Suara melengking itu menyambar telingaku tepat saat aku baru saja memutar kunci pintu mansion. Langkahku terhenti di ambang pintu.
Jantungku berdegup kencang, bukan karena lelah setelah penerbangan dari Singapura, tapi karena suara itu… suara **Vanya**, istriku yang selama ini kukenal sebagai malaikat yang lembut.
Aku melangkah pelan, tanpa suara. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik kemegahan rumah yang kubeli dengan tetesan keringatku sendiri.
Di ruang tengah yang luas, pemandangan itu menghantamku seperti godam besar.
**Ibu Lastri**, wanita yang membesarkanku dengan upah sebagai tukang cuci keliling, wanita yang jemarinya pecah-pecah demi membiayai kuliahku, kini sedang **berlutut di lantai marmer**.
Tubuh rentanya bergetar hebat. Dengan tangan gemetar, ia sedang menyikat sepasang sepatu *stiletto* merah milik Vanya yang penuh lumpur.
“Maaf, Vanya… tangan Ibu sakit, sikatnya sedikit licin,” isak ibuku dengan suara parau.
**PLAK!**
Vanya menghempaskan tas branded-nya ke bahu Ibu hingga ibuku tersungkur. “Sakit? Kalau tidak mau sakit, jangan jadi beban di sini! Adrian membawamu ke sini bukan untuk jadi ratu, tapi supaya kau tidak merepotkannya di desa! Gosok sampai mengkilap, atau sepatu seharga seratus juta ini akan melayang ke wajahmu!”
Duniaku serasa runtuh.

Mataku memanas, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun.
Selama ini, setiap kali aku pulang kerja, Vanya selalu bercerita betapa ia memanjakan ibuku dengan spa, makanan enak, dan pakaian mahal. Ternyata, itu semua hanyalah **sandiwara busuk** untuk menguras isi rekeningku.
Aku melihat koper di tanganku—koper berisi kalung berlian yang rencananya akan kuberikan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami besok. Detik itu juga, kalung itu terasa seperti sampah bagiku.
Aku melepaskan dasiku dengan kasar, melangkah masuk ke ruang tengah dengan aura yang sangat dingin.
“Oh, jadi begini caramu merawat ibuku saat aku tidak ada, Vanya?” suaraku berat, bergema di seluruh ruangan.
Vanya tersentak. Wajahnya yang tadinya angkuh langsung berubah pucat pasi. Sepatu di tangannya terjatuh.
“Mas… Mas Adrian? Kenapa… kenapa sudah pulang?” suaranya terbata, kakinya gemetar hebat.
Aku tidak menjawabnya. Aku berjalan melewati Vanya seolah dia adalah kuman yang menjijikkan. Aku berlutut di depan ibuku, mengambil sikat itu dari tangannya, dan memeluk tubuh kecil yang sudah mulai membungkuk itu.
“Ibu… maafkan Adrian,” bisikku dengan suara bergetar.
Ibu justru berusaha menutupi wajahnya yang basah. “Adrian, jangan marah pada Vanya, ini salah Ibu yang tidak hati-hati…”
Mendengar pembelaan ibu untuk wanita yang baru saja menyiksanya, kemarahanku pecah. Aku berdiri, menatap Vanya dengan tatapan yang bisa membunuh.
“Vanya, kau bilang sepatu itu harganya seratus juta?” tanyaku pelan, namun mematikan.
Vanya hanya mengangguk ketakutan.
“Bagus. Karena mulai detik ini, harga diri dan kemewahanmu tidak akan lebih berharga dari lumpur yang ada di sepatu itu.”
Aku mengambil ponselku, mendial nomor pengacara pribadiku.
“Siapkan surat cerai sekarang juga. Dan blokir semua akses kartu kredit atas nama Vanya Arisandi. Jangan sisakan satu perak pun.”
“Mas! Kamu tidak bisa melakukan ini! Aku istrimu!” teriak Vanya histeris, mencoba meraih lenganku.
Aku menepis tangannya dengan kasar. “Istri? Istriku sudah mati saat dia berani mengangkat tangan pada ibuku.”
Kejutan sesungguhnya baru saja dimulai. Vanya belum tahu, bahwa mansion ini, perusahaan, dan semua aset yang dia nikmati, akan segera berubah menjadi penjara kemiskinan baginya.