SUAMIKU DIAM-DIAM MENGAMBIL SALAH SATU MATANYA DEMI MENYELAMATKAN MANTAN KEKASIHNYA
Dia pikir aku akan cukup mencintainya untuk memaafkan semuanya…
Sampai hari aku menelepon musuh terbesarnya…
Cahaya kuning redup di penthouse mewah kami di kawasan Sudirman, Jakarta, memantul di meja makan mahal saat Celina meletakkan secangkir cokelat panas di depan suamiku.
“Minumlah… aku sendiri yang membuatnya.”
Pria di hadapanku tersenyum tipis. Tatapannya begitu lembut hingga siapa pun pasti mengira dia adalah suami sempurna.
Gabriel Del Rosario.
Pria yang sudah kucintai selama sembilan tahun.
Aku duduk lelah di kursi setelah menjalani shift dua belas jam di Rumah Sakit Siloam. Kepalaku terasa pecah, sementara perutku nyeri karena aku sedang hamil tiga bulan.
Aku tidak pernah menyukai Celina.
Tidak pernah.
Tapi Gabriel selalu bilang aku terlalu banyak berpikir.
“Celina itu seperti adikku sendiri.”
“Jantungnya lemah sejak kecil. Dia sensitif.”
“Jangan membuatku sulit.”
Jadi aku bertahan.
Tiga tahun aku menahan semuanya setelah menikah.
Termasuk setiap kali Celina datang dan tatapan Gabriel langsung berubah.
Seolah hanya wanita itu yang ada di dunianya.
“Kamu tidak minum?”
Gabriel menyodorkan cangkir itu kepadaku.
Suara beratnya yang familiar langsung melunakkan hatiku.
Dan akhirnya…
aku meminum cokelat itu.
Aku tidak tahu minuman itu akan menghancurkan seluruh hidupku.
…
Kesadaranku mulai kabur saat mobil melaju cepat di tengah hujan deras Jakarta.
Aku berusaha membuka mata, tapi tubuhku terlalu berat.
Lalu aku mendengar dua pria berteriak.
“Gabriel, kamu sudah gila?!”
Itu Marcus.
Sahabat terbaik Gabriel.
“Kamu benar-benar mau mengambil mata Daniela demi Celina?!”
Seluruh tubuhku membeku.
Mata…?
“Dia satu-satunya yang cocok.”
Suara Gabriel terdengar dingin.
“Celina tidak bisa menunggu lebih lama.”
Marcus hampir berteriak.
“Tapi Daniela sedang hamil anakmu!”
“So what?”
Jawaban Gabriel terdengar tanpa emosi.
“Hidup Celina jauh lebih penting daripada anak yang bahkan belum lahir.”
Jantungku seperti berhenti berdetak.
Kuku-kukuku menusuk telapak tanganku sendiri.
Aku ingin membuka mata.
Aku ingin berteriak.
Aku ingin bertanya padanya…
Apa salahku?
Tapi obat itu menyeretku semakin dalam ke kegelapan.
Marcus membanting sesuatu keras.
“Aku tidak mengerti kenapa kamu berubah seperti ini! Saat kamu miskin di Surabaya dulu, Daniela bekerja tiga pekerjaan demi menghidupimu! Dia bahkan menjual cincin ibunya untuk biaya pengobatanmu!”
“Dan Celina?!”
“Dia meninggalkanmu demi pria kaya di Singapura!”
“Sekarang setelah kamu jadi miliarder, dia kembali sambil menangis sedikit dan kamu rela mengambil mata istrimu sendiri demi dia?!”
“CUKUP!”
Gabriel membentak keras.
“Jangan ikut campur urusanku.”
Marcus tertawa pahit.
“Kalau begitu… Daniela itu apa bagimu?”
Sunyi.
Sunyi yang panjang.
Lalu Gabriel berkata dingin:
“Dia seharusnya bersyukur karena aku masih memilih membiarkannya tinggal di sisiku.”
Saat itu juga…
hatiku benar-benar hancur.
…
Aku tidak tahu berapa lama berlalu ketika rasa sakit luar biasa menyayat mata kiriku.
Dokternya salah memberi anestesi.
Aku mendengar semuanya.
Aku merasakan semuanya.
Pisau dingin itu.
Bau darah.
Suara alat operasi.
Dan suara Gabriel di luar ruang operasi.
“Pastikan tidak ada bekas luka di wajahnya.”
“Daniela takut jadi jelek.”
Air mataku jatuh di sisi wajahku.
Lucu sekali.
Dia ingat aku takut terluka.
Takut menjadi buruk rupa.
Tapi dia tetap sanggup mencuri cahaya hidupku.
…
Saat aku sadar lagi, mata kiriku hanya melihat kegelapan.
Bau disinfektan memenuhi ruangan.
“Kamu sudah bangun?”
Suara Gabriel.
Dia mengusap rambutku perlahan.
“Operasimu berhasil.”
Aku berbicara dengan tubuh gemetar.
“Operasi… apa?”
Dia diam sesaat lalu tersenyum lembut.
“Hanya tumor kecil di matamu. Tidak berbahaya kata dokter.”
Tumor?
Aku tertawa.
Suara tawaku serak dan menyeramkan.
Bahkan kebohongannya pun tidak dibuat dengan baik.
Ketika melihatku menangis, dia memelukku.
“Jangan menangis lagi.”
“Aku juga sakit.”
Sakit?
Aku hampir tertawa keras.
Kalau dia sakit…
kenapa Celina dirawat di VIP room di lorong sebelah?
Kenapa dia tidak tidur selama tiga malam demi menjaganya?
Kenapa pria yang berjanji melindungiku seumur hidup…
justru menjadi orang yang menghancurkanku?
Tiga hari kemudian, aku mendengar dua perawat berbicara di luar kamar.
“Miss Celina benar-benar beruntung.”
“Vice Chairman Gabriel sangat terobsesi padanya.”
“Aku dengar mata istrinya sendiri dipakai untuk transplantasi…”
“Shh! Nanti ketahuan!”
Aku diam-diam menarik selimut menutupi wajahku.
Bantal di bawahku sudah basah oleh air mata.
Jadi…
di mata semua orang…
aku hanyalah pengorbanan untuk cinta mereka.
Malam itu, ketika Gabriel pergi membeli bubur ayam untuk Celina di tengah hujan badai, perlahan aku mengambil ponselku.
Jariku gemetar saat berhenti pada satu nama.
Leon Castillo.
Musuh terbesar Gabriel Del Rosario.
Dan pria yang dulu pernah menatapku dengan cara yang tidak pernah kulupakan.
Baru satu dering, dia langsung mengangkat telepon.
“Akhirnya… kamu menelepon juga.”
Aku menggenggam ponsel erat.
“Maukah kamu menikah denganku?”
Dia terdiam beberapa detik.
Lalu tertawa pelan.
“Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?”
“Ya.”
“Aku tidak ingin tinggal bersama Gabriel lagi.”
Leon berbicara perlahan.
“Kalau begitu… kenapa memilihku?”
Aku memejamkan mata.
Suaraku lirih bercampur suara hujan.
“Karena satu-satunya orang yang bisa menyakiti Gabriel…”
“hanya kamu.”
Keheningan menyeramkan kembali muncul.
Lama sekali sebelum akhirnya Leon berbicara lagi.
“Kalau kamu datang kepadaku…”
“Daniela, aku tidak akan pernah mengembalikanmu padanya lagi.”
Aku tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
“Baik.”
Setelah telepon ditutup, aku langsung memesan tiket pesawat ke Surabaya tujuh hari kemudian.
Dan tepat saat itu…
pintu kamar mendadak terbuka.
Gabriel berdiri di sana.
Tubuhnya basah kuyup oleh hujan.
Di tangannya ada semangkuk bubur panas.
Tapi yang membuat napasku berhenti…
adalah tatapan dinginnya saat melihat layar ponselku.
Di sana masih tertulis nama:
“Leon Castillo.”
Kelanjutan cerita ada di kolom komentar… 👇

Ruangan itu langsung membeku.
Tatapan Gabriel berubah gelap saat melihat nama “Leon Castillo” di layar ponselku.
Perlahan… dia meletakkan bubur panas di meja samping tempat tidur.
“Sejak kapan kalian berhubungan?”
Suaranya rendah.
Terlalu tenang.
Dan justru itu yang membuatku takut.
Aku mematikan layar ponsel lalu menatapnya dengan mata kanan yang masih bisa melihat.
“Apa itu penting?”
Rahang Gabriel menegang.
“Aku bertanya padamu, Daniela.”
Aku tersenyum pelan.
Senyum pertama yang tidak lagi dipenuhi cinta untuknya.
“Kamu juga tidak pernah bertanya apakah aku rela kehilangan mataku.”
Sunyi.
Hanya suara hujan deras di luar jendela rumah sakit.
Gabriel melangkah mendekat.
“Aku melakukan semua itu demi menyelamatkan nyawa seseorang.”
“Dan aku?” tanyaku lirih. “Aku ini siapa?”
Dia terdiam.
Lalu untuk pertama kalinya sejak kami menikah…
aku melihat keraguan di wajahnya.
Namun semuanya sudah terlambat.
Aku mengangkat tangan perlahan lalu melepas cincin pernikahan kami.
Cincin yang dulu kubeli diam-diam saat dia bahkan belum punya uang makan.
Aku meletakkannya di atas meja.
“Aku capek, Gabriel.”
Tubuhnya langsung menegang.
“Daniela…”
“Aku capek jadi pilihan kedua.”
Dia tiba-tiba menggenggam bahuku.
“Kamu tidak mengerti keadaan saat itu!”
Aku tertawa kecil.
“Tapi aku mengerti satu hal.”
Air mataku jatuh perlahan.
“Orang yang benar-benar mencintai kita… tidak akan menghancurkan kita demi orang lain.”
Untuk pertama kalinya…
Gabriel tidak bisa menjawab.
…
Tujuh hari kemudian, aku menghilang dari Jakarta.
Semua nomor teleponku mati.
Semua akun sosial mediaku hilang.
Dan ketika Gabriel pulang ke penthouse kami…
yang tersisa hanya surat perceraian di meja makan.
Saat itulah dia mulai gila.
Dia mencari aku ke semua rumah sakit.
Ke semua bandara.
Bahkan menyuruh orang membuntuti Leon Castillo.
Tapi tidak ada yang menemukan jejakku.
Karena saat itu…
aku sudah berada di sebuah villa pribadi milik Leon di pegunungan Batu, Malang.
Udara dingin.
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
tidak ada Celina.
Tidak ada kebohongan.
Tidak ada rasa sakit.
Leon tidak pernah bertanya tentang mata kiriku.
Dia hanya diam-diam mengganti lampu kamar menjadi lebih terang agar aku nyaman membaca.
Diam-diam memotong buah untukku setiap pagi.
Dan diam-diam menaruh tangan di perutku setiap kali bayi kami bergerak.
Sampai suatu malam aku bertanya padanya:
“Kenapa kamu baik sekali padaku?”
Leon tersenyum kecil sambil menatap hujan di luar balkon.
“Karena ada pria bodoh yang membuang wanita paling berharga di hidupnya.”
Dadaku langsung terasa sesak.
Bukan karena sedih.
Tapi karena akhirnya…
aku tahu seperti apa rasanya dihargai.
…
Tiga bulan kemudian, berita besar mengguncang dunia bisnis Indonesia.
Celina ternyata memalsukan hasil pemeriksaan medisnya.
Dia tidak pernah benar-benar buta.
Selama ini dia hanya ingin mendapatkan kembali Gabriel dan hidup mewahnya.
Marcus sendiri yang membocorkan semua bukti ke media.
Seluruh saham perusahaan Gabriel langsung anjlok.
Nama besarnya hancur dalam semalam.
Dan yang paling parah…
Celina kabur membawa uang miliaran rupiah dari rekening pribadinya.
Malam itu, Gabriel mabuk sendirian di penthouse gelap kami dulu.
Marcus datang dan melemparkan sebuah map ke meja.
“Apa ini?”
“Surat operasi Daniela.”
Tangan Gabriel gemetar saat membukanya.
Di halaman terakhir ada satu kalimat dari dokter:
“Pasien mengalami komplikasi berat dan kemungkinan kehilangan penglihatan total apabila terjadi infeksi lanjutan.”
Wajah Gabriel langsung pucat.
“Apa maksudnya ini…?”
Marcus menatapnya dingin.
“Itu artinya… Daniela sebenarnya bisa kehilangan mata kanannya juga.”
Gelas di tangan Gabriel jatuh pecah.
Untuk pertama kalinya…
pria dingin yang tidak pernah takut kehilangan apa pun itu menangis sambil memegang kepalanya.
“Aku… sudah melakukan apa…”
Marcus tertawa pahit.
“Kamu menghancurkan satu-satunya orang yang benar-benar mencintaimu.”
…
Enam bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan dengan selamat.
Leon menangis saat pertama kali menggendongnya.
Dan di luar rumah sakit…
aku melihat satu sosok berdiri dari jauh.
Gabriel.
Tubuhnya jauh lebih kurus.
Matanya merah seperti tidak pernah tidur berhari-hari.
Dia hanya berdiri diam sambil melihatku memeluk bayi kami.
Tatapan kami bertemu sesaat.
Lalu…
dia perlahan berlutut di tengah hujan.
Bukan sebagai miliarder.
Bukan sebagai pria sombong yang dulu menghancurkan hidupku.
Tapi sebagai seseorang yang akhirnya sadar…
bahwa ada kesalahan yang bahkan penyesalan seumur hidup pun tidak akan pernah bisa memperbaikinya.
Aku memalingkan wajah perlahan.
Kemudian berjalan pergi bersama Leon dan putriku.
Tanpa menoleh lagi.