Adik iparku yang benalu itu mencuri serum rahasiaku. Dia tidak tahu … yang dia curi itu cairan perontok bulu. Selamat tinggal alis, selamat datang bayi tuyul!”
___
Byur!
Sebaskom air pel berbau menjijikkan menyiram punggungku, menembus daster lusuh ini hingga ke kulit.
“Jangan berani-berani duduk di terasku, Gembel! Menjauh ke aspal sana!” bentak Bagas, melempar baskom kosong itu ke arahku.
Vina yang bersandar manja di bahu suamiku tertawa nyaring melihatku basah kuyup kedinginan. Padahal, baru beberapa menit lalu aku berdiri tegak menelepon asistenku. Kini, aku terpaksa kembali berjongkok, memainkan sisa peranku malam ini.
Aku mengusap air kotor yang menetes dari dagu, menunduk menatap ujung kakiku yang tanpa alas di atas genangan air.
“Mas, tunggu sebentar. Jangan ditutup dulu pintunya,” ucap Vina menahan lengan Bagas.
Bagas menoleh dengan kening berkerut. “Ada apa lagi, Sayang? Biarkan saja bangkai ini kedinginan di luar.”
“Bentaaar …, ada sampah yang belum kebuang.”
Perempuan itu masuk kembali ke dalam rumah. Tak sampai satu menit, ia keluar membawa sebuah bingkai foto kayu.
Napasku tertahan di pangkal tenggorokan. Itu foto mendiang ayah dan ibu angkatku. Satu-satunya kenangan berharga yang tersisa di rumah ini.
Vina menyerahkan bingkai itu pada Bagas dengan senyum meremehkan. “Nih, Mas. Sekalian buang rongsokan ini. Bikin sempit meja rias.”
Tanpa rasa hormat sedikit pun, Bagas mengayunkan tangannya, melempar bingkai itu tepat ke arahku. Aku bergerak cepat hendak menangkapnya agar tak membentur aspal. Namun, gerakanku kalah cepat, dan ….
Pyar!
Kaca bingkai hancur berantakan menghantam paving halaman tepat di dekat lututku. Pecahannya berserakan.
“Peluk tuh foto rongsokanmu biar nggak kedinginan!” ejek Vina lantang. Perempuan benalu itu melingkarkan lengannya ke leher Bagas.
“Oh ya, Mbak Keyla,” lanjut Vina dengan nada memuakkan. “Malam ini aku mau ganti seprai kamarmu sama yang baru. Seprai lamamu pasti bau. Nggak enak buat aku sama Mas Bagas menikmati ranjang sampai pagi. Lagian aku takut ada sisa-sisa nanah dari pipimu.”
Bagas tertawa puas, mengecup pipi Vina tepat di depan mataku.
“Tidur di jalanan saja kamu malam ini! Besok pagi kalau kau masih ada di pekaranganku, bakal kusiram pake air mendidih sekalian!” ancam pria brengsek itu.
Pintu rumah dibanting keras. Suara kunci diputar dari dalam terdengar dua kali.
Aku ditinggalkan sendirian bersama pecahan kaca, dinginnya malam, dan bau air pel yang melekat di sekujur tubuh.
Tanganku merayap di atas aspal kasar, memungut lembar foto di antara pecahan kaca itu.
Di balik wajah yang menunduk ini, belas kasihku pada mereka telah hilang, digantikan oleh dendam yang menuntut untuk dibayar tunai. Tidak ada setetes pun air mata yang tumpah untuk dua lintah itu.
Tidurlah yang nyenyak di atas ranjangku malam ini, Pelakor. Air pel kotor ini akan kubalas dengan air mata darah saat kalian mengemis di bawah telapak kakiku besok.
Deru mesin beberapa mobil tiba-tiba terdengar.
Tiga unit Mercedes G-Class hitam pekat membelah kegelapan malam, berjejer rapi menutup jalan aspal tepat di depan pekaranganku. Lampu tembaknya yang menyilaukan menyorot terang, membuat suasana malam berubah benderang bagaikan siang hari.
Suara engsel pintu depan rumahku kembali terdengar. Bagas keluar dengan langkah tergesa, sebelah tangannya menutupi mata dari silau lampu.
Jakun Bagas naik-turun menelan ludah kasar. Ia terlihat terganggu dengan cahaya terang dari mobil-mobil yang memblokir jalan rumahnya.

“Woi! Siapa kalian?! Jangan parkir sembarangan di depan rumahku!” teriak Bagas dengan nada tinggi, mencoba terlihat berkuasa di wilayahnya sendiri.
Suamiku itu berjalan mendekati mobil-mobil itu, memungut balok kayu sisa bangunan di dekat pot bunga untuk berjaga-jaga. Vina menyusul keluar, bersembunyi di belakang punggung Bagas. Jari-jarinya bergetar mencengkeram kemeja suamiku.
Pintu mobil hitam di tengah terbuka perlahan. Sepatu kulit mengilap melangkah turun, disusul sosok pria bertubuh tegap dalam balutan setelan jas hitam pekat….
… Sosok itu adalah Marvel, asisten pribadi sekaligus kepala tim keamananku. Di belakangnya, enam pria berbadan kekar turun dari dua mobil lainnya, langsung membentuk barikade yang mengintimidasi.
Bagas yang tadinya sok jagoan, seketika menciut. Balok kayu di tangannya gemetar. “K-kalian siapa? Mau apa malam-malam ke rumah saya?!”
Marvel sama sekali tidak memedulikan Bagas. Pandangannya menyapu halaman, hingga matanya tertuju padaku yang masih terduduk di atas paving berair pel. Wajah Marvel yang biasanya sedingin es langsung berubah tegang. Ia bergegas menghampiriku, lalu berlutut di atas aspal kotor tanpa memedulikan celana kain mahalnya yang basah.
“Nona Muda! Maafkan keterlambatan saya,” ucap Marvel dengan suara berat penuh penyesalan. Ia segera melepas jas hitamnya dan menyampirkannya ke bahuku yang kedinginan, lalu membantuku berdiri dengan sangat hormat.
Bagas dan Vina melongo. Mulut mereka menganga lebar bagai ikan kekurangan oksigen.
“N-Nona Muda? Marvel, kamu salah orang ya? Dia itu Keyla, gembel penyakitan yang baru saja kuusir!” teriak Vina, suaranya melengking panik, mencoba menyangkal kenyataan di depan matanya.
Marvel berbalik, menatap Vina dan Bagas dengan pandangan membunuh. “Jaga mulutmu, Perempuan Jalang. Dia adalah Keyla Sanjaya, pemilik tunggal Sanjaya Skincare Corp, sekaligus pemilik sah tanah dan rumah yang sedang kalian tempati ini!”
Deg!
Wajah Bagas seketika pucat pasi, sekuning kertas. “Sanjaya… Skincare? Perusahaan kosmetik raksasa itu? Nggak mungkin… Keyla cuma anak yatim piatu miskin!”
Aku berdiri tegak di samping Marvel, mendekap foto orang tua angkatku yang sudah aman di balik jas. Aku menyeka sisa air kotor di daguku, lalu tersenyum dingin. Aura ‘istri tertindas’ yang kupasang sejak tadi menguap begitu saja, digantikan keangkuhan seorang CEO yang sesungguhnya.
“Aktingku lumayan, kan, Mas Bagas? Vina?” tanyaku dengan nada santai namun menusuk. “Aku sengaja memalsukan kebangkrutanku dan membuat wajahku terlihat bernanah dengan trik makeup, hanya untuk melihat seberapa setia suamiku dan seberapa tahu diri adik iparku ini. Ternyata… kalian berdua hanyalah sepasang lintah menjijikkan.”
Vina menggeleng-gelengkan kepala ketakutan, kakinya lemas hingga hampir terjatuh. “Nggak… ini pasti mimpi…”
“Marvel,” panggilku tegas. “Segel rumah ini malam ini juga. Semua aset, rekening, dan mobil atas nama Bagas yang dibeli pakai uangku, sita tanpa sisa. Biarkan mereka keluar dari rumah ini hanya dengan baju yang melekat di badan.”
“Baik, Nona Muda,” jawab Marvel sigap. Para pengawal langsung merangsek maju, memaksa Bagas dan Vina mundur ke dalam rumah untuk mengambil barang pribadi mereka sebelum diusir paksa.
Keesokan paginya, aku duduk santai di dalam mobil Mercedes-ku yang terparkir tak jauh dari rumah itu, menyesap kopi hangat. Di luar, Bagas dan Vina meratapi nasib di tepi aspal, menangis meraung-raung karena semua kekayaan mereka lenyap dalam semalam.
Namun, ada satu pemandangan yang membuat tawaku pecah di dalam mobil.
Vina keluar berteriak histeris sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ketika Bagas mencoba menenangkannya dan menarik tangan perempuan itu, aku bisa melihat pemandangan paling menggelikan seumur hidupku.
Kedua alis Vina yang tebal hitam hasil sulam berharga mahal itu… rontok total tanpa sisa! Kulit di atas matanya mulus, licin, dan mengilap, persis seperti kepala bayi tuyul. Ternyata, sebelum diusir semalam, si benalu itu masih sempat-sempatnya menyelinap ke kamarku dan mencuri sebotol cairan dari meja riasku—yang dia kira adalah ‘Serum Rahasia Kulit Glowing’ milik Sang CEO.
Dia tidak tahu, cairan di botol sampel tanpa label itu adalah formula gagal laboratoriumku: cairan perontok bulu dosis ekstrem untuk hewan yang belum disempurnakan.
“Mas! Alisku mana, Mas?! Kenapa mukaku jadi begini?!” jerit Vina histeris melihat pantulan dirinya di kaca spion mobil tetangga.
Bagas yang melihat wajah istrinya tanpa alis dan tampak aneh pun berteriak ketakutan, “Astaga, Vina! Kamu mirip tuyul!”
Aku menurunkan kaca mobil sedikit, menatap mereka yang kini saling menyalahkan dan menjambak rambut satu sama lain di pinggir jalan.
Aku memakai kacamata hitamku kembali, lalu memberi isyarat pada sopir. “Jalan. Polusi visualnya terlalu mengganggu.”
Selamat tinggal suami brengsek, selamat tinggal adik ipar benalu. Selamat menikmati hidup melarat tanpa harta, dan untuk Vina… selamat datang di dunia tanpa alis, wahai bayi tuyul!