Posted in

DEMI PENUHI NGI-DAMKU, AKU DAN KELUARGA KECILKU BERLIBUR KE VILLA.

DEMI PENUHI NGI-DAMKU, AKU DAN KELUARGA KECILKU BERLIBUR KE VILLA.

TAPI SESUATU MENIM-PA KAMI.

MOBIL YANG KAMI NAIKI TERGE-LIN-CIR DAN …….

D U AR!!!!!

LED4-KAN ITU MENYA-Y4T HATI.

SUAMIKU ……

“Syifa, tunggu!”

Teri akan itu tak jua menyurutkan langkahku untuk terus menye ruak keru muan pengunjung Mall.

Si al sekali. Kenapa juga harus berbarengan dengan datangnya artis ibukota di Mall ini?

Jadilah aku makin su sah menge jar orang yang mirip dengan Mas Langit itu.

Tidak, dia bukan mirip, tapi dia Mas Langit. Aku yakin itu.

Demi apapun di dunia ini, aku tidak salah lihat.

Itu memang Mas Langit, suamiku. Apa yang membuatnya ada di sini, jadi pertanyaan besar untukku?

Kalau dia Mas Langit lalu siapa yang dima kamkan itu?

“Hey jangan do rong-do rong dong!” Tu buhku di do rong balik, entah oleh siapa.

“Sabar dikit kek!” Tak sedikit yang mema kiku.

Bahkan ada yang meno yor kepalaku.

“Antri, semua juga mau minta foto.”

Aduh Gusti!

Mereka pikir mungkin aku mau bertemu artis, padahal bukan!

Aku mana perduli sama para artis itu.

Tapi begitu aku berhasil menye ruak kerumunan.

“Lho Mas Langit kemana ya? Kok gak ada?”

Di depanku tak ada orang tadi.

Aku yakin tadi melihat Mas Langit di depan toko ini.

Hatiku kian tak karuan.

“Mas! Mas Langit!”

Aku kembali mencari dan memutar tu buhku.

Jangan-jangan dia masuk ke toko kemeja ini?

Lantas aku masuk ke toko kemeja dengan me rek ma hal.

Aku ingat, ini me rek yang Mas Langit kenakan.

“Selamat siang Bu, ada yang bisa saya bantu?”

Salah satu pegawai toko menghampiriku yang seperti orang kebingungan.

“Mbak, aku … aku cari Mas Langit.”

Mataku meli arkan seluruh ruangan.

Bahkan aku masuk kian ke dalam.

“Ibu, tunggu.”

Lenganku dice kal.

“Maaf, tadi ibu cari siapa?” tanya pegawai itu.

“Aku cari suamiku, tadi aku lihat dia berdiri di depan toko ini. Apakah dia masuk ke dalam?” tanyaku yang heran, karena toko ini sepi sekali.

“Sejak tadi toko kami sepi bu. Belum ada yang belanja.”

Raut wajah pegawai toko itu tampak sen du.
Lalu kembali kutatap ruangan itu.

Tak ada Mas Langit. Hanya ada para pegawai yang berdiri menatapku bak orang aneh.

“Syifa!”

Dina akhirnya bisa menyusulku.

“Maafkan teman saya ya Mbak. Dia baru saja kehilangan suaminya,” ucap Dina pada para wanita cantik di ruangan itu.

Tanganku dita rik setengah pak sa.

“Dina, suamiku kok gak ada?” tanyaku tak terima.

“Syifa.”

Dina mence kal lenganku dengan napas ng os-ng osan.

“Kamu lihat kan tadi? Kamu lihat kan kalau itu Mas Langit?” ce carku.

Aku yakin aku gak salah lihat.

Entah kenapa Dina menggeleng.

“Dia hanya mirip Syifa. Suamimu Langit sudah mening gal.”

“Mirip apanya!” hen takan tanganku seiring dengan suaraku yang mening gi.

“Itu memang suamiku, Dina!” ke tusku.

“Sadar Syifa! Sadar!” ben tak Dina tak mau ka lah.
Kami saling tatap.
Mata kami sama berkaca-kaca.

“Kamu sudah berusaha sejauh ini. Bang kitlah Syifa. Kamu harus sadar kalau suamimu sudah diku burkan.”

Air mataku jatuh perlahan.

Ya Tuhan.
Apa memang tadi aku salah lihat?

“Tapi tadi-“ Bi birku kelu.

“Itu hanya mirip. Tapi aku pastikan dia bukan Langit. Kalau dia Langit, teriakanmu akan di dengar dan dia pasti menoleh, tapi nyatanya gak kan? Kamu sudah teriak sedemikian kencang dan dia pergi. Itu artinya dia bukan Langit. Dia bukan suamimu.”

Dina meraih telapak tanganku.

“Kamu sudah tunjukkan padaku selama ini kalau kamu ibu yang he bat. Kamu mampu menjadi ayah dan ibu untuk Raja dan Fania. Jangan sampai semua sia-sia.”

Kutarik napas perlahan. Menutup mata demi hem paskan semua bayangan tentang suamiku.

“Kamu benar,” bisikku.

“Dia tak menoleh kala aku panggil. Itu artinya dia bukan Langit. Dia bukan suamiku.”

Ba huku direng kuh Dina.

“Sudah sejauh ini Syifa. Ikhlaskan Langit. Kamu gak bisa pulang dengan membawa harapan kalau kamu bertemu Langit di sini. Pikirkan Fania yang sudah menerima kepergian Papanya selama dua tahun ini.”

Kutarik napas dalam-dalam.

Tuhan, maafkan aku. Aku kembali ra puh.

“Maafkan aku ya.”

Kupak sa senyum dihadapan Dina.

Dina mengangguk.
“Jangan ulangi lagi, please? Kamu buat aku takut,” ucapnya.

Baiklah, kali ini aku berjanji. Siapapun yang aku temui meski itu sangat amat mirip, aku tak berhak menganggap dia itu suamiku, Langit. Gak boleh. Suamiku sudah tiada. Sudah dima kamkan dua tahun yang lalu.

Aku harus hidup ke depan untuk anak-anakku. Raja dan Fania.

“Kalau gitu, kita lanjutkan lagi belanjanya lalu kita pulang. Takutnya Raja re wel sama Mas Haris.”

“Ya ampun kok aku lupa ya, kita kan mau belanja.”

Aku dan Dina akhirnya kembali belanja dan pulang secepatnya.

Berusaha meyakinkan dalam hati kalau aku hanya salah lihat.

“Ma, semalam aku mimpi Papa.”

D EG!!

Jan tungku berde gup kencang. Ucapan Fania membuatku menatapnya. Kutinggalkan li patan pakai an Raja demi memfo kuskan pada putri sulungku itu.

“Apa sayang?”

Putri kecilku itu sudah bersiap untuk ti dur, dengan seli mut yang menutupi seluruh tu-buh sampai le her.

“Papa, Ma. Aku mimpi ketemu Papa.”

Hatiku mence los.

Setelah sekian lama, Fania kembali bahas Papanya.

“Apa yang Papa katakan sama Fania?”

Fania tampak berpikir. Alisnya me nyatu, seolah dia berju ang ke ras mengingat.

“Kata Papa, aku harus jaga Mama dan adik Raja. Gak boleh jadi anak na kal. Kasi han Papa.”

Mataku berembun.

Kudekati Fania dan kuci um pun cak kepalanya.

“Tapi Fania sudah jadi anak yang baik. Fania gak na kal. Papa pasti bahagia lihat Fania sama Mama dan adik dari sur ga.”

Fania mengangguk.

“Sekarang bo bo ya. Besok banl ngun pagi, Mama akan antar Fania ke sekolah sebelum masuk kantor.”
Putriku mengangguk.
Akhirnya dia pejamkan mata.

Sementara Raja, sudah sejak tadi terle lap.

Kami tidur satu ran-jang dengan ukuran ran-jang nomer satu.

Mataku menerawang ke langit-langit rumah, kala tu-buhku rebah di antara Fania dan Raja.

“Mas, aku akan buktikan aku mampu menjaga Fania dan Raja.”

**

Keesokan harinya di kantor baru.

“Ini ruangan Mbak Syifa ya.”

Irin teman kantorku yang baru, memberitahu ruanganku.

“Kita deketan mejanya.”
Aku tersenyum.

Aku ditempatkan di ruangan akunting sebagai staff keuangan, dan tugasku menginput semua nota penjualan.

“Oh iya, nanti kalau ketemu Pak bos jangan nak sir ya,” pesan Irin.

“Maksudnya?”

“Pak Bumi itu orangnya tam pan.”

“Oh namanya Pak Bumi?” tanyaku.

“Ya, namanya Pak Bumi, tam pan dan sempurna.”

Irin bicara dengan mata berbi nar.

Sepertinya dia yang nak sir bosnya sendiri….

Berikut adalah kelanjutan dan penyelesaian (ending) dari cerita di atas:

Aku hanya tersenyum simpul menanggapi celotehan Irin. Ketampanan pria lain sama sekali tidak menarik hatiku. Di dalam pikiran dan hatiku, posisi Mas Langit tak akan pernah bisa tergantikan oleh siapa pun, termasuk oleh bos baru yang digilai rekan-rekan kantorku ini.

“Sudahlah, Rin. Aku ke sini untuk bekerja, bukan cari jodoh,” sahutku sambil mulai merapikan meja kerjaku.

“Iya, aku tahu kamu janda beranak dua yang setia. Tapi serius, Syifa, Pak Bumi itu tipe pria idaman semua wanita. Sayangnya, dia dingin sekali sejak kecelakaan setahun lalu yang membuatnya amnesia,” bisik Irin penuh gosip.

Deg!

Jantungku berdegup kencang secara tiba-tiba. Kecelakaan? Amnesia? Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Kilasan peristiwa dua tahun lalu—ledakan mobil di tebing menuju villa—kembali terbayang. Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Tidak, Syifa. Jangan mulai lagi. Suamimu sudah meninggal dua tahun lalu, sedangkan bos ini kecelakaan setahun lalu. Jelas berbeda.

Tepat saat aku mencoba menenangkan diri, pintu utama ruangan divisi akunting terbuka. Suasana yang tadinya bising mendadak senyap seketika.

“Selamat pagi, semuanya,” terdengar sebuah suara bariton yang sangat familiar di telingaku. Suara yang selama dua tahun ini hanya bisa kudengar lewat rekaman video di ponselku.

Tubuhku menegang. Perlahan, aku memutar tubuhku menghadap ke arah sumber suara.

Mataku membelalak sempurna. Napas seolah tercekat di tenggorokan. Pria berjas hitam yang berdiri di sana, yang dipanggil ‘Pak Bumi’ oleh Irin, adalah pria yang sama dengan yang kulihat di mall kemarin. Pria yang memiliki wajah, postur tubuh, dan sorot mata yang persis sama dengan… Mas Langit.

“Syifa, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali,” bisik Irin cemas sambil menyenggol lenganku.

Aku tidak mendengarkan Irin. Air mataku luruh tanpa bisa dicegah. Langkah kakiku bergerak sendiri, mendekati pria itu di hadapan seluruh rekan kerja yang menatapku bingung.

“Mas… Mas Langit…” bisikku bergetar.

Pria itu menghentikan langkahnya. Ia menatapku tajam, keningnya berkerut dalam. Ada kilatan kebingungan di matanya, namun ia tetap menjaga wibawanya. “Maaf? Anda karyawan baru? Panggil saya Pak Bumi.”

“Tidak… kamu Mas Langit. Kamu suamiku! Ayah dari Fania dan Raja!” tangisku pecah. Aku nekat mencengkeram lengan kemejanya. “Bagaimana bisa kamu hidup? Siapa yang kami makamkan dua tahun lalu, Mas?!”

“Lepaskan! Anda lancang sekali!” Pak Bumi menepis tanganku dengan kasar, membuatku hampir terjatuh jika tidak ditangkap oleh Irin.

“Mohon maaf, Pak Bumi! Syifa baru saja kehilangan suaminya, mentalnya sedang tidak stabil!” Irin panik dan terus membungkuk meminta maaf, sementara rekan-rekan lain menatapku dengan pandangan menghina dan kasihan.

Pak Bumi tidak marah lebih jauh. Ia hanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu memegang kepalanya yang tiba-tiba tampak meringis kesakitan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan masuk ke ruangannya dengan terburu-buru.

Hari itu menjadi hari paling kacau dalam hidupku. Aku diminta pulang lebih awal oleh kepala divisi karena dinilai membuat keributan. Di dalam taksi menuju rumah, aku menangis sejadi-jadinya. Aku menelpon Dina, menceritakan semuanya. Dina yang awalnya tidak percaya, akhirnya setuju untuk menyelidiki latar belakang Pak Bumi.

Dua minggu berlalu dengan penuh siksaan. Aku tetap bekerja di sana, berusaha profesional dan menahan diri untuk tidak mendekati Pak Bumi, meskipun setiap melihatnya, hatiku menjerit. Sementara itu, Dina bergerak mencari informasi melalui jaringannya.

Hingga suatu sore, Dina memintaku bertemu di sebuah kafe dekat kantor. Wajah Dina tampak sangat pucat saat menyodorkan sebuah map cokelat padaku.

“Syifa… kamu tidak gila. Kamu benar,” suara Dina bergetar hebat.

Aku membuka map itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada foto-foto medis dan laporan kepolisian setahun lalu.

Ringkasan Dokumen: Seorang pria tanpa identitas ditemukan oleh seorang konglomerat paruh baya di pinggir sungai bawah tebing, setahun setelah kecelakaan villa—diduga pria itu hanyut dan bertahan hidup dalam kondisi koma di dalam hutan dengan luka bakar di sebagian tubuhnya. Konglomerat yang baru saja kehilangan putra tunggalnya yang bernama ‘Bumi’ itu membawa pria tersebut ke luar negeri untuk operasi wajah (rekonstruksi karena luka bakar) dan mengangkatnya sebagai anak untuk meneruskan perusahaan, memanfaatkan kondisi pria itu yang mengalami amnesia total.

“Pria itu… Pak Bumi itu… adalah Langit, Syifa,” ucap Dina meneteskan air mata. “Saat mobil kalian meledak dua tahun lalu, jasad yang ditemukan di dalam mobil sudah hangus terbakar dan tidak bisa dikenali. Polisi langsung menyimpulkan itu Langit karena cincin kawinnya terjatuh di dekat sana. Padahal, Langit terlempar keluar sebelum ledakan, hanyut, dan menderita amnesia selama setahun sebelum ditemukan keluarga angkatnya.”

Buku-buku jariku memutih memegang kertas itu. Tangisku tumpah, namun kali ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru. Suamiku masih hidup. Tuhan menjawab doa anak-anakku.

Dua Bulan Kemudian…

Di sebuah taman yang asri, Fania dan Raja sedang berlari-lari kecil mengejar balon. Di bangku taman, aku duduk bersama seorang pria. Pria itu bukan lagi Pak Bumi yang dingin, melainkan Mas Langit-ku yang dulu.

Proses mengembalikan ingatannya tidak mudah. Butuh waktu dua bulan penuh, melibatkan terapi medis, kunjungan ke makam palsunya, hingga momen krusial saat Fania dan Raja memeluknya sambil menangis merindukan sang Papa. Ikatan batin seorang ayah tidak bisa berbohong; ingatan Mas Langit perlahan pulih saat melihat anak-anak kami.

Mas Langit merangkul bahuku erat, mengecup puncak kepalaku dengan penuh kehangatan yang amat kurindukan.

“Maafkan Mas ya, Syifa. Membuatmu berjuang sendirian selama dua tahun ini,” bisiknya penuh penyesalan.

Aku menyandarkan kepalaku di dada bidangnya, mendengarkan detak jantungnya yang kini menjadi irama paling menenangkan dalam hidupku.

“Semua sudah berlalu, Mas. Bagiku, takdir yang membawa kamu kembali pulang adalah mukjizat terbesar. Sekarang, kita mulai semuanya dari awal lagi.”

Kami berdua tersenyum memandangi Fania dan Raja yang tertawa riang di bawah sinar matahari sore. Badai itu telah berlalu, dan keluarga kecil kami kini telah kembali utuh.