Posted in

“Firman sudah meninggal, sekarang kamu bukan menantuku lagi. Besok kamu harus tinggalkan rumah ini. Serahkan juga semua harta peninggalannya. Termasuk mobil dan motor,” ucap Ibu Mertuaku saat jasad suamiku baru saja dikuburkan

“Firman sudah meninggal, sekarang kamu bukan menantuku lagi. Besok kamu harus tinggalkan rumah ini. Serahkan juga semua harta peninggalannya. Termasuk mobil dan motor,” ucap Ibu Mertuaku saat jasad suamiku baru saja dikuburkan

Mereka pikir bisa dengan mudah mengambil semuanya dariku. Akhirnya kuserahkan semua bukti-bukti kalau semua harta yang Ibu Mertua minta adalah hasil dari …

****

Aku tersenyum puas melihat raut wajah Mega dan Ibu yang menegang. Sepasang ibu dan anak itu saling berpandangan sebelum akhirnya keduanya menatap bingung ke arahku. Tersenyum getir aku dibuatnya.

“Tap–”

Belum sempat Ibu menyelesaikan ucapannya, Mbak Mega menyerobot beberapa map yang masih berada di tangan yang di bagian punggungnya sudah berkeriput itu. Mbak Mega membuka dan membaca setiap lembarannya, mungkin ia ingin memastikan.

Setiap lembar yang terbuka, raut wajah itu semakin tampak tegangnya. Dan tiba-tiba ….

Brak!

Mbak Mega melempar begitu saja map ke atas meja, menimbulkan suara sedikit keras. Untung saja kami berada di ruang keluarga. Andai aku biarkan mereka di ruang tamu, pasti kejadian ini akan menjadi pusat perhatian orang-orang.

“Bu, Mbak, Mas Firman hanyalah karyawan biasa. Gajinya tidak lebih dari lima juta. Dan kalian bisa melihat sendiri berapa cicilan Mas Firman setiap bulannya. Tiga juta lima ratus setiap bulannya, itu hanya tersisa sejuta lima ratus. Belum setiap bulannya Ibu meminta kiriman. Ibu nggak lupa kan setiap bulan dapat kiriman berapa dari Mas Firman?” ujarku pelan.

Sengaja aku memberikan rincian dan menjelaskan secara gamblang, tentu agar paham.

“Sisa gaji Mas Firman sejuta lima ratus dan setiap habis gajian Ibu langsung suruh kirimin uang. Habis, Bu, habis. Lantas darimana Mas Firman bisa membeli semua ini sedangkan untuk biaya hidup Mas Firman selama ini saja numpang dari usahaku?”

Sebenarnya bukan bermaksud merendahkan almarhum suamiku di depan keluarganya, aku melakukannya semata-mata agar mereka sadar dan tahu diri.

“Ririn, kami tau kalau Firman hanya karyawan biasa. Tapi namanya harta, semua itu milik bersama. Nggak ada ceritanya kayak gini! Jangan mentang-mentang Firman sudah meninggal lantas kamu bisa seenaknya kayak gini!” bentak Ibu hingga tampak dengan jelas urat-urat yang ada di sekitar lehernya menyembul dan menegang.

Bukan hanya membentak, perempuan tua itu sampai berdiri dari tempatnya duduk. Jemarinya menunjuk-nunjuk ke arahku.

Tak ingin turut tersulut emosi kuhela napas dalam-dalam lalu kuhembuskan secara perlahan, kemudian kuperlihatkan senyum tipis di bibir.

“Di situ kan sudah tertulis dengan jelas sih, Bu, semua aset itu milikku. Aset Mas Firman hanya motor miu yang ingin ibu berikan buat aku. Kalau mau bawa motor itu, ya silakan. Kalau masih ingin menuntut yang lebih, ya silakan ambil tagihan-tagihan hutang Mas Firman. Bukankah Mas Firman punya hutang sebanyak itu juga untuk modal Mbak Mega membuka toko?” ucapku menjelaskan, barangkali mereka lupa.

Ya, apa yang aku katakan benar adanya. Mas Firman mengambil hutang di bank dengan nilai seratus juta hanya untuk modal Mbak Mega membuka toko sembako. Toko yang saat ini sudah gulung tikar. Tokonya sudah tutup, barang-barangnya juga sudah dibeli oleh agen besar.

Lucu sekali kalau dipikir-pikir, hutang belum lunas, yang berhutang sudah meninggal, tapi hasil dari hutangnya sudah tidak nampak.

“Sisa hutang Mas Firman masih ada 60 juta lagi, silakan kalian ambil alih. Dengan senang hati aku akan berikan. Tapi kalau kalian mau ambil rumah, toko donat, kontrakan, mobil dan motor, maaf maaf saja, aku tidak akan berikan. Semua itu milikku, ya … milikku.” Penuh penekanan aku berucap di akhir kalimat.

“Nggak! Jangan kamu pikir Ibu akan ngebiarin kamu menguasai semua ini, Ririn! Ibu akan menempuh jalur hukum kalau kamu nggak bisa diajak bicara secara baik-baik,” tantang Ibu.

Apa aku takut? Tentu saja tidak!

“Silakan, Bu. Silakan Ibu bawa masalah ini ke jalur hukum atau pengadilan. Kalau hakim memutuskan kalau Ibu berhak atas semua aset ini, maka akan aku berikan tanpa perlu ada paksaan.” Kuterima tantangan Ibu.

Beberapa map yang tergelatak di atas meja langsung kuambil ketika kulihat manik hitam Ibu tertuju ke arah benda berharga itu. Benar saja, ketika tanganku bergerak hendak mengambilnya, ibu akan meraih benda-benda berharga milikku itu. Untung saja gerakan tanganku jauh lebih cepat.

“Sialan–” Ibu mendesis.

Lekas kuamankan map tersebut di belakang punggungku.

“Rin, tidak bisakah dibicarakan baik-baik?”

“Dibicarakan baik-baik seperti apa lagi, Mbak Mega?” tanyaku datar, menatap langsung ke manik matanya yang mulai menyiratkan kecemasan. “Sejak awal, kalian datang bukan untuk bicara baik-baik. Kalian datang untuk mengusirku dan menjarah apa yang kalian kira peninggalan Mas Firman.”

Mbak Mega terdiam, melirik Ibu yang napasnya masih memburu menahan amarah sekaligus malu yang amat sangat. Keangkuhan yang tadi mereka bawa saat melangkah masuk ke rumah ini, kini menguap tak bersisa, digantikan oleh kepanikan setelah melihat tumpukan dokumen legalitas yang mutlak atas namaku.

“Ibu… Ibu hanya syok, Rin. Firman kan baru saja dimakamkan, kami hanya ingin memastikan hak-hak keluarga Firman,” Mbak Mega mencoba bersilat lidah, suaranya melembut, sangat kontras dengan bentakan Ibu beberapa menit lalu. “Bagaimanapun, motor dan mobil itu sering dipakai Firman. Masak tidak ada bagian sedikit pun untuk kami?”

Aku terkekeh geli, sebuah tawa hambar yang membuat suasana ruang keluarga semakin mencekam.

“Mbak, Mas Firman memakai mobil itu untuk mengantarku belanja bahan baku donat. Mobil itu dibeli atas nama perusahaan dagangku, dicicil dari rekening usahaku. Begitu juga rumah ini,” ujarku sambil berdiri, merapikan letak pakaian hitamku yang masih sedikit berdebu karena prosesi pemakaman tadi siang.

Aku berjalan menuju pintu masuk ruang keluarga, lalu berbalik menatap mereka berdua.

“Besok, seperti kata Ibu tadi, adalah hari di mana semuanya harus jelas. Tapi bukan aku yang pergi dari rumah ini, melainkan kalian.” Aku menunjuk pintu keluar dengan daguku. “Silakan kemasi barang-barang kalian sekarang dan tinggalkan rumahku.”

“Ririn! Kamu mengusir mertuamu sendiri?!” pekik Ibu, suaranya bergetar, kali ini bukan karena marah, tapi karena sadar posisinya sudah kalah telak.

“Ibu lupa? Tadi Ibu sendiri yang bilang, ‘Firman sudah meninggal, sekarang kamu bukan menantuku lagi.’ Aku hanya menuruti kata-kata Ibu,” balasku dengan senyum paling manis yang bisa kuberikan. “Karena aku bukan menantu Ibu lagi, maka Ibu dan Mbak Mega tidak punya hak hukum maupun moral untuk menumpang di rumah orang asing seperti aku.”

Mbak Mega menarik-narik lengan baju Ibu, berbisik panik, “Bu, ayo Bu. Kalau Ririn menuntut balik soal utang bank 60 juta itu, kita bisa habis. Tokoku kan sudah bangkrut, kita mau bayar pakai apa?”

Wajah Ibu seketika pias. Ketakutan itu akhirnya terbaca dengan jelas di wajah tuanya yang egois. Tanpa sepatah kata lagi, dengan sisa-sisa harga diri yang runtuh berantakan, Ibu melangkah gontai menuju kamar tamu untuk mengambil tasnya, diikuti Mbak Mega yang terus menunduk menghindari tatapanku.

Saat mereka melangkah keluar melewati pintu pagar, aku berdiri di ambang pintu, menatap langit malam yang mulai pekat. Kesedihan karena kehilangan Mas Firman tentu masih ada di lubuk hatiku, tapi malam ini, aku tahu aku telah berhasil melindungi diriku sendiri dan kerja kerasku dari keserakahan orang lain.

Aku menutup pintu rumah rapat-rapat, menguncinya dari dalam, dan akhirnya bisa bernapas lega. Ketenangan ini adalah awal dari babak baru hidupku.