Tubuhku langsung membeku di tengah ruang tamu.
Suara langkah high heels Nicole semakin dekat.
Lalu pintu terbuka.
Nicole masuk sambil tertawa kecil, tangannya memegang lengan Adrian dengan manja.
“Aku capek banget… bayi kita bikin aku cepat lelah.”
Namun tawanya langsung berhenti saat melihatku berdiri di sana.
Wajahnya seketika pucat.
“A… Ate Sofia…”
Adrian juga membeku.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun…
aku melihat kepanikan nyata di wajahnya.
“Sofia? Kenapa kamu pulang tanpa bilang?”
Aku hanya tersenyum kecil.
Tatapanku jatuh ke tangan Adrian yang masih memegang pinggang Nicole.
Lalu ke perut wanita itu.
Sunyi.
Sunyi yang menyakitkan.
Nicole langsung melepaskan tangan Adrian dan mulai menangis.
“Ate… bukan seperti yang Ate pikirkan…”
Aku tertawa pelan.
“Kalau begitu jelaskan.”
Adrian buru-buru melangkah mendekat.
“Sofia, dengarkan aku dulu.”
“Kalian tidur bersama di belakangku. Dia hamil. Kalian mencoba memakai rumahku untuk membangun keluarga kalian.”
Aku menatap lurus ke matanya.
“Bagian mana yang salah kupikirkan?”
Mulut Adrian terbuka…
tapi tidak ada kata yang keluar.
Nicole jatuh berlutut sambil menangis histeris.
“Ate maafkan aku… aku tidak sengaja jatuh cinta…”
Aku menatapnya lama.
Wanita yang dulu kubelikan laptop pertama dalam hidupnya.
Wanita yang dulu kupeluk saat dia menangis karena tidak punya uang kuliah.
Dan sekarang…
dia mencuri pria yang hendak menikah denganku.
Lucu sekali hidup ini.
Aku berjalan perlahan menuju meja.
Mengambil cincin pertunanganku.
Lalu meletakkannya tepat di tangan Adrian.
“Pernikahannya batal.”
Wajah Adrian langsung kehilangan warna.
“Sofia, jangan bercanda seperti ini.”
“Aku serius.”
Dia langsung menggenggam tanganku erat.
“Kita sudah bersama delapan tahun!”
Aku menatap tangannya dingin.
“Dan kamu mengkhianatiku selama berapa bulan?”
Dia terdiam.
Nicole menangis semakin keras.
“Aku rela pergi! Aku akan membesarkan anak ini sendiri! Tolong jangan tinggalkan Kak Sofia!”
Namun yang mengejutkanku…
Adrian justru langsung membentak Nicole.
“Diam dulu!”
Aku tertawa kecil melihat itu.
Jadi beginilah cinta mereka.
Mudah sekali berubah ketika semuanya terbongkar.
Aku perlahan menarik tanganku dari genggamannya.
“Kalian cocok.”
“Sama-sama pandai mengkhianati orang yang tulus pada kalian.”
Lalu aku menyerahkan kunci condo ke Adrian.
“Ngomong-ngomong…”
“Apartemen ini sudah kujual pagi tadi.”
Keduanya langsung menatapku shock.
“Apa?”
Aku tersenyum tipis.
“Besok pemilik baru akan pindah.”
Nicole langsung panik.
“Tapi… Adrian bilang ini rumah kita setelah menikah!”
Aku menatap Adrian.
Dan untuk pertama kalinya…
aku melihat rasa malu di matanya.
Karena dia sendiri bahkan tidak tahu…
bahwa seluruh properti itu murni atas namaku.
Bukan milik kami.
Bukan miliknya.
…
Malam itu aku pergi dari condo hanya membawa satu koper kecil.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada drama.
Karena ada luka yang terlalu dalam hingga air mata pun tidak cukup lagi.
Namun semuanya belum selesai.
Dua minggu kemudian…
seluruh keluarga Delos Santos mendadak gempar.
Karena semua vendor pernikahan menagih pembayaran pembatalan.
Hotel.
Gaun.
Dekorasi.
Sponsor bisnis.
Total kerugiannya hampir mencapai dua miliar rupiah.
Dan semuanya…
atas nama Adrian Delos Santos.
Ayah Adrian sampai terkena serangan ringan karena malu setelah rumor perselingkuhan itu menyebar di kalangan sosialita Jakarta.
Sementara Nicole?
Dia mulai dihujat habis-habisan di media sosial setelah teman-teman kampus mengetahui bahwa dia merebut tunangan wanita yang membiayai hidupnya bertahun-tahun.
Tapi karma terbesar datang tiga bulan kemudian.
Nicole ternyata juga menjalin hubungan dengan pria lain.
Seorang fotografer prenup mereka sendiri.
Dan hasil tes DNA menunjukkan…
bayi itu bukan anak Adrian.
Malam itu, Adrian mabuk berat di luar butik wedding tempat dulu dia memilih gaun bersama Nicole.
Katanya dia menangis sambil memegang cincin pertunangan kami dan terus mengulang satu kalimat:
“Aku menghancurkan hidupku sendiri…”
Namun saat itu…
aku sudah berada jauh di Paris untuk membuka fashion studio pertamaku.
Desain wedding gown buatanku mulai masuk majalah internasional.
Dan untuk pertama kalinya…
aku belajar sesuatu.
Bahwa cinta sejati tidak pernah membuatmu merasa kecil.
Tidak pernah membuatmu berbagi tempat dengan pengkhianatan.
Dan orang yang benar-benar mencintaimu…
tidak akan mempertaruhkanmu demi seseorang yang datang hanya karena kesepian.
Suatu malam saat salju turun di Paris, aku menerima satu email dari Adrian.
Isinya hanya satu kalimat:
“Aku masih menyimpan cincin itu.”
Aku menatap layar lama.
Lalu perlahan menutup laptop.
Karena ada cinta yang ketika sudah hancur…
tidak lagi pantas diperjuangkan.
Dan ada perempuan…
yang akhirnya memilih menyelamatkan dirinya sendiri.

Dua tahun kemudian…
Namaku muncul di layar raksasa Times Square, New York.
“SOFIA LAURENT — ASIAN DESIGNER OF THE YEAR.”
Tepuk tangan memenuhi ballroom mewah tempat acara fashion terbesar dunia berlangsung.
Gaun pengantin buatanku dipakai artis Hollywood, putri kerajaan Timur Tengah, hingga sosialita Eropa.
Mereka menyebut desainku memiliki satu ciri khas:
“Terlihat indah… tapi menyimpan rasa patah hati yang elegan.”
Tidak ada yang tahu…
semua gaun itu lahir dari malam ketika aku meninggalkan cincin pertunanganku di condo BGC.
…
Setelah acara selesai, aku berjalan keluar hotel sambil memegang heels di tangan karena kakiku terlalu lelah.
Salju turun perlahan.
Manajerku tiba-tiba berlari kecil mendekat.
“Miss Sofia, ada seseorang yang menunggu sejak tiga jam lalu.”
Aku mengernyit.
Lalu mataku berhenti pada seorang pria yang berdiri di seberang jalan.
Tubuhnya lebih kurus.
Tatapannya jauh lebih lelah.
Tapi aku tetap mengenalinya hanya dalam satu detik.
Adrian.
Dia berdiri di bawah salju sambil memegang sebuah kotak hitam kecil.
Kotak cincin itu.
Jantungku terasa sesak sesaat.
Namun bukan karena cinta.
Melainkan karena akhirnya aku sadar…
betapa jauhnya aku sudah berjalan meninggalkan masa lalu itu.
Adrian melangkah mendekat perlahan.
“Sofia…”
Suaranya serak.
“Aku cuma ingin melihatmu sekali lagi.”
Aku diam.
Dia tersenyum pahit sambil menunduk.
“Aku mengikuti semua berita tentangmu.”
“Kamu berhasil menjadi semua yang dulu kamu impikan.”
Aku menatap wajahnya lama.
Pria yang dulu menjadi pusat duniaku.
Pria yang pernah kupikir tidak akan bisa hidup tanpanya.
Dan lucunya…
aku benar-benar berhasil hidup tanpa dia.
Adrian membuka kotak cincin itu perlahan.
Cincin yang sama.
Masih tersimpan rapi.
“Aku tahu aku tidak pantas meminta apa pun…”
“Tapi kalau waktu bisa diputar kembali…”
Aku langsung memotong ucapannya.
“Tapi waktu tidak pernah kembali, Adrian.”
Salju jatuh pelan di antara kami.
Matanya mulai merah.
“Aku kehilangan semuanya setelah kamu pergi.”
“Perusahaanku hancur.”
“Ayahku meninggal tahun lalu.”
“Ibuku bahkan tidak mau tinggal serumah denganku lagi.”
Dia tertawa kecil dengan mata berkaca-kaca.
“Dan yang paling parah…”
“Aku baru sadar rumah paling nyaman ternyata selalu ada di sampingmu.”
Dadaku terasa nyeri sesaat.
Karena sebagian dari diriku pernah benar-benar mencintainya.
Sangat dalam.
Sangat tulus.
Namun cinta…
kadang tidak mati karena dibenci.
Melainkan karena terlalu sering disakiti.
Aku mengeluarkan sesuatu dari tas kecilku.
Sebuah undangan.
Adrian menerimanya dengan tangan gemetar.
Lalu wajahnya langsung pucat saat membaca nama di sana.
“Sofia Laurent & Nathaniel Grey.”
Pernikahan.
Tiga bulan lagi.
Adrian langsung menatapku.
“Nathaniel… CEO Grey Holdings itu?”
Aku mengangguk pelan.
Pria yang menemaniku dari nol membangun brand di Paris.
Pria yang diam-diam duduk semalaman menungguku bekerja tanpa pernah mengeluh.
Pria yang tidak pernah membuatku mempertanyakan harga diriku sendiri.
Adrian tersenyum pahit.
“Apa kamu mencintainya?”
Aku terdiam beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
“Dia tidak pernah membuatku menangis diam-diam di kamar mandi.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Adrian.
Untuk pertama kalinya…
aku melihat pria itu benar-benar hancur.
Bukan karena kehilangan uang.
Bukan karena kehilangan nama besar.
Tapi karena kehilangan seseorang yang dulu mencintainya tanpa syarat.
Dia menutup kotak cincin perlahan.
“Kalau di kehidupan lain…”
“Aku harap aku tidak sebodoh ini.”
Aku menatapnya lembut.
“Dan aku harap… di kehidupan lain nanti, kamu belajar menjaga orang yang benar-benar mencintaimu.”
Lalu aku melangkah pergi melewatinya.
Tidak ada lagi amarah.
Tidak ada lagi kebencian.
Karena luka yang sudah sembuh…
tidak perlu dibalas lagi.
Saat masuk ke mobil, aku sempat menoleh sekali.
Adrian masih berdiri di tengah salju sendirian.
Memegang cincin yang tidak akan pernah bisa kembali ke pemiliknya.
Dan malam itu…
aku akhirnya sadar.
Kadang kehilangan terbesar dalam hidup seseorang…
adalah saat dia menyia-nyiakan orang yang sebenarnya sudah mencintainya lebih dari dirinya sendiri.