Posted in

Mantan calon ibu mertuaku, menghi n4 aku dan ibu karena kami mis kin dan tidak pantas bersanding dengan keluarga mereka yang kay4 r4ya.

Tapi, keesokan pagi, dia justru berdiri dengan badan bergetar di hadapanku saat tahu ternyata aku adalah

Ruangan rapat yang berukuran luas itu mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan. Atmosfer di sekitar kami seolah membeku, menyisakan suara deru pendingin ruangan yang terasa menu suk pendengaran di tengah keheningan.

Aku melipat tangan di d4da, menikmati setiap detik perubahan ekspresi di wajah dua orang yang kemarin baru saja menginjak-injak ha rga diriku.

Tante Asih masih berdiri mematung, tangannya yang dipenuhi perhiasan emas kini gemetar hebat. Sementara Rendy, bibirnya terbuka tanpa suara, matanya bergerak liar antara draf SK di atas meja dan wajahku.

“Kenapa diam saja? Silakan duduk, Tuan Rendy,” kataku lembut, namun sarat makna.

“A-Adeline, kamu … bagaimana bisa?” Rendy akhirnya berhasil mengeluarkan suara, meski terdengar parau dan terbata-bata. Ia melangkah maju berniat mendekati aku, namun sekretaris pribadiku, Pak Baskoro, langsung pasang ba dan dengan tatapan memperingatkan.

“Jaga sopan santun Anda, Tuan Rendy. Di depan Anda adalah Ibu Adeline, pemilik tunggal dari Arga Group yang baru saja mengakuisisi seluruh sa ham pabrik ini,” tegur Pak Baskoro tegas.

Mendengar nama Arga Group, lutut Tante Asih tampak lemas. Ia hampir saja terjatuh jika tidak segera berpegangan pada sandaran kursi di dekatnya. Wajahnya yang tebal oleh bedak kini memucat pasi.

Arga Group adalah raksasa bisnis yang disegani di kota ini. Dan gadis yang kemarin ia sebut ben alu dan anak tukang kebun, kini berdiri sebagai pucuk pimpinan tertinggi di sana.

“Ini pasti salah! Ini penipuan!” Tante Asih tiba-tiba histeris, rasa syok membuatnya kehilangan akal sehat.

“Rendy, perempuan ini pasti menyamar! Dia sengaja menyewa baju mahal ini dan berpura-pura menjadi pimpinan di sini untuk mempermalukan kita! Dia itu cuma anak pembantu, Ren!”

“Cukup, Nyonya Asih!” Suara bariton Pak Baskoro menggelegar, membuat wanita paruh baya itu langsung bungkam. “Jika Anda melanjutkan fitnah ini, kami tidak akan ragu membawa Anda ke jalur hukum atas tindakan pencemaran nama baik.”

Aku mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar Pak Baskoro tenang. Aku melangkah pelan memutari meja rapat besar itu, mendekati Rendy yang masih berdiri kaku seperti patung hidup.

“Rendy,” panggilku pelan, menyebut namanya dengan nada yang sama seperti saat kami masih bersama. “Kemarin kamu bilang, kamu butuh istri yang bisa mendukung karirmu, bukan yang menjadi beban untuk hidupmu. Benar?”

Rendy menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik turun.

“Adeline, aku bisa jelaskan. Kemarin itu ….”

“Dan kemarin, ibumu juga bilang bahwa uan g dua puluh ju ta ru piah itu adalah ongkos ganti rugi untuk waktu dua tahun yang kamu habiskan bersamaku.” Aku menatap Tante Asih yang kini menunduk, tidak berani lagi menatap mataku.

Aku mengambil dokumen bersampul kulit merah dari atas meja, Surat Keputusan pengangkatan manajer yang sejak subuh tadi sudah dinantikan oleh Rendy dan ibunya. Aku membolak-balik halamannya di depan wajah Rendy.

“Kamu tahu, Ren? Untuk berada di posisi manajer ini, kamu membutuhkan tanda tangan digital dari pemilik perusahaan yang baru. Yaitu aku,” kataku sambil tersenyum tipis.

Rendy menatap dokumen itu dengan pandangan memohon. “Del, tolong, aku mohon kamu bisa bersikap profesional. Aku sudah bekerja keras di pabrik ini selama tiga tahun. Jabatan ini adalah impianku, Del. Tolong jangan campur adukkan masalah pribadi kita dengan pekerjaan.”

Aku tertawa kecil, suara tawa yang terdengar anggun namun menyayat hati.

“Profesional? Menarik sekali mendengarnya dari mulut pria yang kemarin merendahkan harga diriku hanya karena mengira aku miskin.”

Aku berjalan kembali ke kursi utamaku dan mendudukinya dengan anggun. Kuambil sebuah pulpen emas dari saku blazerku, lalu dengan gerakan perlahan, aku mencoret draf SK tersebut dari ujung atas hingga ujung bawah, sebelum akhirnya merobek kertas itu menjadi dua bagian di depan mata mereka.

Sreeek!

Suara robekan kertas itu terdengar seperti suara vonis m ati bagi masa depan Rendy.

“Adeline! Apa yang kamu lakukan?!” pekik Rendy frus trasi, matanya memerah menahan amarah.

“Saya sedang bertindak profesional, Tuan Rendy,” jawabku dingin. “Berdasarkan penilaian ulang dari tim Arga Group, Anda dinilai tidak memiliki integritas dan loyalitas yang cukup untuk memimpin divisi penting di perusahaan saya. Seseorang yang dengan mudah membuang komitmen dua tahun demi materi, tidak akan pernah bisa dipercaya untuk memegang aset perusahaan.”

“Kamu memecatku?” tanyanya tidak percaya.

“Bukan hanya membatalkan promosi Anda, tapi per hari ini, Anda resmi dihentikan dari seluruh kegiatan operasional di pabrik ini. Silahkan bereskan barang-barang Anda sebelum jam dua siang nanti,” ucapku yakin.

“Adeline, kamu tidak bisa egois begini! Aku akan laporkan ini ke dinas tenaga kerja!” teriak Rendy, mulai kehilangan kendali emosinya.

Tante Asih yang melihat anaknya dipecat langsung merangkak mendekat ke arah mejaku, menghilangkan semua kesombongan yang ia pamerkan kemarin.

“Adeline, Tante mohon, Nak. Tante salah. Tante minta maaf. Tolong jangan pecat Rendy. Keluarga kami butuh pekerjaan ini. Rendy baru saja mengambil c ici lan mobil baru dan rumah karena mengira dia akan jadi manajer.”

Aku menatap wanita tua itu tanpa rasa iba. Kemarin, ia meludah di depan ibuku. Kemarin, ia merasa menjadi orang paling berkuasa hanya karena memiliki beberapa ruko.

“Simpan air mata Anda, Tante Asih. Bukankah Rendy sudah dijodohkan dengan Karina, anak pemilik ruko terbesar? Mintalah besan baru Anda yang kaya raya itu untuk membayar ci cilan mobil Rendy,” kataku telak.

“Pak Baskoro, tolong panggil keamanan. Antar mantan karyawan ini dan ibunya keluar dari area gedung sekarang juga,” perintahku tanpa mengalihkan pandangan.

“Baik, Ibu Adeline.”

Beberapa petugas keamanan berbadan tegap langsung masuk dan menggiring Rendy serta Tante Asih yang terus menangis dan memohon. Rendy sempat menoleh ke arahku untuk terakhir kalinya, matanya penuh penyesalan yang teramat dalam, namun pintu jati ruang rapat telah tertutup rapat

Aku menghela napas panjang, bersandar pada kursi kebesaranku. Ini baru awal. Rasa puas ini baru permulaan.

Tiba-tiba, ponsel pribadiku di atas meja bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang sangat kukenal—Karina, calon istri baru Rendy, yang juga merupakan teman satu sekolahku dulu yang terkenal suka merundung teman-temannya.

Aku menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinga.

“Halo, Adeline?” suara Karina terdengar angkuh di seberang sana. “Aku dengar dari Rendy, kamu dipaksa keluar dari paviliun ya karena ibumu dipecat? Kasihan sekali. Oh ya, aku cuma mau mengundangmu ke acara pertunanganku dengan Rendy minggu depan di hotel bintang empat kota. Datang ya, hitung-hitung biar kamu bisa merasakan makan mewah sekali seumur hidup.”

Aku tersenyum misterius, jemariku mengetuk-ngetuk meja marmer di hadapanku.

“Tentu, Karina. Aku pasti datang. Dan aku akan membawakan sebuah hadiah pernikahan yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan seumur hidupmu.”