Bersikaplah biasa saja. Jam sembilan nanti, datang ke kantor polisi, aku akan bantu urus semuanya,” jawab Mas Helmi di seberang telepon.
Aku keluar kamar dengan wajah datar, berpura-pura baru bangun tidur. Di meja makan, Mama Mertua dan Mbak Norma sudah duduk manis, sementara Mas Raka menyeruput kopinya dengan gelisah.
“Eh, Nada sudah bangun. Sini sarapan,” sapa Mama Mertua, manis sekali, kontras dengan suara dinginnya di bawah pohon mangga tadi subuh.
“Nggak usah, Ma. Nada agak telat, mau langsung berangkat ke pabrik,” jawabku dingin. Aku sengaja membawa tas ransel kosong itu di pundakku, memancing reaksi mereka.
Mata Mbak Norma dan Mas Raka langsung tertuju pada tas itu. Kilatan kecewa dan panik terpancar di wajah mereka karena mengira aku membawa seluruh uang itu ke pabrik.
“Loh, Nada… tasnya kok dibawa-bawa? Berat kan? Taruh di rumah saja, aman kok,” bujuk Mas Raka, mencoba meraih tali tas dari pundakku.
Aku menghindar dengan halus. “Nggak apa-apa, Mas. Lebih aman aku bawa.”
Tanpa memedulikan wajah-wajah mereka yang mendadak pias, aku melangkah keluar rumah. Tapi aku tidak pergi ke pabrik. Aku langsung memesan taksi daring menuju kantor polisi.
Di Kantor Polisi
Di ruang penyidik, ditemani Mas Helmi, semua tabir gelap itu akhirnya terbuka lebar. Pihak bank telah menyerahkan data rekening koranku atas permintaan kepolisian.
“Mbak Nada,” ujar petugas penyidik sambil menyodorkan selembar kertas tebal. “Uang Anda tidak hilang karena sistem bank dibobol. Uang Anda dikuras secara berkala melalui penarikan ATM dan mobile banking yang terdaftar atas nomor ponsel lain.”
Aku mengerutkan kening. “Tapi saya tidak pernah mendaftarkan mobile banking, Pak.”
“Benar. Tapi pelaku memalsukan tanda tangan Anda, membawa buku tabungan dan KTP Anda yang asli saat Anda bekerja, lalu mendaftarkan nomor baru. Dan dari hasil pelacakan CCTV di beberapa mesin ATM selama setahun terakhir…”
Petugas itu memutar sebuah video di layar laptop.
Duniaku serasa runtuh. Di dalam video itu, seorang pria dengan jaket yang sangat kukenal—jaket pemberianku saat ulang tahunnya—sedang memasukkan kartu ATM-ku dan menarik uang tunai berulang kali. Di belakangnya, bersandar di motor, tampak Mbak Norma menunggu dengan tidak sabar.
Pria itu adalah Mas Raka.
Ternyata, uang $160$ juta itu bukan hilang sekaligus, melainkan dikuras sedikit demi sedikit selama dua tahun terakhir oleh suamiku sendiri demi membiayai gaya hidup Mbak Norma dan membayar utang-utang judi online suaminya Mbak Norma. Dan Mas Raka menutupinya dengan berpura-pura ikut terkejut saat aku mendapati saldonya sisa 200 ribu rupiah.
“Tangkap mereka sekarang, Pak,” ucapku. Suaraku tidak lagi bergetar karena sedih, melainkan karena kebencian yang mendalam. “Tangkap mereka semua.”
Akhir dari Segalanya
Siang itu, rumah mertuaku mendadak gempar. Dua mobil polisi datang dan langsung mengepung rumah saat Mas Raka, Mama Mertua, dan Mbak Norma sedang sibuk membongkar lemari pakaianku—mencari uang seratus juta yang mereka kira kusembunyikan di kamar.
“Angkat tangan! Jangan bergerak!”
Mas Raka terperanjat sampai menjatuhkan kotak pembalutku yang akhirnya mereka bongkar. Dari dalam kotak itu, bungkusan plastik berisi uang puluhan juta berhamburan ke lantai.
“Nada! Apa-apaan ini?!” teriak Mas Raka saat melihatku masuk bersama polisi. “Kamu menjebak suamimu sendiri?!”
“Aku tidak menjebakmu, Mas. Kamu yang menjebak dirimu sendiri dalam keserakahanmu,” sahutku lantang, menatapnya dengan pandangan paling jijik yang pernah kupunya.
Mbak Norma langsung menangis histeris saat borgol besi mengikat pergelangan tangannya. “Nada, tolong! Aku punya utang rentenir, kalau aku dipenjara, bagaimana nasib anak-anakku?!”
“Lalu bagaimana dengan nasib keringatku selama 5 tahun ini, Mbak?! Aku bekerja dari pagi sampai malam, menghemat setiap rupiah, sementara kalian menikmatinya seperti parasit!” pekikku, meluapkan seluruh rasa sakit yang kupendam.
Mama Mertua bersujud di kakiku, memohon belas kasihan. “Nada, maafkan Mama… Mama yang menyuruh Raka. Jangan penjarakan anak-anak Mama…”
Aku menarik kakiku menjauh. “Hukum harus tetap berjalan, Ma. Semua bukti, mulai dari rekaman suara subuh tadi, mutasi rekening, hingga rekaman CCTV ATM, sudah di tangan polisi. Selamat menikmati hasil perbuatan kalian.”

Mas Raka diseret masuk ke dalam mobil polisi dengan wajah tertunduk layu. Tidak ada lagi sisa-sisa kesombongan dari pria yang semalam membentakku dan menyalahkanku.
Satu minggu kemudian, aku resmi memasukkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Uang seratus juta yang berhasil kuselamatkan kugunakan untuk menyewa kontrakan baru yang tenang dan memulai usaha kecil-kecilan. Meskipun uang $160$ jutaku belum tentu bisa kembali sepenuhnya karena telah habis mereka pakai, aku tidak peduli.
Aku kehilangan uang, dan aku kehilangan suami. Namun, aku mendapatkan kembali harga diriku, ketenanganku, dan kebebasanku dari keluarga toxic yang hampir menghancurkan hidupku. Pagi ini, di rumah baruku, udara terasa begitu ringan untuk dihirup. Aku tahu, masa depanku akan baik-baik saja tanpa mereka.