Posted in

Adik iparku mencuri serum rahasiaku. Dia tidak tahu… yang dicurinya ternyata cairan perontok bulu. Selamat tinggal alis, halo muka tuyul!”

Adik iparku mencuri serum rahasiaku. Dia tidak tahu… yang dicurinya ternyata cairan perontok bulu. Selamat tinggal alis, halo muka tuyul!”

Cengkeraman Bagas di rahangku makin kuat, memaksaku mendongak sambil menahan sakit.

“Dengar aku?! Tarik sekarang juga tabunganmu buat bisnis kecantikan itu!” bisik Bagas penuh ancaman. “Adikku butuh dokter kulit paling mahal malam ini! Semua alisnya rontok, kamu sudah gila ya?!”

Aku meringis dan membiarkan setetes air mata jatuh di ruam merah palsu yang kubuat di pipiku.

“M-Mas, lepaskan aku… uang pembayaran agen sudah habis dan tabunganku juga sudah kupakai untuk berobat,” isakku dengan suara gemetar senatural mungkin.

Bagas mendengus jijik lalu mendorongku kasar sampai bahuku menghantam kaki meja ruang tamu.

“Alasan terus, perempuan pelit! Kalau alis dan bulu mata Yeni botak permanen, aku benar-benar akan memenjarakanmu!” teriak Bu Ratih dari dalam kamarku.

“Sudahlah, aku saja yang bayar rumah sakit Yeni, Mas.”

Keributan itu langsung terhenti oleh suara lembut itu. Akhirnya Vina keluar dari belakang rumah. Perempuan ular itu berjalan santai, sama sekali tidak peduli pada Yeni yang masih mengamuk di lantai sambil menangisi hilangnya alisnya.

Tatapanku langsung terpaku pada pergelangan tangannya. Di sana ada gelang emas tebal berukir motif istana. Darahku langsung mendidih. Itu warisan mendiang ibu angkatku. Perhiasan berharga yang sudah lama kucari ke seluruh rumah. Dan sekarang dipakai selingkuhan suamiku seperti sedang dipamerkan.

Vina manja menggandeng lengan Bagas sambil mendorongku dengan ujung sepatunya, seolah aku cuma tumpukan sampah di jalannya.

“Kita pakai tabunganku saja, Mas. Kasihan Yeni kalau harus menunggu perempuan sakit ini menarik uang. Nanti wajahnya keburu busuk,” kata Vina seperti pahlawan palsu.

Sejak tadi Bu Ratih panik bukan main, jadi dia langsung membantu Yeni keluar kamar. Matanya berbinar memandang Vina seolah dewi turun dari langit.

“Aduh, Vina! Kamu benar-benar menantu impianku! Sudah cantik, baik hati, kaya pula! Jauh sekali dibanding pengemis penyakitan ini!” puji Bu Ratih tanpa malu.

Aku mendengar tawa kecil Vina yang jelas sangat menikmati pujian manis itu. Tabungan katanya? Jangan bikin aku tertawa. Itu uang distributor pabrik yang diam-diam dia curi dari laci mejaku minggu lalu.

Vina sengaja mendekatiku. Ujung high heels-nya menginjak keras pergelangan kakiku yang terluka.

“Aduh, maaf ya, Kak Keyla. Aku nggak lihat kamu. Tapi kenapa sih kamu melingkar di lantai kotor begitu? Kayak kain pel,” kata Vina sambil makin menekan hak sepatunya.

Aku hampir menjerit dan merangkak menjauh sambil menunduk menyembunyikan wajah di balik rambut kusutku.

“Maafkan aku, Bu… maafkan aku, Mas. Aku memang istri miskin yang tidak berguna,” rengekku sambil menangis.

Di balik air mata palsuku, aku diam-diam tersenyum sinis. Nikmati saja uang dan gelang curianmu itu, Vina. Puaskan malam kebebasanmu sebelum borgol dingin memeluk pergelangan tanganmu.

“Mas, aku kasihan sama Kak Keyla. Tapi penyakitnya kelihatannya menular. Bagaimana kalau kita semua tertular?” hasut Vina pura-pura simpati.

“Vina benar! Buang saja sampah berpenyakit ini keluar rumah malam ini juga!” teriak Bu Ratih sambil menunjukku kasar. “Lagipula sekarang sudah ada Vina yang mampu membiayai pengobatan anakku!”

Pak Darman mengangguk setuju. “Cepat bantu antar Yeni ke taksi di luar. Urusan perempuan sakit ini biar Bagas yang tangani! Rumah ini juga sudah kugadaikan ke rentenir tadi siang, dia sudah tidak berhak tinggal di sini.”

Bagas cepat mengangguk. Urat di pelipis kirinya terlihat jelas saat menatapku penuh amarah.

“Malam ini juga kamu pergi dari sini! Besok aku langsung urus perceraian!” bentak Bagas kasar.

Dia segera mengambil sling bag kecilku di meja ruang tamu lalu merampas dompet dan kunciku.

“Jangan harap kamu masih bisa membawa kunci cadangan pabrik kecilmu dan kartu ATM ini. Anggap saja ganti rugi untuk wajah adikku!” kata Bagas serakah.

“Jangan… itu pabrik peninggalan orang tua angkatku, Mas! Tolong jangan ambil semuanya,” teriakku sambil memegangi kakinya, total berakting.

Bagas menendang tanganku dengan kasar.

“Semua milikmu sekarang juga milikku! Pergi sana dan jadi pengemis!”…

Bagas menendang tanganku dengan kasar.

“Semua milikmu sekarang juga milikku! Pergi sana dan jadi pengemis!”

Dia berbalik dengan angkuh, menggandeng Vina yang tersenyum kemenangan. Detik berikutnya, pintu depan rumah ditutup dengan dentuman keras, menyisakan keheningan di ruang tamu yang berantakan.

Begitu deru mesin taksi mereka menjauh, aku perlahan bangkit dari lantai. Air mata yang tadinya mengalir deras langsung mengering. Aku mengusap sisa ruam merah palsu di pipiku dengan tisu, lalu berdiri tegak. Tidak ada lagi Keyla yang lemah, penyakitan, dan malang.

Aku merapikan rambutku yang kusut dan tersenyum lebar menatap ruang tamu kosong itu.

“Semua milikku adalah milikmu, Mas? Silakan ambil limbahnya,” bisikku sinis.

Aku berjalan ke sudut ruangan, mengambil ponsel cadangan yang sengaja kusembunyikan di balik pot bunga besar. Aku menekan satu nomor.

“Halo, Pak Arya? Target sudah bergerak membawa umpan. Semua bukti rekaman CCTV rumah dan pemindahan dana sepihak sudah otomatis terunggah ke drive pengacara.”

“Diterima, Bu Keyla. Tim buser Polres sudah bersiaga di depan Rumah Sakit Permata Medika. Pabrik Anda juga sudah kami segel untuk keamanan agar mereka tidak bisa menyentuh aset utama,” jawab suara tegas di seberang telepon.

“Bagus. Oh ya, satu lagi, Pak. Pastikan rentenir yang bekerja sama dengan mertuaku menagih sertifikat palsu yang sengaja kutinggalkan di laci malam ini juga.”

Setelah menutup telepon, aku melangkah keluar dari rumah terkutuk itu tanpa beban.

Dua Jam Kemudian, Di Rumah Sakit Permata Medika

Bagas, Bu Ratih, dan Vina sedang panik di depan ruang IGD menanti Yeni yang sedang ditangani dokter kulit. Di saat bersamaan, Bagas dengan jemari serakahnya mencoba memasukkan kartu ATM-ku ke mesin penarik tunai di lobi rumah sakit.

PIN SALAH. PIN SALAH.

“Sialan! Berapa PIN perempuan itu?!” umpat Bagas frustrasi.

“Coba tanggal lahirnya, Mas! Atau coba buka tas pabriknya, pasti ada kunci brankas!” hasut Vina yang mulai gelisah.

Tiba-tiba, empat orang pria berbadan tegap dengan seragam penyidik kepolisian berjalan cepat ke arah mereka. Langkah mereka tegas, langsung mengunci pergerakan Bagas dan Vina.

“Selamat malam. Saudara Bagas Prasetyo dan Saudari Vina Amalia?” tanya salah satu polisi sambil menunjukkan lencana.

Bagas terlonjak, wajahnya mendadak pucat. “I-iya, Pak. Ada apa ya? Kami sedang mengurus adik saya yang sakit—”

“Anda berdua ditahan atas tuduhan pencurian aset perusahaan, penggelapan dana distributor sebesar 500 juta rupiah, pemalsuan dokumen hak milik, serta tindakan kekerasan dalam rumah tangga terhadap Ibu Keyla Amanda.”

“Apa?! Nggak mungkin! Pasti ada salah paham, Pak! Yang punya uang itu Vina!” teriak Bu Ratih histeris, membela menantu impiannya.

“Uang Vina?” Sebuah suara familier memotong perdebatan itu.

Dari balik koridor rumah sakit, aku berjalan santai dengan setelan blazer rapi, didampingi oleh Pak Arya, pengacara keluarga angkatku. Tidak ada lagi kesan ‘pengemis penyakitan’ yang tadi mereka maki.

“K-Keyla?!” Bagas terbelalak, matanya hampir keluar melihat penampilanku.

“Vina sayang,” aku menatap Vina yang mulai gemetar. “Uang distributor yang kamu ambil dari laci mejaku itu adalah uang modal yang sengaja kubiarkan untuk menjebakmu. Nomor serinya sudah dicatat oleh bank. Dan gelang di tanganmu itu…”

Aku mencengkeram pergelangan tangan Vina, melepaskan gelang emas ibu angkatku dengan paksa.

“…ini adalah bukti fisik pencurian dengan pemberatan. Kamu tahu, Vina? Rumah yang digadaikan Pak Darman itu sudah dibalik nama atas namaku sejak bulan lalu. Sertifikat yang digadaikan ayah mertuaku tadi siang? Itu cuma replika mainan.”

Wajah Vina mendadak putih bersih seperti kapas, bahkan lebih putih dari wajah Yeni yang kehilangan alis.

“Mas Bagas, tolong aku, Mas!” jerit Vina saat polisi mulai memasangkan borgol besi yang dingin di kedua pergelangan tangannya.

“Keyla! Tolong, Key! Aku ini suamimu! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!” Bagas memohon, langsung berlutut di lantai rumah sakit, mencoba meraih kakiku seperti yang kulakukan padanya beberapa jam lalu.

Aku melangkah mundur, menghindari tangannya yang kotor.

“Besok pengacaraku akan mengantar surat cerai ke selmu, Mas. Selamat menikmati kemiskinan yang sesungguhnya.”

Epilog

Pintu jeruji besi ditutup rapat. Bagas dan Vina resmi ditahan tanpa jaminan karena bukti-bukti yang kukumpulkan terlalu mutlak. Sementara itu, Pak Darman dan Bu Ratih harus luntang-lantung di jalanan malam itu juga karena rumah mereka disita oleh pihak berwajib akibat kasus penipuan sertifikat palsu.

Sebelum meninggalkan rumah sakit, aku menyempatkan diri mengintip ke dalam bangsal Yeni.

Gadis sombong yang dulu hobi menghinaku itu kini sedang meraung melihat cermin. Kulit di sekitar matanya merah meradang, benar-benar botak licin tanpa sehelai bulu pun yang tersisa. Wajahnya persis seperti dugaanku: muka tuyul.

Aku menurunkan kacamata hitamku, tersenyum puas, lalu melangkah pergi menyambut kehidupan baruku yang jauh lebih mandiri dan kaya raya.

Gunakan produk orang lain tanpa izin? Rasakan sendiri khasiatnya.