CALON IPARKU YANG SEDANG HAMIL INGIN MENGHAPUS NAMAKU DARI WARISAN KELUARGA KAMI DI JAKARTA…
Tapi malam saat dia membawa seluruh keluarganya untuk membuat keributan, Daddy tiba-tiba membongkar sebuah rahasia yang membuat semua orang terdiam.
1
“Kak! Email-nya sudah datang! Aku benar-benar diterima di Universitas Indonesia!”
Sambil membawa laptop, aku hampir terpeleset saat berlari keluar kamar menuju ruang tamu penthouse kami di kawasan Sudirman.
Mama langsung berdiri dari sofa.
“Coba Mama lihat!”
Aku membuka email itu. Di layar terlihat jelas tulisan: “Universitas Indonesia.”
Mama langsung memelukku erat.
“Anak Mama memang hebat…”
Daddy yang sedang membaca koran di meja makan perlahan melepas kacamatanya.
“Karena kamu sudah diterima,” katanya santai, “pilih saja apartemen dekat Depok. Daddy yang urus semuanya.”
Aku bahkan belum sempat berteriak kegirangan ketika Daddy menambahkan:
“Sekalian pilih mobil juga. Mau BMW atau Lexus?”
Aku tertawa lalu memeluknya.
“Daddy terlalu memanjakanku!”
Suasana ruang tamu yang tadinya hangat mendadak berubah ketika terdengar suara gelas dibanting ke meja.
“Aku tidak setuju.”
Semua orang menoleh.
Itu Tricia Wijaya — tunangan kakakku, Marco.
Mereka sudah berpacaran hampir empat tahun. Kedua keluarga bahkan sudah merencanakan pesta pernikahan mewah di Hotel Mulia Jakarta.
Biasanya Tricia sangat manis dan sopan. Dia sering membantu Mama di dapur dan selalu memanggil orang tuaku dengan sebutan “Om” dan “Tante.”
Tapi malam ini, tatapannya dingin.
“Hanya karena diterima kuliah, langsung dibelikan apartemen dan mobil mewah?” katanya tajam. “Apa itu benar-benar layak menghabiskan miliaran rupiah?”
Senyum Mama perlahan hilang.
“Kami memang sudah menyiapkan itu sejak lama untuk Sam.”
“Lalu kenapa?” balas Tricia cepat. “Dia tetap perempuan. Nanti setelah menikah, semua itu akan jatuh ke keluarga lain. Bukankah itu sia-sia?”
Tanganku makin erat menggenggam laptop.
Tepat saat itu, pintu terbuka.
“Hah? Ada apa ini?” tanya Marco sambil masuk.
Ekspresi Tricia langsung berubah. Matanya memerah saat memegang lengan Marco.
“Marco… aku cuma tidak terima…”
Dia menunjuk ke arahku.
“Sam langsung dapat apartemen dan mobil. Sementara kamu kerja mati-matian untuk perusahaan keluarga.”
Marco terlihat terdiam sesaat.
Daddy menurunkan korannya.
“Perusahaan itu juga nantinya akan jadi miliknya.”
“Tapi Sam pernah berkontribusi apa untuk keluarga ini?” potong Tricia. “Selain belanja dan spa?”
Seluruh ruangan langsung sunyi.
Aku menatap lurus ke arahnya.
“Maksudmu apa?”
Dia tersenyum tipis.
“Aku salah? Perempuan pintar itu justru bikin laki-laki takut. Terlalu mengintimidasi.”
“Tricia.” Suara Daddy menjadi berat. “Kamu sudah keterlaluan.”
Dia menggigit bibir, tapi tidak mundur.
Marco berdiri di tengah kami, jelas kebingungan memilih pihak.
“Bisakah kita tenang dulu…” katanya pelan.
Namun Tricia belum selesai.
“Kata Marco, resort di Bali butuh modal besar untuk ekspansi. Bukankah lebih masuk akal uang itu dipakai untuk bisnis keluarga?”
Mama tersenyum kecil.
“Itu uang yang berbeda.”
“Berbeda?” Tricia tertawa kecil sinis. “Bukankah semuanya tetap uang keluarga?”
Aku langsung menatap Marco.
Akulah yang membantu membuat proposal bisnisnya dulu. Bahkan hadiah tas Chanel untuk ulang tahun Tricia juga aku yang memilih.
Tapi malam ini…
aku justru diperlakukan seperti orang asing.
2
Makan malam berakhir dalam suasana dingin.
Sekitar pukul sembilan malam, ponsel Marco tiba-tiba berdering.
Setelah mengangkat telepon, wajahnya langsung berubah pucat.
“Mom…” katanya ragu, “mamanya Tricia sedang menuju ke sini.”
Daddy mengernyit.
“Untuk apa?”
Marco belum sempat menjawab ketika bel rumah berbunyi.
Masuklah ibu Tricia bersama dua kerabatnya.
Gaun merah mahal yang dipakainya sangat mencolok. Baru masuk saja, matanya sudah berkeliling ruang tamu seperti sedang menghitung seluruh aset keluarga kami.
“Tricia menelepon sambil menangis, jadi saya datang.”
Dia duduk di sofa tanpa menunggu dipersilakan.
“Karena sebentar lagi kita akan jadi keluarga, semuanya harus jelas.”
Mama diam-diam menuangkan teh.
“Silakan bicara.”
Wanita itu meletakkan cangkir dengan keras.
“Anak saya sedang hamil.”
Seisi ruangan langsung membeku.
Marco menoleh kaget ke arah Tricia.
Perlahan Tricia memegang perutnya.
“Itu benar,” katanya lirih. “Kami sebenarnya ingin mengumumkannya setelah menikah.”
Ibunya langsung menyela dengan bangga:
“Kata dokter, kemungkinan besar laki-laki.”
Ruangan menjadi semakin sunyi.
Lalu wanita itu berkata dengan dagu terangkat tinggi:
“Ini cucu laki-laki pertama keluarga Reyes.”
Aku melirik Mama dan Daddy.
Keduanya diam tanpa ekspresi.
Tricia menarik napas panjang sebelum menatap mereka.
“Aku tidak mau anakku nanti menderita.”
“Apa maksudmu?” tanya Mama tenang.
Tricia menggenggam tangan Marco semakin erat.
“Kalau Om dan Tante tetap membelikan apartemen dan mobil untuk Sam… aku tidak akan melanjutkan kehamilan ini.”
“TRICIA!” Marco langsung berteriak.
Namun ibunya segera membela.
“Anak saya yang memberi pewaris laki-laki untuk keluarga kalian! Tapi kalian masih lebih mementingkan seorang anak perempuan yang nantinya akan ikut keluarga lain?”
Tubuhku terasa dingin.
Marco menatap Mama dan Daddy.
“Dad… Mom… bagaimana kalau apartemen dan mobil itu ditunda dulu? Tunggu sampai Tricia melahirkan…”
Aku menatap kakakku.
Laki-laki yang dulu berjanji akan melindungiku selamanya.
Tapi sekarang…
dia rela mengorbankanku demi ancaman Tricia.
Mama perlahan berdiri.
Dia tidak menangis. Tidak marah.
Dia hanya menatap Tricia dengan tenang.
“Kamu yakin ingin menggunakan bayi itu untuk mengancam kami?”
Tricia menggigit bibirnya.
“Aku hanya melindungi masa depan keluargaku.”
Mama mengangguk pelan.
Lalu ia menoleh pada Daddy.
“Sayang… sepertinya sudah waktunya kita mengatakan yang sebenarnya.”
Marco langsung menegang.
“Mom… maksud Mama apa?”
Daddy berdiri perlahan.
Tatapannya tertuju lama pada Marco.
Begitu lama… sampai wajah kakakku perlahan kehilangan warna.
Lalu Daddy berkata dingin:
“Marco… kamu tahu kenapa selama ini Daddy tidak pernah menaruh namamu di satu pun saham Reyes Group?”
Baca kelanjutan cerita di bagian komentar… 👇

Seluruh ruangan langsung sunyi.
Marco menatap Daddy dengan wajah pucat.
“Dad… maksud Daddy apa?”
Daddy berjalan perlahan menuju lemari kecil di sudut ruang kerja, lalu mengambil sebuah map cokelat tua.
“Ada sesuatu yang selama ini kami sembunyikan demi melindungimu.”
Mama memejamkan mata seolah menahan rasa sakit lama.
Sementara Tricia dan keluarganya mulai saling berpandangan bingung.
Daddy membuka map itu lalu meletakkannya di atas meja.
Di sana ada akta kelahiran.
Bukan milikku.
Tapi milik Marco.
“Dua puluh tujuh tahun lalu,” kata Daddy pelan, “kami menemukanmu ditinggalkan di depan rumah sakit.”
Tubuh Marco langsung membeku.
“Kami tidak pernah bisa memiliki anak saat itu. Jadi kami mengadopsimu dan membesarkanmu sebagai anak sendiri.”
“Apa…?”
Suara Marco bergetar.
Mama mulai menangis pelan.
“Kami mencintaimu seperti darah daging kami sendiri.”
Ibunya Tricia langsung berdiri.
“Tidak mungkin!”
Daddy menatap tajam ke arah mereka.
“Itulah alasan kenapa seluruh saham Reyes Group hanya atas nama Sam.”
Ruangan terasa seperti kehilangan udara.
Tricia mundur satu langkah.
“Jadi… Marco bukan pewaris asli?”
Tidak ada yang menjawab.
Wajah Tricia perlahan berubah.
Semua kelembutan yang dulu pura-pura ia tunjukkan hilang begitu saja.
Dia langsung melepaskan tangan Marco.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?” suaranya meninggi.
Marco masih terlihat shock.
“Karena… aku sendiri baru tahu malam ini…”
Namun ibunya Tricia langsung menarik tangan anaknya.
“Kita pulang.”
“Tapi Mom—”
“Kamu mau anakmu lahir tanpa jaminan masa depan?!”
Marco langsung memegang tangan Tricia.
“Tricia… aku tetap akan bekerja keras…”
“Tutup mulutmu!” bentaknya.
Seluruh keluarga mereka yang tadi datang dengan penuh kesombongan kini buru-buru pergi meninggalkan penthouse.
Dan yang paling menyakitkan…
sebelum keluar pintu, Tricia menoleh dingin lalu berkata:
“Aku tidak mungkin menikah dengan laki-laki yang bahkan bukan pewaris.”
Pintu tertutup keras.
Marco berdiri terpaku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
dia melihat cinta yang selama ini dibanggakannya ternyata hanya mengejar harta.
Beberapa detik kemudian, tubuhnya perlahan jatuh terduduk sambil menutupi wajahnya.
“Aku… benar-benar menghancurkan keluarga sendiri demi perempuan seperti itu…”
Mama langsung memeluknya sambil menangis.
“Bagi Mama, kamu tetap anak kami.”
Daddy menghela napas panjang.
“Ayah sengaja merahasiakannya karena takut kamu merasa berbeda. Tapi malam ini… mereka memaksa kita membuka semuanya.”
Aku memandangi kakakku lama.
Orang yang tadi rela mengorbankanku demi ancaman Tricia…
sekarang justru menjadi orang yang paling terluka.
Perlahan aku berjalan mendekat.
Lalu tanpa berkata apa-apa…
aku memeluknya.
Marco langsung menangis seperti anak kecil.
“Maafkan Kakak, Sam… maaf…”
Aku tersenyum sambil menahan air mata.
“Kakak tetap kakakku. Itu tidak akan berubah.”
Malam itu, tidak ada lagi pembicaraan soal warisan.
Tidak ada lagi soal saham, apartemen, atau mobil mewah.
Karena akhirnya kami sadar…
keluarga sejati tidak ditentukan oleh darah ataupun harta.
Melainkan oleh siapa yang tetap tinggal…
saat semuanya runtuh.